Semen Tonasa Selalu di Hati, Semen Tonasa Membangun KTI
Lihat Detail

Semen Tonasa Selalu di Hati, Semen Tonasa Membangun KTI



LOMBA KARYA TULIS POPULER MAHASISWA (KTM)

Semen Tonasa Selalu di Hati, Semen Tonasa Membangun KTI



Muh. Galang Pratama


  
Oleh:
MUH. GALANG PRATAMA
UIN Alauddin Makassar
mgalangpratama95@gmail.com
0853-4380-1995

------


KITA bisa melihat bagaimana gedung-gedung ditinggikan. Bangunan-bangunan pencakar langit tak henti-hentinya tumbuh dari satu wilayah ke wilayah yang lain. Dan mata kita hanya bisa menyaksikan sendiri wajah besar berubah di negara tercinta kita, Indonesia. Akan tetapi, jika membandingkan pembangunan infrastruktur antara barat dan timur, maka kita menemukan adanya disparitas. Adanya ketimpangan yang kemudian menjadi penyebab ketidakmerataan pembangunan. Maka hal ini perlu jalan keluar.  Salah satunya ialah dengan mengejar ketertinggalan itu dengan cara mempercepat pengembangan infrastruktur di wilayah timur atau kita bisa menyebutnya sebagai fokus pembangunan Kawasan Timur Indonesia (KTI). 

       Pemerintah saat ini menginginkan agar Indonesia punya daya saing dengan membangun infrastruktur sebanyak-banyaknya. Sosok pemimpin bangsa, Jokowi-Jusuf Kalla adalah representasi dari dua wilayah besar di Indonesia. Jokowi representasi dari wilayah Barat dan wakilnya Jusuf Kalla adalah wilayah Timur. Sehingga dengan hadirnya persamaan persepsi antara ke duanya, maka arah pembangunan ke depan diharapkan dapat berjalan seimbang. Ketertinggalan wilayah timur akan digenjot. Jusuf Kalla telah menjanjikan hal itu, bahwa dana Rp 300 Triliun – Rp 400 triliun akan dipakai di bidang konstruksi.
                  
        Jika pemerintah telah menyatakan rencana demikian, maka pembangunan di kawasan timur Indonesia mesti selalu digaungkan. Kawasan Timur Indonesia, merupakan kawasan yang sangat potensial. Maka di sinilah peran perusahaan yang bergerak dalam pembangunan. Ketika proyek-proyek infrastruktur sudah tumbuh di Kawasan Timur Indonesia, maka secara otomatis permintaan semen, sebagai bahan utama dalam pembangunan, akan meningkat tajam.
               
        Semen yang akan dipakai tentunya semen yang telah melalui uji standarisasi sehingga bisa menghasilkan produk unggul yang kemudian dapat menunjang infrastruktur yang berkualitas di kawasan ini. Tahun 1968 menjadi tahun sejarah bagi PT Semen Tonasa dalam menorehkan kiprahnya mendukung pembangunan infrastruktur setelah didirikan sesuai TAP MPRS No II/MPRS/1960 dengan kepemilikan saham 100 persen pemerintah. Fokus pada pembangunan di Indonesia bagian timur, PT Semen Tonasa (Persero) telah memperlihatkan buktinya. Sampai saat ini, PT Semen Tonasa telah ikut berkontribusi besar dalam membangun infrastruktur di Kawasan Timur Indonesia dengan menghadirkan berbagai bentuk produksi yang memiliki kualitas tinggi. 

        Dengan hasil penjualan yang meningkat dari tahun ke tahun, menunjukkan bukti bahwa semen tonasa sudah berada di hati masyarakat. Sehingga, konsumen pun sudah memercayakan, bahan baku dalam pembangunannya menggunakan semen tonasa. Selanjutnya, menjadi penting bagi penulis untuk menjelaskan kualitas yang dimiliki oleh PT Semen Tonasa sebagai pemegang pangsa pasar terbesar di KTI.
                  
         Dengan lahan seluas 715 hektar di Desa Biringere, Kecamatan Bungoro, Kabupaten Pangkep, sekitar 68 kilometer dari kota Makassar, PT Semen Tonasa menjadi strategis dalam memenuhi kebutuhan semen di Kawasan Timur Indonesia. Perseroan yang memiliki kapasitas terpasang 5.980.000 ton semen per tahun ini, mempunyai empat unit pabrik, yaitu Pabrik Tonasa II, Pabrik Tonasa III, Pabrik Tonasa IV dan Pabrik Tonasa V. Keempat unit pabrik tersebut menggunakan proses kering dengan kapasitas masing-masing 590.000 ton semen pertahun untuk Unit II dan III, 2.300.000 ton semen per tahun untuk Unit IV serta 2.500.000 ton semen untuk Unit V.
  
          Selain itu, perseroan ini didukung oleh jaringan distribusi yang tersebar dan diperkuat oleh delapan unit pengantongan semen yang melengkapi sarana distribusi penjualan, telah menjadikan perseroan sebagai pemasok terbesar di kawasan tersebut. Kedelapan unit pengantongan semen berlokasi di Bitung, Palu, Banjarmasin dan Ambon dengan kapasitas masing-masing 300.000 ton semen per tahun serta di Makassar, Bali dan Samarinda dengan kapasitas masing-masing 600.000 ton semen per tahun, dan di Pontianak dengan kapasitas 150.000 ton semen per tahun.

        Sarana pendukung operasi lainnya yang berkontribusi besar terhadap pencapaian laba perusahaan adalah utilitas Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dengan kapasitas 2x25 MW yang berlokasi di Desa Biringkassi, Kabupaten Pangkep, sekitar 17 km dari lokasi pabrik.

         Bukan hanya itu, sistem perencanaan dan manajemen yang dibangun oleh perseroan telah melahirkan berbagai macam program yang turut membantu pemerintah dan masyarakat. Sebut saja program Go Green, yakni sebuah program yang dijalankan sejak 2013 silam, untuk menurunkan emisi gas CO2 di unit pabrik. Ini merupakan sebuah implementasi dari CDM (Clean Development Mechanism) yang berpusat pada reduksi emisi CO2 dengan pengoptimalan penggunaan bahan bakar alternatif dan mengurangi pemakaian batubara. Sehingga kita pun yakin, berkat usaha itu, perseroan meraih Certified Emission Reduction (CER). Oleh karenya, memang bukan hanya kualitas produk yang dihasilkan oleh perseroan ini, tetapi juga produksi ramah lingkungan yang sejatinya dibutuhkan oleh banyak orang karena secara langsung akan memberikan dampak pada lingkungan.

        Demi mewujudkan pembangunan infrastruktur berkualitas, PT Semen Tonasa menurunkan semen unggulannya yaitu, Semen Portland Tipe I (OPC). Semen Portland Tipe I yaitu semen hidrolis yang dibuat dengan menggiling terak dan gipsum. Semen Portland Tipe I produksi perseroan memenuhi persyaratan SNI 15-2049-2004 Jenis I dan ASTM C150-2004 Tipe I. Semen jenis ini digunakan untuk bangunan umum dengan kekuatan tekanan yang tinggi (tidak memerlukan persyaratan khusus), seperti bangunan bertingkat tinggi, perumahan, jembatan dan jalan raya, landasan bandar udara, beton pratekan, bendungan/saluran irigasi, elemen bangunan seperti genteng, hollow, brick/batako, paving block, buis beton, roster dan lain-lain.

         Kedua, Semen Portland Komposit (PCC). Semen Portland Komposit adalah bahan peningkat hidrolis hasil penggilingan bersama terak semen Portland dan gipsum dengan satu atau lebih bahan anorganik, atau hasil pencampuran bubuk semen Portland dengan bubuk bahan anorganik lain. Semen Portland Komposit produksi PT Semen Tonasa memenuhi persyaratan SNI 15-7064-2004. Kegunaan semen jenis ini diperuntukkan untuk kontruksi beton umum, pasangan batu bata, pelesteran dan acian, selokan, jalan, pagar dinding, pembuatan elemen bangunan khusus seperti beton pra cetak, beton pra tekan, panel beton, batabeton (paving block) dan sebagainya.
  
        Sedangkan yang ketiga, Semen Portland Pozzolan (PPC). Semen Portland Pozzolan adalah semen hidrolis yang terdiri dari campuran homogen antara semen Portland dan pozzolan halus, yang diproduksi dengan menggiling klinker semen Portland dan pozzolan bersama-sama atau mencampur secara rata bubuk Semen Portland dan pozzolan atau gabungan antara menggiling dan mencampur, dimana kadar pozzoland 15-40% massa Semen Portland Pozzolan. Semen jenis ini ideal untuk bangunan bertingkat (2-3 lantai), konstruksi beton umum, konstruksi beton massa seperti pondasi plat penuh dan bendungan, konstruksi bangunan di daerah pantai, tanah berair (rawa) dan bangunan di lingkungan garam sulfat yang agresif, serta konstruksi bangunan yang memerlukan kekedapan tinggi seperti bangunan sanitasi, bangunan perairan, dan penampungan air.

         PT Semen Tonasa sudah banyak mengembangkan sayapnya dalam mengaplikasikan program-program dalam mewujudkan Corporate Social Responsibility (CSR). Baru-baru ini, Program Kemitraan CSR PT Semen Tonasa menggelontorkan dana pinjaman bagi program kemitraan UKM Tahap IV tahun 2016 berjumlah Rp 1.545.000.000 dengan rincian, Ring I sebanyak 26 unit usaha dengan nilai pinjaman sebesar Rp 613.000.000,- dan Ring II sebanyak 39 unit usaha dengan nilai pinjaman sebesar Rp 932.000.000,-. Masing-masing dari dana itu ditujukan kepada beberapa sektor usaha di antaranya usaha perdagangan, industri, perikanan, jasa, peternakan dan koperasi.

         Total penyaluran sampai September 2016 termasuk sampai tahap IV telah disalurkan dana program kemitraan sebesar 7.429.000.000,- untuk 316 unit UKM atau 58,49% dari RKA tahun 2016. Dikarenakan dana bergulir tersebut bersifat pinjaman kredit lunak yang memudahkan masyarakat karena suku bunga hanya 6% pertahun, sehingga Direktur Keuangan PT Semen Tonasa, Subhan, SE mengharapkan kepada para mitra binaan yang mendapatkan dana pinjaman agar peruntukan dana tersebut bisa benar-benar dimanfaatkan.

       Selain program bantuan UKM, ada juga program lain seperti program karyawan tonasa mengajar, program pembangunan masjid, penyerahan hewan kurban, dan lain-lain. Sehingga pantas karena berkat kepedulian PT Semen Tonasa melalui bidang Corporate Social Responsibility (CSR), baru-baru ini tanggal 25 Agustus 2016, PT Semen Tonasa meraih penghargaan sebagai Social Bussiness Innovation Company 2016 Category Cement Industry, dan Ir. Andi Unggul Attas, MBA mendapatkan penghargaan sebagai Best Green CEO 2016 Special Mention In Cement Industry yang diserahkan oleh Dr. Fadel Muhammad Founder Majalah Warta Ekonomi pada malam penganugerahan penghargaan Social Business Innovation Award dan Green CEO Award yang digelar oleh Majalah Warta Ekonomi yang merupakan salah satu perusahaan Majalah perspektif bisnis dan ekonomi terkemuka di Indonesia.

         Innovation Business Award 2016 tersebut merupakan salah satu wujud tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan, bukan hanya sebagai konsekuensi atas kegiatan operasionalnya tetapi sebagai upaya-upaya yang bertujuan meningkatkan kinerja dan nilai tambah perusahaan dalam jangka panjang dan juga berhasil menerapkan inovasi-inovasi dalam pelaksanaan program Corporate Social Responsibility (CSR).

         Selain karena perseroan mampu meraih penghargaan dari tahun ke tahun, konsistensi perseroan dalam menghasilkan produk unggul menjadi poin utama dalam menghadapi persaingan saat ini. Selain meraih berbagai penghargaan, perseroan juga telah mempertahankan sertifikasi yang telah dilekatkan pada PT Semen Tonasa yang berasal dari beberapa kriteria, yaitu Sertifikasi Produk Penggunaan Tanda SNI (SPPT-SNI), Sistem Manajemen Mutu - SMM (QMS ISO 9001:2008), Sistem Manajemen Mutu - SMM (QMS ISO 9001:2008), Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3:1996), ISPS CODE (International Code for the Security of Ships and Port Facilities), OHSAS 18001:2007 (Occupational Health & Safety Assessment Series), System Manajemen Laboraturium (ISO/ IEC 17025;2005) dan Sistem Manajemen Terintegrasi (Integrated Management System-IMS).

