Showing posts with label Mahasiswa. Show all posts
Showing posts with label Mahasiswa. Show all posts
AWAS! Blog Ini Menantang Anda Jadi Penulis
Lihat Detail

AWAS! Blog Ini Menantang Anda Jadi Penulis

Buat Anda yang berstatus MAHASISWA UIN ALAUDDIN MAKASSAR.
Mahasiswa UIN

Jika Anda punya ide unik atau gagasan yang selama ini Anda ingin bagi, jangan malu untuk menyatakannya.

#Ayotuliskan apa saja yang ada di dalam kepala Anda. Baik tulisan seputar dunia kemahasiswaan, yang menyangkut kampus, pengalaman sebagai mahasiswa yang kurang mendapat wadah ekspresi, hal "gila" yang pernah Anda kerjakan selama jadi mahasiswa, gagasan yang tak tersampaikan kepada pemilik kebijakan di dalam maupun di luar kampus atau tentang kejadian-kejadian di luar kampus yang menyangkut kerinduan kampung halaman, aktivitas ekstra kurikuler, segera kirim ke sini.

Tulisan akan diseleksi dan diedit sebelum ditampilkan. Bagi yang terpilih, meski kami belum memberikan honour dalam bentuk materi, tapi kami akan menyebarluaskan ide/tulisan Anda seluas-luasnya di media sosial.

Sertakan juga data diri dan foto keren Anda, lalu kirim tulisan Anda lewat surel ke:
hapeka78.uin@gmail.com

Selamat mengirim. Kami tantang Anda. Berani???


Bagaimana Menjadi Mahasiswa
Lihat Detail

Bagaimana Menjadi Mahasiswa


Ketika anak yang masih TK juga ingin diwisuda


Jangan lihat foto di atas terlalu lama! Silakan lanjut baca tulisan berikut sampai habis, ya. Kalau ada komentar, cantumkan saja di kolom yang telah disediakan.

***

EMPAT tahun silam menjadi sejarah bagi seorang Mahasiswa asal Mamuju, Sulawesi Barat. Untuk pertama kalinya ia menginjakkan kaki di sebuah kampus yang telah melabelinya sebagai "Mahasiswa." Bukan hal yang mudah untuk bisa sampai di titik itu. Pahit manis ujian seleksi masuk PTN telah ia lewati dengan rasa sukacita. Mulai dari tidak lulus di jalur SNMPTN, ujian masuk STIS (sekolah ikatan dinas), ujian masuk SBMPTN, sampai pada seleksi masuk Mandiri (UMM) pun ia tidak lulusi. Bayangkan berapa jumlah biaya tes yang telah dikeluarkannya. Ya, betul, ia masuk di jurusannya karena lulus lewat jalur terakhir, UMK.

[Masing masing dari kita pasti punya cerita yang berbeda sebelum diterima masuk di kampus. Kalian mungkin sudah menuliskannya di buku harian atau di blog, atau barangkali kalian tidak tulis sama sekali. Kalian cuma lebih suka membiarkannya berlalu bagai angin dengan cukup menceritakannya pada teman, tanpa berpikir untuk menuliskannya karena merasa menulis itu sulit. 

Jika kalian sedang membaca kisah ini, harap untuk fokus dan semoga kalian disanggupi membaca tulisan ini sampai habis. Tapi jika kalian tidak sanggup, saya sarankan segera tinggalkan blog ini dan beralih ke kegiatan lain. Misal membalas chat WA-mu atau pekerjaan stalking status yang -mungkin- penting itu.

Oke lanjut..]

Ia kuliah selama delapan semester di kampus berlabel Islam. Telah banyak cerita yang masyarakat telah citrakan untuknya. Selain memelihara tanggungjawab individu sebagai seorang yang terpelajar di lingkungan akademik kampusnya, ia juga berupaya tampil di lingkungan tempat tinggalnya sebagai orang yang berpendidikan tinggi. Sebab di sekitar rumahnya, kebanyakan hanya tamatan SMA.

Menjadi seorang Mahasiswa adalah hal yang menyenangkan baginya. Bahkan ia selalu berharap agar masih  diberikan kemampuan untuk berkuliah lagi setelah S1. Ya, kembali memasuki dunia kampus. Menjalani serunya jadi mahasiswa.

[Jika Anda belum menemukan asyiknya jadi mahasiswa, sepertinya Anda belum move on dengan masa SMA. Atau alasan kedua, Anda barangkali belum menemukan "sisi gelap terang" sebagai mahasiswa. Kenalilah apa tugas Anda datang ke sini berkuliah, dan Anda pasti akan temukan hal untuk bisa membawa Anda selesai kuliah pada waktu yang cepat dan tepat.]

"The First Day of OPAK-UIN Alauddin Makassar, 03 September 2013." 

Itulah judul tulisan di buku diarinya.

Saat itu dia sebagai mahasiswa baru bersama sekitar 500 atau sekitar 700-an mahasiswa duduk di areal pelataran gedung di samping perpustakaan pusat (sekarang ditempati Cafetaria), mengikuti kegiatan OPAK (Orientasi Pengenalan Akademik; sekarang namanya berubah jadi PBAK) tingkat Fakultas. 

Hari itu, pakaian yang dikenakannya adalah hitam putih. Sama persis dengan pakaian yang digunakan oleh para pencari kerja atau orang orang yang sedang mengikuti seleksi CPNS. Bedanya, saat itu semua laki laki rambutnya dicukur sangat pendek.

Ketika itu seluruh Maba (Mahasiswa Baru) disuntik kalimat kalimat asing yang kebanyakan baru didengarnya, termasuk bagi dia sendiri yang tampil cupu dan polos. Hari itu, dia merupakan orang asing bagi semua kalangan. Termasuk bagi dosen, pejabat Fakultas, dan kakak angkatan yang sering disebut senior. 

Tapi saat itu, ia telah menekankan pada dirinya bahwa ia akan membuktikan apa yang bisa diberikan buat Fakultas dan Kampusnya. Sehingga kala itu ia tidak berpikir sedikit banyak yang Kampus/Fakultas akan berikan untuknya. Karena sampai hari ini pun, ia kurang menyadari apa yang telah diberikan Kampus untuknya. Baginya memikirkan itu hanya akan sia sia semata. Lebih baik kalian pikir tugas tugas penting yang telah diberikan dosen daripada memikirkan hal itu, batinnya.

Yang ia tekankan saat itu dalam hatinya ialah "jangan pikirkan apa yang Fakultas bisa berikan sama kamu, tapi pikirkanlah apa yang bisa kamu berikan untuk Fakultas?"

[Kalimat ini mirip mirip dengan kalimat yang pernah dikatakan oleh Presiden Amerika, John F. Kennedi; mirip mirip juga dengan perkataan KH Ahmad Dahlan kepada orang orang Muhammadiyah]

Ya, meskipun pada akhirnya tidak ada timbal balik setelah "memberi", namun yakinlah, apapun yang disumbangkan dengan niat tulus, pasti akan mendatangkan sisi baik. Rezeki tak pernah salah menemui tuannya.

Lanjut..

Ada beberapa hal yang ia catat pada sesi pengenalan saat itu. 

Pertama:
"Jangan merendahkan diri sebagai Mahasiswa UIN dibandingkan dengan Mahasiswa PTN lain."
[Perasaan seperti ini memang kadang datang seperti Jelangkung. Namun, yakinilah bahwa kuliah di UIN itu keren lho. Punya kelebihan kelebihan yang tak kalah jika dibandingkan kampus lain, kok. Jika kalian menyadari apa kelebihan pada diri kalian (kata orangtua: kamu sudah tahu diri), kalian kenal passion yang kalian miliki, maka yakinlah ada satu masa kalian pasti akan benderang. Tak mengenal asalmu dari mana, yang jelas kalian berasal dari almamatermu. Berbanggalah dengannya. Kuatkan kancing jas almamatermu. Banggalah memakai jas hijau itu. Apalagi jika kamu memakai kancing bermerk anak UINAM seperti punya anak muda ini. Sila cek kreativitas anak UINAM yang satu ini di sini. Yakinlah kamu tidak kalah dengan kampus kampus lain.]

Kedua:

Ia juga mencatat poin penting yang diutarakan salah seorang dosen. Namanya Dr Hamsir MHum, sekarang ini menjabat sebagai Wadek II FSH. Beliau berkata,
"Jangan terbawa emosi saat kuliah. Pahami ilmu yang diajarkan dosen."
Kalimat ini barangkali ringan namun sarat makna. Tahukah teman, di kampus itu ada banyak hal yang mudah membawa emosi kita jadi tidak stabil. Mulai dari kedatangan dosen yang tak pasti, masalah dengan ketua tingkat yang kadangkala ada miss komunikasi, atau masalah masalah lain seperti tawuran mahasiswa yang sengaja di-setting sedemikian rupa oleh beberapa oknum agar acara ini menjadi agenda tahunan bagi kampus. Dan lagi lagi yang jadi korban adalah mahasiswa itu sendiri, pihak keamanan dan tentunya gedung perkuliahan.

Sangat jelek bukan, kalau kalian mudah terbawa emosi. Tiba tiba kampusmu diberitakan media. Di judulnya dengan terang tertulis: Mahasiswa UIN Makassar tawuran antar Fakultas. 

[Emangnya, di Jurusanmu ada matakuliah tawuran? Mahasiswa diajarkan kelahi satu kampus? Mahasiwa lempar mangga, eh maksudnya, lempar manusia? Apa karena sudah tidak pernah lempar mangga, ya? Emang di sekitar rumahmu, dilarang lempar mangga? (Ah, tak usah pikirkan ini, tak ada gunanya. Yang penting, bagaimana pun situasinya tiap tahun itu seolah kalian yang sebagai mahasiswa baru akan "diperlihatkan" bagaimana oknum itu sengaja membawa isu, agar kalian terpancing emosinya untuk ikut "berperang" melawan saudara se almamater sendiri. Sungguh memalukan! Saya sarankan, jangan ikuti senior seperti itu. (Eh, kok muncul namanya 'senior' ya?)]

[Yang perlu kamu banyak pelajari, seperti maksud dari Pak Hamsir di atas adalah ilmu yang diajarkan dosen di dalam kelas, kamu coba ambil intisarinya, pahami dengan mencari referensi lain lalu diskusikan bersama teman kelas. Pasti ini lebih bermartabat dan lebih intelek sebagai mahasiswa daripada mengikuti ajaran harus ikut demo atau harus ikut tawuran.]

Ketiga:

Selanjutnya, saya mengingat tulisan ini. Kalimat yang pernah diutarakan oleh seniornya saat itu. Ketua BEM FSH (sekarang DEMA FSH). Namanya Syahrul Afandi. Dia bilang begini,
"Jadilah orang yang dirindukan kedatangannya dan ditangisi kepergiannya."
[Kalian, mahasiswa, pasti tahu apa maknanya. Silakan maknai sendiri sendiri. Karena yakin, saat ini kita sebenarnya tengah sendiri sendiri, meski gawai (handphone) berada di tangan kita atau ada teman di dekat kita.]

Tak lupa, selain mengatakan kalimat motivasi di atas, sosok senior yang punya ketegasan itu juga mengingatkan bahwa ada tiga sebab orang disegani (barangkali ini bisa jadi tips buat kalian agar bisa disegani oleh teman atau bahkan dosen) yaitu: 1. Karena ia berani; 2. Karena ia orang kaya; dan 3. Karena ia orang cerdas.

Keempat:

Terakhir, ia ingin mengutip perkataan salah satu dosen yang saat itu jadi ketua Jurusannya. Dra Nila Sastrawati, MSi, namanya. Beliau bilang,
"Pulanglah bawa TOGA. Jangan pulang bawa TEGA."
Ia menyadari hal itu setelah kurang dari empat tahun jadi mahasiswa. Pulang artinya selesai alias wisuda. Dan ia sendiri buktikan kalimat di atas. Sejak hari itu telah terbayarkan, 27 September 2017 lalu. Orang tuanya datang jauh jauh dari kampung, melihat anaknya memakai Toga. Alhamdulillah, anak itu berhasil "pulang" membawa Toga, bukan Tega. 

[Semoga saja kita semua bisa membanggakan orang yang memang pantas dan menunggu untuk dibanggakan!]

Sekian dan nantikan cerita lanjutannya. Oh iya, Dia itu adalah Aku. :)







MgP

Paccerakkang, 19 Oktober 2017.




Ketika anak yang masih TK juga ingin diwisuda


Jangan lihat foto di atas terlalu lama! Silakan lanjut baca tulisan berikut sampai habis, ya. Kalau ada komentar, cantumkan saja di kolom yang telah disediakan.

***

EMPAT tahun silam menjadi sejarah bagi seorang Mahasiswa asal Mamuju, Sulawesi Barat. Untuk pertama kalinya ia menginjakkan kaki di sebuah kampus yang telah melabelinya sebagai "Mahasiswa." Bukan hal yang mudah untuk bisa sampai di titik itu. Pahit manis ujian seleksi masuk PTN telah ia lewati dengan rasa sukacita. Mulai dari tidak lulus di jalur SNMPTN, ujian masuk STIS (sekolah ikatan dinas), ujian masuk SBMPTN, sampai pada seleksi masuk Mandiri (UMM) pun ia tidak lulusi. Bayangkan berapa jumlah biaya tes yang telah dikeluarkannya. Ya, betul, ia masuk di jurusannya karena lulus lewat jalur terakhir, UMK.

[Masing masing dari kita pasti punya cerita yang berbeda sebelum diterima masuk di kampus. Kalian mungkin sudah menuliskannya di buku harian atau di blog, atau barangkali kalian tidak tulis sama sekali. Kalian cuma lebih suka membiarkannya berlalu bagai angin dengan cukup menceritakannya pada teman, tanpa berpikir untuk menuliskannya karena merasa menulis itu sulit. 

Jika kalian sedang membaca kisah ini, harap untuk fokus dan semoga kalian disanggupi membaca tulisan ini sampai habis. Tapi jika kalian tidak sanggup, saya sarankan segera tinggalkan blog ini dan beralih ke kegiatan lain. Misal membalas chat WA-mu atau pekerjaan stalking status yang -mungkin- penting itu.

Oke lanjut..]

Ia kuliah selama delapan semester di kampus berlabel Islam. Telah banyak cerita yang masyarakat telah citrakan untuknya. Selain memelihara tanggungjawab individu sebagai seorang yang terpelajar di lingkungan akademik kampusnya, ia juga berupaya tampil di lingkungan tempat tinggalnya sebagai orang yang berpendidikan tinggi. Sebab di sekitar rumahnya, kebanyakan hanya tamatan SMA.

Menjadi seorang Mahasiswa adalah hal yang menyenangkan baginya. Bahkan ia selalu berharap agar masih  diberikan kemampuan untuk berkuliah lagi setelah S1. Ya, kembali memasuki dunia kampus. Menjalani serunya jadi mahasiswa.

[Jika Anda belum menemukan asyiknya jadi mahasiswa, sepertinya Anda belum move on dengan masa SMA. Atau alasan kedua, Anda barangkali belum menemukan "sisi gelap terang" sebagai mahasiswa. Kenalilah apa tugas Anda datang ke sini berkuliah, dan Anda pasti akan temukan hal untuk bisa membawa Anda selesai kuliah pada waktu yang cepat dan tepat.]

"The First Day of OPAK-UIN Alauddin Makassar, 03 September 2013." 

Itulah judul tulisan di buku diarinya.

Saat itu dia sebagai mahasiswa baru bersama sekitar 500 atau sekitar 700-an mahasiswa duduk di areal pelataran gedung di samping perpustakaan pusat (sekarang ditempati Cafetaria), mengikuti kegiatan OPAK (Orientasi Pengenalan Akademik; sekarang namanya berubah jadi PBAK) tingkat Fakultas. 

Hari itu, pakaian yang dikenakannya adalah hitam putih. Sama persis dengan pakaian yang digunakan oleh para pencari kerja atau orang orang yang sedang mengikuti seleksi CPNS. Bedanya, saat itu semua laki laki rambutnya dicukur sangat pendek.

Ketika itu seluruh Maba (Mahasiswa Baru) disuntik kalimat kalimat asing yang kebanyakan baru didengarnya, termasuk bagi dia sendiri yang tampil cupu dan polos. Hari itu, dia merupakan orang asing bagi semua kalangan. Termasuk bagi dosen, pejabat Fakultas, dan kakak angkatan yang sering disebut senior. 

Tapi saat itu, ia telah menekankan pada dirinya bahwa ia akan membuktikan apa yang bisa diberikan buat Fakultas dan Kampusnya. Sehingga kala itu ia tidak berpikir sedikit banyak yang Kampus/Fakultas akan berikan untuknya. Karena sampai hari ini pun, ia kurang menyadari apa yang telah diberikan Kampus untuknya. Baginya memikirkan itu hanya akan sia sia semata. Lebih baik kalian pikir tugas tugas penting yang telah diberikan dosen daripada memikirkan hal itu, batinnya.

Yang ia tekankan saat itu dalam hatinya ialah "jangan pikirkan apa yang Fakultas bisa berikan sama kamu, tapi pikirkanlah apa yang bisa kamu berikan untuk Fakultas?"

