Showing posts with label semester 1. Show all posts
Showing posts with label semester 1. Show all posts
Resume Filsafat6 | Awal Mula Penspesifikasian Ilmu
Lihat Detail

Resume Filsafat6 | Awal Mula Penspesifikasian Ilmu

Awal Mula Penspesifikasian Ilmu

Pada zaman kejayaan Phytagoras sampai zaman Aljabar, mendefinisikan ilmu sebagai kesatuan dan belum terbagi-bagi dalam ilmu yang lebih mengkhusus. Seperti halnya, ilmu antara matematika dan mistik tidak dapat dipisahkan. Matematika dan mistik pada saat itu adalah satu kesatuan kerena mereka menganggap didalam angka-angka yang ada terdapat kepercayaan atas adanya suatu kekuatan, misalnya angka 3. Menurut mereka, angka 3 adalah angka yang sangat sakral karena mereka percaya terdapat dan terkumpul berbagai perlawanan didalamnya, yaitu manusia terdiri dari genap, ganjil dan penyempurna. Selain angka 3 ada juga angka sakral lainnya, seperti 13, 27, 9 dan seterusnya. Penganut agama Kristen juga mempercayai hal tersebut, maka dari itu mereka sangat menyucikan simbol segitiga yang memiliki arti hubungan harmonis antar manusia, mereka menyebutnya dengan nama sacred triangle. Dalam dollar Amerika juga terdapat lambang segitiga dengan gambar satu mata di tengahnya, segitiga tersebut menandakan orang-orang yang tercerahkan dan simbol mata menandakan sumber pengetahuan

Pada zaman kejayaan Umat Kristiani, teori yang mengatakan bahwa matahari, bulan dan benda langit lainnya yang mengitari bumi diterima oleh gereja, karena para petinggi agama tersebut memiliki pemahaman bahwa, hanya orang kristiani yang akan selamat dimuka bumi ini, yang lainnya adalah orang yang tersesat. Itulah mengapa, semua yang ada di alam semesta ini akan menyembah tempat kaumnya berdiri yaitu bumi. Missionarisme adalah misi yang dilakukan umat Kristen untuk mengkristenkan umat manusia dikarenakan kepercayaan mereka tentang umat manusia yang selamat hanya mereka. Namun, teori yang mereka yakini

dipatahkan oleh teori dari Galileo Galilei dan meruntuhkan dogma gerejanya, karena sesungguhnya bumi dan benda langit lainnyalah yang mengitari matahari.

Matematika dan mistik mulai berpisah sedikit demi sedikit sejak zaman Aljabar dan Al Khawarizmi. Disinilah pentingnya peran objek material dan objek formal, walaupun materinya sama tapi cara pandangnya akan berbeda-beda, maka akan timbul spesifikasi ilmu pengetahuan, seperti matematika, fisika, biologi dan lain-lain. Ilmu mulai memiliki spesifikasi, ketika para ilmuwan dan filosof menggunakan objek material dan objek formal sebagai pandangan dasar ilmu pengetahuan.

Filsafat ilmu membagi dirinya dengan objek material dan objek formal, sedangkan filsafat mulai membagi dirinya dengan adanya ontologi, epistemologi, dan Aksiologi. Awalnya tugas filsafat menurut Aristoteles adalah to deepen our existing understanding of the world (Untuk memperdalam pemahaman kita yang sekarang tentang dunia), dunia yang dimaksud adalah apa yang kita rasakan, apa yang kita alami, dan apa yang kita miliki di dunia. Jadi, filsafat adalah bagaimana lebih memahami tentang dunia kita.

Ontologi adalah ilmu yang membahas tentang semua yang ada, dan dipakai ilmuwan untuk melahirkan sesuatu. Hal terpenting dalam ilmu ini adalah potensialitas dan aktualitas. Potensialitas adalah suatu hal yang nanti akan terjadi dan belum pasti, sedangkan aktualitas adalah suatu hal yang sekarang terjadi dan sudah pasti. Epistimologi adalah ilmu tentang cara-cara/metode untuk mengetahui sesuatu oleh seorang individu. Ilmu ini memiliki rasionalis dan empiris. Rasionalis adalah pemberian keputusan oleh akal manusia, sedangkan empiris adalah pemberian keputusan atas apa yang dialami dan dirasakan oleh panca indra. Aksiologi adalah ilmu yang membahas tentang nilai. Pemberian nilai tersebut dibagi melalui 2 cara, yaitu secara nilai subjektif dan nilai objektif. Nilai subjektif adalah pemberian nilai atau tanggapan atas sesuatu dari diri sendiri atau pendapat orang lain, sedangkan nilai objektif adalah pemberian nilai atau tanggapan secara universal atau dalam artian sesuatu tersebut (objeknya) telah memberikan nilai tersendiri atas dirinya dan semua orang mengakuinya. Kesimpulannya adalah filsafat membahas tentang sesuatu, memberi keputusan, dan memberikan nilai terhadap sesuatu disebut dengan Ontologi, Epistimologi, dan Aksiologi.

------
By. Hikmah Khairani Ibrahim

10300113144

HPK 7





Awal Mula Penspesifikasian Ilmu

Pada zaman kejayaan Phytagoras sampai zaman Aljabar, mendefinisikan ilmu sebagai kesatuan dan belum terbagi-bagi dalam ilmu yang lebih mengkhusus. Seperti halnya, ilmu antara matematika dan mistik tidak dapat dipisahkan. Matematika dan mistik pada saat itu adalah satu kesatuan kerena mereka menganggap didalam angka-angka yang ada terdapat kepercayaan atas adanya suatu kekuatan, misalnya angka 3. Menurut mereka, angka 3 adalah angka yang sangat sakral karena mereka percaya terdapat dan terkumpul berbagai perlawanan didalamnya, yaitu manusia terdiri dari genap, ganjil dan penyempurna. Selain angka 3 ada juga angka sakral lainnya, seperti 13, 27, 9 dan seterusnya. Penganut agama Kristen juga mempercayai hal tersebut, maka dari itu mereka sangat menyucikan simbol segitiga yang memiliki arti hubungan harmonis antar manusia, mereka menyebutnya dengan nama sacred triangle. Dalam dollar Amerika juga terdapat lambang segitiga dengan gambar satu mata di tengahnya, segitiga tersebut menandakan orang-orang yang tercerahkan dan simbol mata menandakan sumber pengetahuan

Pada zaman kejayaan Umat Kristiani, teori yang mengatakan bahwa matahari, bulan dan benda langit lainnya yang mengitari bumi diterima oleh gereja, karena para petinggi agama tersebut memiliki pemahaman bahwa, hanya orang kristiani yang akan selamat dimuka bumi ini, yang lainnya adalah orang yang tersesat. Itulah mengapa, semua yang ada di alam semesta ini akan menyembah tempat kaumnya berdiri yaitu bumi. Missionarisme adalah misi yang dilakukan umat Kristen untuk mengkristenkan umat manusia dikarenakan kepercayaan mereka tentang umat manusia yang selamat hanya mereka. Namun, teori yang mereka yakini

dipatahkan oleh teori dari Galileo Galilei dan meruntuhkan dogma gerejanya, karena sesungguhnya bumi dan benda langit lainnyalah yang mengitari matahari.

Matematika dan mistik mulai berpisah sedikit demi sedikit sejak zaman Aljabar dan Al Khawarizmi. Disinilah pentingnya peran objek material dan objek formal, walaupun materinya sama tapi cara pandangnya akan berbeda-beda, maka akan timbul spesifikasi ilmu pengetahuan, seperti matematika, fisika, biologi dan lain-lain. Ilmu mulai memiliki spesifikasi, ketika para ilmuwan dan filosof menggunakan objek material dan objek formal sebagai pandangan dasar ilmu pengetahuan.

Filsafat ilmu membagi dirinya dengan objek material dan objek formal, sedangkan filsafat mulai membagi dirinya dengan adanya ontologi, epistemologi, dan Aksiologi. Awalnya tugas filsafat menurut Aristoteles adalah to deepen our existing understanding of the world (Untuk memperdalam pemahaman kita yang sekarang tentang dunia), dunia yang dimaksud adalah apa yang kita rasakan, apa yang kita alami, dan apa yang kita miliki di dunia. Jadi, filsafat adalah bagaimana lebih memahami tentang dunia kita.

