Lihat Detail
Yang Harus Kamu Tahu dari Mapalasta UINAM
![]() |
| Mapalasta menggelar Latihan Fisik (Sumber Foto FB Mapalasta) |
Kau pernah memasuki Kampus II UINAM yang terletak di Samata Kab. Gowa? Kalau kau masuk di sana dan menemukan di sore hari banyak mahasiswa yang sedang lari-lari kecil keliling kampus (kebanyakan dari mereka adalah laki-laki) maka kau harus tahu merekalah Komunitas Pecinta Alam UINAM yang sedang melakukan latihan fisik olah tubuh, sebagai salah satu persiapan dari dikdas anggota baru Mapalasta.
MAHASISWA Pecinta Alam Sultan Alauddin (Mapalasta) yang saat ini sedang menggelar pembukaan anggota baru ke XXII, kini memasuki tahap di mana mahasiswa calon anggota baru akan menerima materi kegiatan sebelum turun lapangan (outdoor). Hal itu diungkap oleh Faisal Takwin, Sekretaris Panitia yang ditemui reporter LISH bernama Nursyah Putri (Elsa) di Kafetaria samping Perpustakaan Kampus II UINAM, Samata, Selasa, (8/11/2016) lalu.
Di sini, saya akan menuliskan beberapa hal yang harus kau tahu dari Mapalasta UINAM melalui wawancara dari seorang reporter muda dari Fakultas Syariah dan Hukum UINAM. Laporan berita ini sebelumnya juga diterbitkan di jurnalish.com, kau bisa tengok laporan berita terkait ini juga di sana.
Dalam wawancara Elsa bersama Faisal Takwin, anggota Mapalasta UINAM, ia mengatakan di penerimaan anggota Mapalasta ke XXII ini mengejutkan banyak pihak dan tentunya mendapat respon yang baik dari kalangan mahasiswa. "Ada kejutan tersendiri yang datang dari berbagai pihak, karena tahun lalu itu pembukaan anggota tidak dilakukan," ujar Faisal Takwin.
Faisal Takwin kemudian berkisah tentang sepak terjang Mapalasta. Mulai dari apa itu Mapalasta sampai pada masalah yang pernah didapatnya. "Mapalasta dulunya adalah salah satu UKM di UIN tapi dibekukan sekitar tahun 2010 karena ada sedikit pergeseran dari birokrasi," kata Takwin "Mapalasta sendiri menjadi adalah wadah bagi mahasiswa UIN Alauddin Makassar yang ingin berorientasi ke bidang pecinta alam. Di Mapalasta kami memegang ideologi yakni loyalitas, solidaritas dan senioritas yang tentunya akan membuat Mapalasta akan terus eksis baik di luar maupun di dalam UIN Alauddin Makassar."
Pendidikan dasar (dikdas) yang digelar Mapalasta sekarang ini bertujuan untuk mencari generasi baru yang rela berkorban. "Tujuan Mapalasta mengadakan dikdas adalah mencari bibit unggul yang kemudian ke depan dapat mengabdikan dirinya untuk nusa dan bangsa serta kampus." Kegiatan ini berlangsung berkat partisipasi dari para pengurus, panitia dikdas dari angkatan XXI Mapalasta, dan juga senior-senior Mapalasta yang telah turut andil baik dalam hal materi (pembantuan dana dikdas), dan yang lain.
Anggota baru yang mendaftar berasal dari beberapa lingkup Fakultas di UINAM. "Peserta dalam kegiatan ini dari lintas Fakultas akan mengikuti kegiatan dikdas sebagai calon anggota Mapalasta XXII, lanjut Faisal. "Tema yang kami usung adalah 'We will survive' yang artinya kami akan bertahan." Meski Mapalasta tidak punya legalitas di kampus, tapi mereka tetap saja turut serta dalam kegiatan-kegiatan yang ada di dalam kampus. "Kami berusaha akan tetap eksis dengan mengadakan pendiksaran kemudian membuktikan kepada kampus walaupun Mapalasta dibekukan kami akan tetap berpartisipasi dengan kampus."
Sekadar informasi bahwa kegiatan indoor yakni pembekalan materi kepada peserta akan dimulai tanggal 12-18 November 2016, dilanjut turun lapangan atau outdoor tanggal 19-27 November 2016. Sebelum kegiatan turun lapangan, ada kegiatan pembekalan fisik olah tubuh yakni keliling kampus, rapat di basecame Mapalasta, dan pembekalan outdoor di sekitaran basecame Mapalasta yang berlokasi di
![]() |
| Mapalasta menggelar Latihan Fisik (Sumber Foto FB Mapalasta) |
Kau pernah memasuki Kampus II UINAM yang terletak di Samata Kab. Gowa? Kalau kau masuk di sana dan menemukan di sore hari banyak mahasiswa yang sedang lari-lari kecil keliling kampus (kebanyakan dari mereka adalah laki-laki) maka kau harus tahu merekalah Komunitas Pecinta Alam UINAM yang sedang melakukan latihan fisik olah tubuh, sebagai salah satu persiapan dari dikdas anggota baru Mapalasta.
MAHASISWA Pecinta Alam Sultan Alauddin (Mapalasta) yang saat ini sedang menggelar pembukaan anggota baru ke XXII, kini memasuki tahap di mana mahasiswa calon anggota baru akan menerima materi kegiatan sebelum turun lapangan (outdoor). Hal itu diungkap oleh Faisal Takwin, Sekretaris Panitia yang ditemui reporter LISH bernama Nursyah Putri (Elsa) di Kafetaria samping Perpustakaan Kampus II UINAM, Samata, Selasa, (8/11/2016) lalu.
Di sini, saya akan menuliskan beberapa hal yang harus kau tahu dari Mapalasta UINAM melalui wawancara dari seorang reporter muda dari Fakultas Syariah dan Hukum UINAM. Laporan berita ini sebelumnya juga diterbitkan di jurnalish.com, kau bisa tengok laporan berita terkait ini juga di sana.
Dalam wawancara Elsa bersama Faisal Takwin, anggota Mapalasta UINAM, ia mengatakan di penerimaan anggota Mapalasta ke XXII ini mengejutkan banyak pihak dan tentunya mendapat respon yang baik dari kalangan mahasiswa. "Ada kejutan tersendiri yang datang dari berbagai pihak, karena tahun lalu itu pembukaan anggota tidak dilakukan," ujar Faisal Takwin.
Faisal Takwin kemudian berkisah tentang sepak terjang Mapalasta. Mulai dari apa itu Mapalasta sampai pada masalah yang pernah didapatnya. "Mapalasta dulunya adalah salah satu UKM di UIN tapi dibekukan sekitar tahun 2010 karena ada sedikit pergeseran dari birokrasi," kata Takwin "Mapalasta sendiri menjadi adalah wadah bagi mahasiswa UIN Alauddin Makassar yang ingin berorientasi ke bidang pecinta alam. Di Mapalasta kami memegang ideologi yakni loyalitas, solidaritas dan senioritas yang tentunya akan membuat Mapalasta akan terus eksis baik di luar maupun di dalam UIN Alauddin Makassar."
Pendidikan dasar (dikdas) yang digelar Mapalasta sekarang ini bertujuan untuk mencari generasi baru yang rela berkorban. "Tujuan Mapalasta mengadakan dikdas adalah mencari bibit unggul yang kemudian ke depan dapat mengabdikan dirinya untuk nusa dan bangsa serta kampus." Kegiatan ini berlangsung berkat partisipasi dari para pengurus, panitia dikdas dari angkatan XXI Mapalasta, dan juga senior-senior Mapalasta yang telah turut andil baik dalam hal materi (pembantuan dana dikdas), dan yang lain.
Anggota baru yang mendaftar berasal dari beberapa lingkup Fakultas di UINAM. "Peserta dalam kegiatan ini dari lintas Fakultas akan mengikuti kegiatan dikdas sebagai calon anggota Mapalasta XXII, lanjut Faisal. "Tema yang kami usung adalah 'We will survive' yang artinya kami akan bertahan." Meski Mapalasta tidak punya legalitas di kampus, tapi mereka tetap saja turut serta dalam kegiatan-kegiatan yang ada di dalam kampus. "Kami berusaha akan tetap eksis dengan mengadakan pendiksaran kemudian membuktikan kepada kampus walaupun Mapalasta dibekukan kami akan tetap berpartisipasi dengan kampus."
Sekadar informasi bahwa kegiatan indoor yakni pembekalan materi kepada peserta akan dimulai tanggal 12-18 November 2016, dilanjut turun lapangan atau outdoor tanggal 19-27 November 2016. Sebelum kegiatan turun lapangan, ada kegiatan pembekalan fisik olah tubuh yakni keliling kampus, rapat di basecame Mapalasta, dan pembekalan outdoor di sekitaran basecame Mapalasta yang berlokasi di
![]() |
| Mapalasta menggelar Latihan Fisik (Sumber Foto FB Mapalasta) |
Kau pernah memasuki Kampus II UINAM yang terletak di Samata Kab. Gowa? Kalau kau masuk di sana dan menemukan di sore hari banyak mahasiswa yang sedang lari-lari kecil keliling kampus (kebanyakan dari mereka adalah laki-laki) maka kau harus tahu merekalah Komunitas Pecinta Alam UINAM yang sedang melakukan latihan fisik olah tubuh, sebagai salah satu persiapan dari dikdas anggota baru Mapalasta.
MAHASISWA Pecinta Alam Sultan Alauddin (Mapalasta) yang saat ini sedang menggelar pembukaan anggota baru ke XXII, kini memasuki tahap di mana mahasiswa calon anggota baru akan menerima materi kegiatan sebelum turun lapangan (outdoor). Hal itu diungkap oleh Faisal Takwin, Sekretaris Panitia yang ditemui reporter LISH bernama Nursyah Putri (Elsa) di Kafetaria samping Perpustakaan Kampus II UINAM, Samata, Selasa, (8/11/2016) lalu.
Di sini, saya akan menuliskan beberapa hal yang harus kau tahu dari Mapalasta UINAM melalui wawancara dari seorang reporter muda dari Fakultas Syariah dan Hukum UINAM. Laporan berita ini sebelumnya juga diterbitkan di jurnalish.com, kau bisa tengok laporan berita terkait ini juga di sana.
Dalam wawancara Elsa bersama Faisal Takwin, anggota Mapalasta UINAM, ia mengatakan di penerimaan anggota Mapalasta ke XXII ini mengejutkan banyak pihak dan tentunya mendapat respon yang baik dari kalangan mahasiswa. "Ada kejutan tersendiri yang datang dari berbagai pihak, karena tahun lalu itu pembukaan anggota tidak dilakukan," ujar Faisal Takwin.
Faisal Takwin kemudian berkisah tentang sepak terjang Mapalasta. Mulai dari apa itu Mapalasta sampai pada masalah yang pernah didapatnya. "Mapalasta dulunya adalah salah satu UKM di UIN tapi dibekukan sekitar tahun 2010 karena ada sedikit pergeseran dari birokrasi," kata Takwin "Mapalasta sendiri menjadi adalah wadah bagi mahasiswa UIN Alauddin Makassar yang ingin berorientasi ke bidang pecinta alam. Di Mapalasta kami memegang ideologi yakni loyalitas, solidaritas dan senioritas yang tentunya akan membuat Mapalasta akan terus eksis baik di luar maupun di dalam UIN Alauddin Makassar."
Pendidikan dasar (dikdas) yang digelar Mapalasta sekarang ini bertujuan untuk mencari generasi baru yang rela berkorban. "Tujuan Mapalasta mengadakan dikdas adalah mencari bibit unggul yang kemudian ke depan dapat mengabdikan dirinya untuk nusa dan bangsa serta kampus." Kegiatan ini berlangsung berkat partisipasi dari para pengurus, panitia dikdas dari angkatan XXI Mapalasta, dan juga senior-senior Mapalasta yang telah turut andil baik dalam hal materi (pembantuan dana dikdas), dan yang lain.
Anggota baru yang mendaftar berasal dari beberapa lingkup Fakultas di UINAM. "Peserta dalam kegiatan ini dari lintas Fakultas akan mengikuti kegiatan dikdas sebagai calon anggota Mapalasta XXII, lanjut Faisal. "Tema yang kami usung adalah 'We will survive' yang artinya kami akan bertahan." Meski Mapalasta tidak punya legalitas di kampus, tapi mereka tetap saja turut serta dalam kegiatan-kegiatan yang ada di dalam kampus. "Kami berusaha akan tetap eksis dengan mengadakan pendiksaran kemudian membuktikan kepada kampus walaupun Mapalasta dibekukan kami akan tetap berpartisipasi dengan kampus."
Sekadar informasi bahwa kegiatan indoor yakni pembekalan materi kepada peserta akan dimulai tanggal 12-18 November 2016, dilanjut turun lapangan atau outdoor tanggal 19-27 November 2016. Sebelum kegiatan turun lapangan, ada kegiatan pembekalan fisik olah tubuh yakni keliling kampus, rapat di basecame Mapalasta, dan pembekalan outdoor di sekitaran basecame Mapalasta yang berlokasi di
![]() |
| Mapalasta menggelar Latihan Fisik (Sumber Foto FB Mapalasta) |
Kau pernah memasuki Kampus II UINAM yang terletak di Samata Kab. Gowa? Kalau kau masuk di sana dan menemukan di sore hari banyak mahasiswa yang sedang lari-lari kecil keliling kampus (kebanyakan dari mereka adalah laki-laki) maka kau harus tahu merekalah Komunitas Pecinta Alam UINAM yang sedang melakukan latihan fisik olah tubuh, sebagai salah satu persiapan dari dikdas anggota baru Mapalasta.
MAHASISWA Pecinta Alam Sultan Alauddin (Mapalasta) yang saat ini sedang menggelar pembukaan anggota baru ke XXII, kini memasuki tahap di mana mahasiswa calon anggota baru akan menerima materi kegiatan sebelum turun lapangan (outdoor). Hal itu diungkap oleh Faisal Takwin, Sekretaris Panitia yang ditemui reporter LISH bernama Nursyah Putri (Elsa) di Kafetaria samping Perpustakaan Kampus II UINAM, Samata, Selasa, (8/11/2016) lalu.
Di sini, saya akan menuliskan beberapa hal yang harus kau tahu dari Mapalasta UINAM melalui wawancara dari seorang reporter muda dari Fakultas Syariah dan Hukum UINAM. Laporan berita ini sebelumnya juga diterbitkan di jurnalish.com, kau bisa tengok laporan berita terkait ini juga di sana.
Dalam wawancara Elsa bersama Faisal Takwin, anggota Mapalasta UINAM, ia mengatakan di penerimaan anggota Mapalasta ke XXII ini mengejutkan banyak pihak dan tentunya mendapat respon yang baik dari kalangan mahasiswa. "Ada kejutan tersendiri yang datang dari berbagai pihak, karena tahun lalu itu pembukaan anggota tidak dilakukan," ujar Faisal Takwin.
Faisal Takwin kemudian berkisah tentang sepak terjang Mapalasta. Mulai dari apa itu Mapalasta sampai pada masalah yang pernah didapatnya. "Mapalasta dulunya adalah salah satu UKM di UIN tapi dibekukan sekitar tahun 2010 karena ada sedikit pergeseran dari birokrasi," kata Takwin "Mapalasta sendiri menjadi adalah wadah bagi mahasiswa UIN Alauddin Makassar yang ingin berorientasi ke bidang pecinta alam. Di Mapalasta kami memegang ideologi yakni loyalitas, solidaritas dan senioritas yang tentunya akan membuat Mapalasta akan terus eksis baik di luar maupun di dalam UIN Alauddin Makassar."
Pendidikan dasar (dikdas) yang digelar Mapalasta sekarang ini bertujuan untuk mencari generasi baru yang rela berkorban. "Tujuan Mapalasta mengadakan dikdas adalah mencari bibit unggul yang kemudian ke depan dapat mengabdikan dirinya untuk nusa dan bangsa serta kampus." Kegiatan ini berlangsung berkat partisipasi dari para pengurus, panitia dikdas dari angkatan XXI Mapalasta, dan juga senior-senior Mapalasta yang telah turut andil baik dalam hal materi (pembantuan dana dikdas), dan yang lain.