[Kalimat ini mirip mirip dengan kalimat yang pernah dikatakan oleh Presiden Amerika, John F. Kennedi; mirip mirip juga dengan perkataan KH Ahmad Dahlan kepada orang orang Muhammadiyah]

Ya, meskipun pada akhirnya tidak ada timbal balik setelah "memberi", namun yakinlah, apapun yang disumbangkan dengan niat tulus, pasti akan mendatangkan sisi baik. Rezeki tak pernah salah menemui tuannya.

Lanjut..

Ada beberapa hal yang ia catat pada sesi pengenalan saat itu. 

Pertama:
"Jangan merendahkan diri sebagai Mahasiswa UIN dibandingkan dengan Mahasiswa PTN lain."
[Perasaan seperti ini memang kadang datang seperti Jelangkung. Namun, yakinilah bahwa kuliah di UIN itu keren lho. Punya kelebihan kelebihan yang tak kalah jika dibandingkan kampus lain, kok. Jika kalian menyadari apa kelebihan pada diri kalian (kata orangtua: kamu sudah tahu diri), kalian kenal passion yang kalian miliki, maka yakinlah ada satu masa kalian pasti akan benderang. Tak mengenal asalmu dari mana, yang jelas kalian berasal dari almamatermu. Berbanggalah dengannya. Kuatkan kancing jas almamatermu. Banggalah memakai jas hijau itu. Apalagi jika kamu memakai kancing bermerk anak UINAM seperti punya anak muda ini. Sila cek kreativitas anak UINAM yang satu ini di sini. Yakinlah kamu tidak kalah dengan kampus kampus lain.]

Kedua:

Ia juga mencatat poin penting yang diutarakan salah seorang dosen. Namanya Dr Hamsir MHum, sekarang ini menjabat sebagai Wadek II FSH. Beliau berkata,
"Jangan terbawa emosi saat kuliah. Pahami ilmu yang diajarkan dosen."
Kalimat ini barangkali ringan namun sarat makna. Tahukah teman, di kampus itu ada banyak hal yang mudah membawa emosi kita jadi tidak stabil. Mulai dari kedatangan dosen yang tak pasti, masalah dengan ketua tingkat yang kadangkala ada miss komunikasi, atau masalah masalah lain seperti tawuran mahasiswa yang sengaja di-setting sedemikian rupa oleh beberapa oknum agar acara ini menjadi agenda tahunan bagi kampus. Dan lagi lagi yang jadi korban adalah mahasiswa itu sendiri, pihak keamanan dan tentunya gedung perkuliahan.

Sangat jelek bukan, kalau kalian mudah terbawa emosi. Tiba tiba kampusmu diberitakan media. Di judulnya dengan terang tertulis: Mahasiswa UIN Makassar tawuran antar Fakultas. 

[Emangnya, di Jurusanmu ada matakuliah tawuran? Mahasiswa diajarkan kelahi satu kampus? Mahasiwa lempar mangga, eh maksudnya, lempar manusia? Apa karena sudah tidak pernah lempar mangga, ya? Emang di sekitar rumahmu, dilarang lempar mangga? (Ah, tak usah pikirkan ini, tak ada gunanya. Yang penting, bagaimana pun situasinya tiap tahun itu seolah kalian yang sebagai mahasiswa baru akan "diperlihatkan" bagaimana oknum itu sengaja membawa isu, agar kalian terpancing emosinya untuk ikut "berperang" melawan saudara se almamater sendiri. Sungguh memalukan! Saya sarankan, jangan ikuti senior seperti itu. (Eh, kok muncul namanya 'senior' ya?)]

[Yang perlu kamu banyak pelajari, seperti maksud dari Pak Hamsir di atas adalah ilmu yang diajarkan dosen di dalam kelas, kamu coba ambil intisarinya, pahami dengan mencari referensi lain lalu diskusikan bersama teman kelas. Pasti ini lebih bermartabat dan lebih intelek sebagai mahasiswa daripada mengikuti ajaran harus ikut demo atau harus ikut tawuran.]

Ketiga:

Selanjutnya, saya mengingat tulisan ini. Kalimat yang pernah diutarakan oleh seniornya saat itu. Ketua BEM FSH (sekarang DEMA FSH). Namanya Syahrul Afandi. Dia bilang begini,
"Jadilah orang yang dirindukan kedatangannya dan ditangisi kepergiannya."
[Kalian, mahasiswa, pasti tahu apa maknanya. Silakan maknai sendiri sendiri. Karena yakin, saat ini kita sebenarnya tengah sendiri sendiri, meski gawai (handphone) berada di tangan kita atau ada teman di dekat kita.]

Tak lupa, selain mengatakan kalimat motivasi di atas, sosok senior yang punya ketegasan itu juga mengingatkan bahwa ada tiga sebab orang disegani (barangkali ini bisa jadi tips buat kalian agar bisa disegani oleh teman atau bahkan dosen) yaitu: 1. Karena ia berani; 2. Karena ia orang kaya; dan 3. Karena ia orang cerdas.

Keempat:

Terakhir, ia ingin mengutip perkataan salah satu dosen yang saat itu jadi ketua Jurusannya. Dra Nila Sastrawati, MSi, namanya. Beliau bilang,
"Pulanglah bawa TOGA. Jangan pulang bawa TEGA."
Ia menyadari hal itu setelah kurang dari empat tahun jadi mahasiswa. Pulang artinya selesai alias wisuda. Dan ia sendiri buktikan kalimat di atas. Sejak hari itu telah terbayarkan, 27 September 2017 lalu. Orang tuanya datang jauh jauh dari kampung, melihat anaknya memakai Toga. Alhamdulillah, anak itu berhasil "pulang" membawa Toga, bukan Tega. 

[Semoga saja kita semua bisa membanggakan orang yang memang pantas dan menunggu untuk dibanggakan!]

Sekian dan nantikan cerita lanjutannya. Oh iya, Dia itu adalah Aku. :)







MgP

Paccerakkang, 19 Oktober 2017.



Mencipta Peradaban
Lihat Detail

Mencipta Peradaban

Arsip Pribadi


-UIN Alauddin Makassar


kampus hijau, kampus peradaban

tanaman asri menyelimuti setiap halaman

bangunan tertata rapi, sejuk dipandang

atmosfir akademis menyatu dalam bilik perkuliahan.



kampus hijau, kampus peradaban

mahasiswa, dosen dan pegawai berteman damai

saling kenal, saling menghargai

tak mudah diadu domba apalagi diajak tawuran berantai.



kampus hijau, kampus peradaban

punya satu visi: realisasi lingkungan akademik yang cerah dan mencerahkan

banyak prestasi, banyak diskusi, banyak pula senyum yang bertebaran.



kampus hijau, kampus peradaban, bagi kami hanyalah impian

ketika kami berdiri di tengah puing-puing bangunan

terlihat jelas sampah sampah berserakan

banyak bebatuan, banyak pula kayu melintas di badan jalan

di sana binatang dan pengemis jalanan berjuang demi mencari makan.



hanyalah angan semata, saat suasana akademis nyaris tak pernah bermunculan

inilah universitas, pada realitas yang kami rasakan, seperti sedang mengiris iris badan

sebab apa yang kami inginkan, tak pernah didengar -hanya diabaikan-

aku ingin bertanya: tahukah anda apa ciri kampus peradaban?

mereka yang bersaing demi karya dan penelitian

bukan mencari suara dan kawan demi menang menggapai jabatan

bukan pula menindas lawan demi duduk di kursi nyaman

yang penuh dengan uang, kekuasaan dan kepalsuan!




Makassar, 2015


untuk mendengar versi soundcloud sila klik di sini

Arsip Pribadi


-UIN Alauddin Makassar


kampus hijau, kampus peradaban

tanaman asri menyelimuti setiap halaman

bangunan tertata rapi, sejuk dipandang

atmosfir akademis menyatu dalam bilik perkuliahan.



kampus hijau, kampus peradaban

mahasiswa, dosen dan pegawai berteman damai

saling kenal, saling menghargai

tak mudah diadu domba apalagi diajak tawuran berantai.



kampus hijau, kampus peradaban

punya satu visi: realisasi lingkungan akademik yang cerah dan mencerahkan

banyak prestasi, banyak diskusi, banyak pula senyum yang bertebaran.



kampus hijau, kampus peradaban, bagi kami hanyalah impian

ketika kami berdiri di tengah puing-puing bangunan

terlihat jelas sampah sampah berserakan

banyak bebatuan, banyak pula kayu melintas di badan jalan

di sana binatang dan pengemis jalanan berjuang demi mencari makan.



hanyalah angan semata, saat suasana akademis nyaris tak pernah bermunculan

inilah universitas, pada realitas yang kami rasakan, seperti sedang mengiris iris badan

sebab apa yang kami inginkan, tak pernah didengar -hanya diabaikan-

aku ingin bertanya: tahukah anda apa ciri kampus peradaban?

mereka yang bersaing demi karya dan penelitian

bukan mencari suara dan kawan demi menang menggapai jabatan

bukan pula menindas lawan demi duduk di kursi nyaman

yang penuh dengan uang, kekuasaan dan kepalsuan!




Makassar, 2015


untuk mendengar versi soundcloud sila klik di sini

Arsip Pribadi


-UIN Alauddin Makassar


kampus hijau, kampus peradaban

tanaman asri menyelimuti setiap halaman

bangunan tertata rapi, sejuk dipandang

atmosfir akademis menyatu dalam bilik perkuliahan.



kampus hijau, kampus peradaban

mahasiswa, dosen dan pegawai berteman damai

saling kenal, saling menghargai

tak mudah diadu domba apalagi diajak tawuran berantai.



kampus hijau, kampus peradaban

punya satu visi: realisasi lingkungan akademik yang cerah dan mencerahkan

banyak prestasi, banyak diskusi, banyak pula senyum yang bertebaran.



kampus hijau, kampus peradaban, bagi kami hanyalah impian

ketika kami berdiri di tengah puing-puing bangunan

terlihat jelas sampah sampah berserakan

banyak bebatuan, banyak pula kayu melintas di badan jalan

di sana binatang dan pengemis jalanan berjuang demi mencari makan.



hanyalah angan semata, saat suasana akademis nyaris tak pernah bermunculan

inilah universitas, pada realitas yang kami rasakan, seperti sedang mengiris iris badan

sebab apa yang kami inginkan, tak pernah didengar -hanya diabaikan-

aku ingin bertanya: tahukah anda apa ciri kampus peradaban?

mereka yang bersaing demi karya dan penelitian

bukan mencari suara dan kawan demi menang menggapai jabatan

bukan pula menindas lawan demi duduk di kursi nyaman

yang penuh dengan uang, kekuasaan dan kepalsuan!




Makassar, 2015


untuk mendengar versi soundcloud sila klik di sini

Ada Cinta di dalam Kampus Islami
Lihat Detail

Ada Cinta di dalam Kampus Islami


Source : http://www.familylife.com

“Tak ada orang yang tidak senang ketika cinta disebutkan.”

DEMIKIAN kata Sattu Alang, Guru besar UIN Alauddin Makassar dalam sebuah diskusi Juni 2015 silam. Saya masih merekam kata-katanya lewat tulisan. Ya, begitulah barangkali kekuatan tulisan. Mampu merekam peristiwa penting seberapa lama pun kejadian itu pernah hadir memberikan kisahnya. Prof. Sattu Alang juga bilang “Cinta adalah salah satu masalah dalam menempuh pendidikan.”

Inilah bukti sebagai pejuang bangsa di bidang intelektual dulu hingga kini. Mereka yang menempuh pendidikan di tingkat perguruan tinggi tentunya pernah mengalami stagnasi pikiran walau hanya sekejap. Namun wabah ini turut melingkupi kaum muda bergelar “Maha” itu sehingga masuk ke dalam lingkaran apa yang bisa disebut “korban pendidikan tinggi.”

Pertanyaan yang timbul kemudian ialah mengapa cinta dapat memberikan derita bagi para pencari ilmu? Apakah ada solusi agar para pencari ilmu ini mampu berjalan pada atmosfir ilmu pengetahuan dengan selamat?

Masalah cinta pada lawan jenis masih dipandang sebagai hal yang tabu untuk dikonsumsi secara meluas. Realita ini terjadi di lingkungan kampus “berlabel” Islam. Kegiatan kemahasiswaan di seputar kampus seperti diskusi bersama lawan jenis kadang harus disembunyikan. Padahal Nistain Odop dalam bukunya berjudul 55 Wasiat Cinta dan Kehidupan (2009: 248) mengatakan, mustahil manusia hidup tanpa cinta kasih.

Persoalan cinta dan mencintai dalam perguruan tinggi masih menjadi hal yang tabu untuk ditanggapi oleh sivitas akademika kampus Islam. Padahal cinta dalam pendidikan juga sangat diperlukan. Ia bagaikan kebutuhan yang mesti dipenuhi selama cinta itu dilabuhkan dalam hal positif. 

Menelisik teori dari pakar psikologi kebangsaan Amerika Abraham C. Maslow. Dalam pandangannya melahirkan apa yang disebut Teori Hierarki Kebutuhan Maslow. Ia menyatakan bahwa cinta menyangkut suatu hubungan sehat dan penuh kasih mesra antara dua orang, termasuk sikap saling percaya. 

Maslow juga mengatakan bahwa kebutuhan akan cinta meliputi cinta yang memberi dan cinta yang menerima. Kita harus memahami cinta, harus mampu mengajarkannya, menciptakannya dan meramalkannya. Jika tidak, dunia akan hanyut ke dalam gelombang permusuhan dan kebencian (Goble, 1987: 71).

Dari teori tersebut kita dapat menarik benang merah yang muaranya mengarah pada asumsi bahwa cinta senantiasa dibutuhkan oleh semua orang -tanpa terkecuali-, sebab cinta di sini termasuk ke dalam hal mem

Source : http://www.familylife.com

“Tak ada orang yang tidak senang ketika cinta disebutkan.”

DEMIKIAN kata Sattu Alang, Guru besar UIN Alauddin Makassar dalam sebuah diskusi Juni 2015 silam. Saya masih merekam kata-katanya lewat tulisan. Ya, begitulah barangkali kekuatan tulisan. Mampu merekam peristiwa penting seberapa lama pun kejadian itu pernah hadir memberikan kisahnya. Prof. Sattu Alang juga bilang “Cinta adalah salah satu masalah dalam menempuh pendidikan.”

Inilah bukti sebagai pejuang bangsa di bidang intelektual dulu hingga kini. Mereka yang menempuh pendidikan di tingkat perguruan tinggi tentunya pernah mengalami stagnasi pikiran walau hanya sekejap. Namun wabah ini turut melingkupi kaum muda bergelar “Maha” itu sehingga masuk ke dalam lingkaran apa yang bisa disebut “korban pendidikan tinggi.”

Pertanyaan yang timbul kemudian ialah mengapa cinta dapat memberikan derita bagi para pencari ilmu? Apakah ada solusi agar para pencari ilmu ini mampu berjalan pada atmosfir ilmu pengetahuan dengan selamat?

Masalah cinta pada lawan jenis masih dipandang sebagai hal yang tabu untuk dikonsumsi secara meluas. Realita ini terjadi di lingkungan kampus “berlabel” Islam. Kegiatan kemahasiswaan di seputar kampus seperti diskusi bersama lawan jenis kadang harus disembunyikan. Padahal Nistain Odop dalam bukunya berjudul 55 Wasiat Cinta dan Kehidupan (2009: 248) mengatakan, mustahil manusia hidup tanpa cinta kasih.

Persoalan cinta dan mencintai dalam perguruan tinggi masih menjadi hal yang tabu untuk ditanggapi oleh sivitas akademika kampus Islam. Padahal cinta dalam pendidikan juga sangat diperlukan. Ia bagaikan kebutuhan yang mesti dipenuhi selama cinta itu dilabuhkan dalam hal positif. 

Menelisik teori dari pakar psikologi kebangsaan Amerika Abraham C. Maslow. Dalam pandangannya melahirkan apa yang disebut Teori Hierarki Kebutuhan Maslow. Ia menyatakan bahwa cinta menyangkut suatu hubungan sehat dan penuh kasih mesra antara dua orang, termasuk sikap saling percaya. 

Maslow juga mengatakan bahwa kebutuhan akan cinta meliputi cinta yang memberi dan cinta yang menerima. Kita harus memahami cinta, harus mampu mengajarkannya, menciptakannya dan meramalkannya. Jika tidak, dunia akan hanyut ke dalam gelombang permusuhan dan kebencian (Goble, 1987: 71).

Dari teori tersebut kita dapat menarik benang merah yang muaranya mengarah pada asumsi bahwa cinta senantiasa dibutuhkan oleh semua orang -tanpa terkecuali-, sebab cinta di sini termasuk ke dalam hal mem
Anda Yakin Akan Maju? Duduklah Sejenak dan Baca Catatan Ini
Lihat Detail

Anda Yakin Akan Maju? Duduklah Sejenak dan Baca Catatan Ini

M Galang Pratama

AKU DIDATANGI
oleh beberapa orang atau lebih tepatnya beberapa kelompok pada bulan ini. Seperti tahun-tahun sebelumnya, akhir tahun menjadi momen penting di jurusanku, tepatnya bagi lembaga intra mahasiswa di kampusku. 