Ontologi adalah ilmu yang membahas tentang semua yang ada, dan dipakai ilmuwan untuk melahirkan sesuatu. Hal terpenting dalam ilmu ini adalah potensialitas dan aktualitas. Potensialitas adalah suatu hal yang nanti akan terjadi dan belum pasti, sedangkan aktualitas adalah suatu hal yang sekarang terjadi dan sudah pasti. Epistimologi adalah ilmu tentang cara-cara/metode untuk mengetahui sesuatu oleh seorang individu. Ilmu ini memiliki rasionalis dan empiris. Rasionalis adalah pemberian keputusan oleh akal manusia, sedangkan empiris adalah pemberian keputusan atas apa yang dialami dan dirasakan oleh panca indra. Aksiologi adalah ilmu yang membahas tentang nilai. Pemberian nilai tersebut dibagi melalui 2 cara, yaitu secara nilai subjektif dan nilai objektif. Nilai subjektif adalah pemberian nilai atau tanggapan atas sesuatu dari diri sendiri atau pendapat orang lain, sedangkan nilai objektif adalah pemberian nilai atau tanggapan secara universal atau dalam artian sesuatu tersebut (objeknya) telah memberikan nilai tersendiri atas dirinya dan semua orang mengakuinya. Kesimpulannya adalah filsafat membahas tentang sesuatu, memberi keputusan, dan memberikan nilai terhadap sesuatu disebut dengan Ontologi, Epistimologi, dan Aksiologi.

------
By. Hikmah Khairani Ibrahim

10300113144

HPK 7





Awal Mula Penspesifikasian Ilmu

Pada zaman kejayaan Phytagoras sampai zaman Aljabar, mendefinisikan ilmu sebagai kesatuan dan belum terbagi-bagi dalam ilmu yang lebih mengkhusus. Seperti halnya, ilmu antara matematika dan mistik tidak dapat dipisahkan. Matematika dan mistik pada saat itu adalah satu kesatuan kerena mereka menganggap didalam angka-angka yang ada terdapat kepercayaan atas adanya suatu kekuatan, misalnya angka 3. Menurut mereka, angka 3 adalah angka yang sangat sakral karena mereka percaya terdapat dan terkumpul berbagai perlawanan didalamnya, yaitu manusia terdiri dari genap, ganjil dan penyempurna. Selain angka 3 ada juga angka sakral lainnya, seperti 13, 27, 9 dan seterusnya. Penganut agama Kristen juga mempercayai hal tersebut, maka dari itu mereka sangat menyucikan simbol segitiga yang memiliki arti hubungan harmonis antar manusia, mereka menyebutnya dengan nama sacred triangle. Dalam dollar Amerika juga terdapat lambang segitiga dengan gambar satu mata di tengahnya, segitiga tersebut menandakan orang-orang yang tercerahkan dan simbol mata menandakan sumber pengetahuan

Pada zaman kejayaan Umat Kristiani, teori yang mengatakan bahwa matahari, bulan dan benda langit lainnya yang mengitari bumi diterima oleh gereja, karena para petinggi agama tersebut memiliki pemahaman bahwa, hanya orang kristiani yang akan selamat dimuka bumi ini, yang lainnya adalah orang yang tersesat. Itulah mengapa, semua yang ada di alam semesta ini akan menyembah tempat kaumnya berdiri yaitu bumi. Missionarisme adalah misi yang dilakukan umat Kristen untuk mengkristenkan umat manusia dikarenakan kepercayaan mereka tentang umat manusia yang selamat hanya mereka. Namun, teori yang mereka yakini

dipatahkan oleh teori dari Galileo Galilei dan meruntuhkan dogma gerejanya, karena sesungguhnya bumi dan benda langit lainnyalah yang mengitari matahari.

Matematika dan mistik mulai berpisah sedikit demi sedikit sejak zaman Aljabar dan Al Khawarizmi. Disinilah pentingnya peran objek material dan objek formal, walaupun materinya sama tapi cara pandangnya akan berbeda-beda, maka akan timbul spesifikasi ilmu pengetahuan, seperti matematika, fisika, biologi dan lain-lain. Ilmu mulai memiliki spesifikasi, ketika para ilmuwan dan filosof menggunakan objek material dan objek formal sebagai pandangan dasar ilmu pengetahuan.

Filsafat ilmu membagi dirinya dengan objek material dan objek formal, sedangkan filsafat mulai membagi dirinya dengan adanya ontologi, epistemologi, dan Aksiologi. Awalnya tugas filsafat menurut Aristoteles adalah to deepen our existing understanding of the world (Untuk memperdalam pemahaman kita yang sekarang tentang dunia), dunia yang dimaksud adalah apa yang kita rasakan, apa yang kita alami, dan apa yang kita miliki di dunia. Jadi, filsafat adalah bagaimana lebih memahami tentang dunia kita.

Ontologi adalah ilmu yang membahas tentang semua yang ada, dan dipakai ilmuwan untuk melahirkan sesuatu. Hal terpenting dalam ilmu ini adalah potensialitas dan aktualitas. Potensialitas adalah suatu hal yang nanti akan terjadi dan belum pasti, sedangkan aktualitas adalah suatu hal yang sekarang terjadi dan sudah pasti. Epistimologi adalah ilmu tentang cara-cara/metode untuk mengetahui sesuatu oleh seorang individu. Ilmu ini memiliki rasionalis dan empiris. Rasionalis adalah pemberian keputusan oleh akal manusia, sedangkan empiris adalah pemberian keputusan atas apa yang dialami dan dirasakan oleh panca indra. Aksiologi adalah ilmu yang membahas tentang nilai. Pemberian nilai tersebut dibagi melalui 2 cara, yaitu secara nilai subjektif dan nilai objektif. Nilai subjektif adalah pemberian nilai atau tanggapan atas sesuatu dari diri sendiri atau pendapat orang lain, sedangkan nilai objektif adalah pemberian nilai atau tanggapan secara universal atau dalam artian sesuatu tersebut (objeknya) telah memberikan nilai tersendiri atas dirinya dan semua orang mengakuinya. Kesimpulannya adalah filsafat membahas tentang sesuatu, memberi keputusan, dan memberikan nilai terhadap sesuatu disebut dengan Ontologi, Epistimologi, dan Aksiologi.

------
By. Hikmah Khairani Ibrahim

10300113144

HPK 7





Awal Mula Penspesifikasian Ilmu

Pada zaman kejayaan Phytagoras sampai zaman Aljabar, mendefinisikan ilmu sebagai kesatuan dan belum terbagi-bagi dalam ilmu yang lebih mengkhusus. Seperti halnya, ilmu antara matematika dan mistik tidak dapat dipisahkan. Matematika dan mistik pada saat itu adalah satu kesatuan kerena mereka menganggap didalam angka-angka yang ada terdapat kepercayaan atas adanya suatu kekuatan, misalnya angka 3. Menurut mereka, angka 3 adalah angka yang sangat sakral karena mereka percaya terdapat dan terkumpul berbagai perlawanan didalamnya, yaitu manusia terdiri dari genap, ganjil dan penyempurna. Selain angka 3 ada juga angka sakral lainnya, seperti 13, 27, 9 dan seterusnya. Penganut agama Kristen juga mempercayai hal tersebut, maka dari itu mereka sangat menyucikan simbol segitiga yang memiliki arti hubungan harmonis antar manusia, mereka menyebutnya dengan nama sacred triangle. Dalam dollar Amerika juga terdapat lambang segitiga dengan gambar satu mata di tengahnya, segitiga tersebut menandakan orang-orang yang tercerahkan dan simbol mata menandakan sumber pengetahuan

Pada zaman kejayaan Umat Kristiani, teori yang mengatakan bahwa matahari, bulan dan benda langit lainnya yang mengitari bumi diterima oleh gereja, karena para petinggi agama tersebut memiliki pemahaman bahwa, hanya orang kristiani yang akan selamat dimuka bumi ini, yang lainnya adalah orang yang tersesat. Itulah mengapa, semua yang ada di alam semesta ini akan menyembah tempat kaumnya berdiri yaitu bumi. Missionarisme adalah misi yang dilakukan umat Kristen untuk mengkristenkan umat manusia dikarenakan kepercayaan mereka tentang umat manusia yang selamat hanya mereka. Namun, teori yang mereka yakini

dipatahkan oleh teori dari Galileo Galilei dan meruntuhkan dogma gerejanya, karena sesungguhnya bumi dan benda langit lainnyalah yang mengitari matahari.

Matematika dan mistik mulai berpisah sedikit demi sedikit sejak zaman Aljabar dan Al Khawarizmi. Disinilah pentingnya peran objek material dan objek formal, walaupun materinya sama tapi cara pandangnya akan berbeda-beda, maka akan timbul spesifikasi ilmu pengetahuan, seperti matematika, fisika, biologi dan lain-lain. Ilmu mulai memiliki spesifikasi, ketika para ilmuwan dan filosof menggunakan objek material dan objek formal sebagai pandangan dasar ilmu pengetahuan.