        Dengan berbagai penghargaan dan sertifikat serta upaya sosial yang dilakukan oleh perseroan, maka kepercayaan masyarakat untuk tetap menggunakan produk dari Semen Tonasa menjadi semakin kuat. Sehingga, pembangunan infrastruktur yang berkualitas akan segera tercapai di Kawasan Timur Indonesia. Sehingga ironi bahwa Kawasan Timur Indonesia masih ketinggalan dalam hal pembangunan infrastruktur akan terbantahkan.
          
         Kita pun mengharapkan dengan kerjasama yang terus dibangun antara produsen dan konsumen, dalam arti ikatan PT Semen Tonasa dengan masyarakat mampu menghadirkan proyek -bangunan yang bukan hanya besar tetapi juga kokoh, sekokoh tagline dari perseroan: Kokoh, Kuat dan Terpercaya. Semoga target pertumbuhan mulai dari penjualan sampai laba bersih sekitar 5 - 5,5 % untuk tahun ini bisa tercapai, sehingga jika itu tercapai maka perseroan berpotensi mencatatkan penjualan senilai Rp5,8 triliun pada tahun ini. Dan pos laba bersih, Semen Tonasa berpotensi meraih Rp586 Miliar di tahun ini,  yang artinya meningkat dari capaian tahun lalu Rp556 Miliar. Sukses selalu PT Semen Tonasa. Semoga Tonasa Selalu di Hati, Karena Tonasa Membangun KTI. Selamat Ulang Tahun ke-48. Semoga! (*)

---


Sumber Bacaan

http://www.antarasulsel.com

http://www.cnnindonesia.com

http://industri.bisnis.com

http://www.sementonasa.co.id


_

Muh. Galang Pratama, Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar, Semester VII. Tinggal di Jl. Dahlia No 17 Batangkaluku-Sungguminasa, Kabupaten Gowa, Sulsel (Kode Pos 92111).
E-mail : mgalangpratama95@gmail.com, No HP 0853-4380-1995






LOMBA KARYA TULIS POPULER MAHASISWA (KTM)

Semen Tonasa Selalu di Hati, Semen Tonasa Membangun KTI



Muh. Galang Pratama


  
Oleh:
MUH. GALANG PRATAMA
UIN Alauddin Makassar
mgalangpratama95@gmail.com
0853-4380-1995

------


KITA bisa melihat bagaimana gedung-gedung ditinggikan. Bangunan-bangunan pencakar langit tak henti-hentinya tumbuh dari satu wilayah ke wilayah yang lain. Dan mata kita hanya bisa menyaksikan sendiri wajah besar berubah di negara tercinta kita, Indonesia. Akan tetapi, jika membandingkan pembangunan infrastruktur antara barat dan timur, maka kita menemukan adanya disparitas. Adanya ketimpangan yang kemudian menjadi penyebab ketidakmerataan pembangunan. Maka hal ini perlu jalan keluar.  Salah satunya ialah dengan mengejar ketertinggalan itu dengan cara mempercepat pengembangan infrastruktur di wilayah timur atau kita bisa menyebutnya sebagai fokus pembangunan Kawasan Timur Indonesia (KTI). 

       Pemerintah saat ini menginginkan agar Indonesia punya daya saing dengan membangun infrastruktur sebanyak-banyaknya. Sosok pemimpin bangsa, Jokowi-Jusuf Kalla adalah representasi dari dua wilayah besar di Indonesia. Jokowi representasi dari wilayah Barat dan wakilnya Jusuf Kalla adalah wilayah Timur. Sehingga dengan hadirnya persamaan persepsi antara ke duanya, maka arah pembangunan ke depan diharapkan dapat berjalan seimbang. Ketertinggalan wilayah timur akan digenjot. Jusuf Kalla telah menjanjikan hal itu, bahwa dana Rp 300 Triliun – Rp 400 triliun akan dipakai di bidang konstruksi.
                  
        Jika pemerintah telah menyatakan rencana demikian, maka pembangunan di kawasan timur Indonesia mesti selalu digaungkan. Kawasan Timur Indonesia, merupakan kawasan yang sangat potensial. Maka di sinilah peran perusahaan yang bergerak dalam pembangunan. Ketika proyek-proyek infrastruktur sudah tumbuh di Kawasan Timur Indonesia, maka secara otomatis permintaan semen, sebagai bahan utama dalam pembangunan, akan meningkat tajam.
               
        Semen yang akan dipakai tentunya semen yang telah melalui uji standarisasi sehingga bisa menghasilkan produk unggul yang kemudian dapat menunjang infrastruktur yang berkualitas di kawasan ini. Tahun 1968 menjadi tahun sejarah bagi PT Semen Tonasa dalam menorehkan kiprahnya mendukung pembangunan infrastruktur setelah didirikan sesuai TAP MPRS No II/MPRS/1960 dengan kepemilikan saham 100 persen pemerintah. Fokus pada pembangunan di Indonesia bagian timur, PT Semen Tonasa (Persero) telah memperlihatkan buktinya. Sampai saat ini, PT Semen Tonasa telah ikut berkontribusi besar dalam membangun infrastruktur di Kawasan Timur Indonesia dengan menghadirkan berbagai bentuk produksi yang memiliki kualitas tinggi. 

        Dengan hasil penjualan yang meningkat dari tahun ke tahun, menunjukkan bukti bahwa semen tonasa sudah berada di hati masyarakat. Sehingga, konsumen pun sudah memercayakan, bahan baku dalam pembangunannya menggunakan semen tonasa. Selanjutnya, menjadi penting bagi penulis untuk menjelaskan kualitas yang dimiliki oleh PT Semen Tonasa sebagai pemegang pangsa pasar terbesar di KTI.
                  
         Dengan lahan seluas 715 hektar di Desa Biringere, Kecamatan Bungoro, Kabupaten Pangkep, sekitar 68 kilometer dari kota Makassar, PT Semen Tonasa menjadi strategis dalam memenuhi kebutuhan semen di Kawasan Timur Indonesia. Perseroan yang memiliki kapasitas terpasang 5.980.000 ton semen per tahun ini, mempunyai empat unit pabrik, yaitu Pabrik Tonasa II, Pabrik Tonasa III, Pabrik Tonasa IV dan Pabrik Tonasa V. Keempat unit pabrik tersebut menggunakan proses kering dengan kapasitas masing-masing 590.000 ton semen pertahun untuk Unit II dan III, 2.300.000 ton semen per tahun untuk Unit IV serta 2.500.000 ton semen untuk Unit V.
  
          Selain itu, perseroan ini didukung oleh jaringan distribusi yang tersebar dan diperkuat oleh delapan unit pengantongan semen yang melengkapi sarana distribusi penjualan, telah menjadikan perseroan sebagai pemasok terbesar di kawasan tersebut. Kedelapan unit pengantongan semen berlokasi di Bitung, Palu, Banjarmasin dan Ambon dengan kapasitas masing-masing 300.000 ton semen per tahun serta di Makassar, Bali dan Samarinda dengan kapasitas masing-masing 600.000 ton semen per tahun, dan di Pontianak dengan kapasitas 150.000 ton semen per tahun.

        Sarana pendukung operasi lainnya yang berkontribusi besar terhadap pencapaian laba perusahaan adalah utilitas Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dengan kapasitas 2x25 MW yang berlokasi di Desa Biringkassi, Kabupaten Pangkep, sekitar 17 km dari lokasi pabrik.

         Bukan hanya itu, sistem perencanaan dan manajemen yang dibangun oleh perseroan telah melahirkan berbagai macam program yang turut membantu pemerintah dan masyarakat. Sebut saja program Go Green, yakni sebuah program yang dijalankan sejak 2013 silam, untuk menurunkan emisi gas CO2 di unit pabrik. Ini merupakan sebuah implementasi dari CDM (Clean Development Mechanism) yang berpusat pada reduksi emisi CO2 dengan pengoptimalan penggunaan bahan bakar alternatif dan mengurangi pemakaian batubara. Sehingga kita pun yakin, berkat usaha itu, perseroan meraih Certified Emission Reduction (CER). Oleh karenya, memang bukan hanya kualitas produk yang dihasilkan oleh perseroan ini, tetapi juga produksi ramah lingkungan yang sejatinya dibutuhkan oleh banyak orang karena secara langsung akan memberikan dampak pada lingkungan.

        Demi mewujudkan pembangunan infrastruktur berkualitas, PT Semen Tonasa menurunkan semen unggulannya yaitu, Semen Portland Tipe I (OPC). Semen Portland Tipe I yaitu semen hidrolis yang dibuat dengan menggiling terak dan gipsum. Semen Portland Tipe I produksi perseroan memenuhi persyaratan SNI 15-2049-2004 Jenis I dan ASTM C150-2004 Tipe I. Semen jenis ini digunakan untuk bangunan umum dengan kekuatan tekanan yang tinggi (tidak memerlukan persyaratan khusus), seperti bangunan bertingkat tinggi, perumahan, jembatan dan jalan raya, landasan bandar udara, beton pratekan, bendungan/saluran irigasi, elemen bangunan seperti genteng, hollow, brick/batako, paving block, buis beton, roster dan lain-lain.

         Kedua, Semen Portland Komposit (PCC). Semen Portland Komposit adalah bahan peningkat hidrolis hasil penggilingan bersama terak semen Portland dan gipsum dengan satu atau lebih bahan anorganik, atau hasil pencampuran bubuk semen Portland dengan bubuk bahan anorganik lain. Semen Portland Komposit produksi PT Semen Tonasa memenuhi persyaratan SNI 15-7064-2004. Kegunaan semen jenis ini diperuntukkan untuk kontruksi beton umum, pasangan batu bata, pelesteran dan acian, selokan, jalan, pagar dinding, pembuatan elemen bangunan khusus seperti beton pra cetak, beton pra tekan, panel beton, batabeton (paving block) dan sebagainya.
  
        Sedangkan yang ketiga, Semen Portland Pozzolan (PPC). Semen Portland Pozzolan adalah semen hidrolis yang terdiri dari campuran homogen antara semen Portland dan pozzolan halus, yang diproduksi dengan menggiling klinker semen Portland dan pozzolan bersama-sama atau mencampur secara rata bubuk Semen Portland dan pozzolan atau gabungan antara menggiling dan mencampur, dimana kadar pozzoland 15-40% massa Semen Portland Pozzolan. Semen jenis ini ideal untuk bangunan bertingkat (2-3 lantai), konstruksi beton umum, konstruksi beton massa seperti pondasi plat penuh dan bendungan, konstruksi bangunan di daerah pantai, tanah berair (rawa) dan bangunan di lingkungan garam sulfat yang agresif, serta konstruksi bangunan yang memerlukan kekedapan tinggi seperti bangunan sanitasi, bangunan perairan, dan penampungan air.

         PT Semen Tonasa sudah banyak mengembangkan sayapnya dalam mengaplikasikan program-program dalam mewujudkan Corporate Social Responsibility (CSR). Baru-baru ini, Program Kemitraan CSR PT Semen Tonasa menggelontorkan dana pinjaman bagi program kemitraan UKM Tahap IV tahun 2016 berjumlah Rp 1.545.000.000 dengan rincian, Ring I sebanyak 26 unit usaha dengan nilai pinjaman sebesar Rp 613.000.000,- dan Ring II sebanyak 39 unit usaha dengan nilai pinjaman sebesar Rp 932.000.000,-. Masing-masing dari dana itu ditujukan kepada beberapa sektor usaha di antaranya usaha perdagangan, industri, perikanan, jasa, peternakan dan koperasi.

         Total penyaluran sampai September 2016 termasuk sampai tahap IV telah disalurkan dana program kemitraan sebesar 7.429.000.000,- untuk 316 unit UKM atau 58,49% dari RKA tahun 2016. Dikarenakan dana bergulir tersebut bersifat pinjaman kredit lunak yang memudahkan masyarakat karena suku bunga hanya 6% pertahun, sehingga Direktur Keuangan PT Semen Tonasa, Subhan, SE mengharapkan kepada para mitra binaan yang mendapatkan dana pinjaman agar peruntukan dana tersebut bisa benar-benar dimanfaatkan.