Sebentar lagi yakni pada 14 Desember 2016 mendatang, pemilihan ketua HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan) akan digelar. Beberapa tim sukses jauh sebelum penetapan calon, sudah mewanti-wanti siapa-siapa yang turut menjadi pemilih pada pemilma (pemilihan mahasiswa) nanti. Mahasiswa yang memiliki kapasitas sebagai pemilih sah dalam pemilma mendatang. Tak lain mereka ialah para ketua-ketua tingkat dan sekretaris kelas.

Banyak cara yang dilakukan oleh sang calon atau tim sukses dari calon untuk dapat mencuri simpati dari para pemilik sah suara di pemilma. Mulai dari janji-janji politik untuk menyiapkan kursi jabatan di kepengurusan lembaga sampai pada janji untuk memperbaiki struktur lembaga intra serta membantu jurusan.

Akan tetapi, bagi sebagian mahasiswa, terutama mahasiswa baru, sangat mudah dirasuki oleh janji politik para tim sukses dan para calon ini menjelang pemilihan. Padahal, jika sekiranya mereka sadar, tak ada yang abadi dalam politik. Seperti ungkapan yang paling sering terdengar, "tak ada musuh/lawan abadi dalam politik, begitupun dengan tak ada kawan abadi dalam politik." Itu artinya, janji politik yang diucapkan oleh sang calon pada masa kampanye tak bisa terlalu dipercaya apalagi mau dijadikan sebagai bukti untuk dipertanggungjawabkan? Oh..tidak bisa!

Setelah melalui beberapa pengalaman,
M Galang Pratama

AKU DIDATANGI
oleh beberapa orang atau lebih tepatnya beberapa kelompok pada bulan ini. Seperti tahun-tahun sebelumnya, akhir tahun menjadi momen penting di jurusanku, tepatnya bagi lembaga intra mahasiswa di kampusku. 

Sebentar lagi yakni pada 14 Desember 2016 mendatang, pemilihan ketua HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan) akan digelar. Beberapa tim sukses jauh sebelum penetapan calon, sudah mewanti-wanti siapa-siapa yang turut menjadi pemilih pada pemilma (pemilihan mahasiswa) nanti. Mahasiswa yang memiliki kapasitas sebagai pemilih sah dalam pemilma mendatang. Tak lain mereka ialah para ketua-ketua tingkat dan sekretaris kelas.

Banyak cara yang dilakukan oleh sang calon atau tim sukses dari calon untuk dapat mencuri simpati dari para pemilik sah suara di pemilma. Mulai dari janji-janji politik untuk menyiapkan kursi jabatan di kepengurusan lembaga sampai pada janji untuk memperbaiki struktur lembaga intra serta membantu jurusan.

Akan tetapi, bagi sebagian mahasiswa, terutama mahasiswa baru, sangat mudah dirasuki oleh janji politik para tim sukses dan para calon ini menjelang pemilihan. Padahal, jika sekiranya mereka sadar, tak ada yang abadi dalam politik. Seperti ungkapan yang paling sering terdengar, "tak ada musuh/lawan abadi dalam politik, begitupun dengan tak ada kawan abadi dalam politik." Itu artinya, janji politik yang diucapkan oleh sang calon pada masa kampanye tak bisa terlalu dipercaya apalagi mau dijadikan sebagai bukti untuk dipertanggungjawabkan? Oh..tidak bisa!

Setelah melalui beberapa pengalaman,
M Galang Pratama

AKU DIDATANGI
oleh beberapa orang atau lebih tepatnya beberapa kelompok pada bulan ini. Seperti tahun-tahun sebelumnya, akhir tahun menjadi momen penting di jurusanku, tepatnya bagi lembaga intra mahasiswa di kampusku. 

Sebentar lagi yakni pada 14 Desember 2016 mendatang, pemilihan ketua HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan) akan digelar. Beberapa tim sukses jauh sebelum penetapan calon, sudah mewanti-wanti siapa-siapa yang turut menjadi pemilih pada pemilma (pemilihan mahasiswa) nanti. Mahasiswa yang memiliki kapasitas sebagai pemilih sah dalam pemilma mendatang. Tak lain mereka ialah para ketua-ketua tingkat dan sekretaris kelas.

Banyak cara yang dilakukan oleh sang calon atau tim sukses dari calon untuk dapat mencuri simpati dari para pemilik sah suara di pemilma. Mulai dari janji-janji politik untuk menyiapkan kursi jabatan di kepengurusan lembaga sampai pada janji untuk memperbaiki struktur lembaga intra serta membantu jurusan.

Akan tetapi, bagi sebagian mahasiswa, terutama mahasiswa baru, sangat mudah dirasuki oleh janji politik para tim sukses dan para calon ini menjelang pemilihan. Padahal, jika sekiranya mereka sadar, tak ada yang abadi dalam politik. Seperti ungkapan yang paling sering terdengar, "tak ada musuh/lawan abadi dalam politik, begitupun dengan tak ada kawan abadi dalam politik." Itu artinya, janji politik yang diucapkan oleh sang calon pada masa kampanye tak bisa terlalu dipercaya apalagi mau dijadikan sebagai bukti untuk dipertanggungjawabkan? Oh..tidak bisa!

Setelah melalui beberapa pengalaman,
M Galang Pratama

AKU DIDATANGI
oleh beberapa orang atau lebih tepatnya beberapa kelompok pada bulan ini. Seperti tahun-tahun sebelumnya, akhir tahun menjadi momen penting di jurusanku, tepatnya bagi lembaga intra mahasiswa di kampusku. 

Sebentar lagi yakni pada 14 Desember 2016 mendatang, pemilihan ketua HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan) akan digelar. Beberapa tim sukses jauh sebelum penetapan calon, sudah mewanti-wanti siapa-siapa yang turut menjadi pemilih pada pemilma (pemilihan mahasiswa) nanti. Mahasiswa yang memiliki kapasitas sebagai pemilih sah dalam pemilma mendatang. Tak lain mereka ialah para ketua-ketua tingkat dan sekretaris kelas.

Banyak cara yang dilakukan oleh sang calon atau tim sukses dari calon untuk dapat mencuri simpati dari para pemilik sah suara di pemilma. Mulai dari janji-janji politik untuk menyiapkan kursi jabatan di kepengurusan lembaga sampai pada janji untuk memperbaiki struktur lembaga intra serta membantu jurusan.

Akan tetapi, bagi sebagian mahasiswa, terutama mahasiswa baru, sangat mudah dirasuki oleh janji politik para tim sukses dan para calon ini menjelang pemilihan. Padahal, jika sekiranya mereka sadar, tak ada yang abadi dalam politik. Seperti ungkapan yang paling sering terdengar, "tak ada musuh/lawan abadi dalam politik, begitupun dengan tak ada kawan abadi dalam politik." Itu artinya, janji politik yang diucapkan oleh sang calon pada masa kampanye tak bisa terlalu dipercaya apalagi mau dijadikan sebagai bukti untuk dipertanggungjawabkan? Oh..tidak bisa!

Setelah melalui beberapa pengalaman,
Yang Harus Kamu Tahu dari Mapalasta UINAM
Lihat Detail

Yang Harus Kamu Tahu dari Mapalasta UINAM

M Galang Pratama
Mapalasta menggelar Latihan Fisik (Sumber Foto FB Mapalasta)

Kau pernah memasuki Kampus II UINAM yang terletak di Samata Kab. Gowa? Kalau kau masuk di sana dan menemukan di sore hari banyak mahasiswa yang sedang lari-lari kecil keliling kampus (kebanyakan dari mereka adalah laki-laki) maka kau harus tahu merekalah Komunitas Pecinta Alam UINAM yang sedang melakukan latihan fisik olah tubuh, sebagai salah satu persiapan dari dikdas anggota baru Mapalasta.

MAHASISWA Pecinta Alam Sultan Alauddin (Mapalasta) yang saat ini sedang menggelar pembukaan anggota baru ke XXII, kini memasuki tahap di mana mahasiswa calon anggota baru akan menerima materi kegiatan sebelum turun lapangan (outdoor). Hal itu diungkap oleh Faisal Takwin, Sekretaris Panitia yang ditemui reporter LISH bernama Nursyah Putri (Elsa) di Kafetaria samping Perpustakaan Kampus II UINAM, Samata, Selasa, (8/11/2016) lalu. 

Di sini, saya akan menuliskan beberapa hal yang harus kau tahu dari Mapalasta UINAM melalui wawancara dari seorang reporter muda dari Fakultas Syariah dan Hukum UINAM. Laporan berita ini sebelumnya juga diterbitkan di jurnalish.com, kau bisa tengok laporan berita terkait ini juga di sana.

Dalam wawancara Elsa bersama Faisal Takwin, anggota Mapalasta UINAM, ia mengatakan di penerimaan anggota Mapalasta ke XXII ini mengejutkan banyak pihak dan tentunya mendapat respon yang baik dari kalangan mahasiswa. "Ada kejutan tersendiri yang datang dari berbagai pihak, karena tahun lalu itu pembukaan anggota tidak dilakukan," ujar Faisal Takwin.

Faisal Takwin kemudian berkisah tentang sepak terjang Mapalasta. Mulai dari apa itu Mapalasta sampai pada masalah yang pernah didapatnya. "Mapalasta dulunya adalah salah satu UKM di UIN tapi dibekukan sekitar tahun 2010 karena ada sedikit pergeseran dari birokrasi," kata Takwin "Mapalasta sendiri menjadi adalah wadah bagi mahasiswa UIN Alauddin Makassar yang ingin berorientasi ke bidang pecinta alam. Di Mapalasta kami memegang ideologi yakni loyalitas, solidaritas dan senioritas yang tentunya akan membuat Mapalasta akan terus eksis baik di luar maupun di dalam UIN Alauddin Makassar."

Pendidikan dasar (dikdas) yang digelar Mapalasta sekarang ini bertujuan untuk mencari generasi baru yang rela berkorban. "Tujuan Mapalasta mengadakan dikdas adalah mencari bibit unggul yang kemudian ke depan dapat mengabdikan dirinya untuk nusa dan bangsa serta kampus." Kegiatan ini berlangsung berkat partisipasi dari para pengurus, panitia dikdas dari angkatan XXI Mapalasta, dan juga senior-senior Mapalasta yang telah turut andil baik dalam hal materi (pembantuan dana dikdas), dan yang lain.

Anggota baru yang mendaftar berasal dari beberapa lingkup Fakultas di UINAM. "Peserta dalam kegiatan ini dari lintas Fakultas akan mengikuti kegiatan dikdas sebagai calon anggota Mapalasta XXII, lanjut Faisal. "Tema yang kami usung adalah 'We will survive' yang artinya kami akan bertahan." Meski Mapalasta tidak punya legalitas di kampus, tapi mereka tetap saja turut serta dalam kegiatan-kegiatan yang ada di dalam kampus. "Kami berusaha akan tetap eksis dengan mengadakan pendiksaran kemudian membuktikan kepada kampus walaupun Mapalasta dibekukan kami akan tetap berpartisipasi dengan kampus."

Sekadar informasi bahwa kegiatan indoor yakni pembekalan materi kepada peserta akan dimulai tanggal 12-18 November 2016, dilanjut turun lapangan atau outdoor tanggal 19-27 November 2016. Sebelum kegiatan turun lapangan, ada kegiatan pembekalan fisik olah tubuh yakni keliling kampus, rapat di basecame Mapalasta, dan pembekalan outdoor di sekitaran basecame Mapalasta yang berlokasi di
M Galang Pratama
Mapalasta menggelar Latihan Fisik (Sumber Foto FB Mapalasta)

Kau pernah memasuki Kampus II UINAM yang terletak di Samata Kab. Gowa? Kalau kau masuk di sana dan menemukan di sore hari banyak mahasiswa yang sedang lari-lari kecil keliling kampus (kebanyakan dari mereka adalah laki-laki) maka kau harus tahu merekalah Komunitas Pecinta Alam UINAM yang sedang melakukan latihan fisik olah tubuh, sebagai salah satu persiapan dari dikdas anggota baru Mapalasta.

MAHASISWA Pecinta Alam Sultan Alauddin (Mapalasta) yang saat ini sedang menggelar pembukaan anggota baru ke XXII, kini memasuki tahap di mana mahasiswa calon anggota baru akan menerima materi kegiatan sebelum turun lapangan (outdoor). Hal itu diungkap oleh Faisal Takwin, Sekretaris Panitia yang ditemui reporter LISH bernama Nursyah Putri (Elsa) di Kafetaria samping Perpustakaan Kampus II UINAM, Samata, Selasa, (8/11/2016) lalu. 

Di sini, saya akan menuliskan beberapa hal yang harus kau tahu dari Mapalasta UINAM melalui wawancara dari seorang reporter muda dari Fakultas Syariah dan Hukum UINAM. Laporan berita ini sebelumnya juga diterbitkan di jurnalish.com, kau bisa tengok laporan berita terkait ini juga di sana.

Dalam wawancara Elsa bersama Faisal Takwin, anggota Mapalasta UINAM, ia mengatakan di penerimaan anggota Mapalasta ke XXII ini mengejutkan banyak pihak dan tentunya mendapat respon yang baik dari kalangan mahasiswa. "Ada kejutan tersendiri yang datang dari berbagai pihak, karena tahun lalu itu pembukaan anggota tidak dilakukan," ujar Faisal Takwin.

Faisal Takwin kemudian berkisah tentang sepak terjang Mapalasta. Mulai dari apa itu Mapalasta sampai pada masalah yang pernah didapatnya. "Mapalasta dulunya adalah salah satu UKM di UIN tapi dibekukan sekitar tahun 2010 karena ada sedikit pergeseran dari birokrasi," kata Takwin "Mapalasta sendiri menjadi adalah wadah bagi mahasiswa UIN Alauddin Makassar yang ingin berorientasi ke bidang pecinta alam. Di Mapalasta kami memegang ideologi yakni loyalitas, solidaritas dan senioritas yang tentunya akan membuat Mapalasta akan terus eksis baik di luar maupun di dalam UIN Alauddin Makassar."

Pendidikan dasar (dikdas) yang digelar Mapalasta sekarang ini bertujuan untuk mencari generasi baru yang rela berkorban. "Tujuan Mapalasta mengadakan dikdas adalah mencari bibit unggul yang kemudian ke depan dapat mengabdikan dirinya untuk nusa dan bangsa serta kampus." Kegiatan ini berlangsung berkat partisipasi dari para pengurus, panitia dikdas dari angkatan XXI Mapalasta, dan juga senior-senior Mapalasta yang telah turut andil baik dalam hal materi (pembantuan dana dikdas), dan yang lain.

Anggota baru yang mendaftar berasal dari beberapa lingkup Fakultas di UINAM. "Peserta dalam kegiatan ini dari lintas Fakultas akan mengikuti kegiatan dikdas sebagai calon anggota Mapalasta XXII, lanjut Faisal. "Tema yang kami usung adalah 'We will survive' yang artinya kami akan bertahan." Meski Mapalasta tidak punya legalitas di kampus, tapi mereka tetap saja turut serta dalam kegiatan-kegiatan yang ada di dalam kampus. "Kami berusaha akan tetap eksis dengan mengadakan pendiksaran kemudian membuktikan kepada kampus walaupun Mapalasta dibekukan kami akan tetap berpartisipasi dengan kampus."

Sekadar informasi bahwa kegiatan indoor yakni pembekalan materi kepada peserta akan dimulai tanggal 12-18 November 2016, dilanjut turun lapangan atau outdoor tanggal 19-27 November 2016. Sebelum kegiatan turun lapangan, ada kegiatan pembekalan fisik olah tubuh yakni keliling kampus, rapat di basecame Mapalasta, dan pembekalan outdoor di sekitaran basecame Mapalasta yang berlokasi di
M Galang Pratama
Mapalasta menggelar Latihan Fisik (Sumber Foto FB Mapalasta)

Kau pernah memasuki Kampus II UINAM yang terletak di Samata Kab. Gowa? Kalau kau masuk di sana dan menemukan di sore hari banyak mahasiswa yang sedang lari-lari kecil keliling kampus (kebanyakan dari mereka adalah laki-laki) maka kau harus tahu merekalah Komunitas Pecinta Alam UINAM yang sedang melakukan latihan fisik olah tubuh, sebagai salah satu persiapan dari dikdas anggota baru Mapalasta.

MAHASISWA Pecinta Alam Sultan Alauddin (Mapalasta) yang saat ini sedang menggelar pembukaan anggota baru ke XXII, kini memasuki tahap di mana mahasiswa calon anggota baru akan menerima materi kegiatan sebelum turun lapangan (outdoor). Hal itu diungkap oleh Faisal Takwin, Sekretaris Panitia yang ditemui reporter LISH bernama Nursyah Putri (Elsa) di Kafetaria samping Perpustakaan Kampus II UINAM, Samata, Selasa, (8/11/2016) lalu. 

Di sini, saya akan menuliskan beberapa hal yang harus kau tahu dari Mapalasta UINAM melalui wawancara dari seorang reporter muda dari Fakultas Syariah dan Hukum UINAM. Laporan berita ini sebelumnya juga diterbitkan di jurnalish.com, kau bisa tengok laporan berita terkait ini juga di sana.

Dalam wawancara Elsa bersama Faisal Takwin, anggota Mapalasta UINAM, ia mengatakan di penerimaan anggota Mapalasta ke XXII ini mengejutkan banyak pihak dan tentunya mendapat respon yang baik dari kalangan mahasiswa. "Ada kejutan tersendiri yang datang dari berbagai pihak, karena tahun lalu itu pembukaan anggota tidak dilakukan," ujar Faisal Takwin.