Filsafat ilmu membagi dirinya dengan objek material dan objek formal, sedangkan filsafat mulai membagi dirinya dengan adanya ontologi, epistemologi, dan Aksiologi. Awalnya tugas filsafat menurut Aristoteles adalah to deepen our existing understanding of the world (Untuk memperdalam pemahaman kita yang sekarang tentang dunia), dunia yang dimaksud adalah apa yang kita rasakan, apa yang kita alami, dan apa yang kita miliki di dunia. Jadi, filsafat adalah bagaimana lebih memahami tentang dunia kita.

Ontologi adalah ilmu yang membahas tentang semua yang ada, dan dipakai ilmuwan untuk melahirkan sesuatu. Hal terpenting dalam ilmu ini adalah potensialitas dan aktualitas. Potensialitas adalah suatu hal yang nanti akan terjadi dan belum pasti, sedangkan aktualitas adalah suatu hal yang sekarang terjadi dan sudah pasti. Epistimologi adalah ilmu tentang cara-cara/metode untuk mengetahui sesuatu oleh seorang individu. Ilmu ini memiliki rasionalis dan empiris. Rasionalis adalah pemberian keputusan oleh akal manusia, sedangkan empiris adalah pemberian keputusan atas apa yang dialami dan dirasakan oleh panca indra. Aksiologi adalah ilmu yang membahas tentang nilai. Pemberian nilai tersebut dibagi melalui 2 cara, yaitu secara nilai subjektif dan nilai objektif. Nilai subjektif adalah pemberian nilai atau tanggapan atas sesuatu dari diri sendiri atau pendapat orang lain, sedangkan nilai objektif adalah pemberian nilai atau tanggapan secara universal atau dalam artian sesuatu tersebut (objeknya) telah memberikan nilai tersendiri atas dirinya dan semua orang mengakuinya. Kesimpulannya adalah filsafat membahas tentang sesuatu, memberi keputusan, dan memberikan nilai terhadap sesuatu disebut dengan Ontologi, Epistimologi, dan Aksiologi.

------
By. Hikmah Khairani Ibrahim

10300113144

HPK 7





Resume filsafat5 | Pembahasan Ontologi, Epistomologi dan, Aksiologi
Lihat Detail

Resume filsafat5 | Pembahasan Ontologi, Epistomologi dan, Aksiologi

Assalamu Alaikum Wr. Wb.

Pada tanggal  07/11/2013 kami dari jurusan HPK masuk mata kuliah filsafat ilmu yang dimana pada waktu itu kita membahas materi pengantar atau dasar-dasar filsafat ilmu yang membahas tentang :

1.       Tujuan dari filsafat terhadap kehidupan manusia
2.       Filsafat berdasarkan pembahasan Ontologi, Epistomologi dan, Aksiologi

1.   Pada pertemuan kali itu Bapak menjelaskan kepada kami mengenai tujuan filsafat yang dikemukakan oleh Aristoteles yaitu “ to deepan our existing understanding of the word” yang pada waktu itu kebetulan yang disuruh oleh Dosen membaca kalimat itu adalah Saya. Kalimat itu mempunyai arti bahwa” untuk memperdalam pemahaman kamu terhadap dunia”. Itulah tujuan dari filsafat berdasarkan gagasan oleh Aristoteles bahwa dalam gagasannya filsafat itu mengantarkan kita untuk memahami tentang dunia ini. Dan untuk mengkaji diperlukan adanya spesifikasi,Bapak juga menjelaskan tentang ilmu Mate-matika. Ilmu Mate-matika pada zaman dahulu itu dipandang sebagai hal yang mistik misalnya angka 3, yang menjelasakan hal seperti dibawah ini :
                                                          Tuhan
hapeka.blogspot.com
Tuhan Di ujung Atas,
Manusia Kiri Bawah, dan
Alam Kanan Bawah




 Manusia           Alam
Segi tiga ini menjelasakan tentang hubungan kita sebagai manusia dengan alam dan tuhan, inilah maksud angka 3 tersebut yang pada waktu itu dikatakan sebagai angka yang mistik atau angka yang keramat pada waktu itu. Ada saat dimana Mate-matika itu berpisah dengan hal yang mistik ketika Alwarismi mengarang buku dari situlah Mate-matika mulai berpisah sedikit demi sedikit.

2.  Filsafat berdasarkan Ontologi, Epistomolpgi, dan Aksiologi.
Assalamu Alaikum Wr. Wb.

Pada tanggal  07/11/2013 kami dari jurusan HPK masuk mata kuliah filsafat ilmu yang dimana pada waktu itu kita membahas materi pengantar atau dasar-dasar filsafat ilmu yang membahas tentang :

1.       Tujuan dari filsafat terhadap kehidupan manusia
2.       Filsafat berdasarkan pembahasan Ontologi, Epistomologi dan, Aksiologi

1.   Pada pertemuan kali itu Bapak menjelaskan kepada kami mengenai tujuan filsafat yang dikemukakan oleh Aristoteles yaitu “ to deepan our existing understanding of the word” yang pada waktu itu kebetulan yang disuruh oleh Dosen membaca kalimat itu adalah Saya. Kalimat itu mempunyai arti bahwa” untuk memperdalam pemahaman kamu terhadap dunia”. Itulah tujuan dari filsafat berdasarkan gagasan oleh Aristoteles bahwa dalam gagasannya filsafat itu mengantarkan kita untuk memahami tentang dunia ini. Dan untuk mengkaji diperlukan adanya spesifikasi,Bapak juga menjelaskan tentang ilmu Mate-matika. Ilmu Mate-matika pada zaman dahulu itu dipandang sebagai hal yang mistik misalnya angka 3, yang menjelasakan hal seperti dibawah ini :
                                                          Tuhan
hapeka.blogspot.com
Tuhan Di ujung Atas,
Manusia Kiri Bawah, dan
Alam Kanan Bawah




 Manusia           Alam
Segi tiga ini menjelasakan tentang hubungan kita sebagai manusia dengan alam dan tuhan, inilah maksud angka 3 tersebut yang pada waktu itu dikatakan sebagai angka yang mistik atau angka yang keramat pada waktu itu. Ada saat dimana Mate-matika itu berpisah dengan hal yang mistik ketika Alwarismi mengarang buku dari situlah Mate-matika mulai berpisah sedikit demi sedikit.

2.  Filsafat berdasarkan Ontologi, Epistomolpgi, dan Aksiologi.
Assalamu Alaikum Wr. Wb.

Pada tanggal  07/11/2013 kami dari jurusan HPK masuk mata kuliah filsafat ilmu yang dimana pada waktu itu kita membahas materi pengantar atau dasar-dasar filsafat ilmu yang membahas tentang :

1.       Tujuan dari filsafat terhadap kehidupan manusia
2.       Filsafat berdasarkan pembahasan Ontologi, Epistomologi dan, Aksiologi

1.   Pada pertemuan kali itu Bapak menjelaskan kepada kami mengenai tujuan filsafat yang dikemukakan oleh Aristoteles yaitu “ to deepan our existing understanding of the word” yang pada waktu itu kebetulan yang disuruh oleh Dosen membaca kalimat itu adalah Saya. Kalimat itu mempunyai arti bahwa” untuk memperdalam pemahaman kamu terhadap dunia”. Itulah tujuan dari filsafat berdasarkan gagasan oleh Aristoteles bahwa dalam gagasannya filsafat itu mengantarkan kita untuk memahami tentang dunia ini. Dan untuk mengkaji diperlukan adanya spesifikasi,Bapak juga menjelaskan tentang ilmu Mate-matika. Ilmu Mate-matika pada zaman dahulu itu dipandang sebagai hal yang mistik misalnya angka 3, yang menjelasakan hal seperti dibawah ini :
                                                          Tuhan
hapeka.blogspot.com
Tuhan Di ujung Atas,
Manusia Kiri Bawah, dan
Alam Kanan Bawah




 Manusia           Alam
Segi tiga ini menjelasakan tentang hubungan kita sebagai manusia dengan alam dan tuhan, inilah maksud angka 3 tersebut yang pada waktu itu dikatakan sebagai angka yang mistik atau angka yang keramat pada waktu itu. Ada saat dimana Mate-matika itu berpisah dengan hal yang mistik ketika Alwarismi mengarang buku dari situlah Mate-matika mulai berpisah sedikit demi sedikit.