       Selain program bantuan UKM, ada juga program lain seperti program karyawan tonasa mengajar, program pembangunan masjid, penyerahan hewan kurban, dan lain-lain. Sehingga pantas karena berkat kepedulian PT Semen Tonasa melalui bidang Corporate Social Responsibility (CSR), baru-baru ini tanggal 25 Agustus 2016, PT Semen Tonasa meraih penghargaan sebagai Social Bussiness Innovation Company 2016 Category Cement Industry, dan Ir. Andi Unggul Attas, MBA mendapatkan penghargaan sebagai Best Green CEO 2016 Special Mention In Cement Industry yang diserahkan oleh Dr. Fadel Muhammad Founder Majalah Warta Ekonomi pada malam penganugerahan penghargaan Social Business Innovation Award dan Green CEO Award yang digelar oleh Majalah Warta Ekonomi yang merupakan salah satu perusahaan Majalah perspektif bisnis dan ekonomi terkemuka di Indonesia.

         Innovation Business Award 2016 tersebut merupakan salah satu wujud tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan, bukan hanya sebagai konsekuensi atas kegiatan operasionalnya tetapi sebagai upaya-upaya yang bertujuan meningkatkan kinerja dan nilai tambah perusahaan dalam jangka panjang dan juga berhasil menerapkan inovasi-inovasi dalam pelaksanaan program Corporate Social Responsibility (CSR).

         Selain karena perseroan mampu meraih penghargaan dari tahun ke tahun, konsistensi perseroan dalam menghasilkan produk unggul menjadi poin utama dalam menghadapi persaingan saat ini. Selain meraih berbagai penghargaan, perseroan juga telah mempertahankan sertifikasi yang telah dilekatkan pada PT Semen Tonasa yang berasal dari beberapa kriteria, yaitu Sertifikasi Produk Penggunaan Tanda SNI (SPPT-SNI), Sistem Manajemen Mutu - SMM (QMS ISO 9001:2008), Sistem Manajemen Mutu - SMM (QMS ISO 9001:2008), Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3:1996), ISPS CODE (International Code for the Security of Ships and Port Facilities), OHSAS 18001:2007 (Occupational Health & Safety Assessment Series), System Manajemen Laboraturium (ISO/ IEC 17025;2005) dan Sistem Manajemen Terintegrasi (Integrated Management System-IMS).

        Dengan berbagai penghargaan dan sertifikat serta upaya sosial yang dilakukan oleh perseroan, maka kepercayaan masyarakat untuk tetap menggunakan produk dari Semen Tonasa menjadi semakin kuat. Sehingga, pembangunan infrastruktur yang berkualitas akan segera tercapai di Kawasan Timur Indonesia. Sehingga ironi bahwa Kawasan Timur Indonesia masih ketinggalan dalam hal pembangunan infrastruktur akan terbantahkan.
          
         Kita pun mengharapkan dengan kerjasama yang terus dibangun antara produsen dan konsumen, dalam arti ikatan PT Semen Tonasa dengan masyarakat mampu menghadirkan proyek -bangunan yang bukan hanya besar tetapi juga kokoh, sekokoh tagline dari perseroan: Kokoh, Kuat dan Terpercaya. Semoga target pertumbuhan mulai dari penjualan sampai laba bersih sekitar 5 - 5,5 % untuk tahun ini bisa tercapai, sehingga jika itu tercapai maka perseroan berpotensi mencatatkan penjualan senilai Rp5,8 triliun pada tahun ini. Dan pos laba bersih, Semen Tonasa berpotensi meraih Rp586 Miliar di tahun ini,  yang artinya meningkat dari capaian tahun lalu Rp556 Miliar. Sukses selalu PT Semen Tonasa. Semoga Tonasa Selalu di Hati, Karena Tonasa Membangun KTI. Selamat Ulang Tahun ke-48. Semoga! (*)

---


Sumber Bacaan

http://www.antarasulsel.com

http://www.cnnindonesia.com

http://industri.bisnis.com

http://www.sementonasa.co.id


_

Muh. Galang Pratama, Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar, Semester VII. Tinggal di Jl. Dahlia No 17 Batangkaluku-Sungguminasa, Kabupaten Gowa, Sulsel (Kode Pos 92111).
E-mail : mgalangpratama95@gmail.com, No HP 0853-4380-1995






LOMBA KARYA TULIS POPULER MAHASISWA (KTM)

Semen Tonasa Selalu di Hati, Semen Tonasa Membangun KTI



Muh. Galang Pratama


  
Oleh:
MUH. GALANG PRATAMA
UIN Alauddin Makassar
mgalangpratama95@gmail.com
0853-4380-1995

------


KITA bisa melihat bagaimana gedung-gedung ditinggikan. Bangunan-bangunan pencakar langit tak henti-hentinya tumbuh dari satu wilayah ke wilayah yang lain. Dan mata kita hanya bisa menyaksikan sendiri wajah besar berubah di negara tercinta kita, Indonesia. Akan tetapi, jika membandingkan pembangunan infrastruktur antara barat dan timur, maka kita menemukan adanya disparitas. Adanya ketimpangan yang kemudian menjadi penyebab ketidakmerataan pembangunan. Maka hal ini perlu jalan keluar.  Salah satunya ialah dengan mengejar ketertinggalan itu dengan cara mempercepat pengembangan infrastruktur di wilayah timur atau kita bisa menyebutnya sebagai fokus pembangunan Kawasan Timur Indonesia (KTI). 

       Pemerintah saat ini menginginkan agar Indonesia punya daya saing dengan membangun infrastruktur sebanyak-banyaknya. Sosok pemimpin bangsa, Jokowi-Jusuf Kalla adalah representasi dari dua wilayah besar di Indonesia. Jokowi representasi dari wilayah Barat dan wakilnya Jusuf Kalla adalah wilayah Timur. Sehingga dengan hadirnya persamaan persepsi antara ke duanya, maka arah pembangunan ke depan diharapkan dapat berjalan seimbang. Ketertinggalan wilayah timur akan digenjot. Jusuf Kalla telah menjanjikan hal itu, bahwa dana Rp 300 Triliun – Rp 400 triliun akan dipakai di bidang konstruksi.
                  
        Jika pemerintah telah menyatakan rencana demikian, maka pembangunan di kawasan timur Indonesia mesti selalu digaungkan. Kawasan Timur Indonesia, merupakan kawasan yang sangat potensial. Maka di sinilah peran perusahaan yang bergerak dalam pembangunan. Ketika proyek-proyek infrastruktur sudah tumbuh di Kawasan Timur Indonesia, maka secara otomatis permintaan semen, sebagai bahan utama dalam pembangunan, akan meningkat tajam.
               
        Semen yang akan dipakai tentunya semen yang telah melalui uji standarisasi sehingga bisa menghasilkan produk unggul yang kemudian dapat menunjang infrastruktur yang berkualitas di kawasan ini. Tahun 1968 menjadi tahun sejarah bagi PT Semen Tonasa dalam menorehkan kiprahnya mendukung pembangunan infrastruktur setelah didirikan sesuai TAP MPRS No II/MPRS/1960 dengan kepemilikan saham 100 persen pemerintah. Fokus pada pembangunan di Indonesia bagian timur, PT Semen Tonasa (Persero) telah memperlihatkan buktinya. Sampai saat ini, PT Semen Tonasa telah ikut berkontribusi besar dalam membangun infrastruktur di Kawasan Timur Indonesia dengan menghadirkan berbagai bentuk produksi yang memiliki kualitas tinggi. 

        Dengan hasil penjualan yang meningkat dari tahun ke tahun, menunjukkan bukti bahwa semen tonasa sudah berada di hati masyarakat. Sehingga, konsumen pun sudah memercayakan, bahan baku dalam pembangunannya menggunakan semen tonasa. Selanjutnya, menjadi penting bagi penulis untuk menjelaskan kualitas yang dimiliki oleh PT Semen Tonasa sebagai pemegang pangsa pasar terbesar di KTI.
                  
         Dengan lahan seluas 715 hektar di Desa Biringere, Kecamatan Bungoro, Kabupaten Pangkep, sekitar 68 kilometer dari kota Makassar, PT Semen Tonasa menjadi strategis dalam memenuhi kebutuhan semen di Kawasan Timur Indonesia. Perseroan yang memiliki kapasitas terpasang 5.980.000 ton semen per tahun ini, mempunyai empat unit pabrik, yaitu Pabrik Tonasa II, Pabrik Tonasa III, Pabrik Tonasa IV dan Pabrik Tonasa V. Keempat unit pabrik tersebut menggunakan proses kering dengan kapasitas masing-masing 590.000 ton semen pertahun untuk Unit II dan III, 2.300.000 ton semen per tahun untuk Unit IV serta 2.500.000 ton semen untuk Unit V.
  
          Selain itu, perseroan ini didukung oleh jaringan distribusi yang tersebar dan diperkuat oleh delapan unit pengantongan semen yang melengkapi sarana distribusi penjualan, telah menjadikan perseroan sebagai pemasok terbesar di kawasan tersebut. Kedelapan unit pengantongan semen berlokasi di Bitung, Palu, Banjarmasin dan Ambon dengan kapasitas masing-masing 300.000 ton semen per tahun serta di Makassar, Bali dan Samarinda dengan kapasitas masing-masing 600.000 ton semen per tahun, dan di Pontianak dengan kapasitas 150.000 ton semen per tahun.

        Sarana pendukung operasi lainnya yang berkontribusi besar terhadap pencapaian laba perusahaan adalah utilitas Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dengan kapasitas 2x25 MW yang berlokasi di Desa Biringkassi, Kabupaten Pangkep, sekitar 17 km dari lokasi pabrik.

         Bukan hanya itu, sistem perencanaan dan manajemen yang dibangun oleh perseroan telah melahirkan berbagai macam program yang turut membantu pemerintah dan masyarakat. Sebut saja program Go Green, yakni sebuah program yang dijalankan sejak 2013 silam, untuk menurunkan emisi gas CO2 di unit pabrik. Ini merupakan sebuah implementasi dari CDM (Clean Development Mechanism) yang berpusat pada reduksi emisi CO2 dengan pengoptimalan penggunaan bahan bakar alternatif dan mengurangi pemakaian batubara. Sehingga kita pun yakin, berkat usaha itu, perseroan meraih Certified Emission Reduction (CER). Oleh karenya, memang bukan hanya kualitas produk yang dihasilkan oleh perseroan ini, tetapi juga produksi ramah lingkungan yang sejatinya dibutuhkan oleh banyak orang karena secara langsung akan memberikan dampak pada lingkungan.

        Demi mewujudkan pembangunan infrastruktur berkualitas, PT Semen Tonasa menurunkan semen unggulannya yaitu, Semen Portland Tipe I (OPC). Semen Portland Tipe I yaitu semen hidrolis yang dibuat dengan menggiling terak dan gipsum. Semen Portland Tipe I produksi perseroan memenuhi persyaratan SNI 15-2049-2004 Jenis I dan ASTM C150-2004 Tipe I. Semen jenis ini digunakan untuk bangunan umum dengan kekuatan tekanan yang tinggi (tidak memerlukan persyaratan khusus), seperti bangunan bertingkat tinggi, perumahan, jembatan dan jalan raya, landasan bandar udara, beton pratekan, bendungan/saluran irigasi, elemen bangunan seperti genteng, hollow, brick/batako, paving block, buis beton, roster dan lain-lain.

         Kedua, Semen Portland Komposit (PCC). Semen Portland Komposit adalah bahan peningkat hidrolis hasil penggilingan bersama terak semen Portland dan gipsum dengan satu atau lebih bahan anorganik, atau hasil pencampuran bubuk semen Portland dengan bubuk bahan anorganik lain. Semen Portland Komposit produksi PT Semen Tonasa memenuhi persyaratan SNI 15-7064-2004. Kegunaan semen jenis ini diperuntukkan untuk kontruksi beton umum, pasangan batu bata, pelesteran dan acian, selokan, jalan, pagar dinding, pembuatan elemen bangunan khusus seperti beton pra cetak, beton pra tekan, panel beton, batabeton (paving block) dan sebagainya.
  