Anggota baru yang mendaftar berasal dari beberapa lingkup Fakultas di UINAM. "Peserta dalam kegiatan ini dari lintas Fakultas akan mengikuti kegiatan dikdas sebagai calon anggota Mapalasta XXII, lanjut Faisal. "Tema yang kami usung adalah 'We will survive' yang artinya kami akan bertahan." Meski Mapalasta tidak punya legalitas di kampus, tapi mereka tetap saja turut serta dalam kegiatan-kegiatan yang ada di dalam kampus. "Kami berusaha akan tetap eksis dengan mengadakan pendiksaran kemudian membuktikan kepada kampus walaupun Mapalasta dibekukan kami akan tetap berpartisipasi dengan kampus."
Sekadar informasi bahwa kegiatan indoor yakni pembekalan materi kepada peserta akan dimulai tanggal 12-18 November 2016, dilanjut turun lapangan atau outdoor tanggal 19-27 November 2016. Sebelum kegiatan turun lapangan, ada kegiatan pembekalan fisik olah tubuh yakni keliling kampus, rapat di basecame Mapalasta, dan pembekalan outdoor di sekitaran basecame Mapalasta yang berlokasi di
Lihat Detail
Resume Filsafat6 | Awal Mula Penspesifikasian Ilmu
Awal Mula Penspesifikasian Ilmu
Pada zaman kejayaan Phytagoras sampai zaman Aljabar, mendefinisikan ilmu sebagai kesatuan dan belum terbagi-bagi dalam ilmu yang lebih mengkhusus. Seperti halnya, ilmu antara matematika dan mistik tidak dapat dipisahkan. Matematika dan mistik pada saat itu adalah satu kesatuan kerena mereka menganggap didalam angka-angka yang ada terdapat kepercayaan atas adanya suatu kekuatan, misalnya angka 3. Menurut mereka, angka 3 adalah angka yang sangat sakral karena mereka percaya terdapat dan terkumpul berbagai perlawanan didalamnya, yaitu manusia terdiri dari genap, ganjil dan penyempurna. Selain angka 3 ada juga angka sakral lainnya, seperti 13, 27, 9 dan seterusnya. Penganut agama Kristen juga mempercayai hal tersebut, maka dari itu mereka sangat menyucikan simbol segitiga yang memiliki arti hubungan harmonis antar manusia, mereka menyebutnya dengan nama sacred triangle. Dalam dollar Amerika juga terdapat lambang segitiga dengan gambar satu mata di tengahnya, segitiga tersebut menandakan orang-orang yang tercerahkan dan simbol mata menandakan sumber pengetahuan
Pada zaman kejayaan Umat Kristiani, teori yang mengatakan bahwa matahari, bulan dan benda langit lainnya yang mengitari bumi diterima oleh gereja, karena para petinggi agama tersebut memiliki pemahaman bahwa, hanya orang kristiani yang akan selamat dimuka bumi ini, yang lainnya adalah orang yang tersesat. Itulah mengapa, semua yang ada di alam semesta ini akan menyembah tempat kaumnya berdiri yaitu bumi. Missionarisme adalah misi yang dilakukan umat Kristen untuk mengkristenkan umat manusia dikarenakan kepercayaan mereka tentang umat manusia yang selamat hanya mereka. Namun, teori yang mereka yakini
dipatahkan oleh teori dari Galileo Galilei dan meruntuhkan dogma gerejanya, karena sesungguhnya bumi dan benda langit lainnyalah yang mengitari matahari.
Matematika dan mistik mulai berpisah sedikit demi sedikit sejak zaman Aljabar dan Al Khawarizmi. Disinilah pentingnya peran objek material dan objek formal, walaupun materinya sama tapi cara pandangnya akan berbeda-beda, maka akan timbul spesifikasi ilmu pengetahuan, seperti matematika, fisika, biologi dan lain-lain. Ilmu mulai memiliki spesifikasi, ketika para ilmuwan dan filosof menggunakan objek material dan objek formal sebagai pandangan dasar ilmu pengetahuan.
Filsafat ilmu membagi dirinya dengan objek material dan objek formal, sedangkan filsafat mulai membagi dirinya dengan adanya ontologi, epistemologi, dan Aksiologi. Awalnya tugas filsafat menurut Aristoteles adalah to deepen our existing understanding of the world (Untuk memperdalam pemahaman kita yang sekarang tentang dunia), dunia yang dimaksud adalah apa yang kita rasakan, apa yang kita alami, dan apa yang kita miliki di dunia. Jadi, filsafat adalah bagaimana lebih memahami tentang dunia kita.
Ontologi adalah ilmu yang membahas tentang semua yang ada, dan dipakai ilmuwan untuk melahirkan sesuatu. Hal terpenting dalam ilmu ini adalah potensialitas dan aktualitas. Potensialitas adalah suatu hal yang nanti akan terjadi dan belum pasti, sedangkan aktualitas adalah suatu hal yang sekarang terjadi dan sudah pasti. Epistimologi adalah ilmu tentang cara-cara/metode untuk mengetahui sesuatu oleh seorang individu. Ilmu ini memiliki rasionalis dan empiris. Rasionalis adalah pemberian keputusan oleh akal manusia, sedangkan empiris adalah pemberian keputusan atas apa yang dialami dan dirasakan oleh panca indra. Aksiologi adalah ilmu yang membahas tentang nilai. Pemberian nilai tersebut dibagi melalui 2 cara, yaitu secara nilai subjektif dan nilai objektif. Nilai subjektif adalah pemberian nilai atau tanggapan atas sesuatu dari diri sendiri atau pendapat orang lain, sedangkan nilai objektif adalah pemberian nilai atau tanggapan secara universal atau dalam artian sesuatu tersebut (objeknya) telah memberikan nilai tersendiri atas dirinya dan semua orang mengakuinya. Kesimpulannya adalah filsafat membahas tentang sesuatu, memberi keputusan, dan memberikan nilai terhadap sesuatu disebut dengan Ontologi, Epistimologi, dan Aksiologi.
------
By. Hikmah Khairani Ibrahim
10300113144
HPK 7
Pada zaman kejayaan Phytagoras sampai zaman Aljabar, mendefinisikan ilmu sebagai kesatuan dan belum terbagi-bagi dalam ilmu yang lebih mengkhusus. Seperti halnya, ilmu antara matematika dan mistik tidak dapat dipisahkan. Matematika dan mistik pada saat itu adalah satu kesatuan kerena mereka menganggap didalam angka-angka yang ada terdapat kepercayaan atas adanya suatu kekuatan, misalnya angka 3. Menurut mereka, angka 3 adalah angka yang sangat sakral karena mereka percaya terdapat dan terkumpul berbagai perlawanan didalamnya, yaitu manusia terdiri dari genap, ganjil dan penyempurna. Selain angka 3 ada juga angka sakral lainnya, seperti 13, 27, 9 dan seterusnya. Penganut agama Kristen juga mempercayai hal tersebut, maka dari itu mereka sangat menyucikan simbol segitiga yang memiliki arti hubungan harmonis antar manusia, mereka menyebutnya dengan nama sacred triangle. Dalam dollar Amerika juga terdapat lambang segitiga dengan gambar satu mata di tengahnya, segitiga tersebut menandakan orang-orang yang tercerahkan dan simbol mata menandakan sumber pengetahuan
Pada zaman kejayaan Umat Kristiani, teori yang mengatakan bahwa matahari, bulan dan benda langit lainnya yang mengitari bumi diterima oleh gereja, karena para petinggi agama tersebut memiliki pemahaman bahwa, hanya orang kristiani yang akan selamat dimuka bumi ini, yang lainnya adalah orang yang tersesat. Itulah mengapa, semua yang ada di alam semesta ini akan menyembah tempat kaumnya berdiri yaitu bumi. Missionarisme adalah misi yang dilakukan umat Kristen untuk mengkristenkan umat manusia dikarenakan kepercayaan mereka tentang umat manusia yang selamat hanya mereka. Namun, teori yang mereka yakini
dipatahkan oleh teori dari Galileo Galilei dan meruntuhkan dogma gerejanya, karena sesungguhnya bumi dan benda langit lainnyalah yang mengitari matahari.
Matematika dan mistik mulai berpisah sedikit demi sedikit sejak zaman Aljabar dan Al Khawarizmi. Disinilah pentingnya peran objek material dan objek formal, walaupun materinya sama tapi cara pandangnya akan berbeda-beda, maka akan timbul spesifikasi ilmu pengetahuan, seperti matematika, fisika, biologi dan lain-lain. Ilmu mulai memiliki spesifikasi, ketika para ilmuwan dan filosof menggunakan objek material dan objek formal sebagai pandangan dasar ilmu pengetahuan.
Filsafat ilmu membagi dirinya dengan objek material dan objek formal, sedangkan filsafat mulai membagi dirinya dengan adanya ontologi, epistemologi, dan Aksiologi. Awalnya tugas filsafat menurut Aristoteles adalah to deepen our existing understanding of the world (Untuk memperdalam pemahaman kita yang sekarang tentang dunia), dunia yang dimaksud adalah apa yang kita rasakan, apa yang kita alami, dan apa yang kita miliki di dunia. Jadi, filsafat adalah bagaimana lebih memahami tentang dunia kita.
Ontologi adalah ilmu yang membahas tentang semua yang ada, dan dipakai ilmuwan untuk melahirkan sesuatu. Hal terpenting dalam ilmu ini adalah potensialitas dan aktualitas. Potensialitas adalah suatu hal yang nanti akan terjadi dan belum pasti, sedangkan aktualitas adalah suatu hal yang sekarang terjadi dan sudah pasti. Epistimologi adalah ilmu tentang cara-cara/metode untuk mengetahui sesuatu oleh seorang individu. Ilmu ini memiliki rasionalis dan empiris. Rasionalis adalah pemberian keputusan oleh akal manusia, sedangkan empiris adalah pemberian keputusan atas apa yang dialami dan dirasakan oleh panca indra. Aksiologi adalah ilmu yang membahas tentang nilai. Pemberian nilai tersebut dibagi melalui 2 cara, yaitu secara nilai subjektif dan nilai objektif. Nilai subjektif adalah pemberian nilai atau tanggapan atas sesuatu dari diri sendiri atau pendapat orang lain, sedangkan nilai objektif adalah pemberian nilai atau tanggapan secara universal atau dalam artian sesuatu tersebut (objeknya) telah memberikan nilai tersendiri atas dirinya dan semua orang mengakuinya. Kesimpulannya adalah filsafat membahas tentang sesuatu, memberi keputusan, dan memberikan nilai terhadap sesuatu disebut dengan Ontologi, Epistimologi, dan Aksiologi.
------
By. Hikmah Khairani Ibrahim
10300113144
HPK 7
Awal Mula Penspesifikasian Ilmu
Pada zaman kejayaan Phytagoras sampai zaman Aljabar, mendefinisikan ilmu sebagai kesatuan dan belum terbagi-bagi dalam ilmu yang lebih mengkhusus. Seperti halnya, ilmu antara matematika dan mistik tidak dapat dipisahkan. Matematika dan mistik pada saat itu adalah satu kesatuan kerena mereka menganggap didalam angka-angka yang ada terdapat kepercayaan atas adanya suatu kekuatan, misalnya angka 3. Menurut mereka, angka 3 adalah angka yang sangat sakral karena mereka percaya terdapat dan terkumpul berbagai perlawanan didalamnya, yaitu manusia terdiri dari genap, ganjil dan penyempurna. Selain angka 3 ada juga angka sakral lainnya, seperti 13, 27, 9 dan seterusnya. Penganut agama Kristen juga mempercayai hal tersebut, maka dari itu mereka sangat menyucikan simbol segitiga yang memiliki arti hubungan harmonis antar manusia, mereka menyebutnya dengan nama sacred triangle. Dalam dollar Amerika juga terdapat lambang segitiga dengan gambar satu mata di tengahnya, segitiga tersebut menandakan orang-orang yang tercerahkan dan simbol mata menandakan sumber pengetahuan
Pada zaman kejayaan Umat Kristiani, teori yang mengatakan bahwa matahari, bulan dan benda langit lainnya yang mengitari bumi diterima oleh gereja, karena para petinggi agama tersebut memiliki pemahaman bahwa, hanya orang kristiani yang akan selamat dimuka bumi ini, yang lainnya adalah orang yang tersesat. Itulah mengapa, semua yang ada di alam semesta ini akan menyembah tempat kaumnya berdiri yaitu bumi. Missionarisme adalah misi yang dilakukan umat Kristen untuk mengkristenkan umat manusia dikarenakan kepercayaan mereka tentang umat manusia yang selamat hanya mereka. Namun, teori yang mereka yakini
dipatahkan oleh teori dari Galileo Galilei dan meruntuhkan dogma gerejanya, karena sesungguhnya bumi dan benda langit lainnyalah yang mengitari matahari.
Matematika dan mistik mulai berpisah sedikit demi sedikit sejak zaman Aljabar dan Al Khawarizmi. Disinilah pentingnya peran objek material dan objek formal, walaupun materinya sama tapi cara pandangnya akan berbeda-beda, maka akan timbul spesifikasi ilmu pengetahuan, seperti matematika, fisika, biologi dan lain-lain. Ilmu mulai memiliki spesifikasi, ketika para ilmuwan dan filosof menggunakan objek material dan objek formal sebagai pandangan dasar ilmu pengetahuan.
Filsafat ilmu membagi dirinya dengan objek material dan objek formal, sedangkan filsafat mulai membagi dirinya dengan adanya ontologi, epistemologi, dan Aksiologi. Awalnya tugas filsafat menurut Aristoteles adalah to deepen our existing understanding of the world (Untuk memperdalam pemahaman kita yang sekarang tentang dunia), dunia yang dimaksud adalah apa yang kita rasakan, apa yang kita alami, dan apa yang kita miliki di dunia. Jadi, filsafat adalah bagaimana lebih memahami tentang dunia kita.
Ontologi adalah ilmu yang membahas tentang semua yang ada, dan dipakai ilmuwan untuk melahirkan sesuatu. Hal terpenting dalam ilmu ini adalah potensialitas dan aktualitas. Potensialitas adalah suatu hal yang nanti akan terjadi dan belum pasti, sedangkan aktualitas adalah suatu hal yang sekarang terjadi dan sudah pasti. Epistimologi adalah ilmu tentang cara-cara/metode untuk mengetahui sesuatu oleh seorang individu. Ilmu ini memiliki rasionalis dan empiris. Rasionalis adalah pemberian keputusan oleh akal manusia, sedangkan empiris adalah pemberian keputusan atas apa yang dialami dan dirasakan oleh panca indra. Aksiologi adalah ilmu yang membahas tentang nilai. Pemberian nilai tersebut dibagi melalui 2 cara, yaitu secara nilai subjektif dan nilai objektif. Nilai subjektif adalah pemberian nilai atau tanggapan atas sesuatu dari diri sendiri atau pendapat orang lain, sedangkan nilai objektif adalah pemberian nilai atau tanggapan secara universal atau dalam artian sesuatu tersebut (objeknya) telah memberikan nilai tersendiri atas dirinya dan semua orang mengakuinya. Kesimpulannya adalah filsafat membahas tentang sesuatu, memberi keputusan, dan memberikan nilai terhadap sesuatu disebut dengan Ontologi, Epistimologi, dan Aksiologi.