2.  Filsafat berdasarkan Ontologi, Epistomolpgi, dan Aksiologi.
Assalamu Alaikum Wr. Wb.

Pada tanggal  07/11/2013 kami dari jurusan HPK masuk mata kuliah filsafat ilmu yang dimana pada waktu itu kita membahas materi pengantar atau dasar-dasar filsafat ilmu yang membahas tentang :

1.       Tujuan dari filsafat terhadap kehidupan manusia
2.       Filsafat berdasarkan pembahasan Ontologi, Epistomologi dan, Aksiologi

1.   Pada pertemuan kali itu Bapak menjelaskan kepada kami mengenai tujuan filsafat yang dikemukakan oleh Aristoteles yaitu “ to deepan our existing understanding of the word” yang pada waktu itu kebetulan yang disuruh oleh Dosen membaca kalimat itu adalah Saya. Kalimat itu mempunyai arti bahwa” untuk memperdalam pemahaman kamu terhadap dunia”. Itulah tujuan dari filsafat berdasarkan gagasan oleh Aristoteles bahwa dalam gagasannya filsafat itu mengantarkan kita untuk memahami tentang dunia ini. Dan untuk mengkaji diperlukan adanya spesifikasi,Bapak juga menjelaskan tentang ilmu Mate-matika. Ilmu Mate-matika pada zaman dahulu itu dipandang sebagai hal yang mistik misalnya angka 3, yang menjelasakan hal seperti dibawah ini :
                                                          Tuhan
hapeka.blogspot.com
Tuhan Di ujung Atas,
Manusia Kiri Bawah, dan
Alam Kanan Bawah




 Manusia           Alam
Segi tiga ini menjelasakan tentang hubungan kita sebagai manusia dengan alam dan tuhan, inilah maksud angka 3 tersebut yang pada waktu itu dikatakan sebagai angka yang mistik atau angka yang keramat pada waktu itu. Ada saat dimana Mate-matika itu berpisah dengan hal yang mistik ketika Alwarismi mengarang buku dari situlah Mate-matika mulai berpisah sedikit demi sedikit.

2.  Filsafat berdasarkan Ontologi, Epistomolpgi, dan Aksiologi.
Assalamu Alaikum Wr. Wb.

Pada tanggal  07/11/2013 kami dari jurusan HPK masuk mata kuliah filsafat ilmu yang dimana pada waktu itu kita membahas materi pengantar atau dasar-dasar filsafat ilmu yang membahas tentang :

1.       Tujuan dari filsafat terhadap kehidupan manusia
2.       Filsafat berdasarkan pembahasan Ontologi, Epistomologi dan, Aksiologi

1.   Pada pertemuan kali itu Bapak menjelaskan kepada kami mengenai tujuan filsafat yang dikemukakan oleh Aristoteles yaitu “ to deepan our existing understanding of the word” yang pada waktu itu kebetulan yang disuruh oleh Dosen membaca kalimat itu adalah Saya. Kalimat itu mempunyai arti bahwa” untuk memperdalam pemahaman kamu terhadap dunia”. Itulah tujuan dari filsafat berdasarkan gagasan oleh Aristoteles bahwa dalam gagasannya filsafat itu mengantarkan kita untuk memahami tentang dunia ini. Dan untuk mengkaji diperlukan adanya spesifikasi,Bapak juga menjelaskan tentang ilmu Mate-matika. Ilmu Mate-matika pada zaman dahulu itu dipandang sebagai hal yang mistik misalnya angka 3, yang menjelasakan hal seperti dibawah ini :
                                                          Tuhan
hapeka.blogspot.com
Tuhan Di ujung Atas,
Manusia Kiri Bawah, dan
Alam Kanan Bawah




 Manusia           Alam
Segi tiga ini menjelasakan tentang hubungan kita sebagai manusia dengan alam dan tuhan, inilah maksud angka 3 tersebut yang pada waktu itu dikatakan sebagai angka yang mistik atau angka yang keramat pada waktu itu. Ada saat dimana Mate-matika itu berpisah dengan hal yang mistik ketika Alwarismi mengarang buku dari situlah Mate-matika mulai berpisah sedikit demi sedikit.

2.  Filsafat berdasarkan Ontologi, Epistomolpgi, dan Aksiologi.
Resume Filsafat4 | Objek Kajian Filsafat Ilmu
Lihat Detail

Resume Filsafat4 | Objek Kajian Filsafat Ilmu

Objek Kajian Filsafat Ilmu

     Untuk membahas objek kajian dalam filsafat ilmu, perlu dikaji terlebih dahulu makna filsafat itu. Secara etimologi, filsafat berasal dari bahasa Yunani, yaitu Philosophia, dan terdiri dari kata Philo yang berarti kesukaan atau kecintaan terhadap sesuatu, dan kata Sophia yang berarti kebijaksanaan. Jadi, filsafat diartikan sebagai suatu kecintaan terhadap kebijaksanaan.

     Objek kajian filsafat ilmu terdiri atas dua bagian yaitu, objek material dan objek formal. Kegunaan objek material dan objek formal adalah sebagai objek yang akan dipilah-pilah dan akan menjadi istilah oprasional filsafat ilmu. Objek material adalah objek yang akan dikaji, atau objek yang dipelajari oleh ilmu itu. Terkadang objeknya hanya satu, misalnya objek yang akan dikaji adalah makanan dan dikaji oleh seorang Dokter maka objek tersebut dikaji dari segi kesehatannya bagi manusia, atau dikaji oleh seorang ahli nutrisi maka makanan tersebut dikaji dari segi keseimbangan nutrisinya, atau makanan tersebut dikaji oleh seorang chef maka makanan tersebut dikaji dari segi rasa dan keindahan penyajiannya. Objek formal adalah gaya
Objek Kajian Filsafat Ilmu

     Untuk membahas objek kajian dalam filsafat ilmu, perlu dikaji terlebih dahulu makna filsafat itu. Secara etimologi, filsafat berasal dari bahasa Yunani, yaitu Philosophia, dan terdiri dari kata Philo yang berarti kesukaan atau kecintaan terhadap sesuatu, dan kata Sophia yang berarti kebijaksanaan. Jadi, filsafat diartikan sebagai suatu kecintaan terhadap kebijaksanaan.

     Objek kajian filsafat ilmu terdiri atas dua bagian yaitu, objek material dan objek formal. Kegunaan objek material dan objek formal adalah sebagai objek yang akan dipilah-pilah dan akan menjadi istilah oprasional filsafat ilmu. Objek material adalah objek yang akan dikaji, atau objek yang dipelajari oleh ilmu itu. Terkadang objeknya hanya satu, misalnya objek yang akan dikaji adalah makanan dan dikaji oleh seorang Dokter maka objek tersebut dikaji dari segi kesehatannya bagi manusia, atau dikaji oleh seorang ahli nutrisi maka makanan tersebut dikaji dari segi keseimbangan nutrisinya, atau makanan tersebut dikaji oleh seorang chef maka makanan tersebut dikaji dari segi rasa dan keindahan penyajiannya. Objek formal adalah gaya
Objek Kajian Filsafat Ilmu

     Untuk membahas objek kajian dalam filsafat ilmu, perlu dikaji terlebih dahulu makna filsafat itu. Secara etimologi, filsafat berasal dari bahasa Yunani, yaitu Philosophia, dan terdiri dari kata Philo yang berarti kesukaan atau kecintaan terhadap sesuatu, dan kata Sophia yang berarti kebijaksanaan. Jadi, filsafat diartikan sebagai suatu kecintaan terhadap kebijaksanaan.

     Objek kajian filsafat ilmu terdiri atas dua bagian yaitu, objek material dan objek formal. Kegunaan objek material dan objek formal adalah sebagai objek yang akan dipilah-pilah dan akan menjadi istilah oprasional filsafat ilmu. Objek material adalah objek yang akan dikaji, atau objek yang dipelajari oleh ilmu itu. Terkadang objeknya hanya satu, misalnya objek yang akan dikaji adalah makanan dan dikaji oleh seorang Dokter maka objek tersebut dikaji dari segi kesehatannya bagi manusia, atau dikaji oleh seorang ahli nutrisi maka makanan tersebut dikaji dari segi keseimbangan nutrisinya, atau makanan tersebut dikaji oleh seorang chef maka makanan tersebut dikaji dari segi rasa dan keindahan penyajiannya. Objek formal adalah gaya
Objek Kajian Filsafat Ilmu

     Untuk membahas objek kajian dalam filsafat ilmu, perlu dikaji terlebih dahulu makna filsafat itu. Secara etimologi, filsafat berasal dari bahasa Yunani, yaitu Philosophia, dan terdiri dari kata Philo yang berarti kesukaan atau kecintaan terhadap sesuatu, dan kata Sophia yang berarti kebijaksanaan. Jadi, filsafat diartikan sebagai suatu kecintaan terhadap kebijaksanaan.