        Sedangkan yang ketiga, Semen Portland Pozzolan (PPC). Semen Portland Pozzolan adalah semen hidrolis yang terdiri dari campuran homogen antara semen Portland dan pozzolan halus, yang diproduksi dengan menggiling klinker semen Portland dan pozzolan bersama-sama atau mencampur secara rata bubuk Semen Portland dan pozzolan atau gabungan antara menggiling dan mencampur, dimana kadar pozzoland 15-40% massa Semen Portland Pozzolan. Semen jenis ini ideal untuk bangunan bertingkat (2-3 lantai), konstruksi beton umum, konstruksi beton massa seperti pondasi plat penuh dan bendungan, konstruksi bangunan di daerah pantai, tanah berair (rawa) dan bangunan di lingkungan garam sulfat yang agresif, serta konstruksi bangunan yang memerlukan kekedapan tinggi seperti bangunan sanitasi, bangunan perairan, dan penampungan air.

         PT Semen Tonasa sudah banyak mengembangkan sayapnya dalam mengaplikasikan program-program dalam mewujudkan Corporate Social Responsibility (CSR). Baru-baru ini, Program Kemitraan CSR PT Semen Tonasa menggelontorkan dana pinjaman bagi program kemitraan UKM Tahap IV tahun 2016 berjumlah Rp 1.545.000.000 dengan rincian, Ring I sebanyak 26 unit usaha dengan nilai pinjaman sebesar Rp 613.000.000,- dan Ring II sebanyak 39 unit usaha dengan nilai pinjaman sebesar Rp 932.000.000,-. Masing-masing dari dana itu ditujukan kepada beberapa sektor usaha di antaranya usaha perdagangan, industri, perikanan, jasa, peternakan dan koperasi.

         Total penyaluran sampai September 2016 termasuk sampai tahap IV telah disalurkan dana program kemitraan sebesar 7.429.000.000,- untuk 316 unit UKM atau 58,49% dari RKA tahun 2016. Dikarenakan dana bergulir tersebut bersifat pinjaman kredit lunak yang memudahkan masyarakat karena suku bunga hanya 6% pertahun, sehingga Direktur Keuangan PT Semen Tonasa, Subhan, SE mengharapkan kepada para mitra binaan yang mendapatkan dana pinjaman agar peruntukan dana tersebut bisa benar-benar dimanfaatkan.

       Selain program bantuan UKM, ada juga program lain seperti program karyawan tonasa mengajar, program pembangunan masjid, penyerahan hewan kurban, dan lain-lain. Sehingga pantas karena berkat kepedulian PT Semen Tonasa melalui bidang Corporate Social Responsibility (CSR), baru-baru ini tanggal 25 Agustus 2016, PT Semen Tonasa meraih penghargaan sebagai Social Bussiness Innovation Company 2016 Category Cement Industry, dan Ir. Andi Unggul Attas, MBA mendapatkan penghargaan sebagai Best Green CEO 2016 Special Mention In Cement Industry yang diserahkan oleh Dr. Fadel Muhammad Founder Majalah Warta Ekonomi pada malam penganugerahan penghargaan Social Business Innovation Award dan Green CEO Award yang digelar oleh Majalah Warta Ekonomi yang merupakan salah satu perusahaan Majalah perspektif bisnis dan ekonomi terkemuka di Indonesia.

         Innovation Business Award 2016 tersebut merupakan salah satu wujud tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan, bukan hanya sebagai konsekuensi atas kegiatan operasionalnya tetapi sebagai upaya-upaya yang bertujuan meningkatkan kinerja dan nilai tambah perusahaan dalam jangka panjang dan juga berhasil menerapkan inovasi-inovasi dalam pelaksanaan program Corporate Social Responsibility (CSR).

         Selain karena perseroan mampu meraih penghargaan dari tahun ke tahun, konsistensi perseroan dalam menghasilkan produk unggul menjadi poin utama dalam menghadapi persaingan saat ini. Selain meraih berbagai penghargaan, perseroan juga telah mempertahankan sertifikasi yang telah dilekatkan pada PT Semen Tonasa yang berasal dari beberapa kriteria, yaitu Sertifikasi Produk Penggunaan Tanda SNI (SPPT-SNI), Sistem Manajemen Mutu - SMM (QMS ISO 9001:2008), Sistem Manajemen Mutu - SMM (QMS ISO 9001:2008), Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3:1996), ISPS CODE (International Code for the Security of Ships and Port Facilities), OHSAS 18001:2007 (Occupational Health & Safety Assessment Series), System Manajemen Laboraturium (ISO/ IEC 17025;2005) dan Sistem Manajemen Terintegrasi (Integrated Management System-IMS).

        Dengan berbagai penghargaan dan sertifikat serta upaya sosial yang dilakukan oleh perseroan, maka kepercayaan masyarakat untuk tetap menggunakan produk dari Semen Tonasa menjadi semakin kuat. Sehingga, pembangunan infrastruktur yang berkualitas akan segera tercapai di Kawasan Timur Indonesia. Sehingga ironi bahwa Kawasan Timur Indonesia masih ketinggalan dalam hal pembangunan infrastruktur akan terbantahkan.
          
         Kita pun mengharapkan dengan kerjasama yang terus dibangun antara produsen dan konsumen, dalam arti ikatan PT Semen Tonasa dengan masyarakat mampu menghadirkan proyek -bangunan yang bukan hanya besar tetapi juga kokoh, sekokoh tagline dari perseroan: Kokoh, Kuat dan Terpercaya. Semoga target pertumbuhan mulai dari penjualan sampai laba bersih sekitar 5 - 5,5 % untuk tahun ini bisa tercapai, sehingga jika itu tercapai maka perseroan berpotensi mencatatkan penjualan senilai Rp5,8 triliun pada tahun ini. Dan pos laba bersih, Semen Tonasa berpotensi meraih Rp586 Miliar di tahun ini,  yang artinya meningkat dari capaian tahun lalu Rp556 Miliar. Sukses selalu PT Semen Tonasa. Semoga Tonasa Selalu di Hati, Karena Tonasa Membangun KTI. Selamat Ulang Tahun ke-48. Semoga! (*)

---


Sumber Bacaan

http://www.antarasulsel.com

http://www.cnnindonesia.com

http://industri.bisnis.com

http://www.sementonasa.co.id


_

Muh. Galang Pratama, Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar, Semester VII. Tinggal di Jl. Dahlia No 17 Batangkaluku-Sungguminasa, Kabupaten Gowa, Sulsel (Kode Pos 92111).
E-mail : mgalangpratama95@gmail.com, No HP 0853-4380-1995






LOMBA KARYA TULIS POPULER MAHASISWA (KTM)

Semen Tonasa Selalu di Hati, Semen Tonasa Membangun KTI



Muh. Galang Pratama


  
Oleh:
MUH. GALANG PRATAMA
UIN Alauddin Makassar
mgalangpratama95@gmail.com
0853-4380-1995

------


KITA bisa melihat bagaimana gedung-gedung ditinggikan. Bangunan-bangunan pencakar langit tak henti-hentinya tumbuh dari satu wilayah ke wilayah yang lain. Dan mata kita hanya bisa menyaksikan sendiri wajah besar berubah di negara tercinta kita, Indonesia. Akan tetapi, jika membandingkan pembangunan infrastruktur antara barat dan timur, maka kita menemukan adanya disparitas. Adanya ketimpangan yang kemudian menjadi penyebab ketidakmerataan pembangunan. Maka hal ini perlu jalan keluar.  Salah satunya ialah dengan mengejar ketertinggalan itu dengan cara mempercepat pengembangan infrastruktur di wilayah timur atau kita bisa menyebutnya sebagai fokus pembangunan Kawasan Timur Indonesia (KTI). 

       Pemerintah saat ini menginginkan agar Indonesia punya daya saing dengan membangun infrastruktur sebanyak-banyaknya. Sosok pemimpin bangsa, Jokowi-Jusuf Kalla adalah representasi dari dua wilayah besar di Indonesia. Jokowi representasi dari wilayah Barat dan wakilnya Jusuf Kalla adalah wilayah Timur. Sehingga dengan hadirnya persamaan persepsi antara ke duanya, maka arah pembangunan ke depan diharapkan dapat berjalan seimbang. Ketertinggalan wilayah timur akan digenjot. Jusuf Kalla telah menjanjikan hal itu, bahwa dana Rp 300 Triliun – Rp 400 triliun akan dipakai di bidang konstruksi.
                  
        Jika pemerintah telah menyatakan rencana demikian, maka pembangunan di kawasan timur Indonesia mesti selalu digaungkan. Kawasan Timur Indonesia, merupakan kawasan yang sangat potensial. Maka di sinilah peran perusahaan yang bergerak dalam pembangunan. Ketika proyek-proyek infrastruktur sudah tumbuh di Kawasan Timur Indonesia, maka secara otomatis permintaan semen, sebagai bahan utama dalam pembangunan, akan meningkat tajam.
               
        Semen yang akan dipakai tentunya semen yang telah melalui uji standarisasi sehingga bisa menghasilkan produk unggul yang kemudian dapat menunjang infrastruktur yang berkualitas di kawasan ini. Tahun 1968 menjadi tahun sejarah bagi PT Semen Tonasa dalam menorehkan kiprahnya mendukung pembangunan infrastruktur setelah didirikan sesuai TAP MPRS No II/MPRS/1960 dengan kepemilikan saham 100 persen pemerintah. Fokus pada pembangunan di Indonesia bagian timur, PT Semen Tonasa (Persero) telah memperlihatkan buktinya. Sampai saat ini, PT Semen Tonasa telah ikut berkontribusi besar dalam membangun infrastruktur di Kawasan Timur Indonesia dengan menghadirkan berbagai bentuk produksi yang memiliki kualitas tinggi. 

        Dengan hasil penjualan yang meningkat dari tahun ke tahun, menunjukkan bukti bahwa semen tonasa sudah berada di hati masyarakat. Sehingga, konsumen pun sudah memercayakan, bahan baku dalam pembangunannya menggunakan semen tonasa. Selanjutnya, menjadi penting bagi penulis untuk menjelaskan kualitas yang dimiliki oleh PT Semen Tonasa sebagai pemegang pangsa pasar terbesar di KTI.
                  
         Dengan lahan seluas 715 hektar di Desa Biringere, Kecamatan Bungoro, Kabupaten Pangkep, sekitar 68 kilometer dari kota Makassar, PT Semen Tonasa menjadi strategis dalam memenuhi kebutuhan semen di Kawasan Timur Indonesia. Perseroan yang memiliki kapasitas terpasang 5.980.000 ton semen per tahun ini, mempunyai empat unit pabrik, yaitu Pabrik Tonasa II, Pabrik Tonasa III, Pabrik Tonasa IV dan Pabrik Tonasa V. Keempat unit pabrik tersebut menggunakan proses kering dengan kapasitas masing-masing 590.000 ton semen pertahun untuk Unit II dan III, 2.300.000 ton semen per tahun untuk Unit IV serta 2.500.000 ton semen untuk Unit V.
  
          Selain itu, perseroan ini didukung oleh jaringan distribusi yang tersebar dan diperkuat oleh delapan unit pengantongan semen yang melengkapi sarana distribusi penjualan, telah menjadikan perseroan sebagai pemasok terbesar di kawasan tersebut. Kedelapan unit pengantongan semen berlokasi di Bitung, Palu, Banjarmasin dan Ambon dengan kapasitas masing-masing 300.000 ton semen per tahun serta di Makassar, Bali dan Samarinda dengan kapasitas masing-masing 600.000 ton semen per tahun, dan di Pontianak dengan kapasitas 150.000 ton semen per tahun.

        Sarana pendukung operasi lainnya yang berkontribusi besar terhadap pencapaian laba perusahaan adalah utilitas Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dengan kapasitas 2x25 MW yang berlokasi di Desa Biringkassi, Kabupaten Pangkep, sekitar 17 km dari lokasi pabrik.

         Bukan hanya itu, sistem perencanaan dan manajemen yang dibangun oleh perseroan telah melahirkan berbagai macam program yang turut membantu pemerintah dan masyarakat. Sebut saja program Go Green, yakni sebuah program yang dijalankan sejak 2013 silam, untuk menurunkan emisi gas CO2 di unit pabrik. Ini merupakan sebuah implementasi dari CDM (Clean Development Mechanism) yang berpusat pada reduksi emisi CO2 dengan pengoptimalan penggunaan bahan bakar alternatif dan mengurangi pemakaian batubara. Sehingga kita pun yakin, berkat usaha itu, perseroan meraih Certified Emission Reduction (CER). Oleh karenya, memang bukan hanya kualitas produk yang dihasilkan oleh perseroan ini, tetapi juga produksi ramah lingkungan yang sejatinya dibutuhkan oleh banyak orang karena secara langsung akan memberikan dampak pada lingkungan.