------
By. Hikmah Khairani Ibrahim
10300113144
HPK 7
Pada zaman kejayaan Phytagoras sampai zaman Aljabar, mendefinisikan ilmu sebagai kesatuan dan belum terbagi-bagi dalam ilmu yang lebih mengkhusus. Seperti halnya, ilmu antara matematika dan mistik tidak dapat dipisahkan. Matematika dan mistik pada saat itu adalah satu kesatuan kerena mereka menganggap didalam angka-angka yang ada terdapat kepercayaan atas adanya suatu kekuatan, misalnya angka 3. Menurut mereka, angka 3 adalah angka yang sangat sakral karena mereka percaya terdapat dan terkumpul berbagai perlawanan didalamnya, yaitu manusia terdiri dari genap, ganjil dan penyempurna. Selain angka 3 ada juga angka sakral lainnya, seperti 13, 27, 9 dan seterusnya. Penganut agama Kristen juga mempercayai hal tersebut, maka dari itu mereka sangat menyucikan simbol segitiga yang memiliki arti hubungan harmonis antar manusia, mereka menyebutnya dengan nama sacred triangle. Dalam dollar Amerika juga terdapat lambang segitiga dengan gambar satu mata di tengahnya, segitiga tersebut menandakan orang-orang yang tercerahkan dan simbol mata menandakan sumber pengetahuan
Pada zaman kejayaan Umat Kristiani, teori yang mengatakan bahwa matahari, bulan dan benda langit lainnya yang mengitari bumi diterima oleh gereja, karena para petinggi agama tersebut memiliki pemahaman bahwa, hanya orang kristiani yang akan selamat dimuka bumi ini, yang lainnya adalah orang yang tersesat. Itulah mengapa, semua yang ada di alam semesta ini akan menyembah tempat kaumnya berdiri yaitu bumi. Missionarisme adalah misi yang dilakukan umat Kristen untuk mengkristenkan umat manusia dikarenakan kepercayaan mereka tentang umat manusia yang selamat hanya mereka. Namun, teori yang mereka yakini
dipatahkan oleh teori dari Galileo Galilei dan meruntuhkan dogma gerejanya, karena sesungguhnya bumi dan benda langit lainnyalah yang mengitari matahari.
Matematika dan mistik mulai berpisah sedikit demi sedikit sejak zaman Aljabar dan Al Khawarizmi. Disinilah pentingnya peran objek material dan objek formal, walaupun materinya sama tapi cara pandangnya akan berbeda-beda, maka akan timbul spesifikasi ilmu pengetahuan, seperti matematika, fisika, biologi dan lain-lain. Ilmu mulai memiliki spesifikasi, ketika para ilmuwan dan filosof menggunakan objek material dan objek formal sebagai pandangan dasar ilmu pengetahuan.
Filsafat ilmu membagi dirinya dengan objek material dan objek formal, sedangkan filsafat mulai membagi dirinya dengan adanya ontologi, epistemologi, dan Aksiologi. Awalnya tugas filsafat menurut Aristoteles adalah to deepen our existing understanding of the world (Untuk memperdalam pemahaman kita yang sekarang tentang dunia), dunia yang dimaksud adalah apa yang kita rasakan, apa yang kita alami, dan apa yang kita miliki di dunia. Jadi, filsafat adalah bagaimana lebih memahami tentang dunia kita.
Ontologi adalah ilmu yang membahas tentang semua yang ada, dan dipakai ilmuwan untuk melahirkan sesuatu. Hal terpenting dalam ilmu ini adalah potensialitas dan aktualitas. Potensialitas adalah suatu hal yang nanti akan terjadi dan belum pasti, sedangkan aktualitas adalah suatu hal yang sekarang terjadi dan sudah pasti. Epistimologi adalah ilmu tentang cara-cara/metode untuk mengetahui sesuatu oleh seorang individu. Ilmu ini memiliki rasionalis dan empiris. Rasionalis adalah pemberian keputusan oleh akal manusia, sedangkan empiris adalah pemberian keputusan atas apa yang dialami dan dirasakan oleh panca indra. Aksiologi adalah ilmu yang membahas tentang nilai. Pemberian nilai tersebut dibagi melalui 2 cara, yaitu secara nilai subjektif dan nilai objektif. Nilai subjektif adalah pemberian nilai atau tanggapan atas sesuatu dari diri sendiri atau pendapat orang lain, sedangkan nilai objektif adalah pemberian nilai atau tanggapan secara universal atau dalam artian sesuatu tersebut (objeknya) telah memberikan nilai tersendiri atas dirinya dan semua orang mengakuinya. Kesimpulannya adalah filsafat membahas tentang sesuatu, memberi keputusan, dan memberikan nilai terhadap sesuatu disebut dengan Ontologi, Epistimologi, dan Aksiologi.
------
By. Hikmah Khairani Ibrahim
10300113144
HPK 7
Awal Mula Penspesifikasian Ilmu
Pada zaman kejayaan Phytagoras sampai zaman Aljabar, mendefinisikan ilmu sebagai kesatuan dan belum terbagi-bagi dalam ilmu yang lebih mengkhusus. Seperti halnya, ilmu antara matematika dan mistik tidak dapat dipisahkan. Matematika dan mistik pada saat itu adalah satu kesatuan kerena mereka menganggap didalam angka-angka yang ada terdapat kepercayaan atas adanya suatu kekuatan, misalnya angka 3. Menurut mereka, angka 3 adalah angka yang sangat sakral karena mereka percaya terdapat dan terkumpul berbagai perlawanan didalamnya, yaitu manusia terdiri dari genap, ganjil dan penyempurna. Selain angka 3 ada juga angka sakral lainnya, seperti 13, 27, 9 dan seterusnya. Penganut agama Kristen juga mempercayai hal tersebut, maka dari itu mereka sangat menyucikan simbol segitiga yang memiliki arti hubungan harmonis antar manusia, mereka menyebutnya dengan nama sacred triangle. Dalam dollar Amerika juga terdapat lambang segitiga dengan gambar satu mata di tengahnya, segitiga tersebut menandakan orang-orang yang tercerahkan dan simbol mata menandakan sumber pengetahuan
Pada zaman kejayaan Umat Kristiani, teori yang mengatakan bahwa matahari, bulan dan benda langit lainnya yang mengitari bumi diterima oleh gereja, karena para petinggi agama tersebut memiliki pemahaman bahwa, hanya orang kristiani yang akan selamat dimuka bumi ini, yang lainnya adalah orang yang tersesat. Itulah mengapa, semua yang ada di alam semesta ini akan menyembah tempat kaumnya berdiri yaitu bumi. Missionarisme adalah misi yang dilakukan umat Kristen untuk mengkristenkan umat manusia dikarenakan kepercayaan mereka tentang umat manusia yang selamat hanya mereka. Namun, teori yang mereka yakini
dipatahkan oleh teori dari Galileo Galilei dan meruntuhkan dogma gerejanya, karena sesungguhnya bumi dan benda langit lainnyalah yang mengitari matahari.
Matematika dan mistik mulai berpisah sedikit demi sedikit sejak zaman Aljabar dan Al Khawarizmi. Disinilah pentingnya peran objek material dan objek formal, walaupun materinya sama tapi cara pandangnya akan berbeda-beda, maka akan timbul spesifikasi ilmu pengetahuan, seperti matematika, fisika, biologi dan lain-lain. Ilmu mulai memiliki spesifikasi, ketika para ilmuwan dan filosof menggunakan objek material dan objek formal sebagai pandangan dasar ilmu pengetahuan.
Filsafat ilmu membagi dirinya dengan objek material dan objek formal, sedangkan filsafat mulai membagi dirinya dengan adanya ontologi, epistemologi, dan Aksiologi. Awalnya tugas filsafat menurut Aristoteles adalah to deepen our existing understanding of the world (Untuk memperdalam pemahaman kita yang sekarang tentang dunia), dunia yang dimaksud adalah apa yang kita rasakan, apa yang kita alami, dan apa yang kita miliki di dunia. Jadi, filsafat adalah bagaimana lebih memahami tentang dunia kita.
Ontologi adalah ilmu yang membahas tentang semua yang ada, dan dipakai ilmuwan untuk melahirkan sesuatu. Hal terpenting dalam ilmu ini adalah potensialitas dan aktualitas. Potensialitas adalah suatu hal yang nanti akan terjadi dan belum pasti, sedangkan aktualitas adalah suatu hal yang sekarang terjadi dan sudah pasti. Epistimologi adalah ilmu tentang cara-cara/metode untuk mengetahui sesuatu oleh seorang individu. Ilmu ini memiliki rasionalis dan empiris. Rasionalis adalah pemberian keputusan oleh akal manusia, sedangkan empiris adalah pemberian keputusan atas apa yang dialami dan dirasakan oleh panca indra. Aksiologi adalah ilmu yang membahas tentang nilai. Pemberian nilai tersebut dibagi melalui 2 cara, yaitu secara nilai subjektif dan nilai objektif. Nilai subjektif adalah pemberian nilai atau tanggapan atas sesuatu dari diri sendiri atau pendapat orang lain, sedangkan nilai objektif adalah pemberian nilai atau tanggapan secara universal atau dalam artian sesuatu tersebut (objeknya) telah memberikan nilai tersendiri atas dirinya dan semua orang mengakuinya. Kesimpulannya adalah filsafat membahas tentang sesuatu, memberi keputusan, dan memberikan nilai terhadap sesuatu disebut dengan Ontologi, Epistimologi, dan Aksiologi.
------
By. Hikmah Khairani Ibrahim
10300113144
HPK 7
Pada zaman kejayaan Phytagoras sampai zaman Aljabar, mendefinisikan ilmu sebagai kesatuan dan belum terbagi-bagi dalam ilmu yang lebih mengkhusus. Seperti halnya, ilmu antara matematika dan mistik tidak dapat dipisahkan. Matematika dan mistik pada saat itu adalah satu kesatuan kerena mereka menganggap didalam angka-angka yang ada terdapat kepercayaan atas adanya suatu kekuatan, misalnya angka 3. Menurut mereka, angka 3 adalah angka yang sangat sakral karena mereka percaya terdapat dan terkumpul berbagai perlawanan didalamnya, yaitu manusia terdiri dari genap, ganjil dan penyempurna. Selain angka 3 ada juga angka sakral lainnya, seperti 13, 27, 9 dan seterusnya. Penganut agama Kristen juga mempercayai hal tersebut, maka dari itu mereka sangat menyucikan simbol segitiga yang memiliki arti hubungan harmonis antar manusia, mereka menyebutnya dengan nama sacred triangle. Dalam dollar Amerika juga terdapat lambang segitiga dengan gambar satu mata di tengahnya, segitiga tersebut menandakan orang-orang yang tercerahkan dan simbol mata menandakan sumber pengetahuan
Pada zaman kejayaan Umat Kristiani, teori yang mengatakan bahwa matahari, bulan dan benda langit lainnya yang mengitari bumi diterima oleh gereja, karena para petinggi agama tersebut memiliki pemahaman bahwa, hanya orang kristiani yang akan selamat dimuka bumi ini, yang lainnya adalah orang yang tersesat. Itulah mengapa, semua yang ada di alam semesta ini akan menyembah tempat kaumnya berdiri yaitu bumi. Missionarisme adalah misi yang dilakukan umat Kristen untuk mengkristenkan umat manusia dikarenakan kepercayaan mereka tentang umat manusia yang selamat hanya mereka. Namun, teori yang mereka yakini
dipatahkan oleh teori dari Galileo Galilei dan meruntuhkan dogma gerejanya, karena sesungguhnya bumi dan benda langit lainnyalah yang mengitari matahari.
Matematika dan mistik mulai berpisah sedikit demi sedikit sejak zaman Aljabar dan Al Khawarizmi. Disinilah pentingnya peran objek material dan objek formal, walaupun materinya sama tapi cara pandangnya akan berbeda-beda, maka akan timbul spesifikasi ilmu pengetahuan, seperti matematika, fisika, biologi dan lain-lain. Ilmu mulai memiliki spesifikasi, ketika para ilmuwan dan filosof menggunakan objek material dan objek formal sebagai pandangan dasar ilmu pengetahuan.
Filsafat ilmu membagi dirinya dengan objek material dan objek formal, sedangkan filsafat mulai membagi dirinya dengan adanya ontologi, epistemologi, dan Aksiologi. Awalnya tugas filsafat menurut Aristoteles adalah to deepen our existing understanding of the world (Untuk memperdalam pemahaman kita yang sekarang tentang dunia), dunia yang dimaksud adalah apa yang kita rasakan, apa yang kita alami, dan apa yang kita miliki di dunia. Jadi, filsafat adalah bagaimana lebih memahami tentang dunia kita.
Ontologi adalah ilmu yang membahas tentang semua yang ada, dan dipakai ilmuwan untuk melahirkan sesuatu. Hal terpenting dalam ilmu ini adalah potensialitas dan aktualitas. Potensialitas adalah suatu hal yang nanti akan terjadi dan belum pasti, sedangkan aktualitas adalah suatu hal yang sekarang terjadi dan sudah pasti. Epistimologi adalah ilmu tentang cara-cara/metode untuk mengetahui sesuatu oleh seorang individu. Ilmu ini memiliki rasionalis dan empiris. Rasionalis adalah pemberian keputusan oleh akal manusia, sedangkan empiris adalah pemberian keputusan atas apa yang dialami dan dirasakan oleh panca indra. Aksiologi adalah ilmu yang membahas tentang nilai. Pemberian nilai tersebut dibagi melalui 2 cara, yaitu secara nilai subjektif dan nilai objektif. Nilai subjektif adalah pemberian nilai atau tanggapan atas sesuatu dari diri sendiri atau pendapat orang lain, sedangkan nilai objektif adalah pemberian nilai atau tanggapan secara universal atau dalam artian sesuatu tersebut (objeknya) telah memberikan nilai tersendiri atas dirinya dan semua orang mengakuinya. Kesimpulannya adalah filsafat membahas tentang sesuatu, memberi keputusan, dan memberikan nilai terhadap sesuatu disebut dengan Ontologi, Epistimologi, dan Aksiologi.
------
By. Hikmah Khairani Ibrahim
10300113144
HPK 7
Awal Mula Penspesifikasian Ilmu
Pada zaman kejayaan Phytagoras sampai zaman Aljabar, mendefinisikan ilmu sebagai kesatuan dan belum terbagi-bagi dalam ilmu yang lebih mengkhusus. Seperti halnya, ilmu antara matematika dan mistik tidak dapat dipisahkan. Matematika dan mistik pada saat itu adalah satu kesatuan kerena mereka menganggap didalam angka-angka yang ada terdapat kepercayaan atas adanya suatu kekuatan, misalnya angka 3. Menurut mereka, angka 3 adalah angka yang sangat sakral karena mereka percaya terdapat dan terkumpul berbagai perlawanan didalamnya, yaitu manusia terdiri dari genap, ganjil dan penyempurna. Selain angka 3 ada juga angka sakral lainnya, seperti 13, 27, 9 dan seterusnya. Penganut agama Kristen juga mempercayai hal tersebut, maka dari itu mereka sangat menyucikan simbol segitiga yang memiliki arti hubungan harmonis antar manusia, mereka menyebutnya dengan nama sacred triangle. Dalam dollar Amerika juga terdapat lambang segitiga dengan gambar satu mata di tengahnya, segitiga tersebut menandakan orang-orang yang tercerahkan dan simbol mata menandakan sumber pengetahuan
Pada zaman kejayaan Umat Kristiani, teori yang mengatakan bahwa matahari, bulan dan benda langit lainnya yang mengitari bumi diterima oleh gereja, karena para petinggi agama tersebut memiliki pemahaman bahwa, hanya orang kristiani yang akan selamat dimuka bumi ini, yang lainnya adalah orang yang tersesat. Itulah mengapa, semua yang ada di alam semesta ini akan menyembah tempat kaumnya berdiri yaitu bumi. Missionarisme adalah misi yang dilakukan umat Kristen untuk mengkristenkan umat manusia dikarenakan kepercayaan mereka tentang umat manusia yang selamat hanya mereka. Namun, teori yang mereka yakini
dipatahkan oleh teori dari Galileo Galilei dan meruntuhkan dogma gerejanya, karena sesungguhnya bumi dan benda langit lainnyalah yang mengitari matahari.
Matematika dan mistik mulai berpisah sedikit demi sedikit sejak zaman Aljabar dan Al Khawarizmi. Disinilah pentingnya peran objek material dan objek formal, walaupun materinya sama tapi cara pandangnya akan berbeda-beda, maka akan timbul spesifikasi ilmu pengetahuan, seperti matematika, fisika, biologi dan lain-lain. Ilmu mulai memiliki spesifikasi, ketika para ilmuwan dan filosof menggunakan objek material dan objek formal sebagai pandangan dasar ilmu pengetahuan.