     Objek kajian filsafat ilmu terdiri atas dua bagian yaitu, objek material dan objek formal. Kegunaan objek material dan objek formal adalah sebagai objek yang akan dipilah-pilah dan akan menjadi istilah oprasional filsafat ilmu. Objek material adalah objek yang akan dikaji, atau objek yang dipelajari oleh ilmu itu. Terkadang objeknya hanya satu, misalnya objek yang akan dikaji adalah makanan dan dikaji oleh seorang Dokter maka objek tersebut dikaji dari segi kesehatannya bagi manusia, atau dikaji oleh seorang ahli nutrisi maka makanan tersebut dikaji dari segi keseimbangan nutrisinya, atau makanan tersebut dikaji oleh seorang chef maka makanan tersebut dikaji dari segi rasa dan keindahan penyajiannya. Objek formal adalah gaya
Objek Kajian Filsafat Ilmu

     Untuk membahas objek kajian dalam filsafat ilmu, perlu dikaji terlebih dahulu makna filsafat itu. Secara etimologi, filsafat berasal dari bahasa Yunani, yaitu Philosophia, dan terdiri dari kata Philo yang berarti kesukaan atau kecintaan terhadap sesuatu, dan kata Sophia yang berarti kebijaksanaan. Jadi, filsafat diartikan sebagai suatu kecintaan terhadap kebijaksanaan.

     Objek kajian filsafat ilmu terdiri atas dua bagian yaitu, objek material dan objek formal. Kegunaan objek material dan objek formal adalah sebagai objek yang akan dipilah-pilah dan akan menjadi istilah oprasional filsafat ilmu. Objek material adalah objek yang akan dikaji, atau objek yang dipelajari oleh ilmu itu. Terkadang objeknya hanya satu, misalnya objek yang akan dikaji adalah makanan dan dikaji oleh seorang Dokter maka objek tersebut dikaji dari segi kesehatannya bagi manusia, atau dikaji oleh seorang ahli nutrisi maka makanan tersebut dikaji dari segi keseimbangan nutrisinya, atau makanan tersebut dikaji oleh seorang chef maka makanan tersebut dikaji dari segi rasa dan keindahan penyajiannya. Objek formal adalah gaya
Resume Filsafat2 | Menjadi Sukses atau Berilmu?
Lihat Detail

Resume Filsafat2 | Menjadi Sukses atau Berilmu?

Menjadi Sukses atau Berilmu?

        Tuhan Maha Adil atas segala sesuatu yang terjadi pada hidup seseorang. Jangan pernah menganggap Tuhan tidak adil hanya karena apa yang kita inginkan tidak dapat kita raih. Coba intropeksi kembali ke dalam diri kita sendiri. Menjadi sukses terkadang tidak harus berilmu, begitu pula sebaliknya, orang yang berilmu terkadang tidak menjadi sukses, “Kaya”. Orang yang memilih sukses mempunyai alasan tersendiri, begitu pula sebaliknya, orang yang memilih berilmu juga memiliki alasan tersendiri. Hidup penuh pilihan.

        Banyak orang yang berusaha keras menempuh pendidikannya hingga ke universitas ternama bahkan memaksakan dirinya untuk bergelar sebanyak mungkin, menghamburkan uangnya demi menuntut ilmu hingga ia wisuda dan menjadi lulusan terbaik. Hal tersebut wajar adanya, akan tetapi tidak ada yang bisa menjamin pekerjaan apa yang akan ia dapatkan atau bahkan adakah pekerjaan yang akan ia dapatkan, meskipun tidak sedikit pula yang menjadi sukses. Di lain sisi, banyak orang yang pendidikannya rendah memilih untuk tetap tinggal tanpa melakukan suatu perubahan pada hidupnya tapi banyak pula yang bersemangat melawan takdir dan sangat termotivasi untuk sukses karena latar belakangnya tersebut. Semua perubahan yang mereka lakukan mungkin di latar belakangi rasa gengsi yang kuat dan “Apa kata dunia?” adalah kalimat yang bisa
Menjadi Sukses atau Berilmu?

        Tuhan Maha Adil atas segala sesuatu yang terjadi pada hidup seseorang. Jangan pernah menganggap Tuhan tidak adil hanya karena apa yang kita inginkan tidak dapat kita raih. Coba intropeksi kembali ke dalam diri kita sendiri. Menjadi sukses terkadang tidak harus berilmu, begitu pula sebaliknya, orang yang berilmu terkadang tidak menjadi sukses, “Kaya”. Orang yang memilih sukses mempunyai alasan tersendiri, begitu pula sebaliknya, orang yang memilih berilmu juga memiliki alasan tersendiri. Hidup penuh pilihan.

        Banyak orang yang berusaha keras menempuh pendidikannya hingga ke universitas ternama bahkan memaksakan dirinya untuk bergelar sebanyak mungkin, menghamburkan uangnya demi menuntut ilmu hingga ia wisuda dan menjadi lulusan terbaik. Hal tersebut wajar adanya, akan tetapi tidak ada yang bisa menjamin pekerjaan apa yang akan ia dapatkan atau bahkan adakah pekerjaan yang akan ia dapatkan, meskipun tidak sedikit pula yang menjadi sukses. Di lain sisi, banyak orang yang pendidikannya rendah memilih untuk tetap tinggal tanpa melakukan suatu perubahan pada hidupnya tapi banyak pula yang bersemangat melawan takdir dan sangat termotivasi untuk sukses karena latar belakangnya tersebut. Semua perubahan yang mereka lakukan mungkin di latar belakangi rasa gengsi yang kuat dan “Apa kata dunia?” adalah kalimat yang bisa
Menjadi Sukses atau Berilmu?

        Tuhan Maha Adil atas segala sesuatu yang terjadi pada hidup seseorang. Jangan pernah menganggap Tuhan tidak adil hanya karena apa yang kita inginkan tidak dapat kita raih. Coba intropeksi kembali ke dalam diri kita sendiri. Menjadi sukses terkadang tidak harus berilmu, begitu pula sebaliknya, orang yang berilmu terkadang tidak menjadi sukses, “Kaya”. Orang yang memilih sukses mempunyai alasan tersendiri, begitu pula sebaliknya, orang yang memilih berilmu juga memiliki alasan tersendiri. Hidup penuh pilihan.

        Banyak orang yang berusaha keras menempuh pendidikannya hingga ke universitas ternama bahkan memaksakan dirinya untuk bergelar sebanyak mungkin, menghamburkan uangnya demi menuntut ilmu hingga ia wisuda dan menjadi lulusan terbaik. Hal tersebut wajar adanya, akan tetapi tidak ada yang bisa menjamin pekerjaan apa yang akan ia dapatkan atau bahkan adakah pekerjaan yang akan ia dapatkan, meskipun tidak sedikit pula yang menjadi sukses. Di lain sisi, banyak orang yang pendidikannya rendah memilih untuk tetap tinggal tanpa melakukan suatu perubahan pada hidupnya tapi banyak pula yang bersemangat melawan takdir dan sangat termotivasi untuk sukses karena latar belakangnya tersebut. Semua perubahan yang mereka lakukan mungkin di latar belakangi rasa gengsi yang kuat dan “Apa kata dunia?” adalah kalimat yang bisa
Menjadi Sukses atau Berilmu?

        Tuhan Maha Adil atas segala sesuatu yang terjadi pada hidup seseorang. Jangan pernah menganggap Tuhan tidak adil hanya karena apa yang kita inginkan tidak dapat kita raih. Coba intropeksi kembali ke dalam diri kita sendiri. Menjadi sukses terkadang tidak harus berilmu, begitu pula sebaliknya, orang yang berilmu terkadang tidak menjadi sukses, “Kaya”. Orang yang memilih sukses mempunyai alasan tersendiri, begitu pula sebaliknya, orang yang memilih berilmu juga memiliki alasan tersendiri. Hidup penuh pilihan.