Faisal Takwin kemudian berkisah tentang sepak terjang Mapalasta. Mulai dari apa itu Mapalasta sampai pada masalah yang pernah didapatnya. "Mapalasta dulunya adalah salah satu UKM di UIN tapi dibekukan sekitar tahun 2010 karena ada sedikit pergeseran dari birokrasi," kata Takwin "Mapalasta sendiri menjadi adalah wadah bagi mahasiswa UIN Alauddin Makassar yang ingin berorientasi ke bidang pecinta alam. Di Mapalasta kami memegang ideologi yakni loyalitas, solidaritas dan senioritas yang tentunya akan membuat Mapalasta akan terus eksis baik di luar maupun di dalam UIN Alauddin Makassar."

Pendidikan dasar (dikdas) yang digelar Mapalasta sekarang ini bertujuan untuk mencari generasi baru yang rela berkorban. "Tujuan Mapalasta mengadakan dikdas adalah mencari bibit unggul yang kemudian ke depan dapat mengabdikan dirinya untuk nusa dan bangsa serta kampus." Kegiatan ini berlangsung berkat partisipasi dari para pengurus, panitia dikdas dari angkatan XXI Mapalasta, dan juga senior-senior Mapalasta yang telah turut andil baik dalam hal materi (pembantuan dana dikdas), dan yang lain.

Anggota baru yang mendaftar berasal dari beberapa lingkup Fakultas di UINAM. "Peserta dalam kegiatan ini dari lintas Fakultas akan mengikuti kegiatan dikdas sebagai calon anggota Mapalasta XXII, lanjut Faisal. "Tema yang kami usung adalah 'We will survive' yang artinya kami akan bertahan." Meski Mapalasta tidak punya legalitas di kampus, tapi mereka tetap saja turut serta dalam kegiatan-kegiatan yang ada di dalam kampus. "Kami berusaha akan tetap eksis dengan mengadakan pendiksaran kemudian membuktikan kepada kampus walaupun Mapalasta dibekukan kami akan tetap berpartisipasi dengan kampus."

Sekadar informasi bahwa kegiatan indoor yakni pembekalan materi kepada peserta akan dimulai tanggal 12-18 November 2016, dilanjut turun lapangan atau outdoor tanggal 19-27 November 2016. Sebelum kegiatan turun lapangan, ada kegiatan pembekalan fisik olah tubuh yakni keliling kampus, rapat di basecame Mapalasta, dan pembekalan outdoor di sekitaran basecame Mapalasta yang berlokasi di
M Galang Pratama
Mapalasta menggelar Latihan Fisik (Sumber Foto FB Mapalasta)

Kau pernah memasuki Kampus II UINAM yang terletak di Samata Kab. Gowa? Kalau kau masuk di sana dan menemukan di sore hari banyak mahasiswa yang sedang lari-lari kecil keliling kampus (kebanyakan dari mereka adalah laki-laki) maka kau harus tahu merekalah Komunitas Pecinta Alam UINAM yang sedang melakukan latihan fisik olah tubuh, sebagai salah satu persiapan dari dikdas anggota baru Mapalasta.

MAHASISWA Pecinta Alam Sultan Alauddin (Mapalasta) yang saat ini sedang menggelar pembukaan anggota baru ke XXII, kini memasuki tahap di mana mahasiswa calon anggota baru akan menerima materi kegiatan sebelum turun lapangan (outdoor). Hal itu diungkap oleh Faisal Takwin, Sekretaris Panitia yang ditemui reporter LISH bernama Nursyah Putri (Elsa) di Kafetaria samping Perpustakaan Kampus II UINAM, Samata, Selasa, (8/11/2016) lalu. 

Di sini, saya akan menuliskan beberapa hal yang harus kau tahu dari Mapalasta UINAM melalui wawancara dari seorang reporter muda dari Fakultas Syariah dan Hukum UINAM. Laporan berita ini sebelumnya juga diterbitkan di jurnalish.com, kau bisa tengok laporan berita terkait ini juga di sana.

Dalam wawancara Elsa bersama Faisal Takwin, anggota Mapalasta UINAM, ia mengatakan di penerimaan anggota Mapalasta ke XXII ini mengejutkan banyak pihak dan tentunya mendapat respon yang baik dari kalangan mahasiswa. "Ada kejutan tersendiri yang datang dari berbagai pihak, karena tahun lalu itu pembukaan anggota tidak dilakukan," ujar Faisal Takwin.

Faisal Takwin kemudian berkisah tentang sepak terjang Mapalasta. Mulai dari apa itu Mapalasta sampai pada masalah yang pernah didapatnya. "Mapalasta dulunya adalah salah satu UKM di UIN tapi dibekukan sekitar tahun 2010 karena ada sedikit pergeseran dari birokrasi," kata Takwin "Mapalasta sendiri menjadi adalah wadah bagi mahasiswa UIN Alauddin Makassar yang ingin berorientasi ke bidang pecinta alam. Di Mapalasta kami memegang ideologi yakni loyalitas, solidaritas dan senioritas yang tentunya akan membuat Mapalasta akan terus eksis baik di luar maupun di dalam UIN Alauddin Makassar."

Pendidikan dasar (dikdas) yang digelar Mapalasta sekarang ini bertujuan untuk mencari generasi baru yang rela berkorban. "Tujuan Mapalasta mengadakan dikdas adalah mencari bibit unggul yang kemudian ke depan dapat mengabdikan dirinya untuk nusa dan bangsa serta kampus." Kegiatan ini berlangsung berkat partisipasi dari para pengurus, panitia dikdas dari angkatan XXI Mapalasta, dan juga senior-senior Mapalasta yang telah turut andil baik dalam hal materi (pembantuan dana dikdas), dan yang lain.

Anggota baru yang mendaftar berasal dari beberapa lingkup Fakultas di UINAM. "Peserta dalam kegiatan ini dari lintas Fakultas akan mengikuti kegiatan dikdas sebagai calon anggota Mapalasta XXII, lanjut Faisal. "Tema yang kami usung adalah 'We will survive' yang artinya kami akan bertahan." Meski Mapalasta tidak punya legalitas di kampus, tapi mereka tetap saja turut serta dalam kegiatan-kegiatan yang ada di dalam kampus. "Kami berusaha akan tetap eksis dengan mengadakan pendiksaran kemudian membuktikan kepada kampus walaupun Mapalasta dibekukan kami akan tetap berpartisipasi dengan kampus."

Sekadar informasi bahwa kegiatan indoor yakni pembekalan materi kepada peserta akan dimulai tanggal 12-18 November 2016, dilanjut turun lapangan atau outdoor tanggal 19-27 November 2016. Sebelum kegiatan turun lapangan, ada kegiatan pembekalan fisik olah tubuh yakni keliling kampus, rapat di basecame Mapalasta, dan pembekalan outdoor di sekitaran basecame Mapalasta yang berlokasi di
GIMM, Rahim Generasi Literasi
Lihat Detail

GIMM, Rahim Generasi Literasi

Harian Fajar, 13 Oktober 2016

Jika Anda tidak dapat terbang, maka larilah. Jika Anda tidak dapat berlari, maka berjalanlah. Jika Anda tidak dapat berjalan, maka merangkaklah. Tetapi apapun yang Anda lakukan, Anda harus tetap bergerak ke depan.
 (Martin Luther King Jr.)

GERAKAN Indonesia Membaca-Menulis atau yang disingkat GIMM telah mengaplikasikan kalimat di atas. Walaupun banyak kendala menghadang, namun gerakan ini tak pernah mati suri. Gerakan yang dipelopori pemerintah melalui kementerian pendidikan dan kebudayaan mengingatkan kepada kita akan pentingnya perubahan yang diawali dari sebuah gerakan. Gerakan yang selalu membawa perubahan untuk tetap bergerak ke depan.

Badan Balai Bahasa Provinsi di seluruh Indonesia, rupaya sudah melancarkan aksinya dalam rangka memahamkan kepada masyarakat akan pentingnya budaya literasi. Budaya literasi atau budaya tulis-menulis, sejatinya memang harus selalu disebarkan ke masyarakat. Mengingat dasar utama ilmu pengetahuan adalah membaca.

Selain itu, Balai Bahasa sudah tentu mengaplikasikan beberapa tuntutan aturan di antaranya Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dan Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2014 tentang pengembangan, pembinaan, dan pelindungan bahasa dan sastra serta peningkatan fungsi bahasa Indonesia.

Predikat ‘Nol Buku’

Predikat sebagai Negara buta aksara terbesar memang masih tersemat oleh negara ini. Bayangkan saja, data statistik UNESCO yang dilansir tahun 2012 menyebutkan, indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001 persen. Artinya, setiap 1.000 penduduk, hanya satu orang yang memiliki minat baca. Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan bagi semua kalangan.

Jika kita ingin menarik simpulan dari kegiatan membaca dan menulis, maka kegiatan yang lebih dulu harus dilakukan adalah membaca. Membaca adalah asal dari pengetahuan itu bermula. Namun, jangan lupa di sela-sela membaca, kita seharusnya menuntut diri dengan tekad kuat untuk menuliskan apa yang telah dibaca. Itulah asal mula dari menulis, menuliskan apa yang sudah dibaca. Menurut Stephen King, membaca adalah pusat yang tidak bisa dihindari oleh penulis.

Anda pasti mengenal Taufik Ismail. Beliau seorang dokter hewan, namun kepiawaiannya dalam menulis tak bisa dipandang sebelah mata. Di angkatan kepenyairannya di negeri ini, melalui karya karyanya terutama puisi, telah membawa namanya sekaligus mengharumkan bangsa ini hingga ke mancanegara.

Ia pernah bilang begini. Semestinya hanya ada dua yang mesti diajarkan oleh guru Bahasa Indonesia di sekolah. Yakni menulis, menulis menulis, dan membaca, membaca, membaca.

Dialah yang melalui penanya menciptakan ungkapan “tragedi nol buku” yang disematkan untuk bangsa ini. Ia membandingkan persoalan membaca buku di negara-negara lain. Hasilnya ia mendapatkan rata-rata lulusan SMA di Jerman membaca 32 judul buku, di Belanda 30 buku, Rusia 12 buku, Jepang 15 buku, Singapura 6 buku, Malaysia 6 buku, Brunei 7 Buku, sedangkan Indonesia nol buku.

Kata ‘nol buku’ rasa rasanya sangat memukul generasi muda bangsa ini. Begitu rendahnyakah kualitas baca di negeri ini? Kualitas menulis apalagi? Membaca dan menulis tentu dua hal yang saling berhubungan. Tak bisa dipisahkan begitu saja. Setiap penulis senantiasa haus akan bacaan. Tulisan yang baik akan didahului dengan bacaan yang baik pula.

Kita pasti sudah tahu apa maksud dari pernyataan tersebut. Sebab boleh dibilang, guru Bahasa Indonesia kita sejak SD, SMP, SMA dan mungkin hingga di Perguruan Tinggi, hanya mengajarkan teori-teori kebahasaan semata. Padahal yang utama dari itu semua adalah pengaplikasiannya.

Telah lama kita mengenal dan mempelajari teori menulis, namun apa hasilnya? Anak didik tak diajar menulis sebebas bebasnya. Pelajar hanya dibatasi dengan teori. Padahal, dalam menulis penting adanya imajinasi. Bukankah imajinasi seseorang itu berbeda-beda dan tak bisa dibatasi?


GIMM

Perhatian pemerintah melalui Badan Balai Bahasa sepertinya patut diapresiasi. Untuk Balai Bahasa Sulawesi Selatan, Gerakan Indonesia Membaca-Menulis (GIMM) se-Kota Makassar ini dilaksanakan pada hari Senin-Rabu (10-12 Oktober 2016) di Hotel Aerotel Smile Makassar.

Diikuti sebanyak 250 peserta yang berbagai kalangan mulai dari siswa, mahasiswa hingga guru. Dalam kegiatan ini, terselip juga berbagai kegiatan lomba untuk memacu semangat menulis para peserta. Di antaranya lomba Karya Tulis Ilmiah (KTI) di tingkat Guru, lomba menulis Esai tingkat Mahasiswa dan lomba Penulisan Cerita Rakyat di tingkat siswa.

Di hari terakhir, akan dipilih 10 peserta terbaik dari masing-masing bidang untuk mempresentasikan hasil karya tulisnya. Setelah itu akan ditentukan enam peserta untuk mendapat juara I sampai juara III dan harapan I sampai harapan III, masing-masing dari bidang akan diambil dua orang untuk mewakili ke tingkat nasional.

Semoga GIMM benar-benar bisa menjadi rahim bagi generasi literasi di Indonesia. Sehingga output dari kegiatan ini minimal mampu melahirkan penulis-penulis berbakat dan juga pembaca-pembaca yang dapat menularkan virus membacanya kepada masyarakat di sekitarnya. Bukankah pepatah Cina mengatakan, “perjalanan seribu mil dimulai dari langkah pertama?” Terima kasih telah mengundang penulis menjadi satu bagian dari proses literasi ini. Semoga!


*Tulisan ini diterbitkan pertama kali di Rubrik Opini Harian Fajar Makassar, 13 Oktober 2016
Via Fajar online sila klik ini.
Harian Fajar, 13 Oktober 2016

Jika Anda tidak dapat terbang, maka larilah. Jika Anda tidak dapat berlari, maka berjalanlah. Jika Anda tidak dapat berjalan, maka merangkaklah. Tetapi apapun yang Anda lakukan, Anda harus tetap bergerak ke depan.
 (Martin Luther King Jr.)

GERAKAN Indonesia Membaca-Menulis atau yang disingkat GIMM telah mengaplikasikan kalimat di atas. Walaupun banyak kendala menghadang, namun gerakan ini tak pernah mati suri. Gerakan yang dipelopori pemerintah melalui kementerian pendidikan dan kebudayaan mengingatkan kepada kita akan pentingnya perubahan yang diawali dari sebuah gerakan. Gerakan yang selalu membawa perubahan untuk tetap bergerak ke depan.

Badan Balai Bahasa Provinsi di seluruh Indonesia, rupaya sudah melancarkan aksinya dalam rangka memahamkan kepada masyarakat akan pentingnya budaya literasi. Budaya literasi atau budaya tulis-menulis, sejatinya memang harus selalu disebarkan ke masyarakat. Mengingat dasar utama ilmu pengetahuan adalah membaca.

Selain itu, Balai Bahasa sudah tentu mengaplikasikan beberapa tuntutan aturan di antaranya Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dan Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2014 tentang pengembangan, pembinaan, dan pelindungan bahasa dan sastra serta peningkatan fungsi bahasa Indonesia.

Predikat ‘Nol Buku’

Predikat sebagai Negara buta aksara terbesar memang masih tersemat oleh negara ini. Bayangkan saja, data statistik UNESCO yang dilansir tahun 2012 menyebutkan, indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001 persen. Artinya, setiap 1.000 penduduk, hanya satu orang yang memiliki minat baca. Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan bagi semua kalangan.

Jika kita ingin menarik simpulan dari kegiatan membaca dan menulis, maka kegiatan yang lebih dulu harus dilakukan adalah membaca. Membaca adalah asal dari pengetahuan itu bermula. Namun, jangan lupa di sela-sela membaca, kita seharusnya menuntut diri dengan tekad kuat untuk menuliskan apa yang telah dibaca. Itulah asal mula dari menulis, menuliskan apa yang sudah dibaca. Menurut Stephen King, membaca adalah pusat yang tidak bisa dihindari oleh penulis.

Anda pasti mengenal Taufik Ismail. Beliau seorang dokter hewan, namun kepiawaiannya dalam menulis tak bisa dipandang sebelah mata. Di angkatan kepenyairannya di negeri ini, melalui karya karyanya terutama puisi, telah membawa namanya sekaligus mengharumkan bangsa ini hingga ke mancanegara.

Ia pernah bilang begini. Semestinya hanya ada dua yang mesti diajarkan oleh guru Bahasa Indonesia di sekolah. Yakni menulis, menulis menulis, dan membaca, membaca, membaca.

Dialah yang melalui penanya menciptakan ungkapan “tragedi nol buku” yang disematkan untuk bangsa ini. Ia membandingkan persoalan membaca buku di negara-negara lain. Hasilnya ia mendapatkan rata-rata lulusan SMA di Jerman membaca 32 judul buku, di Belanda 30 buku, Rusia 12 buku, Jepang 15 buku, Singapura 6 buku, Malaysia 6 buku, Brunei 7 Buku, sedangkan Indonesia nol buku.

Kata ‘nol buku’ rasa rasanya sangat memukul generasi muda bangsa ini. Begitu rendahnyakah kualitas baca di negeri ini? Kualitas menulis apalagi? Membaca dan menulis tentu dua hal yang saling berhubungan. Tak bisa dipisahkan begitu saja. Setiap penulis senantiasa haus akan bacaan. Tulisan yang baik akan didahului dengan bacaan yang baik pula.

Kita pasti sudah tahu apa maksud dari pernyataan tersebut. Sebab boleh dibilang, guru Bahasa Indonesia kita sejak SD, SMP, SMA dan mungkin hingga di Perguruan Tinggi, hanya mengajarkan teori-teori kebahasaan semata. Padahal yang utama dari itu semua adalah pengaplikasiannya.