        Demi mewujudkan pembangunan infrastruktur berkualitas, PT Semen Tonasa menurunkan semen unggulannya yaitu, Semen Portland Tipe I (OPC). Semen Portland Tipe I yaitu semen hidrolis yang dibuat dengan menggiling terak dan gipsum. Semen Portland Tipe I produksi perseroan memenuhi persyaratan SNI 15-2049-2004 Jenis I dan ASTM C150-2004 Tipe I. Semen jenis ini digunakan untuk bangunan umum dengan kekuatan tekanan yang tinggi (tidak memerlukan persyaratan khusus), seperti bangunan bertingkat tinggi, perumahan, jembatan dan jalan raya, landasan bandar udara, beton pratekan, bendungan/saluran irigasi, elemen bangunan seperti genteng, hollow, brick/batako, paving block, buis beton, roster dan lain-lain.

         Kedua, Semen Portland Komposit (PCC). Semen Portland Komposit adalah bahan peningkat hidrolis hasil penggilingan bersama terak semen Portland dan gipsum dengan satu atau lebih bahan anorganik, atau hasil pencampuran bubuk semen Portland dengan bubuk bahan anorganik lain. Semen Portland Komposit produksi PT Semen Tonasa memenuhi persyaratan SNI 15-7064-2004. Kegunaan semen jenis ini diperuntukkan untuk kontruksi beton umum, pasangan batu bata, pelesteran dan acian, selokan, jalan, pagar dinding, pembuatan elemen bangunan khusus seperti beton pra cetak, beton pra tekan, panel beton, batabeton (paving block) dan sebagainya.
  
        Sedangkan yang ketiga, Semen Portland Pozzolan (PPC). Semen Portland Pozzolan adalah semen hidrolis yang terdiri dari campuran homogen antara semen Portland dan pozzolan halus, yang diproduksi dengan menggiling klinker semen Portland dan pozzolan bersama-sama atau mencampur secara rata bubuk Semen Portland dan pozzolan atau gabungan antara menggiling dan mencampur, dimana kadar pozzoland 15-40% massa Semen Portland Pozzolan. Semen jenis ini ideal untuk bangunan bertingkat (2-3 lantai), konstruksi beton umum, konstruksi beton massa seperti pondasi plat penuh dan bendungan, konstruksi bangunan di daerah pantai, tanah berair (rawa) dan bangunan di lingkungan garam sulfat yang agresif, serta konstruksi bangunan yang memerlukan kekedapan tinggi seperti bangunan sanitasi, bangunan perairan, dan penampungan air.

         PT Semen Tonasa sudah banyak mengembangkan sayapnya dalam mengaplikasikan program-program dalam mewujudkan Corporate Social Responsibility (CSR). Baru-baru ini, Program Kemitraan CSR PT Semen Tonasa menggelontorkan dana pinjaman bagi program kemitraan UKM Tahap IV tahun 2016 berjumlah Rp 1.545.000.000 dengan rincian, Ring I sebanyak 26 unit usaha dengan nilai pinjaman sebesar Rp 613.000.000,- dan Ring II sebanyak 39 unit usaha dengan nilai pinjaman sebesar Rp 932.000.000,-. Masing-masing dari dana itu ditujukan kepada beberapa sektor usaha di antaranya usaha perdagangan, industri, perikanan, jasa, peternakan dan koperasi.

         Total penyaluran sampai September 2016 termasuk sampai tahap IV telah disalurkan dana program kemitraan sebesar 7.429.000.000,- untuk 316 unit UKM atau 58,49% dari RKA tahun 2016. Dikarenakan dana bergulir tersebut bersifat pinjaman kredit lunak yang memudahkan masyarakat karena suku bunga hanya 6% pertahun, sehingga Direktur Keuangan PT Semen Tonasa, Subhan, SE mengharapkan kepada para mitra binaan yang mendapatkan dana pinjaman agar peruntukan dana tersebut bisa benar-benar dimanfaatkan.

       Selain program bantuan UKM, ada juga program lain seperti program karyawan tonasa mengajar, program pembangunan masjid, penyerahan hewan kurban, dan lain-lain. Sehingga pantas karena berkat kepedulian PT Semen Tonasa melalui bidang Corporate Social Responsibility (CSR), baru-baru ini tanggal 25 Agustus 2016, PT Semen Tonasa meraih penghargaan sebagai Social Bussiness Innovation Company 2016 Category Cement Industry, dan Ir. Andi Unggul Attas, MBA mendapatkan penghargaan sebagai Best Green CEO 2016 Special Mention In Cement Industry yang diserahkan oleh Dr. Fadel Muhammad Founder Majalah Warta Ekonomi pada malam penganugerahan penghargaan Social Business Innovation Award dan Green CEO Award yang digelar oleh Majalah Warta Ekonomi yang merupakan salah satu perusahaan Majalah perspektif bisnis dan ekonomi terkemuka di Indonesia.

         Innovation Business Award 2016 tersebut merupakan salah satu wujud tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan, bukan hanya sebagai konsekuensi atas kegiatan operasionalnya tetapi sebagai upaya-upaya yang bertujuan meningkatkan kinerja dan nilai tambah perusahaan dalam jangka panjang dan juga berhasil menerapkan inovasi-inovasi dalam pelaksanaan program Corporate Social Responsibility (CSR).

         Selain karena perseroan mampu meraih penghargaan dari tahun ke tahun, konsistensi perseroan dalam menghasilkan produk unggul menjadi poin utama dalam menghadapi persaingan saat ini. Selain meraih berbagai penghargaan, perseroan juga telah mempertahankan sertifikasi yang telah dilekatkan pada PT Semen Tonasa yang berasal dari beberapa kriteria, yaitu Sertifikasi Produk Penggunaan Tanda SNI (SPPT-SNI), Sistem Manajemen Mutu - SMM (QMS ISO 9001:2008), Sistem Manajemen Mutu - SMM (QMS ISO 9001:2008), Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3:1996), ISPS CODE (International Code for the Security of Ships and Port Facilities), OHSAS 18001:2007 (Occupational Health & Safety Assessment Series), System Manajemen Laboraturium (ISO/ IEC 17025;2005) dan Sistem Manajemen Terintegrasi (Integrated Management System-IMS).

        Dengan berbagai penghargaan dan sertifikat serta upaya sosial yang dilakukan oleh perseroan, maka kepercayaan masyarakat untuk tetap menggunakan produk dari Semen Tonasa menjadi semakin kuat. Sehingga, pembangunan infrastruktur yang berkualitas akan segera tercapai di Kawasan Timur Indonesia. Sehingga ironi bahwa Kawasan Timur Indonesia masih ketinggalan dalam hal pembangunan infrastruktur akan terbantahkan.
          
         Kita pun mengharapkan dengan kerjasama yang terus dibangun antara produsen dan konsumen, dalam arti ikatan PT Semen Tonasa dengan masyarakat mampu menghadirkan proyek -bangunan yang bukan hanya besar tetapi juga kokoh, sekokoh tagline dari perseroan: Kokoh, Kuat dan Terpercaya. Semoga target pertumbuhan mulai dari penjualan sampai laba bersih sekitar 5 - 5,5 % untuk tahun ini bisa tercapai, sehingga jika itu tercapai maka perseroan berpotensi mencatatkan penjualan senilai Rp5,8 triliun pada tahun ini. Dan pos laba bersih, Semen Tonasa berpotensi meraih Rp586 Miliar di tahun ini,  yang artinya meningkat dari capaian tahun lalu Rp556 Miliar. Sukses selalu PT Semen Tonasa. Semoga Tonasa Selalu di Hati, Karena Tonasa Membangun KTI. Selamat Ulang Tahun ke-48. Semoga! (*)

---


Sumber Bacaan

http://www.antarasulsel.com

http://www.cnnindonesia.com

http://industri.bisnis.com

http://www.sementonasa.co.id


_

Muh. Galang Pratama, Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar, Semester VII. Tinggal di Jl. Dahlia No 17 Batangkaluku-Sungguminasa, Kabupaten Gowa, Sulsel (Kode Pos 92111).
E-mail : mgalangpratama95@gmail.com, No HP 0853-4380-1995






LOMBA KARYA TULIS POPULER MAHASISWA (KTM)

Semen Tonasa Selalu di Hati, Semen Tonasa Membangun KTI



Muh. Galang Pratama


  
Oleh:
MUH. GALANG PRATAMA
UIN Alauddin Makassar
mgalangpratama95@gmail.com
0853-4380-1995

------


KITA bisa melihat bagaimana gedung-gedung ditinggikan. Bangunan-bangunan pencakar langit tak henti-hentinya tumbuh dari satu wilayah ke wilayah yang lain. Dan mata kita hanya bisa menyaksikan sendiri wajah besar berubah di negara tercinta kita, Indonesia. Akan tetapi, jika membandingkan pembangunan infrastruktur antara barat dan timur, maka kita menemukan adanya disparitas. Adanya ketimpangan yang kemudian menjadi penyebab ketidakmerataan pembangunan. Maka hal ini perlu jalan keluar.  Salah satunya ialah dengan mengejar ketertinggalan itu dengan cara mempercepat pengembangan infrastruktur di wilayah timur atau kita bisa menyebutnya sebagai fokus pembangunan Kawasan Timur Indonesia (KTI). 

       Pemerintah saat ini menginginkan agar Indonesia punya daya saing dengan membangun infrastruktur sebanyak-banyaknya. Sosok pemimpin bangsa, Jokowi-Jusuf Kalla adalah representasi dari dua wilayah besar di Indonesia. Jokowi representasi dari wilayah Barat dan wakilnya Jusuf Kalla adalah wilayah Timur. Sehingga dengan hadirnya persamaan persepsi antara ke duanya, maka arah pembangunan ke depan diharapkan dapat berjalan seimbang. Ketertinggalan wilayah timur akan digenjot. Jusuf Kalla telah menjanjikan hal itu, bahwa dana Rp 300 Triliun – Rp 400 triliun akan dipakai di bidang konstruksi.
                  
        Jika pemerintah telah menyatakan rencana demikian, maka pembangunan di kawasan timur Indonesia mesti selalu digaungkan. Kawasan Timur Indonesia, merupakan kawasan yang sangat potensial. Maka di sinilah peran perusahaan yang bergerak dalam pembangunan. Ketika proyek-proyek infrastruktur sudah tumbuh di Kawasan Timur Indonesia, maka secara otomatis permintaan semen, sebagai bahan utama dalam pembangunan, akan meningkat tajam.
               
        Semen yang akan dipakai tentunya semen yang telah melalui uji standarisasi sehingga bisa menghasilkan produk unggul yang kemudian dapat menunjang infrastruktur yang berkualitas di kawasan ini. Tahun 1968 menjadi tahun sejarah bagi PT Semen Tonasa dalam menorehkan kiprahnya mendukung pembangunan infrastruktur setelah didirikan sesuai TAP MPRS No II/MPRS/1960 dengan kepemilikan saham 100 persen pemerintah. Fokus pada pembangunan di Indonesia bagian timur, PT Semen Tonasa (Persero) telah memperlihatkan buktinya. Sampai saat ini, PT Semen Tonasa telah ikut berkontribusi besar dalam membangun infrastruktur di Kawasan Timur Indonesia dengan menghadirkan berbagai bentuk produksi yang memiliki kualitas tinggi. 

        Dengan hasil penjualan yang meningkat dari tahun ke tahun, menunjukkan bukti bahwa semen tonasa sudah berada di hati masyarakat. Sehingga, konsumen pun sudah memercayakan, bahan baku dalam pembangunannya menggunakan semen tonasa. Selanjutnya, menjadi penting bagi penulis untuk menjelaskan kualitas yang dimiliki oleh PT Semen Tonasa sebagai pemegang pangsa pasar terbesar di KTI.
                  