        Banyak orang yang berusaha keras menempuh pendidikannya hingga ke universitas ternama bahkan memaksakan dirinya untuk bergelar sebanyak mungkin, menghamburkan uangnya demi menuntut ilmu hingga ia wisuda dan menjadi lulusan terbaik. Hal tersebut wajar adanya, akan tetapi tidak ada yang bisa menjamin pekerjaan apa yang akan ia dapatkan atau bahkan adakah pekerjaan yang akan ia dapatkan, meskipun tidak sedikit pula yang menjadi sukses. Di lain sisi, banyak orang yang pendidikannya rendah memilih untuk tetap tinggal tanpa melakukan suatu perubahan pada hidupnya tapi banyak pula yang bersemangat melawan takdir dan sangat termotivasi untuk sukses karena latar belakangnya tersebut. Semua perubahan yang mereka lakukan mungkin di latar belakangi rasa gengsi yang kuat dan “Apa kata dunia?” adalah kalimat yang bisa
Menjadi Sukses atau Berilmu?

        Tuhan Maha Adil atas segala sesuatu yang terjadi pada hidup seseorang. Jangan pernah menganggap Tuhan tidak adil hanya karena apa yang kita inginkan tidak dapat kita raih. Coba intropeksi kembali ke dalam diri kita sendiri. Menjadi sukses terkadang tidak harus berilmu, begitu pula sebaliknya, orang yang berilmu terkadang tidak menjadi sukses, “Kaya”. Orang yang memilih sukses mempunyai alasan tersendiri, begitu pula sebaliknya, orang yang memilih berilmu juga memiliki alasan tersendiri. Hidup penuh pilihan.

        Banyak orang yang berusaha keras menempuh pendidikannya hingga ke universitas ternama bahkan memaksakan dirinya untuk bergelar sebanyak mungkin, menghamburkan uangnya demi menuntut ilmu hingga ia wisuda dan menjadi lulusan terbaik. Hal tersebut wajar adanya, akan tetapi tidak ada yang bisa menjamin pekerjaan apa yang akan ia dapatkan atau bahkan adakah pekerjaan yang akan ia dapatkan, meskipun tidak sedikit pula yang menjadi sukses. Di lain sisi, banyak orang yang pendidikannya rendah memilih untuk tetap tinggal tanpa melakukan suatu perubahan pada hidupnya tapi banyak pula yang bersemangat melawan takdir dan sangat termotivasi untuk sukses karena latar belakangnya tersebut. Semua perubahan yang mereka lakukan mungkin di latar belakangi rasa gengsi yang kuat dan “Apa kata dunia?” adalah kalimat yang bisa
Resume Filsafat1 | Pentingnya Sebuah Prinsip
Lihat Detail

Resume Filsafat1 | Pentingnya Sebuah Prinsip

Pentingnya Sebuah Prinsip
     Sabtu, 14 September 2013. Di mesjid Kampus II UIN Alauddin Makassar, saya dan dua teman saya yang lain mengikuti perkuliahan dengan mata kuliah Pengantar Filsafah Ilmu oleh bapak Awal Mufta, M.Fil. Sore itu, sekitar pukul 16.20 WITA. Suasana perkuliahan saat itu terasa berbeda karena kami tidak menerima perkuliahan di dalam ruangan kelas seperti biasanya, ditambah lagi hari itu for the first time kami bertemu dengan beliau yang membawa mata kuliah ini.

     Pertemuan pertama memang selalu terasa canggung, tapi kali ini tidak berlangsung lama karena dosen kami ramah dan menyenangkan diajak bertukar ilmu dan pendapat, menurut saya. Kala itu, kami belum memasuki materi, karena alangkah sangat disayangkan jika hanya ada kami bertiga yang menerima materi awal, sedangkan teman yang lain tidak bisa hadir. Kami hanya membentuk forum kecil yang tidak formal dan membicarakan sedikit tentang kontrak kuliah serta pembicaraan yang menurut saya, sangat memberi inspirasi dan motivasi dalam menjalani masa kuliah.

      Pentingnya sebuah prinsip. Itulah kesimpulan yang bisa saya tangkap dari pembicaraan kami. Dari cerita
yang diceritakan beliau tentang 3 orang mahasiswa yang memiliki karakter yang berbeda yang masing-masing 2 orang yang memiliki prinsip berbeda dan seorang lagi tidak memiliki prinsip memiliki akhir kisah yang berbeda pula. Setelah mendengar cerita beliau, pikiran saya terbuka dan melihat kembali ke dalam diri saya sendiri. Apakah saya memiliki prinsip? Apakah saya sudah menjalankan prinsip saya? Apakah benar yang saya jalani sekarang?. Semua pertanyaan itu muncul seketika. Iya, saya memiliki prinsip, tapi saya belum yakin apakah saya sudah menjalankannya, dan yang saya jalani sekarang saya serahkan kepada Yang Maha Kuasa.
Pentingnya Sebuah Prinsip
     Sabtu, 14 September 2013. Di mesjid Kampus II UIN Alauddin Makassar, saya dan dua teman saya yang lain mengikuti perkuliahan dengan mata kuliah Pengantar Filsafah Ilmu oleh bapak Awal Mufta, M.Fil. Sore itu, sekitar pukul 16.20 WITA. Suasana perkuliahan saat itu terasa berbeda karena kami tidak menerima perkuliahan di dalam ruangan kelas seperti biasanya, ditambah lagi hari itu for the first time kami bertemu dengan beliau yang membawa mata kuliah ini.

     Pertemuan pertama memang selalu terasa canggung, tapi kali ini tidak berlangsung lama karena dosen kami ramah dan menyenangkan diajak bertukar ilmu dan pendapat, menurut saya. Kala itu, kami belum memasuki materi, karena alangkah sangat disayangkan jika hanya ada kami bertiga yang menerima materi awal, sedangkan teman yang lain tidak bisa hadir. Kami hanya membentuk forum kecil yang tidak formal dan membicarakan sedikit tentang kontrak kuliah serta pembicaraan yang menurut saya, sangat memberi inspirasi dan motivasi dalam menjalani masa kuliah.

      Pentingnya sebuah prinsip. Itulah kesimpulan yang bisa saya tangkap dari pembicaraan kami. Dari cerita
yang diceritakan beliau tentang 3 orang mahasiswa yang memiliki karakter yang berbeda yang masing-masing 2 orang yang memiliki prinsip berbeda dan seorang lagi tidak memiliki prinsip memiliki akhir kisah yang berbeda pula. Setelah mendengar cerita beliau, pikiran saya terbuka dan melihat kembali ke dalam diri saya sendiri. Apakah saya memiliki prinsip? Apakah saya sudah menjalankan prinsip saya? Apakah benar yang saya jalani sekarang?. Semua pertanyaan itu muncul seketika. Iya, saya memiliki prinsip, tapi saya belum yakin apakah saya sudah menjalankannya, dan yang saya jalani sekarang saya serahkan kepada Yang Maha Kuasa.
Pentingnya Sebuah Prinsip
     Sabtu, 14 September 2013. Di mesjid Kampus II UIN Alauddin Makassar, saya dan dua teman saya yang lain mengikuti perkuliahan dengan mata kuliah Pengantar Filsafah Ilmu oleh bapak Awal Mufta, M.Fil. Sore itu, sekitar pukul 16.20 WITA. Suasana perkuliahan saat itu terasa berbeda karena kami tidak menerima perkuliahan di dalam ruangan kelas seperti biasanya, ditambah lagi hari itu for the first time kami bertemu dengan beliau yang membawa mata kuliah ini.

     Pertemuan pertama memang selalu terasa canggung, tapi kali ini tidak berlangsung lama karena dosen kami ramah dan menyenangkan diajak bertukar ilmu dan pendapat, menurut saya. Kala itu, kami belum memasuki materi, karena alangkah sangat disayangkan jika hanya ada kami bertiga yang menerima materi awal, sedangkan teman yang lain tidak bisa hadir. Kami hanya membentuk forum kecil yang tidak formal dan membicarakan sedikit tentang kontrak kuliah serta pembicaraan yang menurut saya, sangat memberi inspirasi dan motivasi dalam menjalani masa kuliah.

      Pentingnya sebuah prinsip. Itulah kesimpulan yang bisa saya tangkap dari pembicaraan kami. Dari cerita
yang diceritakan beliau tentang 3 orang mahasiswa yang memiliki karakter yang berbeda yang masing-masing 2 orang yang memiliki prinsip berbeda dan seorang lagi tidak memiliki prinsip memiliki akhir kisah yang berbeda pula. Setelah mendengar cerita beliau, pikiran saya terbuka dan melihat kembali ke dalam diri saya sendiri. Apakah saya memiliki prinsip? Apakah saya sudah menjalankan prinsip saya? Apakah benar yang saya jalani sekarang?. Semua pertanyaan itu muncul seketika. Iya, saya memiliki prinsip, tapi saya belum yakin apakah saya sudah menjalankannya, dan yang saya jalani sekarang saya serahkan kepada Yang Maha Kuasa.
Pentingnya Sebuah Prinsip
     Sabtu, 14 September 2013. Di mesjid Kampus II UIN Alauddin Makassar, saya dan dua teman saya yang lain mengikuti perkuliahan dengan mata kuliah Pengantar Filsafah Ilmu oleh bapak Awal Mufta, M.Fil. Sore itu, sekitar pukul 16.20 WITA. Suasana perkuliahan saat itu terasa berbeda karena kami tidak menerima perkuliahan di dalam ruangan kelas seperti biasanya, ditambah lagi hari itu for the first time kami bertemu dengan beliau yang membawa mata kuliah ini.