Filsafat ilmu membagi dirinya dengan objek material dan objek formal, sedangkan filsafat mulai membagi dirinya dengan adanya ontologi, epistemologi, dan Aksiologi. Awalnya tugas filsafat menurut Aristoteles adalah to deepen our existing understanding of the world (Untuk memperdalam pemahaman kita yang sekarang tentang dunia), dunia yang dimaksud adalah apa yang kita rasakan, apa yang kita alami, dan apa yang kita miliki di dunia. Jadi, filsafat adalah bagaimana lebih memahami tentang dunia kita.
Ontologi adalah ilmu yang membahas tentang semua yang ada, dan dipakai ilmuwan untuk melahirkan sesuatu. Hal terpenting dalam ilmu ini adalah potensialitas dan aktualitas. Potensialitas adalah suatu hal yang nanti akan terjadi dan belum pasti, sedangkan aktualitas adalah suatu hal yang sekarang terjadi dan sudah pasti. Epistimologi adalah ilmu tentang cara-cara/metode untuk mengetahui sesuatu oleh seorang individu. Ilmu ini memiliki rasionalis dan empiris. Rasionalis adalah pemberian keputusan oleh akal manusia, sedangkan empiris adalah pemberian keputusan atas apa yang dialami dan dirasakan oleh panca indra. Aksiologi adalah ilmu yang membahas tentang nilai. Pemberian nilai tersebut dibagi melalui 2 cara, yaitu secara nilai subjektif dan nilai objektif. Nilai subjektif adalah pemberian nilai atau tanggapan atas sesuatu dari diri sendiri atau pendapat orang lain, sedangkan nilai objektif adalah pemberian nilai atau tanggapan secara universal atau dalam artian sesuatu tersebut (objeknya) telah memberikan nilai tersendiri atas dirinya dan semua orang mengakuinya. Kesimpulannya adalah filsafat membahas tentang sesuatu, memberi keputusan, dan memberikan nilai terhadap sesuatu disebut dengan Ontologi, Epistimologi, dan Aksiologi.
------
By. Hikmah Khairani Ibrahim
10300113144
HPK 7
Pada zaman kejayaan Phytagoras sampai zaman Aljabar, mendefinisikan ilmu sebagai kesatuan dan belum terbagi-bagi dalam ilmu yang lebih mengkhusus. Seperti halnya, ilmu antara matematika dan mistik tidak dapat dipisahkan. Matematika dan mistik pada saat itu adalah satu kesatuan kerena mereka menganggap didalam angka-angka yang ada terdapat kepercayaan atas adanya suatu kekuatan, misalnya angka 3. Menurut mereka, angka 3 adalah angka yang sangat sakral karena mereka percaya terdapat dan terkumpul berbagai perlawanan didalamnya, yaitu manusia terdiri dari genap, ganjil dan penyempurna. Selain angka 3 ada juga angka sakral lainnya, seperti 13, 27, 9 dan seterusnya. Penganut agama Kristen juga mempercayai hal tersebut, maka dari itu mereka sangat menyucikan simbol segitiga yang memiliki arti hubungan harmonis antar manusia, mereka menyebutnya dengan nama sacred triangle. Dalam dollar Amerika juga terdapat lambang segitiga dengan gambar satu mata di tengahnya, segitiga tersebut menandakan orang-orang yang tercerahkan dan simbol mata menandakan sumber pengetahuan
Pada zaman kejayaan Umat Kristiani, teori yang mengatakan bahwa matahari, bulan dan benda langit lainnya yang mengitari bumi diterima oleh gereja, karena para petinggi agama tersebut memiliki pemahaman bahwa, hanya orang kristiani yang akan selamat dimuka bumi ini, yang lainnya adalah orang yang tersesat. Itulah mengapa, semua yang ada di alam semesta ini akan menyembah tempat kaumnya berdiri yaitu bumi. Missionarisme adalah misi yang dilakukan umat Kristen untuk mengkristenkan umat manusia dikarenakan kepercayaan mereka tentang umat manusia yang selamat hanya mereka. Namun, teori yang mereka yakini
dipatahkan oleh teori dari Galileo Galilei dan meruntuhkan dogma gerejanya, karena sesungguhnya bumi dan benda langit lainnyalah yang mengitari matahari.
Matematika dan mistik mulai berpisah sedikit demi sedikit sejak zaman Aljabar dan Al Khawarizmi. Disinilah pentingnya peran objek material dan objek formal, walaupun materinya sama tapi cara pandangnya akan berbeda-beda, maka akan timbul spesifikasi ilmu pengetahuan, seperti matematika, fisika, biologi dan lain-lain. Ilmu mulai memiliki spesifikasi, ketika para ilmuwan dan filosof menggunakan objek material dan objek formal sebagai pandangan dasar ilmu pengetahuan.
Filsafat ilmu membagi dirinya dengan objek material dan objek formal, sedangkan filsafat mulai membagi dirinya dengan adanya ontologi, epistemologi, dan Aksiologi. Awalnya tugas filsafat menurut Aristoteles adalah to deepen our existing understanding of the world (Untuk memperdalam pemahaman kita yang sekarang tentang dunia), dunia yang dimaksud adalah apa yang kita rasakan, apa yang kita alami, dan apa yang kita miliki di dunia. Jadi, filsafat adalah bagaimana lebih memahami tentang dunia kita.
Ontologi adalah ilmu yang membahas tentang semua yang ada, dan dipakai ilmuwan untuk melahirkan sesuatu. Hal terpenting dalam ilmu ini adalah potensialitas dan aktualitas. Potensialitas adalah suatu hal yang nanti akan terjadi dan belum pasti, sedangkan aktualitas adalah suatu hal yang sekarang terjadi dan sudah pasti. Epistimologi adalah ilmu tentang cara-cara/metode untuk mengetahui sesuatu oleh seorang individu. Ilmu ini memiliki rasionalis dan empiris. Rasionalis adalah pemberian keputusan oleh akal manusia, sedangkan empiris adalah pemberian keputusan atas apa yang dialami dan dirasakan oleh panca indra. Aksiologi adalah ilmu yang membahas tentang nilai. Pemberian nilai tersebut dibagi melalui 2 cara, yaitu secara nilai subjektif dan nilai objektif. Nilai subjektif adalah pemberian nilai atau tanggapan atas sesuatu dari diri sendiri atau pendapat orang lain, sedangkan nilai objektif adalah pemberian nilai atau tanggapan secara universal atau dalam artian sesuatu tersebut (objeknya) telah memberikan nilai tersendiri atas dirinya dan semua orang mengakuinya. Kesimpulannya adalah filsafat membahas tentang sesuatu, memberi keputusan, dan memberikan nilai terhadap sesuatu disebut dengan Ontologi, Epistimologi, dan Aksiologi.
------
By. Hikmah Khairani Ibrahim
10300113144
HPK 7
Lihat Detail
Resume filsafat5 | Pembahasan Ontologi, Epistomologi dan, Aksiologi
Assalamu Alaikum
Wr. Wb.
Pada tanggal 07/11/2013 kami dari
jurusan HPK masuk mata kuliah filsafat ilmu yang dimana pada waktu itu kita
membahas materi pengantar atau dasar-dasar filsafat ilmu yang membahas tentang
:
1.
Tujuan dari filsafat terhadap kehidupan manusia
2.
Filsafat berdasarkan pembahasan Ontologi,
Epistomologi dan, Aksiologi
1. Pada
pertemuan kali itu Bapak menjelaskan kepada kami mengenai tujuan filsafat yang
dikemukakan oleh Aristoteles yaitu “ to deepan our existing understanding of
the word” yang pada waktu itu kebetulan yang disuruh oleh Dosen membaca kalimat
itu adalah Saya. Kalimat itu mempunyai arti bahwa” untuk memperdalam pemahaman
kamu terhadap dunia”. Itulah tujuan dari filsafat berdasarkan gagasan oleh
Aristoteles bahwa dalam gagasannya filsafat itu mengantarkan kita untuk
memahami tentang dunia ini. Dan untuk mengkaji diperlukan adanya spesifikasi,Bapak
juga menjelaskan tentang ilmu Mate-matika. Ilmu Mate-matika pada zaman dahulu
itu dipandang sebagai hal yang mistik misalnya angka 3, yang menjelasakan hal
seperti dibawah ini :
Tuhan
Manusia Alam
Segi
tiga ini menjelasakan tentang hubungan kita sebagai manusia dengan alam dan
tuhan, inilah maksud angka 3 tersebut yang pada waktu itu dikatakan sebagai
angka yang mistik atau angka yang keramat pada waktu itu. Ada saat dimana
Mate-matika itu berpisah dengan hal yang mistik ketika Alwarismi mengarang buku
dari situlah Mate-matika mulai berpisah sedikit demi sedikit.
2. Filsafat
berdasarkan Ontologi, Epistomolpgi, dan Aksiologi.
Assalamu Alaikum
Wr. Wb.
Pada tanggal 07/11/2013 kami dari
jurusan HPK masuk mata kuliah filsafat ilmu yang dimana pada waktu itu kita
membahas materi pengantar atau dasar-dasar filsafat ilmu yang membahas tentang
:
1.
Tujuan dari filsafat terhadap kehidupan manusia
2.
Filsafat berdasarkan pembahasan Ontologi,
Epistomologi dan, Aksiologi
1. Pada
pertemuan kali itu Bapak menjelaskan kepada kami mengenai tujuan filsafat yang
dikemukakan oleh Aristoteles yaitu “ to deepan our existing understanding of
the word” yang pada waktu itu kebetulan yang disuruh oleh Dosen membaca kalimat
itu adalah Saya. Kalimat itu mempunyai arti bahwa” untuk memperdalam pemahaman
kamu terhadap dunia”. Itulah tujuan dari filsafat berdasarkan gagasan oleh
Aristoteles bahwa dalam gagasannya filsafat itu mengantarkan kita untuk
memahami tentang dunia ini. Dan untuk mengkaji diperlukan adanya spesifikasi,Bapak
juga menjelaskan tentang ilmu Mate-matika. Ilmu Mate-matika pada zaman dahulu
itu dipandang sebagai hal yang mistik misalnya angka 3, yang menjelasakan hal
seperti dibawah ini :
Tuhan
Manusia Alam
Segi
tiga ini menjelasakan tentang hubungan kita sebagai manusia dengan alam dan
tuhan, inilah maksud angka 3 tersebut yang pada waktu itu dikatakan sebagai
angka yang mistik atau angka yang keramat pada waktu itu. Ada saat dimana
Mate-matika itu berpisah dengan hal yang mistik ketika Alwarismi mengarang buku
dari situlah Mate-matika mulai berpisah sedikit demi sedikit.
2. Filsafat
berdasarkan Ontologi, Epistomolpgi, dan Aksiologi.
Assalamu Alaikum
Wr. Wb.
Pada tanggal 07/11/2013 kami dari
jurusan HPK masuk mata kuliah filsafat ilmu yang dimana pada waktu itu kita
membahas materi pengantar atau dasar-dasar filsafat ilmu yang membahas tentang
:
1.
Tujuan dari filsafat terhadap kehidupan manusia
2.
Filsafat berdasarkan pembahasan Ontologi,
Epistomologi dan, Aksiologi
1. Pada
pertemuan kali itu Bapak menjelaskan kepada kami mengenai tujuan filsafat yang
dikemukakan oleh Aristoteles yaitu “ to deepan our existing understanding of
the word” yang pada waktu itu kebetulan yang disuruh oleh Dosen membaca kalimat
itu adalah Saya. Kalimat itu mempunyai arti bahwa” untuk memperdalam pemahaman
kamu terhadap dunia”. Itulah tujuan dari filsafat berdasarkan gagasan oleh
Aristoteles bahwa dalam gagasannya filsafat itu mengantarkan kita untuk
memahami tentang dunia ini. Dan untuk mengkaji diperlukan adanya spesifikasi,Bapak
juga menjelaskan tentang ilmu Mate-matika. Ilmu Mate-matika pada zaman dahulu
itu dipandang sebagai hal yang mistik misalnya angka 3, yang menjelasakan hal
seperti dibawah ini :
Tuhan
Manusia Alam
Segi
tiga ini menjelasakan tentang hubungan kita sebagai manusia dengan alam dan
tuhan, inilah maksud angka 3 tersebut yang pada waktu itu dikatakan sebagai
angka yang mistik atau angka yang keramat pada waktu itu. Ada saat dimana
Mate-matika itu berpisah dengan hal yang mistik ketika Alwarismi mengarang buku
dari situlah Mate-matika mulai berpisah sedikit demi sedikit.
2. Filsafat
berdasarkan Ontologi, Epistomolpgi, dan Aksiologi.
Assalamu Alaikum
Wr. Wb.
Pada tanggal 07/11/2013 kami dari
jurusan HPK masuk mata kuliah filsafat ilmu yang dimana pada waktu itu kita
membahas materi pengantar atau dasar-dasar filsafat ilmu yang membahas tentang
:
1.
Tujuan dari filsafat terhadap kehidupan manusia
2.
Filsafat berdasarkan pembahasan Ontologi,
Epistomologi dan, Aksiologi
1. Pada
pertemuan kali itu Bapak menjelaskan kepada kami mengenai tujuan filsafat yang
dikemukakan oleh Aristoteles yaitu “ to deepan our existing understanding of
the word” yang pada waktu itu kebetulan yang disuruh oleh Dosen membaca kalimat
itu adalah Saya. Kalimat itu mempunyai arti bahwa” untuk memperdalam pemahaman
kamu terhadap dunia”. Itulah tujuan dari filsafat berdasarkan gagasan oleh
Aristoteles bahwa dalam gagasannya filsafat itu mengantarkan kita untuk
memahami tentang dunia ini. Dan untuk mengkaji diperlukan adanya spesifikasi,Bapak
juga menjelaskan tentang ilmu Mate-matika. Ilmu Mate-matika pada zaman dahulu
itu dipandang sebagai hal yang mistik misalnya angka 3, yang menjelasakan hal
seperti dibawah ini :
Tuhan
Manusia Alam
Segi
tiga ini menjelasakan tentang hubungan kita sebagai manusia dengan alam dan
tuhan, inilah maksud angka 3 tersebut yang pada waktu itu dikatakan sebagai
angka yang mistik atau angka yang keramat pada waktu itu. Ada saat dimana
Mate-matika itu berpisah dengan hal yang mistik ketika Alwarismi mengarang buku
dari situlah Mate-matika mulai berpisah sedikit demi sedikit.
2. Filsafat
berdasarkan Ontologi, Epistomolpgi, dan Aksiologi.
Assalamu Alaikum
Wr. Wb.
Pada tanggal 07/11/2013 kami dari
jurusan HPK masuk mata kuliah filsafat ilmu yang dimana pada waktu itu kita
membahas materi pengantar atau dasar-dasar filsafat ilmu yang membahas tentang
:
1.
Tujuan dari filsafat terhadap kehidupan manusia
2.
Filsafat berdasarkan pembahasan Ontologi,
Epistomologi dan, Aksiologi
1. Pada
pertemuan kali itu Bapak menjelaskan kepada kami mengenai tujuan filsafat yang
dikemukakan oleh Aristoteles yaitu “ to deepan our existing understanding of
the word” yang pada waktu itu kebetulan yang disuruh oleh Dosen membaca kalimat
itu adalah Saya. Kalimat itu mempunyai arti bahwa” untuk memperdalam pemahaman
kamu terhadap dunia”. Itulah tujuan dari filsafat berdasarkan gagasan oleh
Aristoteles bahwa dalam gagasannya filsafat itu mengantarkan kita untuk
memahami tentang dunia ini. Dan untuk mengkaji diperlukan adanya spesifikasi,Bapak
juga menjelaskan tentang ilmu Mate-matika. Ilmu Mate-matika pada zaman dahulu
itu dipandang sebagai hal yang mistik misalnya angka 3, yang menjelasakan hal
seperti dibawah ini :
Tuhan
Manusia Alam
Segi
tiga ini menjelasakan tentang hubungan kita sebagai manusia dengan alam dan
tuhan, inilah maksud angka 3 tersebut yang pada waktu itu dikatakan sebagai
angka yang mistik atau angka yang keramat pada waktu itu. Ada saat dimana
Mate-matika itu berpisah dengan hal yang mistik ketika Alwarismi mengarang buku
dari situlah Mate-matika mulai berpisah sedikit demi sedikit.