Telah lama kita mengenal dan mempelajari teori menulis, namun apa hasilnya? Anak didik tak diajar menulis sebebas bebasnya. Pelajar hanya dibatasi dengan teori. Padahal, dalam menulis penting adanya imajinasi. Bukankah imajinasi seseorang itu berbeda-beda dan tak bisa dibatasi?


GIMM

Perhatian pemerintah melalui Badan Balai Bahasa sepertinya patut diapresiasi. Untuk Balai Bahasa Sulawesi Selatan, Gerakan Indonesia Membaca-Menulis (GIMM) se-Kota Makassar ini dilaksanakan pada hari Senin-Rabu (10-12 Oktober 2016) di Hotel Aerotel Smile Makassar.

Diikuti sebanyak 250 peserta yang berbagai kalangan mulai dari siswa, mahasiswa hingga guru. Dalam kegiatan ini, terselip juga berbagai kegiatan lomba untuk memacu semangat menulis para peserta. Di antaranya lomba Karya Tulis Ilmiah (KTI) di tingkat Guru, lomba menulis Esai tingkat Mahasiswa dan lomba Penulisan Cerita Rakyat di tingkat siswa.

Di hari terakhir, akan dipilih 10 peserta terbaik dari masing-masing bidang untuk mempresentasikan hasil karya tulisnya. Setelah itu akan ditentukan enam peserta untuk mendapat juara I sampai juara III dan harapan I sampai harapan III, masing-masing dari bidang akan diambil dua orang untuk mewakili ke tingkat nasional.

Semoga GIMM benar-benar bisa menjadi rahim bagi generasi literasi di Indonesia. Sehingga output dari kegiatan ini minimal mampu melahirkan penulis-penulis berbakat dan juga pembaca-pembaca yang dapat menularkan virus membacanya kepada masyarakat di sekitarnya. Bukankah pepatah Cina mengatakan, “perjalanan seribu mil dimulai dari langkah pertama?” Terima kasih telah mengundang penulis menjadi satu bagian dari proses literasi ini. Semoga!


*Tulisan ini diterbitkan pertama kali di Rubrik Opini Harian Fajar Makassar, 13 Oktober 2016
Via Fajar online sila klik ini.
Harian Fajar, 13 Oktober 2016

Jika Anda tidak dapat terbang, maka larilah. Jika Anda tidak dapat berlari, maka berjalanlah. Jika Anda tidak dapat berjalan, maka merangkaklah. Tetapi apapun yang Anda lakukan, Anda harus tetap bergerak ke depan.
 (Martin Luther King Jr.)

GERAKAN Indonesia Membaca-Menulis atau yang disingkat GIMM telah mengaplikasikan kalimat di atas. Walaupun banyak kendala menghadang, namun gerakan ini tak pernah mati suri. Gerakan yang dipelopori pemerintah melalui kementerian pendidikan dan kebudayaan mengingatkan kepada kita akan pentingnya perubahan yang diawali dari sebuah gerakan. Gerakan yang selalu membawa perubahan untuk tetap bergerak ke depan.

Badan Balai Bahasa Provinsi di seluruh Indonesia, rupaya sudah melancarkan aksinya dalam rangka memahamkan kepada masyarakat akan pentingnya budaya literasi. Budaya literasi atau budaya tulis-menulis, sejatinya memang harus selalu disebarkan ke masyarakat. Mengingat dasar utama ilmu pengetahuan adalah membaca.

Selain itu, Balai Bahasa sudah tentu mengaplikasikan beberapa tuntutan aturan di antaranya Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dan Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2014 tentang pengembangan, pembinaan, dan pelindungan bahasa dan sastra serta peningkatan fungsi bahasa Indonesia.

Predikat ‘Nol Buku’

Predikat sebagai Negara buta aksara terbesar memang masih tersemat oleh negara ini. Bayangkan saja, data statistik UNESCO yang dilansir tahun 2012 menyebutkan, indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001 persen. Artinya, setiap 1.000 penduduk, hanya satu orang yang memiliki minat baca. Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan bagi semua kalangan.

Jika kita ingin menarik simpulan dari kegiatan membaca dan menulis, maka kegiatan yang lebih dulu harus dilakukan adalah membaca. Membaca adalah asal dari pengetahuan itu bermula. Namun, jangan lupa di sela-sela membaca, kita seharusnya menuntut diri dengan tekad kuat untuk menuliskan apa yang telah dibaca. Itulah asal mula dari menulis, menuliskan apa yang sudah dibaca. Menurut Stephen King, membaca adalah pusat yang tidak bisa dihindari oleh penulis.

Anda pasti mengenal Taufik Ismail. Beliau seorang dokter hewan, namun kepiawaiannya dalam menulis tak bisa dipandang sebelah mata. Di angkatan kepenyairannya di negeri ini, melalui karya karyanya terutama puisi, telah membawa namanya sekaligus mengharumkan bangsa ini hingga ke mancanegara.

Ia pernah bilang begini. Semestinya hanya ada dua yang mesti diajarkan oleh guru Bahasa Indonesia di sekolah. Yakni menulis, menulis menulis, dan membaca, membaca, membaca.

Dialah yang melalui penanya menciptakan ungkapan “tragedi nol buku” yang disematkan untuk bangsa ini. Ia membandingkan persoalan membaca buku di negara-negara lain. Hasilnya ia mendapatkan rata-rata lulusan SMA di Jerman membaca 32 judul buku, di Belanda 30 buku, Rusia 12 buku, Jepang 15 buku, Singapura 6 buku, Malaysia 6 buku, Brunei 7 Buku, sedangkan Indonesia nol buku.

Kata ‘nol buku’ rasa rasanya sangat memukul generasi muda bangsa ini. Begitu rendahnyakah kualitas baca di negeri ini? Kualitas menulis apalagi? Membaca dan menulis tentu dua hal yang saling berhubungan. Tak bisa dipisahkan begitu saja. Setiap penulis senantiasa haus akan bacaan. Tulisan yang baik akan didahului dengan bacaan yang baik pula.

Kita pasti sudah tahu apa maksud dari pernyataan tersebut. Sebab boleh dibilang, guru Bahasa Indonesia kita sejak SD, SMP, SMA dan mungkin hingga di Perguruan Tinggi, hanya mengajarkan teori-teori kebahasaan semata. Padahal yang utama dari itu semua adalah pengaplikasiannya.

Telah lama kita mengenal dan mempelajari teori menulis, namun apa hasilnya? Anak didik tak diajar menulis sebebas bebasnya. Pelajar hanya dibatasi dengan teori. Padahal, dalam menulis penting adanya imajinasi. Bukankah imajinasi seseorang itu berbeda-beda dan tak bisa dibatasi?


GIMM

Perhatian pemerintah melalui Badan Balai Bahasa sepertinya patut diapresiasi. Untuk Balai Bahasa Sulawesi Selatan, Gerakan Indonesia Membaca-Menulis (GIMM) se-Kota Makassar ini dilaksanakan pada hari Senin-Rabu (10-12 Oktober 2016) di Hotel Aerotel Smile Makassar.

Diikuti sebanyak 250 peserta yang berbagai kalangan mulai dari siswa, mahasiswa hingga guru. Dalam kegiatan ini, terselip juga berbagai kegiatan lomba untuk memacu semangat menulis para peserta. Di antaranya lomba Karya Tulis Ilmiah (KTI) di tingkat Guru, lomba menulis Esai tingkat Mahasiswa dan lomba Penulisan Cerita Rakyat di tingkat siswa.

Di hari terakhir, akan dipilih 10 peserta terbaik dari masing-masing bidang untuk mempresentasikan hasil karya tulisnya. Setelah itu akan ditentukan enam peserta untuk mendapat juara I sampai juara III dan harapan I sampai harapan III, masing-masing dari bidang akan diambil dua orang untuk mewakili ke tingkat nasional.

Semoga GIMM benar-benar bisa menjadi rahim bagi generasi literasi di Indonesia. Sehingga output dari kegiatan ini minimal mampu melahirkan penulis-penulis berbakat dan juga pembaca-pembaca yang dapat menularkan virus membacanya kepada masyarakat di sekitarnya. Bukankah pepatah Cina mengatakan, “perjalanan seribu mil dimulai dari langkah pertama?” Terima kasih telah mengundang penulis menjadi satu bagian dari proses literasi ini. Semoga!


*Tulisan ini diterbitkan pertama kali di Rubrik Opini Harian Fajar Makassar, 13 Oktober 2016
Via Fajar online sila klik ini.
Harian Fajar, 13 Oktober 2016

Jika Anda tidak dapat terbang, maka larilah. Jika Anda tidak dapat berlari, maka berjalanlah. Jika Anda tidak dapat berjalan, maka merangkaklah. Tetapi apapun yang Anda lakukan, Anda harus tetap bergerak ke depan.
 (Martin Luther King Jr.)

GERAKAN Indonesia Membaca-Menulis atau yang disingkat GIMM telah mengaplikasikan kalimat di atas. Walaupun banyak kendala menghadang, namun gerakan ini tak pernah mati suri. Gerakan yang dipelopori pemerintah melalui kementerian pendidikan dan kebudayaan mengingatkan kepada kita akan pentingnya perubahan yang diawali dari sebuah gerakan. Gerakan yang selalu membawa perubahan untuk tetap bergerak ke depan.

Badan Balai Bahasa Provinsi di seluruh Indonesia, rupaya sudah melancarkan aksinya dalam rangka memahamkan kepada masyarakat akan pentingnya budaya literasi. Budaya literasi atau budaya tulis-menulis, sejatinya memang harus selalu disebarkan ke masyarakat. Mengingat dasar utama ilmu pengetahuan adalah membaca.

Selain itu, Balai Bahasa sudah tentu mengaplikasikan beberapa tuntutan aturan di antaranya Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dan Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2014 tentang pengembangan, pembinaan, dan pelindungan bahasa dan sastra serta peningkatan fungsi bahasa Indonesia.

Predikat ‘Nol Buku’

Predikat sebagai Negara buta aksara terbesar memang masih tersemat oleh negara ini. Bayangkan saja, data statistik UNESCO yang dilansir tahun 2012 menyebutkan, indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001 persen. Artinya, setiap 1.000 penduduk, hanya satu orang yang memiliki minat baca. Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan bagi semua kalangan.

Jika kita ingin menarik simpulan dari kegiatan membaca dan menulis, maka kegiatan yang lebih dulu harus dilakukan adalah membaca. Membaca adalah asal dari pengetahuan itu bermula. Namun, jangan lupa di sela-sela membaca, kita seharusnya menuntut diri dengan tekad kuat untuk menuliskan apa yang telah dibaca. Itulah asal mula dari menulis, menuliskan apa yang sudah dibaca. Menurut Stephen King, membaca adalah pusat yang tidak bisa dihindari oleh penulis.

Anda pasti mengenal Taufik Ismail. Beliau seorang dokter hewan, namun kepiawaiannya dalam menulis tak bisa dipandang sebelah mata. Di angkatan kepenyairannya di negeri ini, melalui karya karyanya terutama puisi, telah membawa namanya sekaligus mengharumkan bangsa ini hingga ke mancanegara.

Ia pernah bilang begini. Semestinya hanya ada dua yang mesti diajarkan oleh guru Bahasa Indonesia di sekolah. Yakni menulis, menulis menulis, dan membaca, membaca, membaca.

Dialah yang melalui penanya menciptakan ungkapan “tragedi nol buku” yang disematkan untuk bangsa ini. Ia membandingkan persoalan membaca buku di negara-negara lain. Hasilnya ia mendapatkan rata-rata lulusan SMA di Jerman membaca 32 judul buku, di Belanda 30 buku, Rusia 12 buku, Jepang 15 buku, Singapura 6 buku, Malaysia 6 buku, Brunei 7 Buku, sedangkan Indonesia nol buku.

Kata ‘nol buku’ rasa rasanya sangat memukul generasi muda bangsa ini. Begitu rendahnyakah kualitas baca di negeri ini? Kualitas menulis apalagi? Membaca dan menulis tentu dua hal yang saling berhubungan. Tak bisa dipisahkan begitu saja. Setiap penulis senantiasa haus akan bacaan. Tulisan yang baik akan didahului dengan bacaan yang baik pula.

Kita pasti sudah tahu apa maksud dari pernyataan tersebut. Sebab boleh dibilang, guru Bahasa Indonesia kita sejak SD, SMP, SMA dan mungkin hingga di Perguruan Tinggi, hanya mengajarkan teori-teori kebahasaan semata. Padahal yang utama dari itu semua adalah pengaplikasiannya.

Telah lama kita mengenal dan mempelajari teori menulis, namun apa hasilnya? Anak didik tak diajar menulis sebebas bebasnya. Pelajar hanya dibatasi dengan teori. Padahal, dalam menulis penting adanya imajinasi. Bukankah imajinasi seseorang itu berbeda-beda dan tak bisa dibatasi?


GIMM

Perhatian pemerintah melalui Badan Balai Bahasa sepertinya patut diapresiasi. Untuk Balai Bahasa Sulawesi Selatan, Gerakan Indonesia Membaca-Menulis (GIMM) se-Kota Makassar ini dilaksanakan pada hari Senin-Rabu (10-12 Oktober 2016) di Hotel Aerotel Smile Makassar.

Diikuti sebanyak 250 peserta yang berbagai kalangan mulai dari siswa, mahasiswa hingga guru. Dalam kegiatan ini, terselip juga berbagai kegiatan lomba untuk memacu semangat menulis para peserta. Di antaranya lomba Karya Tulis Ilmiah (KTI) di tingkat Guru, lomba menulis Esai tingkat Mahasiswa dan lomba Penulisan Cerita Rakyat di tingkat siswa.

Di hari terakhir, akan dipilih 10 peserta terbaik dari masing-masing bidang untuk mempresentasikan hasil karya tulisnya. Setelah itu akan ditentukan enam peserta untuk mendapat juara I sampai juara III dan harapan I sampai harapan III, masing-masing dari bidang akan diambil dua orang untuk mewakili ke tingkat nasional.

Semoga GIMM benar-benar bisa menjadi rahim bagi generasi literasi di Indonesia. Sehingga output dari kegiatan ini minimal mampu melahirkan penulis-penulis berbakat dan juga pembaca-pembaca yang dapat menularkan virus membacanya kepada masyarakat di sekitarnya. Bukankah pepatah Cina mengatakan, “perjalanan seribu mil dimulai dari langkah pertama?” Terima kasih telah mengundang penulis menjadi satu bagian dari proses literasi ini. Semoga!


*Tulisan ini diterbitkan pertama kali di Rubrik Opini Harian Fajar Makassar, 13 Oktober 2016
Via Fajar online sila klik ini.
Harian Fajar, 13 Oktober 2016

Jika Anda tidak dapat terbang, maka larilah. Jika Anda tidak dapat berlari, maka berjalanlah. Jika Anda tidak dapat berjalan, maka merangkaklah. Tetapi apapun yang Anda lakukan, Anda harus tetap bergerak ke depan.
 (Martin Luther King Jr.)

GERAKAN Indonesia Membaca-Menulis atau yang disingkat GIMM telah mengaplikasikan kalimat di atas. Walaupun banyak kendala menghadang, namun gerakan ini tak pernah mati suri. Gerakan yang dipelopori pemerintah melalui kementerian pendidikan dan kebudayaan mengingatkan kepada kita akan pentingnya perubahan yang diawali dari sebuah gerakan. Gerakan yang selalu membawa perubahan untuk tetap bergerak ke depan.

Badan Balai Bahasa Provinsi di seluruh Indonesia, rupaya sudah melancarkan aksinya dalam rangka memahamkan kepada masyarakat akan pentingnya budaya literasi. Budaya literasi atau budaya tulis-menulis, sejatinya memang harus selalu disebarkan ke masyarakat. Mengingat dasar utama ilmu pengetahuan adalah membaca.

Selain itu, Balai Bahasa sudah tentu mengaplikasikan beberapa tuntutan aturan di antaranya Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dan Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2014 tentang pengembangan, pembinaan, dan pelindungan bahasa dan sastra serta peningkatan fungsi bahasa Indonesia.

Predikat ‘Nol Buku’

Predikat sebagai Negara buta aksara terbesar memang masih tersemat oleh negara ini. Bayangkan saja, data statistik UNESCO yang dilansir tahun 2012 menyebutkan, indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001 persen. Artinya, setiap 1.000 penduduk, hanya satu orang yang memiliki minat baca. Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan bagi semua kalangan.

Jika kita ingin menarik simpulan dari kegiatan membaca dan menulis, maka kegiatan yang lebih dulu harus dilakukan adalah membaca. Membaca adalah asal dari pengetahuan itu bermula. Namun, jangan lupa di sela-sela membaca, kita seharusnya menuntut diri dengan tekad kuat untuk menuliskan apa yang telah dibaca. Itulah asal mula dari menulis, menuliskan apa yang sudah dibaca. Menurut Stephen King, membaca adalah pusat yang tidak bisa dihindari oleh penulis.

Anda pasti mengenal Taufik Ismail. Beliau seorang dokter hewan, namun kepiawaiannya dalam menulis tak bisa dipandang sebelah mata. Di angkatan kepenyairannya di negeri ini, melalui karya karyanya terutama puisi, telah membawa namanya sekaligus mengharumkan bangsa ini hingga ke mancanegara.