         Dengan lahan seluas 715 hektar di Desa Biringere, Kecamatan Bungoro, Kabupaten Pangkep, sekitar 68 kilometer dari kota Makassar, PT Semen Tonasa menjadi strategis dalam memenuhi kebutuhan semen di Kawasan Timur Indonesia. Perseroan yang memiliki kapasitas terpasang 5.980.000 ton semen per tahun ini, mempunyai empat unit pabrik, yaitu Pabrik Tonasa II, Pabrik Tonasa III, Pabrik Tonasa IV dan Pabrik Tonasa V. Keempat unit pabrik tersebut menggunakan proses kering dengan kapasitas masing-masing 590.000 ton semen pertahun untuk Unit II dan III, 2.300.000 ton semen per tahun untuk Unit IV serta 2.500.000 ton semen untuk Unit V.
  
          Selain itu, perseroan ini didukung oleh jaringan distribusi yang tersebar dan diperkuat oleh delapan unit pengantongan semen yang melengkapi sarana distribusi penjualan, telah menjadikan perseroan sebagai pemasok terbesar di kawasan tersebut. Kedelapan unit pengantongan semen berlokasi di Bitung, Palu, Banjarmasin dan Ambon dengan kapasitas masing-masing 300.000 ton semen per tahun serta di Makassar, Bali dan Samarinda dengan kapasitas masing-masing 600.000 ton semen per tahun, dan di Pontianak dengan kapasitas 150.000 ton semen per tahun.

        Sarana pendukung operasi lainnya yang berkontribusi besar terhadap pencapaian laba perusahaan adalah utilitas Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dengan kapasitas 2x25 MW yang berlokasi di Desa Biringkassi, Kabupaten Pangkep, sekitar 17 km dari lokasi pabrik.

         Bukan hanya itu, sistem perencanaan dan manajemen yang dibangun oleh perseroan telah melahirkan berbagai macam program yang turut membantu pemerintah dan masyarakat. Sebut saja program Go Green, yakni sebuah program yang dijalankan sejak 2013 silam, untuk menurunkan emisi gas CO2 di unit pabrik. Ini merupakan sebuah implementasi dari CDM (Clean Development Mechanism) yang berpusat pada reduksi emisi CO2 dengan pengoptimalan penggunaan bahan bakar alternatif dan mengurangi pemakaian batubara. Sehingga kita pun yakin, berkat usaha itu, perseroan meraih Certified Emission Reduction (CER). Oleh karenya, memang bukan hanya kualitas produk yang dihasilkan oleh perseroan ini, tetapi juga produksi ramah lingkungan yang sejatinya dibutuhkan oleh banyak orang karena secara langsung akan memberikan dampak pada lingkungan.

        Demi mewujudkan pembangunan infrastruktur berkualitas, PT Semen Tonasa menurunkan semen unggulannya yaitu, Semen Portland Tipe I (OPC). Semen Portland Tipe I yaitu semen hidrolis yang dibuat dengan menggiling terak dan gipsum. Semen Portland Tipe I produksi perseroan memenuhi persyaratan SNI 15-2049-2004 Jenis I dan ASTM C150-2004 Tipe I. Semen jenis ini digunakan untuk bangunan umum dengan kekuatan tekanan yang tinggi (tidak memerlukan persyaratan khusus), seperti bangunan bertingkat tinggi, perumahan, jembatan dan jalan raya, landasan bandar udara, beton pratekan, bendungan/saluran irigasi, elemen bangunan seperti genteng, hollow, brick/batako, paving block, buis beton, roster dan lain-lain.

         Kedua, Semen Portland Komposit (PCC). Semen Portland Komposit adalah bahan peningkat hidrolis hasil penggilingan bersama terak semen Portland dan gipsum dengan satu atau lebih bahan anorganik, atau hasil pencampuran bubuk semen Portland dengan bubuk bahan anorganik lain. Semen Portland Komposit produksi PT Semen Tonasa memenuhi persyaratan SNI 15-7064-2004. Kegunaan semen jenis ini diperuntukkan untuk kontruksi beton umum, pasangan batu bata, pelesteran dan acian, selokan, jalan, pagar dinding, pembuatan elemen bangunan khusus seperti beton pra cetak, beton pra tekan, panel beton, batabeton (paving block) dan sebagainya.
  
        Sedangkan yang ketiga, Semen Portland Pozzolan (PPC). Semen Portland Pozzolan adalah semen hidrolis yang terdiri dari campuran homogen antara semen Portland dan pozzolan halus, yang diproduksi dengan menggiling klinker semen Portland dan pozzolan bersama-sama atau mencampur secara rata bubuk Semen Portland dan pozzolan atau gabungan antara menggiling dan mencampur, dimana kadar pozzoland 15-40% massa Semen Portland Pozzolan. Semen jenis ini ideal untuk bangunan bertingkat (2-3 lantai), konstruksi beton umum, konstruksi beton massa seperti pondasi plat penuh dan bendungan, konstruksi bangunan di daerah pantai, tanah berair (rawa) dan bangunan di lingkungan garam sulfat yang agresif, serta konstruksi bangunan yang memerlukan kekedapan tinggi seperti bangunan sanitasi, bangunan perairan, dan penampungan air.

         PT Semen Tonasa sudah banyak mengembangkan sayapnya dalam mengaplikasikan program-program dalam mewujudkan Corporate Social Responsibility (CSR). Baru-baru ini, Program Kemitraan CSR PT Semen Tonasa menggelontorkan dana pinjaman bagi program kemitraan UKM Tahap IV tahun 2016 berjumlah Rp 1.545.000.000 dengan rincian, Ring I sebanyak 26 unit usaha dengan nilai pinjaman sebesar Rp 613.000.000,- dan Ring II sebanyak 39 unit usaha dengan nilai pinjaman sebesar Rp 932.000.000,-. Masing-masing dari dana itu ditujukan kepada beberapa sektor usaha di antaranya usaha perdagangan, industri, perikanan, jasa, peternakan dan koperasi.

         Total penyaluran sampai September 2016 termasuk sampai tahap IV telah disalurkan dana program kemitraan sebesar 7.429.000.000,- untuk 316 unit UKM atau 58,49% dari RKA tahun 2016. Dikarenakan dana bergulir tersebut bersifat pinjaman kredit lunak yang memudahkan masyarakat karena suku bunga hanya 6% pertahun, sehingga Direktur Keuangan PT Semen Tonasa, Subhan, SE mengharapkan kepada para mitra binaan yang mendapatkan dana pinjaman agar peruntukan dana tersebut bisa benar-benar dimanfaatkan.

       Selain program bantuan UKM, ada juga program lain seperti program karyawan tonasa mengajar, program pembangunan masjid, penyerahan hewan kurban, dan lain-lain. Sehingga pantas karena berkat kepedulian PT Semen Tonasa melalui bidang Corporate Social Responsibility (CSR), baru-baru ini tanggal 25 Agustus 2016, PT Semen Tonasa meraih penghargaan sebagai Social Bussiness Innovation Company 2016 Category Cement Industry, dan Ir. Andi Unggul Attas, MBA mendapatkan penghargaan sebagai Best Green CEO 2016 Special Mention In Cement Industry yang diserahkan oleh Dr. Fadel Muhammad Founder Majalah Warta Ekonomi pada malam penganugerahan penghargaan Social Business Innovation Award dan Green CEO Award yang digelar oleh Majalah Warta Ekonomi yang merupakan salah satu perusahaan Majalah perspektif bisnis dan ekonomi terkemuka di Indonesia.

         Innovation Business Award 2016 tersebut merupakan salah satu wujud tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan, bukan hanya sebagai konsekuensi atas kegiatan operasionalnya tetapi sebagai upaya-upaya yang bertujuan meningkatkan kinerja dan nilai tambah perusahaan dalam jangka panjang dan juga berhasil menerapkan inovasi-inovasi dalam pelaksanaan program Corporate Social Responsibility (CSR).

         Selain karena perseroan mampu meraih penghargaan dari tahun ke tahun, konsistensi perseroan dalam menghasilkan produk unggul menjadi poin utama dalam menghadapi persaingan saat ini. Selain meraih berbagai penghargaan, perseroan juga telah mempertahankan sertifikasi yang telah dilekatkan pada PT Semen Tonasa yang berasal dari beberapa kriteria, yaitu Sertifikasi Produk Penggunaan Tanda SNI (SPPT-SNI), Sistem Manajemen Mutu - SMM (QMS ISO 9001:2008), Sistem Manajemen Mutu - SMM (QMS ISO 9001:2008), Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3:1996), ISPS CODE (International Code for the Security of Ships and Port Facilities), OHSAS 18001:2007 (Occupational Health & Safety Assessment Series), System Manajemen Laboraturium (ISO/ IEC 17025;2005) dan Sistem Manajemen Terintegrasi (Integrated Management System-IMS).

        Dengan berbagai penghargaan dan sertifikat serta upaya sosial yang dilakukan oleh perseroan, maka kepercayaan masyarakat untuk tetap menggunakan produk dari Semen Tonasa menjadi semakin kuat. Sehingga, pembangunan infrastruktur yang berkualitas akan segera tercapai di Kawasan Timur Indonesia. Sehingga ironi bahwa Kawasan Timur Indonesia masih ketinggalan dalam hal pembangunan infrastruktur akan terbantahkan.
          
         Kita pun mengharapkan dengan kerjasama yang terus dibangun antara produsen dan konsumen, dalam arti ikatan PT Semen Tonasa dengan masyarakat mampu menghadirkan proyek -bangunan yang bukan hanya besar tetapi juga kokoh, sekokoh tagline dari perseroan: Kokoh, Kuat dan Terpercaya. Semoga target pertumbuhan mulai dari penjualan sampai laba bersih sekitar 5 - 5,5 % untuk tahun ini bisa tercapai, sehingga jika itu tercapai maka perseroan berpotensi mencatatkan penjualan senilai Rp5,8 triliun pada tahun ini. Dan pos laba bersih, Semen Tonasa berpotensi meraih Rp586 Miliar di tahun ini,  yang artinya meningkat dari capaian tahun lalu Rp556 Miliar. Sukses selalu PT Semen Tonasa. Semoga Tonasa Selalu di Hati, Karena Tonasa Membangun KTI. Selamat Ulang Tahun ke-48. Semoga! (*)

---


Sumber Bacaan

http://www.antarasulsel.com

http://www.cnnindonesia.com

http://industri.bisnis.com

http://www.sementonasa.co.id


_

Muh. Galang Pratama, Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar, Semester VII. Tinggal di Jl. Dahlia No 17 Batangkaluku-Sungguminasa, Kabupaten Gowa, Sulsel (Kode Pos 92111).
E-mail : mgalangpratama95@gmail.com, No HP 0853-4380-1995






LOMBA KARYA TULIS POPULER MAHASISWA (KTM)

Semen Tonasa Selalu di Hati, Semen Tonasa Membangun KTI



Muh. Galang Pratama


  
Oleh:
MUH. GALANG PRATAMA
UIN Alauddin Makassar
mgalangpratama95@gmail.com
0853-4380-1995

------


KITA bisa melihat bagaimana gedung-gedung ditinggikan. Bangunan-bangunan pencakar langit tak henti-hentinya tumbuh dari satu wilayah ke wilayah yang lain. Dan mata kita hanya bisa menyaksikan sendiri wajah besar berubah di negara tercinta kita, Indonesia. Akan tetapi, jika membandingkan pembangunan infrastruktur antara barat dan timur, maka kita menemukan adanya disparitas. Adanya ketimpangan yang kemudian menjadi penyebab ketidakmerataan pembangunan. Maka hal ini perlu jalan keluar.  Salah satunya ialah dengan mengejar ketertinggalan itu dengan cara mempercepat pengembangan infrastruktur di wilayah timur atau kita bisa menyebutnya sebagai fokus pembangunan Kawasan Timur Indonesia (KTI). 

       Pemerintah saat ini menginginkan agar Indonesia punya daya saing dengan membangun infrastruktur sebanyak-banyaknya. Sosok pemimpin bangsa, Jokowi-Jusuf Kalla adalah representasi dari dua wilayah besar di Indonesia. Jokowi representasi dari wilayah Barat dan wakilnya Jusuf Kalla adalah wilayah Timur. Sehingga dengan hadirnya persamaan persepsi antara ke duanya, maka arah pembangunan ke depan diharapkan dapat berjalan seimbang. Ketertinggalan wilayah timur akan digenjot. Jusuf Kalla telah menjanjikan hal itu, bahwa dana Rp 300 Triliun – Rp 400 triliun akan dipakai di bidang konstruksi.
                  