2. Filsafat
berdasarkan Ontologi, Epistomolpgi, dan Aksiologi.
Lihat Detail
Resume Filsafat4 | Objek Kajian Filsafat Ilmu
Objek Kajian Filsafat Ilmu
Untuk membahas objek kajian dalam filsafat ilmu, perlu dikaji terlebih dahulu makna filsafat itu. Secara etimologi, filsafat berasal dari bahasa Yunani, yaitu Philosophia, dan terdiri dari kata Philo yang berarti kesukaan atau kecintaan terhadap sesuatu, dan kata Sophia yang berarti kebijaksanaan. Jadi, filsafat diartikan sebagai suatu kecintaan terhadap kebijaksanaan.
Objek kajian filsafat ilmu terdiri atas dua bagian yaitu, objek material dan objek formal. Kegunaan objek material dan objek formal adalah sebagai objek yang akan dipilah-pilah dan akan menjadi istilah oprasional filsafat ilmu. Objek material adalah objek yang akan dikaji, atau objek yang dipelajari oleh ilmu itu. Terkadang objeknya hanya satu, misalnya objek yang akan dikaji adalah makanan dan dikaji oleh seorang Dokter maka objek tersebut dikaji dari segi kesehatannya bagi manusia, atau dikaji oleh seorang ahli nutrisi maka makanan tersebut dikaji dari segi keseimbangan nutrisinya, atau makanan tersebut dikaji oleh seorang chef maka makanan tersebut dikaji dari segi rasa dan keindahan penyajiannya. Objek formal adalah gaya
Untuk membahas objek kajian dalam filsafat ilmu, perlu dikaji terlebih dahulu makna filsafat itu. Secara etimologi, filsafat berasal dari bahasa Yunani, yaitu Philosophia, dan terdiri dari kata Philo yang berarti kesukaan atau kecintaan terhadap sesuatu, dan kata Sophia yang berarti kebijaksanaan. Jadi, filsafat diartikan sebagai suatu kecintaan terhadap kebijaksanaan.
Objek kajian filsafat ilmu terdiri atas dua bagian yaitu, objek material dan objek formal. Kegunaan objek material dan objek formal adalah sebagai objek yang akan dipilah-pilah dan akan menjadi istilah oprasional filsafat ilmu. Objek material adalah objek yang akan dikaji, atau objek yang dipelajari oleh ilmu itu. Terkadang objeknya hanya satu, misalnya objek yang akan dikaji adalah makanan dan dikaji oleh seorang Dokter maka objek tersebut dikaji dari segi kesehatannya bagi manusia, atau dikaji oleh seorang ahli nutrisi maka makanan tersebut dikaji dari segi keseimbangan nutrisinya, atau makanan tersebut dikaji oleh seorang chef maka makanan tersebut dikaji dari segi rasa dan keindahan penyajiannya. Objek formal adalah gaya
Objek Kajian Filsafat Ilmu
Untuk membahas objek kajian dalam filsafat ilmu, perlu dikaji terlebih dahulu makna filsafat itu. Secara etimologi, filsafat berasal dari bahasa Yunani, yaitu Philosophia, dan terdiri dari kata Philo yang berarti kesukaan atau kecintaan terhadap sesuatu, dan kata Sophia yang berarti kebijaksanaan. Jadi, filsafat diartikan sebagai suatu kecintaan terhadap kebijaksanaan.
Objek kajian filsafat ilmu terdiri atas dua bagian yaitu, objek material dan objek formal. Kegunaan objek material dan objek formal adalah sebagai objek yang akan dipilah-pilah dan akan menjadi istilah oprasional filsafat ilmu. Objek material adalah objek yang akan dikaji, atau objek yang dipelajari oleh ilmu itu. Terkadang objeknya hanya satu, misalnya objek yang akan dikaji adalah makanan dan dikaji oleh seorang Dokter maka objek tersebut dikaji dari segi kesehatannya bagi manusia, atau dikaji oleh seorang ahli nutrisi maka makanan tersebut dikaji dari segi keseimbangan nutrisinya, atau makanan tersebut dikaji oleh seorang chef maka makanan tersebut dikaji dari segi rasa dan keindahan penyajiannya. Objek formal adalah gaya
Untuk membahas objek kajian dalam filsafat ilmu, perlu dikaji terlebih dahulu makna filsafat itu. Secara etimologi, filsafat berasal dari bahasa Yunani, yaitu Philosophia, dan terdiri dari kata Philo yang berarti kesukaan atau kecintaan terhadap sesuatu, dan kata Sophia yang berarti kebijaksanaan. Jadi, filsafat diartikan sebagai suatu kecintaan terhadap kebijaksanaan.
Objek kajian filsafat ilmu terdiri atas dua bagian yaitu, objek material dan objek formal. Kegunaan objek material dan objek formal adalah sebagai objek yang akan dipilah-pilah dan akan menjadi istilah oprasional filsafat ilmu. Objek material adalah objek yang akan dikaji, atau objek yang dipelajari oleh ilmu itu. Terkadang objeknya hanya satu, misalnya objek yang akan dikaji adalah makanan dan dikaji oleh seorang Dokter maka objek tersebut dikaji dari segi kesehatannya bagi manusia, atau dikaji oleh seorang ahli nutrisi maka makanan tersebut dikaji dari segi keseimbangan nutrisinya, atau makanan tersebut dikaji oleh seorang chef maka makanan tersebut dikaji dari segi rasa dan keindahan penyajiannya. Objek formal adalah gaya
Objek Kajian Filsafat Ilmu
Untuk membahas objek kajian dalam filsafat ilmu, perlu dikaji terlebih dahulu makna filsafat itu. Secara etimologi, filsafat berasal dari bahasa Yunani, yaitu Philosophia, dan terdiri dari kata Philo yang berarti kesukaan atau kecintaan terhadap sesuatu, dan kata Sophia yang berarti kebijaksanaan. Jadi, filsafat diartikan sebagai suatu kecintaan terhadap kebijaksanaan.
Objek kajian filsafat ilmu terdiri atas dua bagian yaitu, objek material dan objek formal. Kegunaan objek material dan objek formal adalah sebagai objek yang akan dipilah-pilah dan akan menjadi istilah oprasional filsafat ilmu. Objek material adalah objek yang akan dikaji, atau objek yang dipelajari oleh ilmu itu. Terkadang objeknya hanya satu, misalnya objek yang akan dikaji adalah makanan dan dikaji oleh seorang Dokter maka objek tersebut dikaji dari segi kesehatannya bagi manusia, atau dikaji oleh seorang ahli nutrisi maka makanan tersebut dikaji dari segi keseimbangan nutrisinya, atau makanan tersebut dikaji oleh seorang chef maka makanan tersebut dikaji dari segi rasa dan keindahan penyajiannya. Objek formal adalah gaya
Untuk membahas objek kajian dalam filsafat ilmu, perlu dikaji terlebih dahulu makna filsafat itu. Secara etimologi, filsafat berasal dari bahasa Yunani, yaitu Philosophia, dan terdiri dari kata Philo yang berarti kesukaan atau kecintaan terhadap sesuatu, dan kata Sophia yang berarti kebijaksanaan. Jadi, filsafat diartikan sebagai suatu kecintaan terhadap kebijaksanaan.
Objek kajian filsafat ilmu terdiri atas dua bagian yaitu, objek material dan objek formal. Kegunaan objek material dan objek formal adalah sebagai objek yang akan dipilah-pilah dan akan menjadi istilah oprasional filsafat ilmu. Objek material adalah objek yang akan dikaji, atau objek yang dipelajari oleh ilmu itu. Terkadang objeknya hanya satu, misalnya objek yang akan dikaji adalah makanan dan dikaji oleh seorang Dokter maka objek tersebut dikaji dari segi kesehatannya bagi manusia, atau dikaji oleh seorang ahli nutrisi maka makanan tersebut dikaji dari segi keseimbangan nutrisinya, atau makanan tersebut dikaji oleh seorang chef maka makanan tersebut dikaji dari segi rasa dan keindahan penyajiannya. Objek formal adalah gaya
Objek Kajian Filsafat Ilmu
Untuk membahas objek kajian dalam filsafat ilmu, perlu dikaji terlebih dahulu makna filsafat itu. Secara etimologi, filsafat berasal dari bahasa Yunani, yaitu Philosophia, dan terdiri dari kata Philo yang berarti kesukaan atau kecintaan terhadap sesuatu, dan kata Sophia yang berarti kebijaksanaan. Jadi, filsafat diartikan sebagai suatu kecintaan terhadap kebijaksanaan.
Objek kajian filsafat ilmu terdiri atas dua bagian yaitu, objek material dan objek formal. Kegunaan objek material dan objek formal adalah sebagai objek yang akan dipilah-pilah dan akan menjadi istilah oprasional filsafat ilmu. Objek material adalah objek yang akan dikaji, atau objek yang dipelajari oleh ilmu itu. Terkadang objeknya hanya satu, misalnya objek yang akan dikaji adalah makanan dan dikaji oleh seorang Dokter maka objek tersebut dikaji dari segi kesehatannya bagi manusia, atau dikaji oleh seorang ahli nutrisi maka makanan tersebut dikaji dari segi keseimbangan nutrisinya, atau makanan tersebut dikaji oleh seorang chef maka makanan tersebut dikaji dari segi rasa dan keindahan penyajiannya. Objek formal adalah gaya
Untuk membahas objek kajian dalam filsafat ilmu, perlu dikaji terlebih dahulu makna filsafat itu. Secara etimologi, filsafat berasal dari bahasa Yunani, yaitu Philosophia, dan terdiri dari kata Philo yang berarti kesukaan atau kecintaan terhadap sesuatu, dan kata Sophia yang berarti kebijaksanaan. Jadi, filsafat diartikan sebagai suatu kecintaan terhadap kebijaksanaan.
Objek kajian filsafat ilmu terdiri atas dua bagian yaitu, objek material dan objek formal. Kegunaan objek material dan objek formal adalah sebagai objek yang akan dipilah-pilah dan akan menjadi istilah oprasional filsafat ilmu. Objek material adalah objek yang akan dikaji, atau objek yang dipelajari oleh ilmu itu. Terkadang objeknya hanya satu, misalnya objek yang akan dikaji adalah makanan dan dikaji oleh seorang Dokter maka objek tersebut dikaji dari segi kesehatannya bagi manusia, atau dikaji oleh seorang ahli nutrisi maka makanan tersebut dikaji dari segi keseimbangan nutrisinya, atau makanan tersebut dikaji oleh seorang chef maka makanan tersebut dikaji dari segi rasa dan keindahan penyajiannya. Objek formal adalah gaya
Objek Kajian Filsafat Ilmu
Untuk membahas objek kajian dalam filsafat ilmu, perlu dikaji terlebih dahulu makna filsafat itu. Secara etimologi, filsafat berasal dari bahasa Yunani, yaitu Philosophia, dan terdiri dari kata Philo yang berarti kesukaan atau kecintaan terhadap sesuatu, dan kata Sophia yang berarti kebijaksanaan. Jadi, filsafat diartikan sebagai suatu kecintaan terhadap kebijaksanaan.
Objek kajian filsafat ilmu terdiri atas dua bagian yaitu, objek material dan objek formal. Kegunaan objek material dan objek formal adalah sebagai objek yang akan dipilah-pilah dan akan menjadi istilah oprasional filsafat ilmu. Objek material adalah objek yang akan dikaji, atau objek yang dipelajari oleh ilmu itu. Terkadang objeknya hanya satu, misalnya objek yang akan dikaji adalah makanan dan dikaji oleh seorang Dokter maka objek tersebut dikaji dari segi kesehatannya bagi manusia, atau dikaji oleh seorang ahli nutrisi maka makanan tersebut dikaji dari segi keseimbangan nutrisinya, atau makanan tersebut dikaji oleh seorang chef maka makanan tersebut dikaji dari segi rasa dan keindahan penyajiannya. Objek formal adalah gaya
Untuk membahas objek kajian dalam filsafat ilmu, perlu dikaji terlebih dahulu makna filsafat itu. Secara etimologi, filsafat berasal dari bahasa Yunani, yaitu Philosophia, dan terdiri dari kata Philo yang berarti kesukaan atau kecintaan terhadap sesuatu, dan kata Sophia yang berarti kebijaksanaan. Jadi, filsafat diartikan sebagai suatu kecintaan terhadap kebijaksanaan.
Objek kajian filsafat ilmu terdiri atas dua bagian yaitu, objek material dan objek formal. Kegunaan objek material dan objek formal adalah sebagai objek yang akan dipilah-pilah dan akan menjadi istilah oprasional filsafat ilmu. Objek material adalah objek yang akan dikaji, atau objek yang dipelajari oleh ilmu itu. Terkadang objeknya hanya satu, misalnya objek yang akan dikaji adalah makanan dan dikaji oleh seorang Dokter maka objek tersebut dikaji dari segi kesehatannya bagi manusia, atau dikaji oleh seorang ahli nutrisi maka makanan tersebut dikaji dari segi keseimbangan nutrisinya, atau makanan tersebut dikaji oleh seorang chef maka makanan tersebut dikaji dari segi rasa dan keindahan penyajiannya. Objek formal adalah gaya
Lihat Detail
Resume Filsafat3 | Pengantar Filsafat Ilmu
Pengantar Filsafat Ilmu
Beda kepala, beda isinya. Istilah ini saya simpulkan dari pertemuan kami yang kemarin. Ketika Pengertian Filsafat dijadikan sebuah pertanyaan, maka jawaban beberapa orang akan berbeda-beda. Empat orang yang berkesempatan mengemukakan pendapatnya kemarin juga memiliki jawaban berbeda-beda ketika diberikan pertanyaan tentang pengertian filsafat. Galang sebagai orang pertama menuliskan jawabannya bahwa Filsafat ialah ilmu yang mempelajari tentang cara pendekatan kepada Tuhan., kemudian Aqil sebagai orang kedua menuliskan jawabannya bahwa Filsafat merupakan pusat dari segala ilmu pengetahuan. Orang ketiga yang berkesempatan menuliskan jawabannya tentang pengertian Filsafat adalah saya sendiri. Berhubung karena saya memang belum mempunyai pengetahuan dasar tentang Ilmu filsafat itu sendiri dan bagi saya ini memang adalah sesuatu yang sangat baru untuk saya pelajari, maka jawaban saya sangat jauh dari pengertian filsafat yang sebenarnya, yaitu Filsafat adalah sejarah pengetahuan. Jawaban saya ini menjadi jawaban tersingkat dan kurang tepat di antara jawaban yang lain. Kemudian, orang terakhir yang menuliskan jawabannya adalah Uli yang menuliskan bahwa Filsafat adalah ilmu yang mempelajari tentang bagaimana mendalami sesuatu yang ingin diketahui.
Beda kepala, beda isinya. Istilah ini saya simpulkan dari pertemuan kami yang kemarin. Ketika Pengertian Filsafat dijadikan sebuah pertanyaan, maka jawaban beberapa orang akan berbeda-beda. Empat orang yang berkesempatan mengemukakan pendapatnya kemarin juga memiliki jawaban berbeda-beda ketika diberikan pertanyaan tentang pengertian filsafat. Galang sebagai orang pertama menuliskan jawabannya bahwa Filsafat ialah ilmu yang mempelajari tentang cara pendekatan kepada Tuhan., kemudian Aqil sebagai orang kedua menuliskan jawabannya bahwa Filsafat merupakan pusat dari segala ilmu pengetahuan. Orang ketiga yang berkesempatan menuliskan jawabannya tentang pengertian Filsafat adalah saya sendiri. Berhubung karena saya memang belum mempunyai pengetahuan dasar tentang Ilmu filsafat itu sendiri dan bagi saya ini memang adalah sesuatu yang sangat baru untuk saya pelajari, maka jawaban saya sangat jauh dari pengertian filsafat yang sebenarnya, yaitu Filsafat adalah sejarah pengetahuan. Jawaban saya ini menjadi jawaban tersingkat dan kurang tepat di antara jawaban yang lain. Kemudian, orang terakhir yang menuliskan jawabannya adalah Uli yang menuliskan bahwa Filsafat adalah ilmu yang mempelajari tentang bagaimana mendalami sesuatu yang ingin diketahui.