Ia pernah bilang begini. Semestinya hanya ada dua yang mesti diajarkan oleh guru Bahasa Indonesia di sekolah. Yakni menulis, menulis menulis, dan membaca, membaca, membaca.

Dialah yang melalui penanya menciptakan ungkapan “tragedi nol buku” yang disematkan untuk bangsa ini. Ia membandingkan persoalan membaca buku di negara-negara lain. Hasilnya ia mendapatkan rata-rata lulusan SMA di Jerman membaca 32 judul buku, di Belanda 30 buku, Rusia 12 buku, Jepang 15 buku, Singapura 6 buku, Malaysia 6 buku, Brunei 7 Buku, sedangkan Indonesia nol buku.

Kata ‘nol buku’ rasa rasanya sangat memukul generasi muda bangsa ini. Begitu rendahnyakah kualitas baca di negeri ini? Kualitas menulis apalagi? Membaca dan menulis tentu dua hal yang saling berhubungan. Tak bisa dipisahkan begitu saja. Setiap penulis senantiasa haus akan bacaan. Tulisan yang baik akan didahului dengan bacaan yang baik pula.

Kita pasti sudah tahu apa maksud dari pernyataan tersebut. Sebab boleh dibilang, guru Bahasa Indonesia kita sejak SD, SMP, SMA dan mungkin hingga di Perguruan Tinggi, hanya mengajarkan teori-teori kebahasaan semata. Padahal yang utama dari itu semua adalah pengaplikasiannya.

Telah lama kita mengenal dan mempelajari teori menulis, namun apa hasilnya? Anak didik tak diajar menulis sebebas bebasnya. Pelajar hanya dibatasi dengan teori. Padahal, dalam menulis penting adanya imajinasi. Bukankah imajinasi seseorang itu berbeda-beda dan tak bisa dibatasi?


GIMM

Perhatian pemerintah melalui Badan Balai Bahasa sepertinya patut diapresiasi. Untuk Balai Bahasa Sulawesi Selatan, Gerakan Indonesia Membaca-Menulis (GIMM) se-Kota Makassar ini dilaksanakan pada hari Senin-Rabu (10-12 Oktober 2016) di Hotel Aerotel Smile Makassar.

Diikuti sebanyak 250 peserta yang berbagai kalangan mulai dari siswa, mahasiswa hingga guru. Dalam kegiatan ini, terselip juga berbagai kegiatan lomba untuk memacu semangat menulis para peserta. Di antaranya lomba Karya Tulis Ilmiah (KTI) di tingkat Guru, lomba menulis Esai tingkat Mahasiswa dan lomba Penulisan Cerita Rakyat di tingkat siswa.

Di hari terakhir, akan dipilih 10 peserta terbaik dari masing-masing bidang untuk mempresentasikan hasil karya tulisnya. Setelah itu akan ditentukan enam peserta untuk mendapat juara I sampai juara III dan harapan I sampai harapan III, masing-masing dari bidang akan diambil dua orang untuk mewakili ke tingkat nasional.

Semoga GIMM benar-benar bisa menjadi rahim bagi generasi literasi di Indonesia. Sehingga output dari kegiatan ini minimal mampu melahirkan penulis-penulis berbakat dan juga pembaca-pembaca yang dapat menularkan virus membacanya kepada masyarakat di sekitarnya. Bukankah pepatah Cina mengatakan, “perjalanan seribu mil dimulai dari langkah pertama?” Terima kasih telah mengundang penulis menjadi satu bagian dari proses literasi ini. Semoga!


*Tulisan ini diterbitkan pertama kali di Rubrik Opini Harian Fajar Makassar, 13 Oktober 2016
Via Fajar online sila klik ini.
Brosur Tugas Kewirausahaan Mahasiswa HPK D 2013 UIN Alauddin Makassar
Lihat Detail

Brosur Tugas Kewirausahaan Mahasiswa HPK D 2013 UIN Alauddin Makassar

M Galang Pratama
Muh. Galang Pratama



M Galang Pratama
Muh. Baso aqil Azizi

M Galang Pratama
Aliyaman

M Galang Pratama
Riswan

M Galang Pratama
Eka Gusti Kardillah

M Galang Pratama
Muhammad Ikhsan Sapa

M Galang Pratama
Sulfi Alis

M Galang Pratama
Hastuti

M Galang Pratama
Muh. Asdar
Andi Rezky Aulia Pratiwi

Intan Baueja Ratu Tu

Nurfadillah Ridwan

Nur Samsi Idris

Muh. Munir Majid

Nurwahyuni


Reskiyanto

?

Yusran

Fira Yuniar

Reski Wulansari B

Anriani

Farika Pratiwi Yusri

Haris Mustofa

M Galang Pratama
Muh. Galang Pratama



M Galang Pratama
Muh. Baso aqil Azizi

M Galang Pratama
Aliyaman

M Galang Pratama
Riswan

M Galang Pratama
Eka Gusti Kardillah

M Galang Pratama
Muhammad Ikhsan Sapa

M Galang Pratama
Sulfi Alis

M Galang Pratama
Hastuti

M Galang Pratama
Muh. Asdar
Andi Rezky Aulia Pratiwi

Intan Baueja Ratu Tu

Nurfadillah Ridwan

Nur Samsi Idris

Muh. Munir Majid

Nurwahyuni


Reskiyanto

?

Yusran

Fira Yuniar

Reski Wulansari B

Anriani

Farika Pratiwi Yusri

Haris Mustofa

M Galang Pratama
Muh. Galang Pratama



M Galang Pratama
Muh. Baso aqil Azizi

M Galang Pratama
Aliyaman

M Galang Pratama
Riswan

M Galang Pratama
Eka Gusti Kardillah

M Galang Pratama
Muhammad Ikhsan Sapa

M Galang Pratama
Sulfi Alis

M Galang Pratama
Hastuti

M Galang Pratama
Muh. Asdar
Andi Rezky Aulia Pratiwi

Intan Baueja Ratu Tu

Nurfadillah Ridwan

Nur Samsi Idris

Muh. Munir Majid

Nurwahyuni


Reskiyanto

?

Yusran

Fira Yuniar

Reski Wulansari B

Anriani

Farika Pratiwi Yusri

Haris Mustofa

Praktek Pengenalan Lapangan (PPL) HPK 2016
Lihat Detail

Praktek Pengenalan Lapangan (PPL) HPK 2016


Sehubungan dengan akan diadakannya kegiatan Praktek Pengenalan Lapangan (PPL) Peradilan Fakultas Syari’ah dan Hukum (FSH) UIN Alauddin Makassar untuk Mahasiswa Angkatan 2013 selama 1 (satu) bulan terhitung tanggal 1 Agustus – 31 Agustus 2016, maka beberapa jurusan/program studi di FSH sudah mempersiapkan beberapa bekal untuk persiapan mahasiswanya.

Salah satu bekal yang penting dimaksud ialah surat permohonan izin PPL. "Surat ini diisi oleh mahasiswa kemudian diberikan ke jurusan lalu dimasukkan ke instansi pengadilan yang terkait," ujar Syamsi, staf Jurusan HPK saat ditemui di ruang jurusan HPK Gedung M FSH lantai II, Kamis 21 Juli 2016.

Untuk pengelompokannya sendiri, mahasiswa harus menentukan minimal 20 nama mahasiswa untuk satu kantor pengadilan.

Nah, untuk mendownload surat izinnya, mahasiswa disilakan mengunduhnya lewat link berikut.
File Surat Izin PPL-Peradilan HPK

Sehubungan dengan akan diadakannya kegiatan Praktek Pengenalan Lapangan (PPL) Peradilan Fakultas Syari’ah dan Hukum (FSH) UIN Alauddin Makassar untuk Mahasiswa Angkatan 2013 selama 1 (satu) bulan terhitung tanggal 1 Agustus – 31 Agustus 2016, maka beberapa jurusan/program studi di FSH sudah mempersiapkan beberapa bekal untuk persiapan mahasiswanya.

Salah satu bekal yang penting dimaksud ialah surat permohonan izin PPL. "Surat ini diisi oleh mahasiswa kemudian diberikan ke jurusan lalu dimasukkan ke instansi pengadilan yang terkait," ujar Syamsi, staf Jurusan HPK saat ditemui di ruang jurusan HPK Gedung M FSH lantai II, Kamis 21 Juli 2016.

Untuk pengelompokannya sendiri, mahasiswa harus menentukan minimal 20 nama mahasiswa untuk satu kantor pengadilan.

Nah, untuk mendownload surat izinnya, mahasiswa disilakan mengunduhnya lewat link berikut.
File Surat Izin PPL-Peradilan HPK

Sehubungan dengan akan diadakannya kegiatan Praktek Pengenalan Lapangan (PPL) Peradilan Fakultas Syari’ah dan Hukum (FSH) UIN Alauddin Makassar untuk Mahasiswa Angkatan 2013 selama 1 (satu) bulan terhitung tanggal 1 Agustus – 31 Agustus 2016, maka beberapa jurusan/program studi di FSH sudah mempersiapkan beberapa bekal untuk persiapan mahasiswanya.

Salah satu bekal yang penting dimaksud ialah surat permohonan izin PPL. "Surat ini diisi oleh mahasiswa kemudian diberikan ke jurusan lalu dimasukkan ke instansi pengadilan yang terkait," ujar Syamsi, staf Jurusan HPK saat ditemui di ruang jurusan HPK Gedung M FSH lantai II, Kamis 21 Juli 2016.

Untuk pengelompokannya sendiri, mahasiswa harus menentukan minimal 20 nama mahasiswa untuk satu kantor pengadilan.

Nah, untuk mendownload surat izinnya, mahasiswa disilakan mengunduhnya lewat link berikut.
File Surat Izin PPL-Peradilan HPK

Sehubungan dengan akan diadakannya kegiatan Praktek Pengenalan Lapangan (PPL) Peradilan Fakultas Syari’ah dan Hukum (FSH) UIN Alauddin Makassar untuk Mahasiswa Angkatan 2013 selama 1 (satu) bulan terhitung tanggal 1 Agustus – 31 Agustus 2016, maka beberapa jurusan/program studi di FSH sudah mempersiapkan beberapa bekal untuk persiapan mahasiswanya.

Salah satu bekal yang penting dimaksud ialah surat permohonan izin PPL. "Surat ini diisi oleh mahasiswa kemudian diberikan ke jurusan lalu dimasukkan ke instansi pengadilan yang terkait," ujar Syamsi, staf Jurusan HPK saat ditemui di ruang jurusan HPK Gedung M FSH lantai II, Kamis 21 Juli 2016.

Untuk pengelompokannya sendiri, mahasiswa harus menentukan minimal 20 nama mahasiswa untuk satu kantor pengadilan.

Nah, untuk mendownload surat izinnya, mahasiswa disilakan mengunduhnya lewat link berikut.
File Surat Izin PPL-Peradilan HPK

Sehubungan dengan akan diadakannya kegiatan Praktek Pengenalan Lapangan (PPL) Peradilan Fakultas Syari’ah dan Hukum (FSH) UIN Alauddin Makassar untuk Mahasiswa Angkatan 2013 selama 1 (satu) bulan terhitung tanggal 1 Agustus – 31 Agustus 2016, maka beberapa jurusan/program studi di FSH sudah mempersiapkan beberapa bekal untuk persiapan mahasiswanya.

Salah satu bekal yang penting dimaksud ialah surat permohonan izin PPL. "Surat ini diisi oleh mahasiswa kemudian diberikan ke jurusan lalu dimasukkan ke instansi pengadilan yang terkait," ujar Syamsi, staf Jurusan HPK saat ditemui di ruang jurusan HPK Gedung M FSH lantai II, Kamis 21 Juli 2016.

Untuk pengelompokannya sendiri, mahasiswa harus menentukan minimal 20 nama mahasiswa untuk satu kantor pengadilan.

Nah, untuk mendownload surat izinnya, mahasiswa disilakan mengunduhnya lewat link berikut.
File Surat Izin PPL-Peradilan HPK
Opini Muh. Galang Pratama Menjadikan Membaca Serupa Melahap Makanan Saat Lapar
Lihat Detail

Opini Muh. Galang Pratama Menjadikan Membaca Serupa Melahap Makanan Saat Lapar





PADA dasarnya banyak hal yang mesti kita perbaiki. Sutarto (2015) menyatakan bahwa Indonesia masuk dalam data negara yang menempati posisi paling bawah dalam hal minat baca di Asia. Ini baru di Asia, apalagi di dunia? Tahukah kawan-kawan mengapa itu bisa terjadi? Sebab salah satu budaya yang terus mengakar pada diri generasi muda bangsa ini adalah malas membaca. 


Sulit sekali membiasakan sikap gemar membaca. Padahal sebenarnya teman-teman sudah tahu apa pentingnya membaca. Iya kan? Membaca hanya perlu dibiasakan, seperti kata para motivator. Bahkan menurut penulis, membaca kalau perlu dipaksakan datang dari dalam diri sendiri (bagi pemula). Jika teman-teman sudah merasakan nikmatnya membaca, maka budaya membaca tak akan lepas pada diri teman-teman. Membaca seolah-olah menjadi kebutuhan pokok yang tak bisa dilepas seperti halnya makan. Tentu teman-teman akan selalu mencari makan ketika sedang lapar, bukan begitu? 

2 Mei 2016 bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Tahukah teman-teman pelajaran apa yang kita bisa petik dari peringatan hardiknas kali ini? Bukan hanya mengadakan seremonial semata. Kita mestinya merenung. Sudah sampai di mana sumbangsih kita pada negara dalam hal pendidikan. Apakah kita sudah memenuhi pesan-pesan dari para pejuang kita yang rela mati demi membela keutuhan bangsa? Apa yang mereka inginkan dari kita? Mereka tidak lagi menginginkan agar kita mengangkat senjata dan meneriakkan kalimat tauhid atau kalimat “Merdeka atau mati!” lalu pergi berperang. Bukan itu kawan! Yang mereka inginkan hanyalah bagaimana agar kita memiliki ambisi untuk belajar dan ambisi dalam mewujudkan impian. 

Ambisi dalam arti motivasi yang tinggi untuk mencapai kemajuan pribadi (Sarwono, 2007: 14). Kita mestinya melawan pembodohan. Pembodohan yang diakibatkan oleh banyak hal, seperti banyak tidur, nonton di depan laptop berlama-lama, tak bisa menggunakan gadget/handphone dengan bijak dan tentunya masalah yang lebih krusial, malas membaca. Kendalikanlah waktu, serupa mengendalikan nafsu saat berpuasa. Sebab teman tahu, apa yang membuat kita berbeda dari Rio Haryanto anak Indonesia pertama yang sukses dengan bakatnya mengemudikan Formula 1 dan membawa bendera merah putih ke seluruh dunia? Di samping itu, ternyata




PADA dasarnya banyak hal yang mesti kita perbaiki. Sutarto (2015) menyatakan bahwa Indonesia masuk dalam data negara yang menempati posisi paling bawah dalam hal minat baca di Asia. Ini baru di Asia, apalagi di dunia? Tahukah kawan-kawan mengapa itu bisa terjadi? Sebab salah satu budaya yang terus mengakar pada diri generasi muda bangsa ini adalah malas membaca. 


Sulit sekali membiasakan sikap gemar membaca. Padahal sebenarnya teman-teman sudah tahu apa pentingnya membaca. Iya kan? Membaca hanya perlu dibiasakan, seperti kata para motivator. Bahkan menurut penulis, membaca kalau perlu dipaksakan datang dari dalam diri sendiri (bagi pemula). Jika teman-teman sudah merasakan nikmatnya membaca, maka budaya membaca tak akan lepas pada diri teman-teman. Membaca seolah-olah menjadi kebutuhan pokok yang tak bisa dilepas seperti halnya makan. Tentu teman-teman akan selalu mencari makan ketika sedang lapar, bukan begitu? 

2 Mei 2016 bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Tahukah teman-teman pelajaran apa yang kita bisa petik dari peringatan hardiknas kali ini? Bukan hanya mengadakan seremonial semata. Kita mestinya merenung. Sudah sampai di mana sumbangsih kita pada negara dalam hal pendidikan. Apakah kita sudah memenuhi pesan-pesan dari para pejuang kita yang rela mati demi membela keutuhan bangsa? Apa yang mereka inginkan dari kita? Mereka tidak lagi menginginkan agar kita mengangkat senjata dan meneriakkan kalimat tauhid atau kalimat “Merdeka atau mati!” lalu pergi berperang. Bukan itu kawan! Yang mereka inginkan hanyalah bagaimana agar kita memiliki ambisi untuk belajar dan ambisi dalam mewujudkan impian. 

Ambisi dalam arti motivasi yang tinggi untuk mencapai kemajuan pribadi (Sarwono, 2007: 14). Kita mestinya melawan pembodohan. Pembodohan yang diakibatkan oleh banyak hal, seperti banyak tidur, nonton di depan laptop berlama-lama, tak bisa menggunakan gadget/handphone dengan bijak dan tentunya masalah yang lebih krusial, malas membaca. Kendalikanlah waktu, serupa mengendalikan nafsu saat berpuasa. Sebab teman tahu, apa yang membuat kita berbeda dari Rio Haryanto anak Indonesia pertama yang sukses dengan bakatnya mengemudikan Formula 1 dan membawa bendera merah putih ke seluruh dunia? Di samping itu, ternyata




PADA dasarnya banyak hal yang mesti kita perbaiki. Sutarto (2015) menyatakan bahwa Indonesia masuk dalam data negara yang menempati posisi paling bawah dalam hal minat baca di Asia. Ini baru di Asia, apalagi di dunia? Tahukah kawan-kawan mengapa itu bisa terjadi? Sebab salah satu budaya yang terus mengakar pada diri generasi muda bangsa ini adalah malas membaca. 