        Jika pemerintah telah menyatakan rencana demikian, maka pembangunan di kawasan timur Indonesia mesti selalu digaungkan. Kawasan Timur Indonesia, merupakan kawasan yang sangat potensial. Maka di sinilah peran perusahaan yang bergerak dalam pembangunan. Ketika proyek-proyek infrastruktur sudah tumbuh di Kawasan Timur Indonesia, maka secara otomatis permintaan semen, sebagai bahan utama dalam pembangunan, akan meningkat tajam.
               
        Semen yang akan dipakai tentunya semen yang telah melalui uji standarisasi sehingga bisa menghasilkan produk unggul yang kemudian dapat menunjang infrastruktur yang berkualitas di kawasan ini. Tahun 1968 menjadi tahun sejarah bagi PT Semen Tonasa dalam menorehkan kiprahnya mendukung pembangunan infrastruktur setelah didirikan sesuai TAP MPRS No II/MPRS/1960 dengan kepemilikan saham 100 persen pemerintah. Fokus pada pembangunan di Indonesia bagian timur, PT Semen Tonasa (Persero) telah memperlihatkan buktinya. Sampai saat ini, PT Semen Tonasa telah ikut berkontribusi besar dalam membangun infrastruktur di Kawasan Timur Indonesia dengan menghadirkan berbagai bentuk produksi yang memiliki kualitas tinggi. 

        Dengan hasil penjualan yang meningkat dari tahun ke tahun, menunjukkan bukti bahwa semen tonasa sudah berada di hati masyarakat. Sehingga, konsumen pun sudah memercayakan, bahan baku dalam pembangunannya menggunakan semen tonasa. Selanjutnya, menjadi penting bagi penulis untuk menjelaskan kualitas yang dimiliki oleh PT Semen Tonasa sebagai pemegang pangsa pasar terbesar di KTI.
                  
         Dengan lahan seluas 715 hektar di Desa Biringere, Kecamatan Bungoro, Kabupaten Pangkep, sekitar 68 kilometer dari kota Makassar, PT Semen Tonasa menjadi strategis dalam memenuhi kebutuhan semen di Kawasan Timur Indonesia. Perseroan yang memiliki kapasitas terpasang 5.980.000 ton semen per tahun ini, mempunyai empat unit pabrik, yaitu Pabrik Tonasa II, Pabrik Tonasa III, Pabrik Tonasa IV dan Pabrik Tonasa V. Keempat unit pabrik tersebut menggunakan proses kering dengan kapasitas masing-masing 590.000 ton semen pertahun untuk Unit II dan III, 2.300.000 ton semen per tahun untuk Unit IV serta 2.500.000 ton semen untuk Unit V.
  
          Selain itu, perseroan ini didukung oleh jaringan distribusi yang tersebar dan diperkuat oleh delapan unit pengantongan semen yang melengkapi sarana distribusi penjualan, telah menjadikan perseroan sebagai pemasok terbesar di kawasan tersebut. Kedelapan unit pengantongan semen berlokasi di Bitung, Palu, Banjarmasin dan Ambon dengan kapasitas masing-masing 300.000 ton semen per tahun serta di Makassar, Bali dan Samarinda dengan kapasitas masing-masing 600.000 ton semen per tahun, dan di Pontianak dengan kapasitas 150.000 ton semen per tahun.

        Sarana pendukung operasi lainnya yang berkontribusi besar terhadap pencapaian laba perusahaan adalah utilitas Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dengan kapasitas 2x25 MW yang berlokasi di Desa Biringkassi, Kabupaten Pangkep, sekitar 17 km dari lokasi pabrik.

         Bukan hanya itu, sistem perencanaan dan manajemen yang dibangun oleh perseroan telah melahirkan berbagai macam program yang turut membantu pemerintah dan masyarakat. Sebut saja program Go Green, yakni sebuah program yang dijalankan sejak 2013 silam, untuk menurunkan emisi gas CO2 di unit pabrik. Ini merupakan sebuah implementasi dari CDM (Clean Development Mechanism) yang berpusat pada reduksi emisi CO2 dengan pengoptimalan penggunaan bahan bakar alternatif dan mengurangi pemakaian batubara. Sehingga kita pun yakin, berkat usaha itu, perseroan meraih Certified Emission Reduction (CER). Oleh karenya, memang bukan hanya kualitas produk yang dihasilkan oleh perseroan ini, tetapi juga produksi ramah lingkungan yang sejatinya dibutuhkan oleh banyak orang karena secara langsung akan memberikan dampak pada lingkungan.

        Demi mewujudkan pembangunan infrastruktur berkualitas, PT Semen Tonasa menurunkan semen unggulannya yaitu, Semen Portland Tipe I (OPC). Semen Portland Tipe I yaitu semen hidrolis yang dibuat dengan menggiling terak dan gipsum. Semen Portland Tipe I produksi perseroan memenuhi persyaratan SNI 15-2049-2004 Jenis I dan ASTM C150-2004 Tipe I. Semen jenis ini digunakan untuk bangunan umum dengan kekuatan tekanan yang tinggi (tidak memerlukan persyaratan khusus), seperti bangunan bertingkat tinggi, perumahan, jembatan dan jalan raya, landasan bandar udara, beton pratekan, bendungan/saluran irigasi, elemen bangunan seperti genteng, hollow, brick/batako, paving block, buis beton, roster dan lain-lain.

         Kedua, Semen Portland Komposit (PCC). Semen Portland Komposit adalah bahan peningkat hidrolis hasil penggilingan bersama terak semen Portland dan gipsum dengan satu atau lebih bahan anorganik, atau hasil pencampuran bubuk semen Portland dengan bubuk bahan anorganik lain. Semen Portland Komposit produksi PT Semen Tonasa memenuhi persyaratan SNI 15-7064-2004. Kegunaan semen jenis ini diperuntukkan untuk kontruksi beton umum, pasangan batu bata, pelesteran dan acian, selokan, jalan, pagar dinding, pembuatan elemen bangunan khusus seperti beton pra cetak, beton pra tekan, panel beton, batabeton (paving block) dan sebagainya.
  
        Sedangkan yang ketiga, Semen Portland Pozzolan (PPC). Semen Portland Pozzolan adalah semen hidrolis yang terdiri dari campuran homogen antara semen Portland dan pozzolan halus, yang diproduksi dengan menggiling klinker semen Portland dan pozzolan bersama-sama atau mencampur secara rata bubuk Semen Portland dan pozzolan atau gabungan antara menggiling dan mencampur, dimana kadar pozzoland 15-40% massa Semen Portland Pozzolan. Semen jenis ini ideal untuk bangunan bertingkat (2-3 lantai), konstruksi beton umum, konstruksi beton massa seperti pondasi plat penuh dan bendungan, konstruksi bangunan di daerah pantai, tanah berair (rawa) dan bangunan di lingkungan garam sulfat yang agresif, serta konstruksi bangunan yang memerlukan kekedapan tinggi seperti bangunan sanitasi, bangunan perairan, dan penampungan air.

         PT Semen Tonasa sudah banyak mengembangkan sayapnya dalam mengaplikasikan program-program dalam mewujudkan Corporate Social Responsibility (CSR). Baru-baru ini, Program Kemitraan CSR PT Semen Tonasa menggelontorkan dana pinjaman bagi program kemitraan UKM Tahap IV tahun 2016 berjumlah Rp 1.545.000.000 dengan rincian, Ring I sebanyak 26 unit usaha dengan nilai pinjaman sebesar Rp 613.000.000,- dan Ring II sebanyak 39 unit usaha dengan nilai pinjaman sebesar Rp 932.000.000,-. Masing-masing dari dana itu ditujukan kepada beberapa sektor usaha di antaranya usaha perdagangan, industri, perikanan, jasa, peternakan dan koperasi.

         Total penyaluran sampai September 2016 termasuk sampai tahap IV telah disalurkan dana program kemitraan sebesar 7.429.000.000,- untuk 316 unit UKM atau 58,49% dari RKA tahun 2016. Dikarenakan dana bergulir tersebut bersifat pinjaman kredit lunak yang memudahkan masyarakat karena suku bunga hanya 6% pertahun, sehingga Direktur Keuangan PT Semen Tonasa, Subhan, SE mengharapkan kepada para mitra binaan yang mendapatkan dana pinjaman agar peruntukan dana tersebut bisa benar-benar dimanfaatkan.

       Selain program bantuan UKM, ada juga program lain seperti program karyawan tonasa mengajar, program pembangunan masjid, penyerahan hewan kurban, dan lain-lain. Sehingga pantas karena berkat kepedulian PT Semen Tonasa melalui bidang Corporate Social Responsibility (CSR), baru-baru ini tanggal 25 Agustus 2016, PT Semen Tonasa meraih penghargaan sebagai Social Bussiness Innovation Company 2016 Category Cement Industry, dan Ir. Andi Unggul Attas, MBA mendapatkan penghargaan sebagai Best Green CEO 2016 Special Mention In Cement Industry yang diserahkan oleh Dr. Fadel Muhammad Founder Majalah Warta Ekonomi pada malam penganugerahan penghargaan Social Business Innovation Award dan Green CEO Award yang digelar oleh Majalah Warta Ekonomi yang merupakan salah satu perusahaan Majalah perspektif bisnis dan ekonomi terkemuka di Indonesia.

         Innovation Business Award 2016 tersebut merupakan salah satu wujud tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan, bukan hanya sebagai konsekuensi atas kegiatan operasionalnya tetapi sebagai upaya-upaya yang bertujuan meningkatkan kinerja dan nilai tambah perusahaan dalam jangka panjang dan juga berhasil menerapkan inovasi-inovasi dalam pelaksanaan program Corporate Social Responsibility (CSR).

         Selain karena perseroan mampu meraih penghargaan dari tahun ke tahun, konsistensi perseroan dalam menghasilkan produk unggul menjadi poin utama dalam menghadapi persaingan saat ini. Selain meraih berbagai penghargaan, perseroan juga telah mempertahankan sertifikasi yang telah dilekatkan pada PT Semen Tonasa yang berasal dari beberapa kriteria, yaitu Sertifikasi Produk Penggunaan Tanda SNI (SPPT-SNI), Sistem Manajemen Mutu - SMM (QMS ISO 9001:2008), Sistem Manajemen Mutu - SMM (QMS ISO 9001:2008), Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3:1996), ISPS CODE (International Code for the Security of Ships and Port Facilities), OHSAS 18001:2007 (Occupational Health & Safety Assessment Series), System Manajemen Laboraturium (ISO/ IEC 17025;2005) dan Sistem Manajemen Terintegrasi (Integrated Management System-IMS).

        Dengan berbagai penghargaan dan sertifikat serta upaya sosial yang dilakukan oleh perseroan, maka kepercayaan masyarakat untuk tetap menggunakan produk dari Semen Tonasa menjadi semakin kuat. Sehingga, pembangunan infrastruktur yang berkualitas akan segera tercapai di Kawasan Timur Indonesia. Sehingga ironi bahwa Kawasan Timur Indonesia masih ketinggalan dalam hal pembangunan infrastruktur akan terbantahkan.
          
         Kita pun mengharapkan dengan kerjasama yang terus dibangun antara produsen dan konsumen, dalam arti ikatan PT Semen Tonasa dengan masyarakat mampu menghadirkan proyek -bangunan yang bukan hanya besar tetapi juga kokoh, sekokoh tagline dari perseroan: Kokoh, Kuat dan Terpercaya. Semoga target pertumbuhan mulai dari penjualan sampai laba bersih sekitar 5 - 5,5 % untuk tahun ini bisa tercapai, sehingga jika itu tercapai maka perseroan berpotensi mencatatkan penjualan senilai Rp5,8 triliun pada tahun ini. Dan pos laba bersih, Semen Tonasa berpotensi meraih Rp586 Miliar di tahun ini,  yang artinya meningkat dari capaian tahun lalu Rp556 Miliar. Sukses selalu PT Semen Tonasa. Semoga Tonasa Selalu di Hati, Karena Tonasa Membangun KTI. Selamat Ulang Tahun ke-48. Semoga! (*)

---


Sumber Bacaan

http://www.antarasulsel.com

http://www.cnnindonesia.com

http://industri.bisnis.com

http://www.sementonasa.co.id


_

Muh. Galang Pratama, Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar, Semester VII. Tinggal di Jl. Dahlia No 17 Batangkaluku-Sungguminasa, Kabupaten Gowa, Sulsel (Kode Pos 92111).
E-mail : mgalangpratama95@gmail.com, No HP 0853-4380-1995






LOMBA KARYA TULIS POPULER MAHASISWA (KTM)

Semen Tonasa Selalu di Hati, Semen Tonasa Membangun KTI



Muh. Galang Pratama


  
Oleh:
MUH. GALANG PRATAMA
UIN Alauddin Makassar
mgalangpratama95@gmail.com
0853-4380-1995

------


KITA bisa melihat bagaimana gedung-gedung ditinggikan. Bangunan-bangunan pencakar langit tak henti-hentinya tumbuh dari satu wilayah ke wilayah yang lain. Dan mata kita hanya bisa menyaksikan sendiri wajah besar berubah di negara tercinta kita, Indonesia. Akan tetapi, jika membandingkan pembangunan infrastruktur antara barat dan timur, maka kita menemukan adanya disparitas. Adanya ketimpangan yang kemudian menjadi penyebab ketidakmerataan pembangunan. Maka hal ini perlu jalan keluar.  Salah satunya ialah dengan mengejar ketertinggalan itu dengan cara mempercepat pengembangan infrastruktur di wilayah timur atau kita bisa menyebutnya sebagai fokus pembangunan Kawasan Timur Indonesia (KTI). 