Pengantar Filsafat Ilmu
Beda kepala, beda isinya. Istilah ini saya simpulkan dari pertemuan kami yang kemarin. Ketika Pengertian Filsafat dijadikan sebuah pertanyaan, maka jawaban beberapa orang akan berbeda-beda. Empat orang yang berkesempatan mengemukakan pendapatnya kemarin juga memiliki jawaban berbeda-beda ketika diberikan pertanyaan tentang pengertian filsafat. Galang sebagai orang pertama menuliskan jawabannya bahwa Filsafat ialah ilmu yang mempelajari tentang cara pendekatan kepada Tuhan., kemudian Aqil sebagai orang kedua menuliskan jawabannya bahwa Filsafat merupakan pusat dari segala ilmu pengetahuan. Orang ketiga yang berkesempatan menuliskan jawabannya tentang pengertian Filsafat adalah saya sendiri. Berhubung karena saya memang belum mempunyai pengetahuan dasar tentang Ilmu filsafat itu sendiri dan bagi saya ini memang adalah sesuatu yang sangat baru untuk saya pelajari, maka jawaban saya sangat jauh dari pengertian filsafat yang sebenarnya, yaitu Filsafat adalah sejarah pengetahuan. Jawaban saya ini menjadi jawaban tersingkat dan kurang tepat di antara jawaban yang lain. Kemudian, orang terakhir yang menuliskan jawabannya adalah Uli yang menuliskan bahwa Filsafat adalah ilmu yang mempelajari tentang bagaimana mendalami sesuatu yang ingin diketahui.
Beda kepala, beda isinya. Istilah ini saya simpulkan dari pertemuan kami yang kemarin. Ketika Pengertian Filsafat dijadikan sebuah pertanyaan, maka jawaban beberapa orang akan berbeda-beda. Empat orang yang berkesempatan mengemukakan pendapatnya kemarin juga memiliki jawaban berbeda-beda ketika diberikan pertanyaan tentang pengertian filsafat. Galang sebagai orang pertama menuliskan jawabannya bahwa Filsafat ialah ilmu yang mempelajari tentang cara pendekatan kepada Tuhan., kemudian Aqil sebagai orang kedua menuliskan jawabannya bahwa Filsafat merupakan pusat dari segala ilmu pengetahuan. Orang ketiga yang berkesempatan menuliskan jawabannya tentang pengertian Filsafat adalah saya sendiri. Berhubung karena saya memang belum mempunyai pengetahuan dasar tentang Ilmu filsafat itu sendiri dan bagi saya ini memang adalah sesuatu yang sangat baru untuk saya pelajari, maka jawaban saya sangat jauh dari pengertian filsafat yang sebenarnya, yaitu Filsafat adalah sejarah pengetahuan. Jawaban saya ini menjadi jawaban tersingkat dan kurang tepat di antara jawaban yang lain. Kemudian, orang terakhir yang menuliskan jawabannya adalah Uli yang menuliskan bahwa Filsafat adalah ilmu yang mempelajari tentang bagaimana mendalami sesuatu yang ingin diketahui.
Pengantar Filsafat Ilmu
Beda kepala, beda isinya. Istilah ini saya simpulkan dari pertemuan kami yang kemarin. Ketika Pengertian Filsafat dijadikan sebuah pertanyaan, maka jawaban beberapa orang akan berbeda-beda. Empat orang yang berkesempatan mengemukakan pendapatnya kemarin juga memiliki jawaban berbeda-beda ketika diberikan pertanyaan tentang pengertian filsafat. Galang sebagai orang pertama menuliskan jawabannya bahwa Filsafat ialah ilmu yang mempelajari tentang cara pendekatan kepada Tuhan., kemudian Aqil sebagai orang kedua menuliskan jawabannya bahwa Filsafat merupakan pusat dari segala ilmu pengetahuan. Orang ketiga yang berkesempatan menuliskan jawabannya tentang pengertian Filsafat adalah saya sendiri. Berhubung karena saya memang belum mempunyai pengetahuan dasar tentang Ilmu filsafat itu sendiri dan bagi saya ini memang adalah sesuatu yang sangat baru untuk saya pelajari, maka jawaban saya sangat jauh dari pengertian filsafat yang sebenarnya, yaitu Filsafat adalah sejarah pengetahuan. Jawaban saya ini menjadi jawaban tersingkat dan kurang tepat di antara jawaban yang lain. Kemudian, orang terakhir yang menuliskan jawabannya adalah Uli yang menuliskan bahwa Filsafat adalah ilmu yang mempelajari tentang bagaimana mendalami sesuatu yang ingin diketahui.
Beda kepala, beda isinya. Istilah ini saya simpulkan dari pertemuan kami yang kemarin. Ketika Pengertian Filsafat dijadikan sebuah pertanyaan, maka jawaban beberapa orang akan berbeda-beda. Empat orang yang berkesempatan mengemukakan pendapatnya kemarin juga memiliki jawaban berbeda-beda ketika diberikan pertanyaan tentang pengertian filsafat. Galang sebagai orang pertama menuliskan jawabannya bahwa Filsafat ialah ilmu yang mempelajari tentang cara pendekatan kepada Tuhan., kemudian Aqil sebagai orang kedua menuliskan jawabannya bahwa Filsafat merupakan pusat dari segala ilmu pengetahuan. Orang ketiga yang berkesempatan menuliskan jawabannya tentang pengertian Filsafat adalah saya sendiri. Berhubung karena saya memang belum mempunyai pengetahuan dasar tentang Ilmu filsafat itu sendiri dan bagi saya ini memang adalah sesuatu yang sangat baru untuk saya pelajari, maka jawaban saya sangat jauh dari pengertian filsafat yang sebenarnya, yaitu Filsafat adalah sejarah pengetahuan. Jawaban saya ini menjadi jawaban tersingkat dan kurang tepat di antara jawaban yang lain. Kemudian, orang terakhir yang menuliskan jawabannya adalah Uli yang menuliskan bahwa Filsafat adalah ilmu yang mempelajari tentang bagaimana mendalami sesuatu yang ingin diketahui.
Pengantar Filsafat Ilmu
Beda kepala, beda isinya. Istilah ini saya simpulkan dari pertemuan kami yang kemarin. Ketika Pengertian Filsafat dijadikan sebuah pertanyaan, maka jawaban beberapa orang akan berbeda-beda. Empat orang yang berkesempatan mengemukakan pendapatnya kemarin juga memiliki jawaban berbeda-beda ketika diberikan pertanyaan tentang pengertian filsafat. Galang sebagai orang pertama menuliskan jawabannya bahwa Filsafat ialah ilmu yang mempelajari tentang cara pendekatan kepada Tuhan., kemudian Aqil sebagai orang kedua menuliskan jawabannya bahwa Filsafat merupakan pusat dari segala ilmu pengetahuan. Orang ketiga yang berkesempatan menuliskan jawabannya tentang pengertian Filsafat adalah saya sendiri. Berhubung karena saya memang belum mempunyai pengetahuan dasar tentang Ilmu filsafat itu sendiri dan bagi saya ini memang adalah sesuatu yang sangat baru untuk saya pelajari, maka jawaban saya sangat jauh dari pengertian filsafat yang sebenarnya, yaitu Filsafat adalah sejarah pengetahuan. Jawaban saya ini menjadi jawaban tersingkat dan kurang tepat di antara jawaban yang lain. Kemudian, orang terakhir yang menuliskan jawabannya adalah Uli yang menuliskan bahwa Filsafat adalah ilmu yang mempelajari tentang bagaimana mendalami sesuatu yang ingin diketahui.
Beda kepala, beda isinya. Istilah ini saya simpulkan dari pertemuan kami yang kemarin. Ketika Pengertian Filsafat dijadikan sebuah pertanyaan, maka jawaban beberapa orang akan berbeda-beda. Empat orang yang berkesempatan mengemukakan pendapatnya kemarin juga memiliki jawaban berbeda-beda ketika diberikan pertanyaan tentang pengertian filsafat. Galang sebagai orang pertama menuliskan jawabannya bahwa Filsafat ialah ilmu yang mempelajari tentang cara pendekatan kepada Tuhan., kemudian Aqil sebagai orang kedua menuliskan jawabannya bahwa Filsafat merupakan pusat dari segala ilmu pengetahuan. Orang ketiga yang berkesempatan menuliskan jawabannya tentang pengertian Filsafat adalah saya sendiri. Berhubung karena saya memang belum mempunyai pengetahuan dasar tentang Ilmu filsafat itu sendiri dan bagi saya ini memang adalah sesuatu yang sangat baru untuk saya pelajari, maka jawaban saya sangat jauh dari pengertian filsafat yang sebenarnya, yaitu Filsafat adalah sejarah pengetahuan. Jawaban saya ini menjadi jawaban tersingkat dan kurang tepat di antara jawaban yang lain. Kemudian, orang terakhir yang menuliskan jawabannya adalah Uli yang menuliskan bahwa Filsafat adalah ilmu yang mempelajari tentang bagaimana mendalami sesuatu yang ingin diketahui.
Pengantar Filsafat Ilmu
Beda kepala, beda isinya. Istilah ini saya simpulkan dari pertemuan kami yang kemarin. Ketika Pengertian Filsafat dijadikan sebuah pertanyaan, maka jawaban beberapa orang akan berbeda-beda. Empat orang yang berkesempatan mengemukakan pendapatnya kemarin juga memiliki jawaban berbeda-beda ketika diberikan pertanyaan tentang pengertian filsafat. Galang sebagai orang pertama menuliskan jawabannya bahwa Filsafat ialah ilmu yang mempelajari tentang cara pendekatan kepada Tuhan., kemudian Aqil sebagai orang kedua menuliskan jawabannya bahwa Filsafat merupakan pusat dari segala ilmu pengetahuan. Orang ketiga yang berkesempatan menuliskan jawabannya tentang pengertian Filsafat adalah saya sendiri. Berhubung karena saya memang belum mempunyai pengetahuan dasar tentang Ilmu filsafat itu sendiri dan bagi saya ini memang adalah sesuatu yang sangat baru untuk saya pelajari, maka jawaban saya sangat jauh dari pengertian filsafat yang sebenarnya, yaitu Filsafat adalah sejarah pengetahuan. Jawaban saya ini menjadi jawaban tersingkat dan kurang tepat di antara jawaban yang lain. Kemudian, orang terakhir yang menuliskan jawabannya adalah Uli yang menuliskan bahwa Filsafat adalah ilmu yang mempelajari tentang bagaimana mendalami sesuatu yang ingin diketahui.
Beda kepala, beda isinya. Istilah ini saya simpulkan dari pertemuan kami yang kemarin. Ketika Pengertian Filsafat dijadikan sebuah pertanyaan, maka jawaban beberapa orang akan berbeda-beda. Empat orang yang berkesempatan mengemukakan pendapatnya kemarin juga memiliki jawaban berbeda-beda ketika diberikan pertanyaan tentang pengertian filsafat. Galang sebagai orang pertama menuliskan jawabannya bahwa Filsafat ialah ilmu yang mempelajari tentang cara pendekatan kepada Tuhan., kemudian Aqil sebagai orang kedua menuliskan jawabannya bahwa Filsafat merupakan pusat dari segala ilmu pengetahuan. Orang ketiga yang berkesempatan menuliskan jawabannya tentang pengertian Filsafat adalah saya sendiri. Berhubung karena saya memang belum mempunyai pengetahuan dasar tentang Ilmu filsafat itu sendiri dan bagi saya ini memang adalah sesuatu yang sangat baru untuk saya pelajari, maka jawaban saya sangat jauh dari pengertian filsafat yang sebenarnya, yaitu Filsafat adalah sejarah pengetahuan. Jawaban saya ini menjadi jawaban tersingkat dan kurang tepat di antara jawaban yang lain. Kemudian, orang terakhir yang menuliskan jawabannya adalah Uli yang menuliskan bahwa Filsafat adalah ilmu yang mempelajari tentang bagaimana mendalami sesuatu yang ingin diketahui.
Lihat Detail
Resume Filsafat2 | Menjadi Sukses atau Berilmu?
Menjadi Sukses atau Berilmu?
Tuhan Maha Adil atas segala sesuatu yang terjadi pada hidup seseorang. Jangan pernah menganggap Tuhan tidak adil hanya karena apa yang kita inginkan tidak dapat kita raih. Coba intropeksi kembali ke dalam diri kita sendiri. Menjadi sukses terkadang tidak harus berilmu, begitu pula sebaliknya, orang yang berilmu terkadang tidak menjadi sukses, “Kaya”. Orang yang memilih sukses mempunyai alasan tersendiri, begitu pula sebaliknya, orang yang memilih berilmu juga memiliki alasan tersendiri. Hidup penuh pilihan.
Banyak orang yang berusaha keras menempuh pendidikannya hingga ke universitas ternama bahkan memaksakan dirinya untuk bergelar sebanyak mungkin, menghamburkan uangnya demi menuntut ilmu hingga ia wisuda dan menjadi lulusan terbaik. Hal tersebut wajar adanya, akan tetapi tidak ada yang bisa menjamin pekerjaan apa yang akan ia dapatkan atau bahkan adakah pekerjaan yang akan ia dapatkan, meskipun tidak sedikit pula yang menjadi sukses. Di lain sisi, banyak orang yang pendidikannya rendah memilih untuk tetap tinggal tanpa melakukan suatu perubahan pada hidupnya tapi banyak pula yang bersemangat melawan takdir dan sangat termotivasi untuk sukses karena latar belakangnya tersebut. Semua perubahan yang mereka lakukan mungkin di latar belakangi rasa gengsi yang kuat dan “Apa kata dunia?” adalah kalimat yang bisa
Tuhan Maha Adil atas segala sesuatu yang terjadi pada hidup seseorang. Jangan pernah menganggap Tuhan tidak adil hanya karena apa yang kita inginkan tidak dapat kita raih. Coba intropeksi kembali ke dalam diri kita sendiri. Menjadi sukses terkadang tidak harus berilmu, begitu pula sebaliknya, orang yang berilmu terkadang tidak menjadi sukses, “Kaya”. Orang yang memilih sukses mempunyai alasan tersendiri, begitu pula sebaliknya, orang yang memilih berilmu juga memiliki alasan tersendiri. Hidup penuh pilihan.
Banyak orang yang berusaha keras menempuh pendidikannya hingga ke universitas ternama bahkan memaksakan dirinya untuk bergelar sebanyak mungkin, menghamburkan uangnya demi menuntut ilmu hingga ia wisuda dan menjadi lulusan terbaik. Hal tersebut wajar adanya, akan tetapi tidak ada yang bisa menjamin pekerjaan apa yang akan ia dapatkan atau bahkan adakah pekerjaan yang akan ia dapatkan, meskipun tidak sedikit pula yang menjadi sukses. Di lain sisi, banyak orang yang pendidikannya rendah memilih untuk tetap tinggal tanpa melakukan suatu perubahan pada hidupnya tapi banyak pula yang bersemangat melawan takdir dan sangat termotivasi untuk sukses karena latar belakangnya tersebut. Semua perubahan yang mereka lakukan mungkin di latar belakangi rasa gengsi yang kuat dan “Apa kata dunia?” adalah kalimat yang bisa
Menjadi Sukses atau Berilmu?
Tuhan Maha Adil atas segala sesuatu yang terjadi pada hidup seseorang. Jangan pernah menganggap Tuhan tidak adil hanya karena apa yang kita inginkan tidak dapat kita raih. Coba intropeksi kembali ke dalam diri kita sendiri. Menjadi sukses terkadang tidak harus berilmu, begitu pula sebaliknya, orang yang berilmu terkadang tidak menjadi sukses, “Kaya”. Orang yang memilih sukses mempunyai alasan tersendiri, begitu pula sebaliknya, orang yang memilih berilmu juga memiliki alasan tersendiri. Hidup penuh pilihan.