Sulit sekali membiasakan sikap gemar membaca. Padahal sebenarnya teman-teman sudah tahu apa pentingnya membaca. Iya kan? Membaca hanya perlu dibiasakan, seperti kata para motivator. Bahkan menurut penulis, membaca kalau perlu dipaksakan datang dari dalam diri sendiri (bagi pemula). Jika teman-teman sudah merasakan nikmatnya membaca, maka budaya membaca tak akan lepas pada diri teman-teman. Membaca seolah-olah menjadi kebutuhan pokok yang tak bisa dilepas seperti halnya makan. Tentu teman-teman akan selalu mencari makan ketika sedang lapar, bukan begitu? 

2 Mei 2016 bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Tahukah teman-teman pelajaran apa yang kita bisa petik dari peringatan hardiknas kali ini? Bukan hanya mengadakan seremonial semata. Kita mestinya merenung. Sudah sampai di mana sumbangsih kita pada negara dalam hal pendidikan. Apakah kita sudah memenuhi pesan-pesan dari para pejuang kita yang rela mati demi membela keutuhan bangsa? Apa yang mereka inginkan dari kita? Mereka tidak lagi menginginkan agar kita mengangkat senjata dan meneriakkan kalimat tauhid atau kalimat “Merdeka atau mati!” lalu pergi berperang. Bukan itu kawan! Yang mereka inginkan hanyalah bagaimana agar kita memiliki ambisi untuk belajar dan ambisi dalam mewujudkan impian. 

Ambisi dalam arti motivasi yang tinggi untuk mencapai kemajuan pribadi (Sarwono, 2007: 14). Kita mestinya melawan pembodohan. Pembodohan yang diakibatkan oleh banyak hal, seperti banyak tidur, nonton di depan laptop berlama-lama, tak bisa menggunakan gadget/handphone dengan bijak dan tentunya masalah yang lebih krusial, malas membaca. Kendalikanlah waktu, serupa mengendalikan nafsu saat berpuasa. Sebab teman tahu, apa yang membuat kita berbeda dari Rio Haryanto anak Indonesia pertama yang sukses dengan bakatnya mengemudikan Formula 1 dan membawa bendera merah putih ke seluruh dunia? Di samping itu, ternyata




PADA dasarnya banyak hal yang mesti kita perbaiki. Sutarto (2015) menyatakan bahwa Indonesia masuk dalam data negara yang menempati posisi paling bawah dalam hal minat baca di Asia. Ini baru di Asia, apalagi di dunia? Tahukah kawan-kawan mengapa itu bisa terjadi? Sebab salah satu budaya yang terus mengakar pada diri generasi muda bangsa ini adalah malas membaca. 


Sulit sekali membiasakan sikap gemar membaca. Padahal sebenarnya teman-teman sudah tahu apa pentingnya membaca. Iya kan? Membaca hanya perlu dibiasakan, seperti kata para motivator. Bahkan menurut penulis, membaca kalau perlu dipaksakan datang dari dalam diri sendiri (bagi pemula). Jika teman-teman sudah merasakan nikmatnya membaca, maka budaya membaca tak akan lepas pada diri teman-teman. Membaca seolah-olah menjadi kebutuhan pokok yang tak bisa dilepas seperti halnya makan. Tentu teman-teman akan selalu mencari makan ketika sedang lapar, bukan begitu? 

2 Mei 2016 bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Tahukah teman-teman pelajaran apa yang kita bisa petik dari peringatan hardiknas kali ini? Bukan hanya mengadakan seremonial semata. Kita mestinya merenung. Sudah sampai di mana sumbangsih kita pada negara dalam hal pendidikan. Apakah kita sudah memenuhi pesan-pesan dari para pejuang kita yang rela mati demi membela keutuhan bangsa? Apa yang mereka inginkan dari kita? Mereka tidak lagi menginginkan agar kita mengangkat senjata dan meneriakkan kalimat tauhid atau kalimat “Merdeka atau mati!” lalu pergi berperang. Bukan itu kawan! Yang mereka inginkan hanyalah bagaimana agar kita memiliki ambisi untuk belajar dan ambisi dalam mewujudkan impian. 

Ambisi dalam arti motivasi yang tinggi untuk mencapai kemajuan pribadi (Sarwono, 2007: 14). Kita mestinya melawan pembodohan. Pembodohan yang diakibatkan oleh banyak hal, seperti banyak tidur, nonton di depan laptop berlama-lama, tak bisa menggunakan gadget/handphone dengan bijak dan tentunya masalah yang lebih krusial, malas membaca. Kendalikanlah waktu, serupa mengendalikan nafsu saat berpuasa. Sebab teman tahu, apa yang membuat kita berbeda dari Rio Haryanto anak Indonesia pertama yang sukses dengan bakatnya mengemudikan Formula 1 dan membawa bendera merah putih ke seluruh dunia? Di samping itu, ternyata




PADA dasarnya banyak hal yang mesti kita perbaiki. Sutarto (2015) menyatakan bahwa Indonesia masuk dalam data negara yang menempati posisi paling bawah dalam hal minat baca di Asia. Ini baru di Asia, apalagi di dunia? Tahukah kawan-kawan mengapa itu bisa terjadi? Sebab salah satu budaya yang terus mengakar pada diri generasi muda bangsa ini adalah malas membaca. 


Sulit sekali membiasakan sikap gemar membaca. Padahal sebenarnya teman-teman sudah tahu apa pentingnya membaca. Iya kan? Membaca hanya perlu dibiasakan, seperti kata para motivator. Bahkan menurut penulis, membaca kalau perlu dipaksakan datang dari dalam diri sendiri (bagi pemula). Jika teman-teman sudah merasakan nikmatnya membaca, maka budaya membaca tak akan lepas pada diri teman-teman. Membaca seolah-olah menjadi kebutuhan pokok yang tak bisa dilepas seperti halnya makan. Tentu teman-teman akan selalu mencari makan ketika sedang lapar, bukan begitu? 

2 Mei 2016 bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Tahukah teman-teman pelajaran apa yang kita bisa petik dari peringatan hardiknas kali ini? Bukan hanya mengadakan seremonial semata. Kita mestinya merenung. Sudah sampai di mana sumbangsih kita pada negara dalam hal pendidikan. Apakah kita sudah memenuhi pesan-pesan dari para pejuang kita yang rela mati demi membela keutuhan bangsa? Apa yang mereka inginkan dari kita? Mereka tidak lagi menginginkan agar kita mengangkat senjata dan meneriakkan kalimat tauhid atau kalimat “Merdeka atau mati!” lalu pergi berperang. Bukan itu kawan! Yang mereka inginkan hanyalah bagaimana agar kita memiliki ambisi untuk belajar dan ambisi dalam mewujudkan impian. 

Ambisi dalam arti motivasi yang tinggi untuk mencapai kemajuan pribadi (Sarwono, 2007: 14). Kita mestinya melawan pembodohan. Pembodohan yang diakibatkan oleh banyak hal, seperti banyak tidur, nonton di depan laptop berlama-lama, tak bisa menggunakan gadget/handphone dengan bijak dan tentunya masalah yang lebih krusial, malas membaca. Kendalikanlah waktu, serupa mengendalikan nafsu saat berpuasa. Sebab teman tahu, apa yang membuat kita berbeda dari Rio Haryanto anak Indonesia pertama yang sukses dengan bakatnya mengemudikan Formula 1 dan membawa bendera merah putih ke seluruh dunia? Di samping itu, ternyata
Sebuah Kelas: Kuliah dan Permainan
Lihat Detail

Sebuah Kelas: Kuliah dan Permainan

Oleh : Muh. Galang Pratama
Mahasiswa HPK7,8-FSH- UIN ALAUDDIN MAKASSAR (Angkatan 2013)

Bagi mayoritas mahasiswa, kuliah dalam kelas tentunya bukan menjadi hal yang tabu. Meskipun didalam proses suasana belajar dalam perguruan tinggi, kelas bukan menjadi satu-satunya hal krusial yang menjadi "wadah" untuk belajar para mahasiswa.

Hal itu disebabkan karena "rumah kampus" yang luas nan megah diisi oleh berbagai hal yang dapat menunjang perkembangan dari mahasiswa itu sendiri. Baik itu dari segi kognitif (knowledge), psikomotorik (skill) maupun psikis (mental attitude).

Ada 3 poin penting dari kata Italic (baca: kata bergaris miring) diatas. Yakni 1. Knowledge; 2. Skill; dan 3. Attitude. Apa maksud dari ketiga poin ini, penulis akan mencoba menjabarkannya melalui kutipan dari http://malicemrc.wordpress.com
  1. Knowledge : konsep, prinsip, informasi yang didapat dari proses pembelajaran/pengalaman.
  2. Skill : kemampuan utk melakukan aktivitas psikomotorik yg mempengaruhi seseorang utk menampilkan kinerja yg efektif pd suatu hal.
  3. Attitude : kecenderungan dasar utk merespon thdp objek tertentu berdasarkan keyakinan/opini kita.
Dewasa ini, para pemuda bangsa ini serta para kepada seluruh kalangan, memang sudah memperhatikan beberapa poin tersebut, utamanya pada poin pertama dan yang kedua yakni knowledge dan skill.

Namun, mayoritas orang dan utamanya pemuda masih sangat kurang dengan pendidikan mental Attitudenya. Orang-orang hanya sibuk memperbaiki dan terus mengasah knowledge/pengetahuannya dan skill/keterampilannya namun masih saja tidak mengacuhkan urgensi dari mental attitude/sikap dari seseorang.

Suasana kampus, kadangkala membawa para mahasiswa dalam kesusksesan namun dapat pula menyesatkan mahasiswa kedalam lembah pemikiran yang salah sebab sistem doktrin "keras" yang terpatri dalam jiwa dan hati para mahasiswa ketika mengikuti kegiatan "pengkaderan" di luar kampus.

Namun, kita tidak bisa langsung mengatakan bahwa seluruh bentuk pengkaderan yang ada dalam lingkungan sekitar mahasiswa itu tidak baik. Akan tetapi disini penulis tetap memberikan argumen yang jelas menurut hemat penulis sendiri bahwa kegiatan diluar kampus yang boleh diikuti ialah suatu hal yang kita jadikan wadah pengembangan akan skill yang setiap mahasiswa miliki.

Mahasiswa mesti lebih pintar untuk memilih wadahnya sendiri dalam rangka peningkatan skillnya dan bukan hanya itu bahwa yang mesti menjadi salah satu poin penilaian ialah jangan sampai ada kegiatan baik itu dilaksanakan dalam lingkungan dalam kampus, maupun diluar kampus, yang mana kegiatan itu mengganggu jam kuliah utama di dalam kelas.

Sebab, bagaimana pun tujuan dari mahasiswa adalah untuk kuliah dan kuliah itu ya tentunya menghadirkan diri dalam proses belajar-mengajar didalam kelas. Namun, beberapa pertanyaan kemudian muncul ketika urgensi edukasi dalam proses kuliah dalam kelas mulai mencuat ke permukaan yakni ketika rasa bosan, malas, kesal, pengap, kusut, dan rasa panas yang seakan-akan masuk menusuk jiwa-raga para mahasiswa ketika proses kuliah berlangsung.

Disinilah pentingnya ada formulasi pikiran yang dibentuk oleh paradigma seorang mahasiswa yang mestinya harus menganggap bahwa hadirnya diri;raga pada kelas adalah suatu kewajiban dalam rangka pemenuhan absensi akademik.

Ada metode yang baik untuk dapat dijadikan sebagai salah-satu acuan untuk menghindari perasaan "miring" dari mahasiswa ketika berada didalam kelas. Yakni bagaimana menjadikan sebagai kuliah itu berupa ajang permainan yang dimainkan oleh mahasiswa itu sendiri.

Permainan yang mana mahasiswa menjadi user atau penggerak utama dalam permainan itu. Mahasiswa di tuntut harus memenuhi 3 kriteria sukses atau kita bisa menyebutnya sebagai "3 Key Factor" dalam permainan agar dapat lolos menjadi finalis serta bisa mendapat tiket untuk maju ke bagian final permainan.

3 Key Factor itu ialah simple, unique dan focus. Tentunya kita sudah mengetahui ketiga maksud kriteria sukses itu yakni sederhana, unik dan fokus. Yakni para mahasiswa harus menerapkan kunci itu dalam proses permainan dan dalam hal ini ialah dalam proses kuliah (belajar-mengajar) itu sendiri.

Jadi, pentingnya sebuah wadah diluar kelas atau yang kadang diistilahkan dalam sebuah lembaga yakni sebagai sebuah organisasi ialah bagaimana organisasi itu dapat menunjang dan saling membantu para mahasiswa dalam meningkatkan serta mengasah skill serta bagaimana suasana kuliah didalam kelas mampu membawa efek knowledge yang jelas agar seorang mahasiswa mampu mendapatkan mental attitude yang baik, sehingga ke 3 poin penting itu yakni skill, knowledge serta mental attitude akan mampu membawa mahasiswa menuju kesuksesan yang di idam-idamkan.

@Gowa, 25 oktober 2014 at 02.30.

 
Oleh : Muh. Galang Pratama
Mahasiswa HPK7,8-FSH- UIN ALAUDDIN MAKASSAR (Angkatan 2013)

Bagi mayoritas mahasiswa, kuliah dalam kelas tentunya bukan menjadi hal yang tabu. Meskipun didalam proses suasana belajar dalam perguruan tinggi, kelas bukan menjadi satu-satunya hal krusial yang menjadi "wadah" untuk belajar para mahasiswa.

Hal itu disebabkan karena "rumah kampus" yang luas nan megah diisi oleh berbagai hal yang dapat menunjang perkembangan dari mahasiswa itu sendiri. Baik itu dari segi kognitif (knowledge), psikomotorik (skill) maupun psikis (mental attitude).

Ada 3 poin penting dari kata Italic (baca: kata bergaris miring) diatas. Yakni 1. Knowledge; 2. Skill; dan 3. Attitude. Apa maksud dari ketiga poin ini, penulis akan mencoba menjabarkannya melalui kutipan dari http://malicemrc.wordpress.com
  1. Knowledge : konsep, prinsip, informasi yang didapat dari proses pembelajaran/pengalaman.
  2. Skill : kemampuan utk melakukan aktivitas psikomotorik yg mempengaruhi seseorang utk menampilkan kinerja yg efektif pd suatu hal.
  3. Attitude : kecenderungan dasar utk merespon thdp objek tertentu berdasarkan keyakinan/opini kita.
Dewasa ini, para pemuda bangsa ini serta para kepada seluruh kalangan, memang sudah memperhatikan beberapa poin tersebut, utamanya pada poin pertama dan yang kedua yakni knowledge dan skill.

Namun, mayoritas orang dan utamanya pemuda masih sangat kurang dengan pendidikan mental Attitudenya. Orang-orang hanya sibuk memperbaiki dan terus mengasah knowledge/pengetahuannya dan skill/keterampilannya namun masih saja tidak mengacuhkan urgensi dari mental attitude/sikap dari seseorang.

Suasana kampus, kadangkala membawa para mahasiswa dalam kesusksesan namun dapat pula menyesatkan mahasiswa kedalam lembah pemikiran yang salah sebab sistem doktrin "keras" yang terpatri dalam jiwa dan hati para mahasiswa ketika mengikuti kegiatan "pengkaderan" di luar kampus.

Namun, kita tidak bisa langsung mengatakan bahwa seluruh bentuk pengkaderan yang ada dalam lingkungan sekitar mahasiswa itu tidak baik. Akan tetapi disini penulis tetap memberikan argumen yang jelas menurut hemat penulis sendiri bahwa kegiatan diluar kampus yang boleh diikuti ialah suatu hal yang kita jadikan wadah pengembangan akan skill yang setiap mahasiswa miliki.

Mahasiswa mesti lebih pintar untuk memilih wadahnya sendiri dalam rangka peningkatan skillnya dan bukan hanya itu bahwa yang mesti menjadi salah satu poin penilaian ialah jangan sampai ada kegiatan baik itu dilaksanakan dalam lingkungan dalam kampus, maupun diluar kampus, yang mana kegiatan itu mengganggu jam kuliah utama di dalam kelas.

Sebab, bagaimana pun tujuan dari mahasiswa adalah untuk kuliah dan kuliah itu ya tentunya menghadirkan diri dalam proses belajar-mengajar didalam kelas. Namun, beberapa pertanyaan kemudian muncul ketika urgensi edukasi dalam proses kuliah dalam kelas mulai mencuat ke permukaan yakni ketika rasa bosan, malas, kesal, pengap, kusut, dan rasa panas yang seakan-akan masuk menusuk jiwa-raga para mahasiswa ketika proses kuliah berlangsung.