     Pertemuan pertama memang selalu terasa canggung, tapi kali ini tidak berlangsung lama karena dosen kami ramah dan menyenangkan diajak bertukar ilmu dan pendapat, menurut saya. Kala itu, kami belum memasuki materi, karena alangkah sangat disayangkan jika hanya ada kami bertiga yang menerima materi awal, sedangkan teman yang lain tidak bisa hadir. Kami hanya membentuk forum kecil yang tidak formal dan membicarakan sedikit tentang kontrak kuliah serta pembicaraan yang menurut saya, sangat memberi inspirasi dan motivasi dalam menjalani masa kuliah.

      Pentingnya sebuah prinsip. Itulah kesimpulan yang bisa saya tangkap dari pembicaraan kami. Dari cerita
yang diceritakan beliau tentang 3 orang mahasiswa yang memiliki karakter yang berbeda yang masing-masing 2 orang yang memiliki prinsip berbeda dan seorang lagi tidak memiliki prinsip memiliki akhir kisah yang berbeda pula. Setelah mendengar cerita beliau, pikiran saya terbuka dan melihat kembali ke dalam diri saya sendiri. Apakah saya memiliki prinsip? Apakah saya sudah menjalankan prinsip saya? Apakah benar yang saya jalani sekarang?. Semua pertanyaan itu muncul seketika. Iya, saya memiliki prinsip, tapi saya belum yakin apakah saya sudah menjalankannya, dan yang saya jalani sekarang saya serahkan kepada Yang Maha Kuasa.
Pentingnya Sebuah Prinsip
     Sabtu, 14 September 2013. Di mesjid Kampus II UIN Alauddin Makassar, saya dan dua teman saya yang lain mengikuti perkuliahan dengan mata kuliah Pengantar Filsafah Ilmu oleh bapak Awal Mufta, M.Fil. Sore itu, sekitar pukul 16.20 WITA. Suasana perkuliahan saat itu terasa berbeda karena kami tidak menerima perkuliahan di dalam ruangan kelas seperti biasanya, ditambah lagi hari itu for the first time kami bertemu dengan beliau yang membawa mata kuliah ini.

     Pertemuan pertama memang selalu terasa canggung, tapi kali ini tidak berlangsung lama karena dosen kami ramah dan menyenangkan diajak bertukar ilmu dan pendapat, menurut saya. Kala itu, kami belum memasuki materi, karena alangkah sangat disayangkan jika hanya ada kami bertiga yang menerima materi awal, sedangkan teman yang lain tidak bisa hadir. Kami hanya membentuk forum kecil yang tidak formal dan membicarakan sedikit tentang kontrak kuliah serta pembicaraan yang menurut saya, sangat memberi inspirasi dan motivasi dalam menjalani masa kuliah.

      Pentingnya sebuah prinsip. Itulah kesimpulan yang bisa saya tangkap dari pembicaraan kami. Dari cerita
yang diceritakan beliau tentang 3 orang mahasiswa yang memiliki karakter yang berbeda yang masing-masing 2 orang yang memiliki prinsip berbeda dan seorang lagi tidak memiliki prinsip memiliki akhir kisah yang berbeda pula. Setelah mendengar cerita beliau, pikiran saya terbuka dan melihat kembali ke dalam diri saya sendiri. Apakah saya memiliki prinsip? Apakah saya sudah menjalankan prinsip saya? Apakah benar yang saya jalani sekarang?. Semua pertanyaan itu muncul seketika. Iya, saya memiliki prinsip, tapi saya belum yakin apakah saya sudah menjalankannya, dan yang saya jalani sekarang saya serahkan kepada Yang Maha Kuasa.
Makalah | Pangantar Ilmu Hukum
Lihat Detail

Makalah | Pangantar Ilmu Hukum

PENGANTAR ILMU HUKUM
KASUS POLITIK HUKUM DI INDONESIA

hapeka.blogspot.com

Disusun Oleh:
PENGANTAR ILMU HUKUM
KASUS POLITIK HUKUM DI INDONESIA

hapeka.blogspot.com

Disusun Oleh:
PENGANTAR ILMU HUKUM
KASUS POLITIK HUKUM DI INDONESIA

hapeka.blogspot.com

Disusun Oleh:
Tugas Kuliah Bahasa Indonesia
Lihat Detail

Tugas Kuliah Bahasa Indonesia

Ejaan yang Disempurnakan (EYD)

BAHASA INDONESIA
EJAAN YANG DISEMPURNAKAN

uin alauddin mks

Disusun Oleh:
ANDI SHARFIAH MUSTARI         : 10300113143
HIKMAH KHAIRANI IBRAHIM  : 10300113144
NUR AULIA RAHMA                     : 10300113145
RISWAN                                            : 10300113171

JURUSAN HUKUM PIDANA DAN KETATANEGARAAN
FAKULTAS SYARI’AH DAN HUKUM  
UIN ALAUDDIN MAKASSAR
TA  2013/2014

Ejaan yang Disempurnakan (EYD)

BAHASA INDONESIA
EJAAN YANG DISEMPURNAKAN

uin alauddin mks

Disusun Oleh:
ANDI SHARFIAH MUSTARI         : 10300113143
HIKMAH KHAIRANI IBRAHIM  : 10300113144
NUR AULIA RAHMA                     : 10300113145
RISWAN                                            : 10300113171

JURUSAN HUKUM PIDANA DAN KETATANEGARAAN
FAKULTAS SYARI’AH DAN HUKUM  
UIN ALAUDDIN MAKASSAR
TA  2013/2014

Ejaan yang Disempurnakan (EYD)

BAHASA INDONESIA
EJAAN YANG DISEMPURNAKAN

uin alauddin mks

Disusun Oleh:
ANDI SHARFIAH MUSTARI         : 10300113143
HIKMAH KHAIRANI IBRAHIM  : 10300113144
NUR AULIA RAHMA                     : 10300113145
RISWAN                                            : 10300113171

JURUSAN HUKUM PIDANA DAN KETATANEGARAAN
FAKULTAS SYARI’AH DAN HUKUM  
UIN ALAUDDIN MAKASSAR
TA  2013/2014

Ejaan yang Disempurnakan (EYD)

BAHASA INDONESIA
EJAAN YANG DISEMPURNAKAN

uin alauddin mks

Disusun Oleh:
ANDI SHARFIAH MUSTARI         : 10300113143
HIKMAH KHAIRANI IBRAHIM  : 10300113144
NUR AULIA RAHMA                     : 10300113145
RISWAN                                            : 10300113171

JURUSAN HUKUM PIDANA DAN KETATANEGARAAN
FAKULTAS SYARI’AH DAN HUKUM  
UIN ALAUDDIN MAKASSAR
TA  2013/2014

Metode Penelitian2
Lihat Detail

Metode Penelitian2

Materi 2 : Masalah Tauran
klik :

Materi 3 : Masalah Kenakalan Remaja

Materi 2 : Masalah Tauran
klik :

Materi 3 : Masalah Kenakalan Remaja

Materi 2 : Masalah Tauran
klik :

Materi 3 : Masalah Kenakalan Remaja

English Materials 5
Lihat Detail

English Materials 5

Find out Nouns, Noun Clusters, Pronouns, Verbs, Adjectives and adverbs from this following text !
FAITH

A Muslim believes in Allah and he expresses his belief in words, plants in the heart and actualizes  it in deed. This faith is expresses in detail by two kinds of expression: general and specific.

As a general faith, the muslim believes in Allah with all his names and attributes, and he accepts all His commands. There are ninety-nine attributes and names of Allah and a Muslim believes in all His attributes. Allah is All-Powerfull. The All-knowing and the Cteator of the universe. A muslim regards him as the only Ruler and Master. A muslim has to depend upon Allah’s mercy alone.
Find out Nouns, Noun Clusters, Pronouns, Verbs, Adjectives and adverbs from this following text !
FAITH

A Muslim believes in Allah and he expresses his belief in words, plants in the heart and actualizes  it in deed. This faith is expresses in detail by two kinds of expression: general and specific.