Banyak orang yang berusaha keras menempuh pendidikannya hingga ke universitas ternama bahkan memaksakan dirinya untuk bergelar sebanyak mungkin, menghamburkan uangnya demi menuntut ilmu hingga ia wisuda dan menjadi lulusan terbaik. Hal tersebut wajar adanya, akan tetapi tidak ada yang bisa menjamin pekerjaan apa yang akan ia dapatkan atau bahkan adakah pekerjaan yang akan ia dapatkan, meskipun tidak sedikit pula yang menjadi sukses. Di lain sisi, banyak orang yang pendidikannya rendah memilih untuk tetap tinggal tanpa melakukan suatu perubahan pada hidupnya tapi banyak pula yang bersemangat melawan takdir dan sangat termotivasi untuk sukses karena latar belakangnya tersebut. Semua perubahan yang mereka lakukan mungkin di latar belakangi rasa gengsi yang kuat dan “Apa kata dunia?” adalah kalimat yang bisa
Tuhan Maha Adil atas segala sesuatu yang terjadi pada hidup seseorang. Jangan pernah menganggap Tuhan tidak adil hanya karena apa yang kita inginkan tidak dapat kita raih. Coba intropeksi kembali ke dalam diri kita sendiri. Menjadi sukses terkadang tidak harus berilmu, begitu pula sebaliknya, orang yang berilmu terkadang tidak menjadi sukses, “Kaya”. Orang yang memilih sukses mempunyai alasan tersendiri, begitu pula sebaliknya, orang yang memilih berilmu juga memiliki alasan tersendiri. Hidup penuh pilihan.
Banyak orang yang berusaha keras menempuh pendidikannya hingga ke universitas ternama bahkan memaksakan dirinya untuk bergelar sebanyak mungkin, menghamburkan uangnya demi menuntut ilmu hingga ia wisuda dan menjadi lulusan terbaik. Hal tersebut wajar adanya, akan tetapi tidak ada yang bisa menjamin pekerjaan apa yang akan ia dapatkan atau bahkan adakah pekerjaan yang akan ia dapatkan, meskipun tidak sedikit pula yang menjadi sukses. Di lain sisi, banyak orang yang pendidikannya rendah memilih untuk tetap tinggal tanpa melakukan suatu perubahan pada hidupnya tapi banyak pula yang bersemangat melawan takdir dan sangat termotivasi untuk sukses karena latar belakangnya tersebut. Semua perubahan yang mereka lakukan mungkin di latar belakangi rasa gengsi yang kuat dan “Apa kata dunia?” adalah kalimat yang bisa
Menjadi Sukses atau Berilmu?
Tuhan Maha Adil atas segala sesuatu yang terjadi pada hidup seseorang. Jangan pernah menganggap Tuhan tidak adil hanya karena apa yang kita inginkan tidak dapat kita raih. Coba intropeksi kembali ke dalam diri kita sendiri. Menjadi sukses terkadang tidak harus berilmu, begitu pula sebaliknya, orang yang berilmu terkadang tidak menjadi sukses, “Kaya”. Orang yang memilih sukses mempunyai alasan tersendiri, begitu pula sebaliknya, orang yang memilih berilmu juga memiliki alasan tersendiri. Hidup penuh pilihan.
Banyak orang yang berusaha keras menempuh pendidikannya hingga ke universitas ternama bahkan memaksakan dirinya untuk bergelar sebanyak mungkin, menghamburkan uangnya demi menuntut ilmu hingga ia wisuda dan menjadi lulusan terbaik. Hal tersebut wajar adanya, akan tetapi tidak ada yang bisa menjamin pekerjaan apa yang akan ia dapatkan atau bahkan adakah pekerjaan yang akan ia dapatkan, meskipun tidak sedikit pula yang menjadi sukses. Di lain sisi, banyak orang yang pendidikannya rendah memilih untuk tetap tinggal tanpa melakukan suatu perubahan pada hidupnya tapi banyak pula yang bersemangat melawan takdir dan sangat termotivasi untuk sukses karena latar belakangnya tersebut. Semua perubahan yang mereka lakukan mungkin di latar belakangi rasa gengsi yang kuat dan “Apa kata dunia?” adalah kalimat yang bisa
Tuhan Maha Adil atas segala sesuatu yang terjadi pada hidup seseorang. Jangan pernah menganggap Tuhan tidak adil hanya karena apa yang kita inginkan tidak dapat kita raih. Coba intropeksi kembali ke dalam diri kita sendiri. Menjadi sukses terkadang tidak harus berilmu, begitu pula sebaliknya, orang yang berilmu terkadang tidak menjadi sukses, “Kaya”. Orang yang memilih sukses mempunyai alasan tersendiri, begitu pula sebaliknya, orang yang memilih berilmu juga memiliki alasan tersendiri. Hidup penuh pilihan.
Banyak orang yang berusaha keras menempuh pendidikannya hingga ke universitas ternama bahkan memaksakan dirinya untuk bergelar sebanyak mungkin, menghamburkan uangnya demi menuntut ilmu hingga ia wisuda dan menjadi lulusan terbaik. Hal tersebut wajar adanya, akan tetapi tidak ada yang bisa menjamin pekerjaan apa yang akan ia dapatkan atau bahkan adakah pekerjaan yang akan ia dapatkan, meskipun tidak sedikit pula yang menjadi sukses. Di lain sisi, banyak orang yang pendidikannya rendah memilih untuk tetap tinggal tanpa melakukan suatu perubahan pada hidupnya tapi banyak pula yang bersemangat melawan takdir dan sangat termotivasi untuk sukses karena latar belakangnya tersebut. Semua perubahan yang mereka lakukan mungkin di latar belakangi rasa gengsi yang kuat dan “Apa kata dunia?” adalah kalimat yang bisa
Menjadi Sukses atau Berilmu?
Tuhan Maha Adil atas segala sesuatu yang terjadi pada hidup seseorang. Jangan pernah menganggap Tuhan tidak adil hanya karena apa yang kita inginkan tidak dapat kita raih. Coba intropeksi kembali ke dalam diri kita sendiri. Menjadi sukses terkadang tidak harus berilmu, begitu pula sebaliknya, orang yang berilmu terkadang tidak menjadi sukses, “Kaya”. Orang yang memilih sukses mempunyai alasan tersendiri, begitu pula sebaliknya, orang yang memilih berilmu juga memiliki alasan tersendiri. Hidup penuh pilihan.
Banyak orang yang berusaha keras menempuh pendidikannya hingga ke universitas ternama bahkan memaksakan dirinya untuk bergelar sebanyak mungkin, menghamburkan uangnya demi menuntut ilmu hingga ia wisuda dan menjadi lulusan terbaik. Hal tersebut wajar adanya, akan tetapi tidak ada yang bisa menjamin pekerjaan apa yang akan ia dapatkan atau bahkan adakah pekerjaan yang akan ia dapatkan, meskipun tidak sedikit pula yang menjadi sukses. Di lain sisi, banyak orang yang pendidikannya rendah memilih untuk tetap tinggal tanpa melakukan suatu perubahan pada hidupnya tapi banyak pula yang bersemangat melawan takdir dan sangat termotivasi untuk sukses karena latar belakangnya tersebut. Semua perubahan yang mereka lakukan mungkin di latar belakangi rasa gengsi yang kuat dan “Apa kata dunia?” adalah kalimat yang bisa
Tuhan Maha Adil atas segala sesuatu yang terjadi pada hidup seseorang. Jangan pernah menganggap Tuhan tidak adil hanya karena apa yang kita inginkan tidak dapat kita raih. Coba intropeksi kembali ke dalam diri kita sendiri. Menjadi sukses terkadang tidak harus berilmu, begitu pula sebaliknya, orang yang berilmu terkadang tidak menjadi sukses, “Kaya”. Orang yang memilih sukses mempunyai alasan tersendiri, begitu pula sebaliknya, orang yang memilih berilmu juga memiliki alasan tersendiri. Hidup penuh pilihan.
Banyak orang yang berusaha keras menempuh pendidikannya hingga ke universitas ternama bahkan memaksakan dirinya untuk bergelar sebanyak mungkin, menghamburkan uangnya demi menuntut ilmu hingga ia wisuda dan menjadi lulusan terbaik. Hal tersebut wajar adanya, akan tetapi tidak ada yang bisa menjamin pekerjaan apa yang akan ia dapatkan atau bahkan adakah pekerjaan yang akan ia dapatkan, meskipun tidak sedikit pula yang menjadi sukses. Di lain sisi, banyak orang yang pendidikannya rendah memilih untuk tetap tinggal tanpa melakukan suatu perubahan pada hidupnya tapi banyak pula yang bersemangat melawan takdir dan sangat termotivasi untuk sukses karena latar belakangnya tersebut. Semua perubahan yang mereka lakukan mungkin di latar belakangi rasa gengsi yang kuat dan “Apa kata dunia?” adalah kalimat yang bisa
Menjadi Sukses atau Berilmu?
Tuhan Maha Adil atas segala sesuatu yang terjadi pada hidup seseorang. Jangan pernah menganggap Tuhan tidak adil hanya karena apa yang kita inginkan tidak dapat kita raih. Coba intropeksi kembali ke dalam diri kita sendiri. Menjadi sukses terkadang tidak harus berilmu, begitu pula sebaliknya, orang yang berilmu terkadang tidak menjadi sukses, “Kaya”. Orang yang memilih sukses mempunyai alasan tersendiri, begitu pula sebaliknya, orang yang memilih berilmu juga memiliki alasan tersendiri. Hidup penuh pilihan.
Banyak orang yang berusaha keras menempuh pendidikannya hingga ke universitas ternama bahkan memaksakan dirinya untuk bergelar sebanyak mungkin, menghamburkan uangnya demi menuntut ilmu hingga ia wisuda dan menjadi lulusan terbaik. Hal tersebut wajar adanya, akan tetapi tidak ada yang bisa menjamin pekerjaan apa yang akan ia dapatkan atau bahkan adakah pekerjaan yang akan ia dapatkan, meskipun tidak sedikit pula yang menjadi sukses. Di lain sisi, banyak orang yang pendidikannya rendah memilih untuk tetap tinggal tanpa melakukan suatu perubahan pada hidupnya tapi banyak pula yang bersemangat melawan takdir dan sangat termotivasi untuk sukses karena latar belakangnya tersebut. Semua perubahan yang mereka lakukan mungkin di latar belakangi rasa gengsi yang kuat dan “Apa kata dunia?” adalah kalimat yang bisa
Tuhan Maha Adil atas segala sesuatu yang terjadi pada hidup seseorang. Jangan pernah menganggap Tuhan tidak adil hanya karena apa yang kita inginkan tidak dapat kita raih. Coba intropeksi kembali ke dalam diri kita sendiri. Menjadi sukses terkadang tidak harus berilmu, begitu pula sebaliknya, orang yang berilmu terkadang tidak menjadi sukses, “Kaya”. Orang yang memilih sukses mempunyai alasan tersendiri, begitu pula sebaliknya, orang yang memilih berilmu juga memiliki alasan tersendiri. Hidup penuh pilihan.
Banyak orang yang berusaha keras menempuh pendidikannya hingga ke universitas ternama bahkan memaksakan dirinya untuk bergelar sebanyak mungkin, menghamburkan uangnya demi menuntut ilmu hingga ia wisuda dan menjadi lulusan terbaik. Hal tersebut wajar adanya, akan tetapi tidak ada yang bisa menjamin pekerjaan apa yang akan ia dapatkan atau bahkan adakah pekerjaan yang akan ia dapatkan, meskipun tidak sedikit pula yang menjadi sukses. Di lain sisi, banyak orang yang pendidikannya rendah memilih untuk tetap tinggal tanpa melakukan suatu perubahan pada hidupnya tapi banyak pula yang bersemangat melawan takdir dan sangat termotivasi untuk sukses karena latar belakangnya tersebut. Semua perubahan yang mereka lakukan mungkin di latar belakangi rasa gengsi yang kuat dan “Apa kata dunia?” adalah kalimat yang bisa
Lihat Detail
Resume Filsafat1 | Pentingnya Sebuah Prinsip
Pentingnya Sebuah Prinsip
Sabtu, 14 September 2013. Di mesjid Kampus II UIN Alauddin Makassar, saya dan dua teman saya yang lain mengikuti perkuliahan dengan mata kuliah Pengantar Filsafah Ilmu oleh bapak Awal Mufta, M.Fil. Sore itu, sekitar pukul 16.20 WITA. Suasana perkuliahan saat itu terasa berbeda karena kami tidak menerima perkuliahan di dalam ruangan kelas seperti biasanya, ditambah lagi hari itu for the first time kami bertemu dengan beliau yang membawa mata kuliah ini.
Pertemuan pertama memang selalu terasa canggung, tapi kali ini tidak berlangsung lama karena dosen kami ramah dan menyenangkan diajak bertukar ilmu dan pendapat, menurut saya. Kala itu, kami belum memasuki materi, karena alangkah sangat disayangkan jika hanya ada kami bertiga yang menerima materi awal, sedangkan teman yang lain tidak bisa hadir. Kami hanya membentuk forum kecil yang tidak formal dan membicarakan sedikit tentang kontrak kuliah serta pembicaraan yang menurut saya, sangat memberi inspirasi dan motivasi dalam menjalani masa kuliah.
Pentingnya sebuah prinsip. Itulah kesimpulan yang bisa saya tangkap dari pembicaraan kami. Dari cerita
yang diceritakan beliau tentang 3 orang mahasiswa yang memiliki karakter yang berbeda yang masing-masing 2 orang yang memiliki prinsip berbeda dan seorang lagi tidak memiliki prinsip memiliki akhir kisah yang berbeda pula. Setelah mendengar cerita beliau, pikiran saya terbuka dan melihat kembali ke dalam diri saya sendiri. Apakah saya memiliki prinsip? Apakah saya sudah menjalankan prinsip saya? Apakah benar yang saya jalani sekarang?. Semua pertanyaan itu muncul seketika. Iya, saya memiliki prinsip, tapi saya belum yakin apakah saya sudah menjalankannya, dan yang saya jalani sekarang saya serahkan kepada Yang Maha Kuasa.
Sabtu, 14 September 2013. Di mesjid Kampus II UIN Alauddin Makassar, saya dan dua teman saya yang lain mengikuti perkuliahan dengan mata kuliah Pengantar Filsafah Ilmu oleh bapak Awal Mufta, M.Fil. Sore itu, sekitar pukul 16.20 WITA. Suasana perkuliahan saat itu terasa berbeda karena kami tidak menerima perkuliahan di dalam ruangan kelas seperti biasanya, ditambah lagi hari itu for the first time kami bertemu dengan beliau yang membawa mata kuliah ini.
Pertemuan pertama memang selalu terasa canggung, tapi kali ini tidak berlangsung lama karena dosen kami ramah dan menyenangkan diajak bertukar ilmu dan pendapat, menurut saya. Kala itu, kami belum memasuki materi, karena alangkah sangat disayangkan jika hanya ada kami bertiga yang menerima materi awal, sedangkan teman yang lain tidak bisa hadir. Kami hanya membentuk forum kecil yang tidak formal dan membicarakan sedikit tentang kontrak kuliah serta pembicaraan yang menurut saya, sangat memberi inspirasi dan motivasi dalam menjalani masa kuliah.
Pentingnya sebuah prinsip. Itulah kesimpulan yang bisa saya tangkap dari pembicaraan kami. Dari cerita
yang diceritakan beliau tentang 3 orang mahasiswa yang memiliki karakter yang berbeda yang masing-masing 2 orang yang memiliki prinsip berbeda dan seorang lagi tidak memiliki prinsip memiliki akhir kisah yang berbeda pula. Setelah mendengar cerita beliau, pikiran saya terbuka dan melihat kembali ke dalam diri saya sendiri. Apakah saya memiliki prinsip? Apakah saya sudah menjalankan prinsip saya? Apakah benar yang saya jalani sekarang?. Semua pertanyaan itu muncul seketika. Iya, saya memiliki prinsip, tapi saya belum yakin apakah saya sudah menjalankannya, dan yang saya jalani sekarang saya serahkan kepada Yang Maha Kuasa.