Disinilah pentingnya ada formulasi pikiran yang dibentuk oleh paradigma seorang mahasiswa yang mestinya harus menganggap bahwa hadirnya diri;raga pada kelas adalah suatu kewajiban dalam rangka pemenuhan absensi akademik.

Ada metode yang baik untuk dapat dijadikan sebagai salah-satu acuan untuk menghindari perasaan "miring" dari mahasiswa ketika berada didalam kelas. Yakni bagaimana menjadikan sebagai kuliah itu berupa ajang permainan yang dimainkan oleh mahasiswa itu sendiri.

Permainan yang mana mahasiswa menjadi user atau penggerak utama dalam permainan itu. Mahasiswa di tuntut harus memenuhi 3 kriteria sukses atau kita bisa menyebutnya sebagai "3 Key Factor" dalam permainan agar dapat lolos menjadi finalis serta bisa mendapat tiket untuk maju ke bagian final permainan.

3 Key Factor itu ialah simple, unique dan focus. Tentunya kita sudah mengetahui ketiga maksud kriteria sukses itu yakni sederhana, unik dan fokus. Yakni para mahasiswa harus menerapkan kunci itu dalam proses permainan dan dalam hal ini ialah dalam proses kuliah (belajar-mengajar) itu sendiri.

Jadi, pentingnya sebuah wadah diluar kelas atau yang kadang diistilahkan dalam sebuah lembaga yakni sebagai sebuah organisasi ialah bagaimana organisasi itu dapat menunjang dan saling membantu para mahasiswa dalam meningkatkan serta mengasah skill serta bagaimana suasana kuliah didalam kelas mampu membawa efek knowledge yang jelas agar seorang mahasiswa mampu mendapatkan mental attitude yang baik, sehingga ke 3 poin penting itu yakni skill, knowledge serta mental attitude akan mampu membawa mahasiswa menuju kesuksesan yang di idam-idamkan.

@Gowa, 25 oktober 2014 at 02.30.

 
Seminar Nasional dan Kuliah Umum Jurusan HPK
Lihat Detail

Seminar Nasional dan Kuliah Umum Jurusan HPK

Seminar nasional yang bertemakan "Selamatkan Negeri Dari ISIS", diselenggarakan oleh Jurusan Hukum Pidana dan Ketatanegaraan (HPK) Fakultas Syari'ah dan Hukum (FSH) UIN Alauddin Makassar pada hari rabu (10/9). Seminar yang dibawakan oleh pembicara nasional sekaligus merupakan dosen tetap dari HPK ini, yakni Prof. Dr. Irfan Idris., M.Ag. Beliau merupakan Direktur Deradikalisasi BNPT-RI. Selanjutnya yang menjadi pembicara kedua adalah Pemikir Terorisme dari Fakultas Syari'ah dan Hukum yakni Dr. H. Kasjim Salenda., M.Th.I.
Seminar Nasional


Acara yang sangat ramai dan hebat dikarenakan masalah yang dibahas sangat aktual, yakni tentang ISIS atau Islamic State of Irac and Syiria. Beliau menegaskan bahwa kita harus hati-hati dalam mengikuti berbagai macam kegiatan yang mana pada ujungnya akan jauh dari nilai-nilai islam dan nilai-nilai jihad itu sendiri, dan juga, "Jihad itu Indah, bukan membunuh dengan sembarangan", tutupnya.

Sekian.
Seminar nasional yang bertemakan "Selamatkan Negeri Dari ISIS", diselenggarakan oleh Jurusan Hukum Pidana dan Ketatanegaraan (HPK) Fakultas Syari'ah dan Hukum (FSH) UIN Alauddin Makassar pada hari rabu (10/9). Seminar yang dibawakan oleh pembicara nasional sekaligus merupakan dosen tetap dari HPK ini, yakni Prof. Dr. Irfan Idris., M.Ag. Beliau merupakan Direktur Deradikalisasi BNPT-RI. Selanjutnya yang menjadi pembicara kedua adalah Pemikir Terorisme dari Fakultas Syari'ah dan Hukum yakni Dr. H. Kasjim Salenda., M.Th.I.
Seminar Nasional


Acara yang sangat ramai dan hebat dikarenakan masalah yang dibahas sangat aktual, yakni tentang ISIS atau Islamic State of Irac and Syiria. Beliau menegaskan bahwa kita harus hati-hati dalam mengikuti berbagai macam kegiatan yang mana pada ujungnya akan jauh dari nilai-nilai islam dan nilai-nilai jihad itu sendiri, dan juga, "Jihad itu Indah, bukan membunuh dengan sembarangan", tutupnya.

Sekian.
Seminar nasional yang bertemakan "Selamatkan Negeri Dari ISIS", diselenggarakan oleh Jurusan Hukum Pidana dan Ketatanegaraan (HPK) Fakultas Syari'ah dan Hukum (FSH) UIN Alauddin Makassar pada hari rabu (10/9). Seminar yang dibawakan oleh pembicara nasional sekaligus merupakan dosen tetap dari HPK ini, yakni Prof. Dr. Irfan Idris., M.Ag. Beliau merupakan Direktur Deradikalisasi BNPT-RI. Selanjutnya yang menjadi pembicara kedua adalah Pemikir Terorisme dari Fakultas Syari'ah dan Hukum yakni Dr. H. Kasjim Salenda., M.Th.I.
Seminar Nasional


Acara yang sangat ramai dan hebat dikarenakan masalah yang dibahas sangat aktual, yakni tentang ISIS atau Islamic State of Irac and Syiria. Beliau menegaskan bahwa kita harus hati-hati dalam mengikuti berbagai macam kegiatan yang mana pada ujungnya akan jauh dari nilai-nilai islam dan nilai-nilai jihad itu sendiri, dan juga, "Jihad itu Indah, bukan membunuh dengan sembarangan", tutupnya.

Sekian.
Cara Pendaftaran Metro TV on Campus UNHAS Makassar
Lihat Detail

Cara Pendaftaran Metro TV on Campus UNHAS Makassar


www.hapeka.blogspot.com
Halo Makassar... Metro TV on Campus hadir di Makassar. Acaranya akan dilaksanakan pada tanggal 28-30 Agustus 2014 di Universitas Hasanuddin. Acara terdiri dari : Open Mic Competition (28/8), Pelatihan Jurnalistik (29/8), dan Mata Najwa on Stage (30/8).

Mata Najwa on Stage di Baruga Pettarani pada tanggal 30 Agustus mulai pukul 13.00 WITA, mengusung tema: "BELAJAR DARI HABIBIE". Dengan tamu utama yakni Presiden Ke-3 RI, BJ Habibie. Turut hadir Bupati Bantaeng Nurdin Abdullah, Politisi muda Meutya Hafid, dan 2 Musisi Glenn Fredly dan Abdee Slank.

Pendaftaran Via Online. Semua rangkaian acara ini terbuka untuk umum dan GRATIS. Ayo segera daftar.

Silahkan, baca lebih lanjut untuk tata cara pendaftaran online.



www.hapeka.blogspot.com
Halo Makassar... Metro TV on Campus hadir di Makassar. Acaranya akan dilaksanakan pada tanggal 28-30 Agustus 2014 di Universitas Hasanuddin. Acara terdiri dari : Open Mic Competition (28/8), Pelatihan Jurnalistik (29/8), dan Mata Najwa on Stage (30/8).

Mata Najwa on Stage di Baruga Pettarani pada tanggal 30 Agustus mulai pukul 13.00 WITA, mengusung tema: "BELAJAR DARI HABIBIE". Dengan tamu utama yakni Presiden Ke-3 RI, BJ Habibie. Turut hadir Bupati Bantaeng Nurdin Abdullah, Politisi muda Meutya Hafid, dan 2 Musisi Glenn Fredly dan Abdee Slank.

Pendaftaran Via Online. Semua rangkaian acara ini terbuka untuk umum dan GRATIS. Ayo segera daftar.

Silahkan, baca lebih lanjut untuk tata cara pendaftaran online.



www.hapeka.blogspot.com
Halo Makassar... Metro TV on Campus hadir di Makassar. Acaranya akan dilaksanakan pada tanggal 28-30 Agustus 2014 di Universitas Hasanuddin. Acara terdiri dari : Open Mic Competition (28/8), Pelatihan Jurnalistik (29/8), dan Mata Najwa on Stage (30/8).

Mata Najwa on Stage di Baruga Pettarani pada tanggal 30 Agustus mulai pukul 13.00 WITA, mengusung tema: "BELAJAR DARI HABIBIE". Dengan tamu utama yakni Presiden Ke-3 RI, BJ Habibie. Turut hadir Bupati Bantaeng Nurdin Abdullah, Politisi muda Meutya Hafid, dan 2 Musisi Glenn Fredly dan Abdee Slank.

Pendaftaran Via Online. Semua rangkaian acara ini terbuka untuk umum dan GRATIS. Ayo segera daftar.

Silahkan, baca lebih lanjut untuk tata cara pendaftaran online.



www.hapeka.blogspot.com
Halo Makassar... Metro TV on Campus hadir di Makassar. Acaranya akan dilaksanakan pada tanggal 28-30 Agustus 2014 di Universitas Hasanuddin. Acara terdiri dari : Open Mic Competition (28/8), Pelatihan Jurnalistik (29/8), dan Mata Najwa on Stage (30/8).

Mata Najwa on Stage di Baruga Pettarani pada tanggal 30 Agustus mulai pukul 13.00 WITA, mengusung tema: "BELAJAR DARI HABIBIE". Dengan tamu utama yakni Presiden Ke-3 RI, BJ Habibie. Turut hadir Bupati Bantaeng Nurdin Abdullah, Politisi muda Meutya Hafid, dan 2 Musisi Glenn Fredly dan Abdee Slank.

Pendaftaran Via Online. Semua rangkaian acara ini terbuka untuk umum dan GRATIS. Ayo segera daftar.

Silahkan, baca lebih lanjut untuk tata cara pendaftaran online.


Nama - Nama Mahasiswa HPK 7,8 Angkatan 2013
Lihat Detail

Nama - Nama Mahasiswa HPK 7,8 Angkatan 2013

HPK 7
1. | 10300113136 | Aco Fikram S

2. | 10300113137 | Zulfaizah Nurdin

3. | 10300113139 | Hayono Harun

4. | 10300113140 | Arifuddin

5. | 10300113141 | Rahmat

6. | 10300113142 | Kamaruddin

7. | 10300113143 | Andi Sharfiah Mustari

8. | 10300113144 | Hikmah Khairani Ibrahim

9. | 10300113145 | Nur Aulia Rahma

10. | 10300113146 | Mauliyana Kahar

11. | 10300113147 | Intan Syamsuddin

12. | 10300113148 | Musdalifah

13. | 10300113149 | Moh. Fadhel J. Maronie

14. | 10300113150 | Sri Sutrasanti

15. | 10300113151 | Andi Esar Khudry Asmat

16. | 10300113152 | M. Wawan Dermawan

17. | 10300113153 | Rahmayani

18. | 10300113154 | Hasmira. H

19. | 10300113155 | Akbar Ali

20. | 10300113156 | Emmi Apriana

21. | 10300113157 | Sartika BT Gia

HPK8
1. | 1030011358 | Sulfahmi

2. | 10300113159 | Ardiansya

3. 10300113160 | Hasmi. H

4. | 10300113161 | Amriani

5. | 10300113162 | Muh. Baso Aqil Azizi

6. | 10300113163 | Muhammad Munir Majid

7. | 10300113164 | Muh. Galang Pratama

8. | 10300113165 | Nur Samsi Idris

9. | 10300113166 | Syarifuddin

10. | 10300113167 | Mawar Adri Ani

11. | 10300113168 | Anriani

12. | 10300113169 | Muhammad Ikhsan Sapa

13. | 10300113170 | Fira Yuniar

14. | 10300113171 | Riswan

15. | 10300113172 | Nurwahyuni

16. | 10300113173 | Syahrul Syarif

17. | 10300113174 | Eka Gusti Kardillah

18. | 10300113175 | Nurfadillah Ridwan

19. | 10300113176 | Yusran

20. | 10300113177 | Intan Baueja Ratu Tu

21. | 10300113178 | Hastusti

-----
                                         =====SUKSESLAH KALIAN ANAK HPK78=====
Salam _MgP^_^



*Tahun 2015 lalu, terjadi perolingan kelas. Dan itu membuat mahasiswa-mahasiswi yang tergabung dalam kelas/kelompok HPK 7,8 harus terpisah. Lalu kemudian nama kelas berubah secara otomatis menjadi HPK C dan HPK D. HPK C berada dalam satu kelas tersendiri, begitu pun dengan HPK D. Dan teman-teman yang masuk dalam HPK C yaitu diambil dari nim 10300113136 sampai nim 10300113161. Adapun untuk teman-teman yang masuk dalam kelompok/kelas HPK D yaitu diambil dari nim 10300113162 sampai nim terakhir di HPK 8. 

Oleh karena itulah, nama HPK 7,8 kemudian berganti menjadi HPK C dan D. Sedang admin di sini yakni yang bertindak sebagai ketua tingkat (keti) yaitu Muh. Galang Pratama, berada dalam kelompok/kelas HPK D. Namun, hal itu tidak menjadi halangan buat teman-teman yang dulu tergabung dalam keluarga besar HPK 7,8. Karena kita semua telah membuktikan, bahwa cita-cita kita harus selesai tepat waktu dan diwisuda dengan prestasi gemilang, tanpa harus merasa dibeda-bedakan oleh terpisahnya satu orang dengan yang lainnya. Sekian.

Muh. Galang Pratama
Mahasiswa HPK 7,8 saat melakukan photo studio di Elegant Photography, 9 Oktober 2014

Muh. Galang Pratama

Muh. Galang Pratama

HPK 7
1. | 10300113136 | Aco Fikram S

2. | 10300113137 | Zulfaizah Nurdin

3. | 10300113139 | Hayono Harun

4. | 10300113140 | Arifuddin

5. | 10300113141 | Rahmat

6. | 10300113142 | Kamaruddin

7. | 10300113143 | Andi Sharfiah Mustari

8. | 10300113144 | Hikmah Khairani Ibrahim

9. | 10300113145 | Nur Aulia Rahma

10. | 10300113146 | Mauliyana Kahar

11. | 10300113147 | Intan Syamsuddin

12. | 10300113148 | Musdalifah

13. | 10300113149 | Moh. Fadhel J. Maronie

14. | 10300113150 | Sri Sutrasanti

15. | 10300113151 | Andi Esar Khudry Asmat

16. | 10300113152 | M. Wawan Dermawan

17. | 10300113153 | Rahmayani

18. | 10300113154 | Hasmira. H

19. | 10300113155 | Akbar Ali

20. | 10300113156 | Emmi Apriana

21. | 10300113157 | Sartika BT Gia

HPK8
1. | 1030011358 | Sulfahmi

2. | 10300113159 | Ardiansya

3. 10300113160 | Hasmi. H

4. | 10300113161 | Amriani

5. | 10300113162 | Muh. Baso Aqil Azizi

6. | 10300113163 | Muhammad Munir Majid

7. | 10300113164 | Muh. Galang Pratama

8. | 10300113165 | Nur Samsi Idris

9. | 10300113166 | Syarifuddin

10. | 10300113167 | Mawar Adri Ani

11. | 10300113168 | Anriani

12. | 10300113169 | Muhammad Ikhsan Sapa

13. | 10300113170 | Fira Yuniar

14. | 10300113171 | Riswan

15. | 10300113172 | Nurwahyuni

16. | 10300113173 | Syahrul Syarif

17. | 10300113174 | Eka Gusti Kardillah

18. | 10300113175 | Nurfadillah Ridwan

19. | 10300113176 | Yusran

20. | 10300113177 | Intan Baueja Ratu Tu

21. | 10300113178 | Hastusti

-----
                                         =====SUKSESLAH KALIAN ANAK HPK78=====
Salam _MgP^_^



*Tahun 2015 lalu, terjadi perolingan kelas. Dan itu membuat mahasiswa-mahasiswi yang tergabung dalam kelas/kelompok HPK 7,8 harus terpisah. Lalu kemudian nama kelas berubah secara otomatis menjadi HPK C dan HPK D. HPK C berada dalam satu kelas tersendiri, begitu pun dengan HPK D. Dan teman-teman yang masuk dalam HPK C yaitu diambil dari nim 10300113136 sampai nim 10300113161. Adapun untuk teman-teman yang masuk dalam kelompok/kelas HPK D yaitu diambil dari nim 10300113162 sampai nim terakhir di HPK 8. 

Oleh karena itulah, nama HPK 7,8 kemudian berganti menjadi HPK C dan D. Sedang admin di sini yakni yang bertindak sebagai ketua tingkat (keti) yaitu Muh. Galang Pratama, berada dalam kelompok/kelas HPK D. Namun, hal itu tidak menjadi halangan buat teman-teman yang dulu tergabung dalam keluarga besar HPK 7,8. Karena kita semua telah membuktikan, bahwa cita-cita kita harus selesai tepat waktu dan diwisuda dengan prestasi gemilang, tanpa harus merasa dibeda-bedakan oleh terpisahnya satu orang dengan yang lainnya. Sekian.

Muh. Galang Pratama
Mahasiswa HPK 7,8 saat melakukan photo studio di Elegant Photography, 9 Oktober 2014

Muh. Galang Pratama

Muh. Galang Pratama