As a general faith, the muslim believes in Allah with all his names and attributes, and he accepts all His commands. There are ninety-nine attributes and names of Allah and a Muslim believes in all His attributes. Allah is All-Powerfull. The All-knowing and the Cteator of the universe. A muslim regards him as the only Ruler and Master. A muslim has to depend upon Allah’s mercy alone.
Find out Nouns, Noun Clusters, Pronouns, Verbs, Adjectives and adverbs from this following text !
FAITH

A Muslim believes in Allah and he expresses his belief in words, plants in the heart and actualizes  it in deed. This faith is expresses in detail by two kinds of expression: general and specific.

As a general faith, the muslim believes in Allah with all his names and attributes, and he accepts all His commands. There are ninety-nine attributes and names of Allah and a Muslim believes in all His attributes. Allah is All-Powerfull. The All-knowing and the Cteator of the universe. A muslim regards him as the only Ruler and Master. A muslim has to depend upon Allah’s mercy alone.
Find out Nouns, Noun Clusters, Pronouns, Verbs, Adjectives and adverbs from this following text !
FAITH

A Muslim believes in Allah and he expresses his belief in words, plants in the heart and actualizes  it in deed. This faith is expresses in detail by two kinds of expression: general and specific.

As a general faith, the muslim believes in Allah with all his names and attributes, and he accepts all His commands. There are ninety-nine attributes and names of Allah and a Muslim believes in all His attributes. Allah is All-Powerfull. The All-knowing and the Cteator of the universe. A muslim regards him as the only Ruler and Master. A muslim has to depend upon Allah’s mercy alone.
English Materials 4
Lihat Detail

English Materials 4

Find out Nouns, Noun Clusters, Pronouns, Verbs, Adjectives and adverbs from this following text !

THE QUR’AN

The Qur’an is the book of Allah. Every words of the Qur’an is the words of Allah. It is a book of guidance. It is preserved in its original form. Not a single word of it has been changed or lost. It is found today exactly as it was revealed to the prophet Muhammad (p.b.u.h). How was the Qur’an revealed to the prophet Muhammad (p.b.u.h)? Allah revealed the Qur’an through the Angel Gabriel. Gabriel passed on Allah words to Muhammad (p.b.u.h.), then Muhammad asked him secretary to write down exactly what Gabriel told him.
Find out Nouns, Noun Clusters, Pronouns, Verbs, Adjectives and adverbs from this following text !

THE QUR’AN

The Qur’an is the book of Allah. Every words of the Qur’an is the words of Allah. It is a book of guidance. It is preserved in its original form. Not a single word of it has been changed or lost. It is found today exactly as it was revealed to the prophet Muhammad (p.b.u.h). How was the Qur’an revealed to the prophet Muhammad (p.b.u.h)? Allah revealed the Qur’an through the Angel Gabriel. Gabriel passed on Allah words to Muhammad (p.b.u.h.), then Muhammad asked him secretary to write down exactly what Gabriel told him.
Find out Nouns, Noun Clusters, Pronouns, Verbs, Adjectives and adverbs from this following text !

THE QUR’AN

The Qur’an is the book of Allah. Every words of the Qur’an is the words of Allah. It is a book of guidance. It is preserved in its original form. Not a single word of it has been changed or lost. It is found today exactly as it was revealed to the prophet Muhammad (p.b.u.h). How was the Qur’an revealed to the prophet Muhammad (p.b.u.h)? Allah revealed the Qur’an through the Angel Gabriel. Gabriel passed on Allah words to Muhammad (p.b.u.h.), then Muhammad asked him secretary to write down exactly what Gabriel told him.
Find out Nouns, Noun Clusters, Pronouns, Verbs, Adjectives and adverbs from this following text !

THE QUR’AN

The Qur’an is the book of Allah. Every words of the Qur’an is the words of Allah. It is a book of guidance. It is preserved in its original form. Not a single word of it has been changed or lost. It is found today exactly as it was revealed to the prophet Muhammad (p.b.u.h). How was the Qur’an revealed to the prophet Muhammad (p.b.u.h)? Allah revealed the Qur’an through the Angel Gabriel. Gabriel passed on Allah words to Muhammad (p.b.u.h.), then Muhammad asked him secretary to write down exactly what Gabriel told him.
English Materials 3
Lihat Detail

English Materials 3

Find out Nouns, Noun Clusters, Pronouns, Verbs, Adjectives and adverbs from this following text !
ISLAM

The word Islam, which is derived from Arabic, means to accept, to follow and to obey. In other words, Islam is following God, the master. God is our Creator and Master. Our success in life relies fully on following the master. Therefore, we must all obey His commands, either in
Find out Nouns, Noun Clusters, Pronouns, Verbs, Adjectives and adverbs from this following text !
ISLAM

The word Islam, which is derived from Arabic, means to accept, to follow and to obey. In other words, Islam is following God, the master. God is our Creator and Master. Our success in life relies fully on following the master. Therefore, we must all obey His commands, either in
Find out Nouns, Noun Clusters, Pronouns, Verbs, Adjectives and adverbs from this following text !
ISLAM

The word Islam, which is derived from Arabic, means to accept, to follow and to obey. In other words, Islam is following God, the master. God is our Creator and Master. Our success in life relies fully on following the master. Therefore, we must all obey His commands, either in
Find out Nouns, Noun Clusters, Pronouns, Verbs, Adjectives and adverbs from this following text !
ISLAM

The word Islam, which is derived from Arabic, means to accept, to follow and to obey. In other words, Islam is following God, the master. God is our Creator and Master. Our success in life relies fully on following the master. Therefore, we must all obey His commands, either in
English Materials 2
Lihat Detail

English Materials 2

Find out Nouns, Noun Clusters, Pronouns, Verbs, Adjectives and adverbs from this following text !

PROPHET MUHAMMAD

A great thing happened in the year 571 A.D (the Christian Era). Muhammad, the last prophet, was born in Mecca 571 years after the prophet Jesus. His father was Abdullah, who
Find out Nouns, Noun Clusters, Pronouns, Verbs, Adjectives and adverbs from this following text !

PROPHET MUHAMMAD

A great thing happened in the year 571 A.D (the Christian Era). Muhammad, the last prophet, was born in Mecca 571 years after the prophet Jesus. His father was Abdullah, who
Find out Nouns, Noun Clusters, Pronouns, Verbs, Adjectives and adverbs from this following text !

PROPHET MUHAMMAD

A great thing happened in the year 571 A.D (the Christian Era). Muhammad, the last prophet, was born in Mecca 571 years after the prophet Jesus. His father was Abdullah, who
Find out Nouns, Noun Clusters, Pronouns, Verbs, Adjectives and adverbs from this following text !

PROPHET MUHAMMAD

A great thing happened in the year 571 A.D (the Christian Era). Muhammad, the last prophet, was born in Mecca 571 years after the prophet Jesus. His father was Abdullah, who
English Materials 1
Lihat Detail

English Materials 1

Find out Nouns, Noun Clusters, Pronouns, Verbs, Adjectives and adverbs from this following text !


ALLAH -THE GOD


          
God is the lord of the universe. He is the Creator of the universe. He creates the world for us and also creates us in the best form. In Arabic, God is called Allah. Allah is the proper name for the one and only God. Therefore, God is one and Almighty. There is no one like him and He
Find out Nouns, Noun Clusters, Pronouns, Verbs, Adjectives and adverbs from this following text !


ALLAH -THE GOD


          
God is the lord of the universe. He is the Creator of the universe. He creates the world for us and also creates us in the best form. In Arabic, God is called Allah. Allah is the proper name for the one and only God. Therefore, God is one and Almighty. There is no one like him and He
Find out Nouns, Noun Clusters, Pronouns, Verbs, Adjectives and adverbs from this following text !


ALLAH -THE GOD


          
God is the lord of the universe. He is the Creator of the universe. He creates the world for us and also creates us in the best form. In Arabic, God is called Allah. Allah is the proper name for the one and only God. Therefore, God is one and Almighty. There is no one like him and He
Find out Nouns, Noun Clusters, Pronouns, Verbs, Adjectives and adverbs from this following text !


ALLAH -THE GOD


          
God is the lord of the universe. He is the Creator of the universe. He creates the world for us and also creates us in the best form. In Arabic, God is called Allah. Allah is the proper name for the one and only God. Therefore, God is one and Almighty. There is no one like him and He