Pentingnya Sebuah Prinsip
Sabtu, 14 September 2013. Di mesjid Kampus II UIN Alauddin Makassar, saya dan dua teman saya yang lain mengikuti perkuliahan dengan mata kuliah Pengantar Filsafah Ilmu oleh bapak Awal Mufta, M.Fil. Sore itu, sekitar pukul 16.20 WITA. Suasana perkuliahan saat itu terasa berbeda karena kami tidak menerima perkuliahan di dalam ruangan kelas seperti biasanya, ditambah lagi hari itu for the first time kami bertemu dengan beliau yang membawa mata kuliah ini.
Pertemuan pertama memang selalu terasa canggung, tapi kali ini tidak berlangsung lama karena dosen kami ramah dan menyenangkan diajak bertukar ilmu dan pendapat, menurut saya. Kala itu, kami belum memasuki materi, karena alangkah sangat disayangkan jika hanya ada kami bertiga yang menerima materi awal, sedangkan teman yang lain tidak bisa hadir. Kami hanya membentuk forum kecil yang tidak formal dan membicarakan sedikit tentang kontrak kuliah serta pembicaraan yang menurut saya, sangat memberi inspirasi dan motivasi dalam menjalani masa kuliah.
Pentingnya sebuah prinsip. Itulah kesimpulan yang bisa saya tangkap dari pembicaraan kami. Dari cerita
yang diceritakan beliau tentang 3 orang mahasiswa yang memiliki karakter yang berbeda yang masing-masing 2 orang yang memiliki prinsip berbeda dan seorang lagi tidak memiliki prinsip memiliki akhir kisah yang berbeda pula. Setelah mendengar cerita beliau, pikiran saya terbuka dan melihat kembali ke dalam diri saya sendiri. Apakah saya memiliki prinsip? Apakah saya sudah menjalankan prinsip saya? Apakah benar yang saya jalani sekarang?. Semua pertanyaan itu muncul seketika. Iya, saya memiliki prinsip, tapi saya belum yakin apakah saya sudah menjalankannya, dan yang saya jalani sekarang saya serahkan kepada Yang Maha Kuasa.
Sabtu, 14 September 2013. Di mesjid Kampus II UIN Alauddin Makassar, saya dan dua teman saya yang lain mengikuti perkuliahan dengan mata kuliah Pengantar Filsafah Ilmu oleh bapak Awal Mufta, M.Fil. Sore itu, sekitar pukul 16.20 WITA. Suasana perkuliahan saat itu terasa berbeda karena kami tidak menerima perkuliahan di dalam ruangan kelas seperti biasanya, ditambah lagi hari itu for the first time kami bertemu dengan beliau yang membawa mata kuliah ini.
Pertemuan pertama memang selalu terasa canggung, tapi kali ini tidak berlangsung lama karena dosen kami ramah dan menyenangkan diajak bertukar ilmu dan pendapat, menurut saya. Kala itu, kami belum memasuki materi, karena alangkah sangat disayangkan jika hanya ada kami bertiga yang menerima materi awal, sedangkan teman yang lain tidak bisa hadir. Kami hanya membentuk forum kecil yang tidak formal dan membicarakan sedikit tentang kontrak kuliah serta pembicaraan yang menurut saya, sangat memberi inspirasi dan motivasi dalam menjalani masa kuliah.
Pentingnya sebuah prinsip. Itulah kesimpulan yang bisa saya tangkap dari pembicaraan kami. Dari cerita
yang diceritakan beliau tentang 3 orang mahasiswa yang memiliki karakter yang berbeda yang masing-masing 2 orang yang memiliki prinsip berbeda dan seorang lagi tidak memiliki prinsip memiliki akhir kisah yang berbeda pula. Setelah mendengar cerita beliau, pikiran saya terbuka dan melihat kembali ke dalam diri saya sendiri. Apakah saya memiliki prinsip? Apakah saya sudah menjalankan prinsip saya? Apakah benar yang saya jalani sekarang?. Semua pertanyaan itu muncul seketika. Iya, saya memiliki prinsip, tapi saya belum yakin apakah saya sudah menjalankannya, dan yang saya jalani sekarang saya serahkan kepada Yang Maha Kuasa.
Pentingnya Sebuah Prinsip
Sabtu, 14 September 2013. Di mesjid Kampus II UIN Alauddin Makassar, saya dan dua teman saya yang lain mengikuti perkuliahan dengan mata kuliah Pengantar Filsafah Ilmu oleh bapak Awal Mufta, M.Fil. Sore itu, sekitar pukul 16.20 WITA. Suasana perkuliahan saat itu terasa berbeda karena kami tidak menerima perkuliahan di dalam ruangan kelas seperti biasanya, ditambah lagi hari itu for the first time kami bertemu dengan beliau yang membawa mata kuliah ini.
Pertemuan pertama memang selalu terasa canggung, tapi kali ini tidak berlangsung lama karena dosen kami ramah dan menyenangkan diajak bertukar ilmu dan pendapat, menurut saya. Kala itu, kami belum memasuki materi, karena alangkah sangat disayangkan jika hanya ada kami bertiga yang menerima materi awal, sedangkan teman yang lain tidak bisa hadir. Kami hanya membentuk forum kecil yang tidak formal dan membicarakan sedikit tentang kontrak kuliah serta pembicaraan yang menurut saya, sangat memberi inspirasi dan motivasi dalam menjalani masa kuliah.
Pentingnya sebuah prinsip. Itulah kesimpulan yang bisa saya tangkap dari pembicaraan kami. Dari cerita
yang diceritakan beliau tentang 3 orang mahasiswa yang memiliki karakter yang berbeda yang masing-masing 2 orang yang memiliki prinsip berbeda dan seorang lagi tidak memiliki prinsip memiliki akhir kisah yang berbeda pula. Setelah mendengar cerita beliau, pikiran saya terbuka dan melihat kembali ke dalam diri saya sendiri. Apakah saya memiliki prinsip? Apakah saya sudah menjalankan prinsip saya? Apakah benar yang saya jalani sekarang?. Semua pertanyaan itu muncul seketika. Iya, saya memiliki prinsip, tapi saya belum yakin apakah saya sudah menjalankannya, dan yang saya jalani sekarang saya serahkan kepada Yang Maha Kuasa.
Sabtu, 14 September 2013. Di mesjid Kampus II UIN Alauddin Makassar, saya dan dua teman saya yang lain mengikuti perkuliahan dengan mata kuliah Pengantar Filsafah Ilmu oleh bapak Awal Mufta, M.Fil. Sore itu, sekitar pukul 16.20 WITA. Suasana perkuliahan saat itu terasa berbeda karena kami tidak menerima perkuliahan di dalam ruangan kelas seperti biasanya, ditambah lagi hari itu for the first time kami bertemu dengan beliau yang membawa mata kuliah ini.
Pertemuan pertama memang selalu terasa canggung, tapi kali ini tidak berlangsung lama karena dosen kami ramah dan menyenangkan diajak bertukar ilmu dan pendapat, menurut saya. Kala itu, kami belum memasuki materi, karena alangkah sangat disayangkan jika hanya ada kami bertiga yang menerima materi awal, sedangkan teman yang lain tidak bisa hadir. Kami hanya membentuk forum kecil yang tidak formal dan membicarakan sedikit tentang kontrak kuliah serta pembicaraan yang menurut saya, sangat memberi inspirasi dan motivasi dalam menjalani masa kuliah.
Pentingnya sebuah prinsip. Itulah kesimpulan yang bisa saya tangkap dari pembicaraan kami. Dari cerita
yang diceritakan beliau tentang 3 orang mahasiswa yang memiliki karakter yang berbeda yang masing-masing 2 orang yang memiliki prinsip berbeda dan seorang lagi tidak memiliki prinsip memiliki akhir kisah yang berbeda pula. Setelah mendengar cerita beliau, pikiran saya terbuka dan melihat kembali ke dalam diri saya sendiri. Apakah saya memiliki prinsip? Apakah saya sudah menjalankan prinsip saya? Apakah benar yang saya jalani sekarang?. Semua pertanyaan itu muncul seketika. Iya, saya memiliki prinsip, tapi saya belum yakin apakah saya sudah menjalankannya, dan yang saya jalani sekarang saya serahkan kepada Yang Maha Kuasa.
Pentingnya Sebuah Prinsip
Sabtu, 14 September 2013. Di mesjid Kampus II UIN Alauddin Makassar, saya dan dua teman saya yang lain mengikuti perkuliahan dengan mata kuliah Pengantar Filsafah Ilmu oleh bapak Awal Mufta, M.Fil. Sore itu, sekitar pukul 16.20 WITA. Suasana perkuliahan saat itu terasa berbeda karena kami tidak menerima perkuliahan di dalam ruangan kelas seperti biasanya, ditambah lagi hari itu for the first time kami bertemu dengan beliau yang membawa mata kuliah ini.
Pertemuan pertama memang selalu terasa canggung, tapi kali ini tidak berlangsung lama karena dosen kami ramah dan menyenangkan diajak bertukar ilmu dan pendapat, menurut saya. Kala itu, kami belum memasuki materi, karena alangkah sangat disayangkan jika hanya ada kami bertiga yang menerima materi awal, sedangkan teman yang lain tidak bisa hadir. Kami hanya membentuk forum kecil yang tidak formal dan membicarakan sedikit tentang kontrak kuliah serta pembicaraan yang menurut saya, sangat memberi inspirasi dan motivasi dalam menjalani masa kuliah.
Pentingnya sebuah prinsip. Itulah kesimpulan yang bisa saya tangkap dari pembicaraan kami. Dari cerita
yang diceritakan beliau tentang 3 orang mahasiswa yang memiliki karakter yang berbeda yang masing-masing 2 orang yang memiliki prinsip berbeda dan seorang lagi tidak memiliki prinsip memiliki akhir kisah yang berbeda pula. Setelah mendengar cerita beliau, pikiran saya terbuka dan melihat kembali ke dalam diri saya sendiri. Apakah saya memiliki prinsip? Apakah saya sudah menjalankan prinsip saya? Apakah benar yang saya jalani sekarang?. Semua pertanyaan itu muncul seketika. Iya, saya memiliki prinsip, tapi saya belum yakin apakah saya sudah menjalankannya, dan yang saya jalani sekarang saya serahkan kepada Yang Maha Kuasa.
Sabtu, 14 September 2013. Di mesjid Kampus II UIN Alauddin Makassar, saya dan dua teman saya yang lain mengikuti perkuliahan dengan mata kuliah Pengantar Filsafah Ilmu oleh bapak Awal Mufta, M.Fil. Sore itu, sekitar pukul 16.20 WITA. Suasana perkuliahan saat itu terasa berbeda karena kami tidak menerima perkuliahan di dalam ruangan kelas seperti biasanya, ditambah lagi hari itu for the first time kami bertemu dengan beliau yang membawa mata kuliah ini.
Pertemuan pertama memang selalu terasa canggung, tapi kali ini tidak berlangsung lama karena dosen kami ramah dan menyenangkan diajak bertukar ilmu dan pendapat, menurut saya. Kala itu, kami belum memasuki materi, karena alangkah sangat disayangkan jika hanya ada kami bertiga yang menerima materi awal, sedangkan teman yang lain tidak bisa hadir. Kami hanya membentuk forum kecil yang tidak formal dan membicarakan sedikit tentang kontrak kuliah serta pembicaraan yang menurut saya, sangat memberi inspirasi dan motivasi dalam menjalani masa kuliah.
Pentingnya sebuah prinsip. Itulah kesimpulan yang bisa saya tangkap dari pembicaraan kami. Dari cerita
yang diceritakan beliau tentang 3 orang mahasiswa yang memiliki karakter yang berbeda yang masing-masing 2 orang yang memiliki prinsip berbeda dan seorang lagi tidak memiliki prinsip memiliki akhir kisah yang berbeda pula. Setelah mendengar cerita beliau, pikiran saya terbuka dan melihat kembali ke dalam diri saya sendiri. Apakah saya memiliki prinsip? Apakah saya sudah menjalankan prinsip saya? Apakah benar yang saya jalani sekarang?. Semua pertanyaan itu muncul seketika. Iya, saya memiliki prinsip, tapi saya belum yakin apakah saya sudah menjalankannya, dan yang saya jalani sekarang saya serahkan kepada Yang Maha Kuasa.
Pentingnya Sebuah Prinsip
Sabtu, 14 September 2013. Di mesjid Kampus II UIN Alauddin Makassar, saya dan dua teman saya yang lain mengikuti perkuliahan dengan mata kuliah Pengantar Filsafah Ilmu oleh bapak Awal Mufta, M.Fil. Sore itu, sekitar pukul 16.20 WITA. Suasana perkuliahan saat itu terasa berbeda karena kami tidak menerima perkuliahan di dalam ruangan kelas seperti biasanya, ditambah lagi hari itu for the first time kami bertemu dengan beliau yang membawa mata kuliah ini.
Pertemuan pertama memang selalu terasa canggung, tapi kali ini tidak berlangsung lama karena dosen kami ramah dan menyenangkan diajak bertukar ilmu dan pendapat, menurut saya. Kala itu, kami belum memasuki materi, karena alangkah sangat disayangkan jika hanya ada kami bertiga yang menerima materi awal, sedangkan teman yang lain tidak bisa hadir. Kami hanya membentuk forum kecil yang tidak formal dan membicarakan sedikit tentang kontrak kuliah serta pembicaraan yang menurut saya, sangat memberi inspirasi dan motivasi dalam menjalani masa kuliah.
Pentingnya sebuah prinsip. Itulah kesimpulan yang bisa saya tangkap dari pembicaraan kami. Dari cerita
yang diceritakan beliau tentang 3 orang mahasiswa yang memiliki karakter yang berbeda yang masing-masing 2 orang yang memiliki prinsip berbeda dan seorang lagi tidak memiliki prinsip memiliki akhir kisah yang berbeda pula. Setelah mendengar cerita beliau, pikiran saya terbuka dan melihat kembali ke dalam diri saya sendiri. Apakah saya memiliki prinsip? Apakah saya sudah menjalankan prinsip saya? Apakah benar yang saya jalani sekarang?. Semua pertanyaan itu muncul seketika. Iya, saya memiliki prinsip, tapi saya belum yakin apakah saya sudah menjalankannya, dan yang saya jalani sekarang saya serahkan kepada Yang Maha Kuasa.
Sabtu, 14 September 2013. Di mesjid Kampus II UIN Alauddin Makassar, saya dan dua teman saya yang lain mengikuti perkuliahan dengan mata kuliah Pengantar Filsafah Ilmu oleh bapak Awal Mufta, M.Fil. Sore itu, sekitar pukul 16.20 WITA. Suasana perkuliahan saat itu terasa berbeda karena kami tidak menerima perkuliahan di dalam ruangan kelas seperti biasanya, ditambah lagi hari itu for the first time kami bertemu dengan beliau yang membawa mata kuliah ini.
Pertemuan pertama memang selalu terasa canggung, tapi kali ini tidak berlangsung lama karena dosen kami ramah dan menyenangkan diajak bertukar ilmu dan pendapat, menurut saya. Kala itu, kami belum memasuki materi, karena alangkah sangat disayangkan jika hanya ada kami bertiga yang menerima materi awal, sedangkan teman yang lain tidak bisa hadir. Kami hanya membentuk forum kecil yang tidak formal dan membicarakan sedikit tentang kontrak kuliah serta pembicaraan yang menurut saya, sangat memberi inspirasi dan motivasi dalam menjalani masa kuliah.
Pentingnya sebuah prinsip. Itulah kesimpulan yang bisa saya tangkap dari pembicaraan kami. Dari cerita
yang diceritakan beliau tentang 3 orang mahasiswa yang memiliki karakter yang berbeda yang masing-masing 2 orang yang memiliki prinsip berbeda dan seorang lagi tidak memiliki prinsip memiliki akhir kisah yang berbeda pula. Setelah mendengar cerita beliau, pikiran saya terbuka dan melihat kembali ke dalam diri saya sendiri. Apakah saya memiliki prinsip? Apakah saya sudah menjalankan prinsip saya? Apakah benar yang saya jalani sekarang?. Semua pertanyaan itu muncul seketika. Iya, saya memiliki prinsip, tapi saya belum yakin apakah saya sudah menjalankannya, dan yang saya jalani sekarang saya serahkan kepada Yang Maha Kuasa.
Subscribe to:
Comments (Atom)