       Pemerintah saat ini menginginkan agar Indonesia punya daya saing dengan membangun infrastruktur sebanyak-banyaknya. Sosok pemimpin bangsa, Jokowi-Jusuf Kalla adalah representasi dari dua wilayah besar di Indonesia. Jokowi representasi dari wilayah Barat dan wakilnya Jusuf Kalla adalah wilayah Timur. Sehingga dengan hadirnya persamaan persepsi antara ke duanya, maka arah pembangunan ke depan diharapkan dapat berjalan seimbang. Ketertinggalan wilayah timur akan digenjot. Jusuf Kalla telah menjanjikan hal itu, bahwa dana Rp 300 Triliun – Rp 400 triliun akan dipakai di bidang konstruksi.
                  
        Jika pemerintah telah menyatakan rencana demikian, maka pembangunan di kawasan timur Indonesia mesti selalu digaungkan. Kawasan Timur Indonesia, merupakan kawasan yang sangat potensial. Maka di sinilah peran perusahaan yang bergerak dalam pembangunan. Ketika proyek-proyek infrastruktur sudah tumbuh di Kawasan Timur Indonesia, maka secara otomatis permintaan semen, sebagai bahan utama dalam pembangunan, akan meningkat tajam.
               
        Semen yang akan dipakai tentunya semen yang telah melalui uji standarisasi sehingga bisa menghasilkan produk unggul yang kemudian dapat menunjang infrastruktur yang berkualitas di kawasan ini. Tahun 1968 menjadi tahun sejarah bagi PT Semen Tonasa dalam menorehkan kiprahnya mendukung pembangunan infrastruktur setelah didirikan sesuai TAP MPRS No II/MPRS/1960 dengan kepemilikan saham 100 persen pemerintah. Fokus pada pembangunan di Indonesia bagian timur, PT Semen Tonasa (Persero) telah memperlihatkan buktinya. Sampai saat ini, PT Semen Tonasa telah ikut berkontribusi besar dalam membangun infrastruktur di Kawasan Timur Indonesia dengan menghadirkan berbagai bentuk produksi yang memiliki kualitas tinggi. 

        Dengan hasil penjualan yang meningkat dari tahun ke tahun, menunjukkan bukti bahwa semen tonasa sudah berada di hati masyarakat. Sehingga, konsumen pun sudah memercayakan, bahan baku dalam pembangunannya menggunakan semen tonasa. Selanjutnya, menjadi penting bagi penulis untuk menjelaskan kualitas yang dimiliki oleh PT Semen Tonasa sebagai pemegang pangsa pasar terbesar di KTI.
                  
         Dengan lahan seluas 715 hektar di Desa Biringere, Kecamatan Bungoro, Kabupaten Pangkep, sekitar 68 kilometer dari kota Makassar, PT Semen Tonasa menjadi strategis dalam memenuhi kebutuhan semen di Kawasan Timur Indonesia. Perseroan yang memiliki kapasitas terpasang 5.980.000 ton semen per tahun ini, mempunyai empat unit pabrik, yaitu Pabrik Tonasa II, Pabrik Tonasa III, Pabrik Tonasa IV dan Pabrik Tonasa V. Keempat unit pabrik tersebut menggunakan proses kering dengan kapasitas masing-masing 590.000 ton semen pertahun untuk Unit II dan III, 2.300.000 ton semen per tahun untuk Unit IV serta 2.500.000 ton semen untuk Unit V.
  
          Selain itu, perseroan ini didukung oleh jaringan distribusi yang tersebar dan diperkuat oleh delapan unit pengantongan semen yang melengkapi sarana distribusi penjualan, telah menjadikan perseroan sebagai pemasok terbesar di kawasan tersebut. Kedelapan unit pengantongan semen berlokasi di Bitung, Palu, Banjarmasin dan Ambon dengan kapasitas masing-masing 300.000 ton semen per tahun serta di Makassar, Bali dan Samarinda dengan kapasitas masing-masing 600.000 ton semen per tahun, dan di Pontianak dengan kapasitas 150.000 ton semen per tahun.

        Sarana pendukung operasi lainnya yang berkontribusi besar terhadap pencapaian laba perusahaan adalah utilitas Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dengan kapasitas 2x25 MW yang berlokasi di Desa Biringkassi, Kabupaten Pangkep, sekitar 17 km dari lokasi pabrik.

         Bukan hanya itu, sistem perencanaan dan manajemen yang dibangun oleh perseroan telah melahirkan berbagai macam program yang turut membantu pemerintah dan masyarakat. Sebut saja program Go Green, yakni sebuah program yang dijalankan sejak 2013 silam, untuk menurunkan emisi gas CO2 di unit pabrik. Ini merupakan sebuah implementasi dari CDM (Clean Development Mechanism) yang berpusat pada reduksi emisi CO2 dengan pengoptimalan penggunaan bahan bakar alternatif dan mengurangi pemakaian batubara. Sehingga kita pun yakin, berkat usaha itu, perseroan meraih Certified Emission Reduction (CER). Oleh karenya, memang bukan hanya kualitas produk yang dihasilkan oleh perseroan ini, tetapi juga produksi ramah lingkungan yang sejatinya dibutuhkan oleh banyak orang karena secara langsung akan memberikan dampak pada lingkungan.

        Demi mewujudkan pembangunan infrastruktur berkualitas, PT Semen Tonasa menurunkan semen unggulannya yaitu, Semen Portland Tipe I (OPC). Semen Portland Tipe I yaitu semen hidrolis yang dibuat dengan menggiling terak dan gipsum. Semen Portland Tipe I produksi perseroan memenuhi persyaratan SNI 15-2049-2004 Jenis I dan ASTM C150-2004 Tipe I. Semen jenis ini digunakan untuk bangunan umum dengan kekuatan tekanan yang tinggi (tidak memerlukan persyaratan khusus), seperti bangunan bertingkat tinggi, perumahan, jembatan dan jalan raya, landasan bandar udara, beton pratekan, bendungan/saluran irigasi, elemen bangunan seperti genteng, hollow, brick/batako, paving block, buis beton, roster dan lain-lain.

         Kedua, Semen Portland Komposit (PCC). Semen Portland Komposit adalah bahan peningkat hidrolis hasil penggilingan bersama terak semen Portland dan gipsum dengan satu atau lebih bahan anorganik, atau hasil pencampuran bubuk semen Portland dengan bubuk bahan anorganik lain. Semen Portland Komposit produksi PT Semen Tonasa memenuhi persyaratan SNI 15-7064-2004. Kegunaan semen jenis ini diperuntukkan untuk kontruksi beton umum, pasangan batu bata, pelesteran dan acian, selokan, jalan, pagar dinding, pembuatan elemen bangunan khusus seperti beton pra cetak, beton pra tekan, panel beton, batabeton (paving block) dan sebagainya.
  
        Sedangkan yang ketiga, Semen Portland Pozzolan (PPC). Semen Portland Pozzolan adalah semen hidrolis yang terdiri dari campuran homogen antara semen Portland dan pozzolan halus, yang diproduksi dengan menggiling klinker semen Portland dan pozzolan bersama-sama atau mencampur secara rata bubuk Semen Portland dan pozzolan atau gabungan antara menggiling dan mencampur, dimana kadar pozzoland 15-40% massa Semen Portland Pozzolan. Semen jenis ini ideal untuk bangunan bertingkat (2-3 lantai), konstruksi beton umum, konstruksi beton massa seperti pondasi plat penuh dan bendungan, konstruksi bangunan di daerah pantai, tanah berair (rawa) dan bangunan di lingkungan garam sulfat yang agresif, serta konstruksi bangunan yang memerlukan kekedapan tinggi seperti bangunan sanitasi, bangunan perairan, dan penampungan air.

         PT Semen Tonasa sudah banyak mengembangkan sayapnya dalam mengaplikasikan program-program dalam mewujudkan Corporate Social Responsibility (CSR). Baru-baru ini, Program Kemitraan CSR PT Semen Tonasa menggelontorkan dana pinjaman bagi program kemitraan UKM Tahap IV tahun 2016 berjumlah Rp 1.545.000.000 dengan rincian, Ring I sebanyak 26 unit usaha dengan nilai pinjaman sebesar Rp 613.000.000,- dan Ring II sebanyak 39 unit usaha dengan nilai pinjaman sebesar Rp 932.000.000,-. Masing-masing dari dana itu ditujukan kepada beberapa sektor usaha di antaranya usaha perdagangan, industri, perikanan, jasa, peternakan dan koperasi.

         Total penyaluran sampai September 2016 termasuk sampai tahap IV telah disalurkan dana program kemitraan sebesar 7.429.000.000,- untuk 316 unit UKM atau 58,49% dari RKA tahun 2016. Dikarenakan dana bergulir tersebut bersifat pinjaman kredit lunak yang memudahkan masyarakat karena suku bunga hanya 6% pertahun, sehingga Direktur Keuangan PT Semen Tonasa, Subhan, SE mengharapkan kepada para mitra binaan yang mendapatkan dana pinjaman agar peruntukan dana tersebut bisa benar-benar dimanfaatkan.

       Selain program bantuan UKM, ada juga program lain seperti program karyawan tonasa mengajar, program pembangunan masjid, penyerahan hewan kurban, dan lain-lain. Sehingga pantas karena berkat kepedulian PT Semen Tonasa melalui bidang Corporate Social Responsibility (CSR), baru-baru ini tanggal 25 Agustus 2016, PT Semen Tonasa meraih penghargaan sebagai Social Bussiness Innovation Company 2016 Category Cement Industry, dan Ir. Andi Unggul Attas, MBA mendapatkan penghargaan sebagai Best Green CEO 2016 Special Mention In Cement Industry yang diserahkan oleh Dr. Fadel Muhammad Founder Majalah Warta Ekonomi pada malam penganugerahan penghargaan Social Business Innovation Award dan Green CEO Award yang digelar oleh Majalah Warta Ekonomi yang merupakan salah satu perusahaan Majalah perspektif bisnis dan ekonomi terkemuka di Indonesia.

         Innovation Business Award 2016 tersebut merupakan salah satu wujud tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan, bukan hanya sebagai konsekuensi atas kegiatan operasionalnya tetapi sebagai upaya-upaya yang bertujuan meningkatkan kinerja dan nilai tambah perusahaan dalam jangka panjang dan juga berhasil menerapkan inovasi-inovasi dalam pelaksanaan program Corporate Social Responsibility (CSR).

         Selain karena perseroan mampu meraih penghargaan dari tahun ke tahun, konsistensi perseroan dalam menghasilkan produk unggul menjadi poin utama dalam menghadapi persaingan saat ini. Selain meraih berbagai penghargaan, perseroan juga telah mempertahankan sertifikasi yang telah dilekatkan pada PT Semen Tonasa yang berasal dari beberapa kriteria, yaitu Sertifikasi Produk Penggunaan Tanda SNI (SPPT-SNI), Sistem Manajemen Mutu - SMM (QMS ISO 9001:2008), Sistem Manajemen Mutu - SMM (QMS ISO 9001:2008), Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3:1996), ISPS CODE (International Code for the Security of Ships and Port Facilities), OHSAS 18001:2007 (Occupational Health & Safety Assessment Series), System Manajemen Laboraturium (ISO/ IEC 17025;2005) dan Sistem Manajemen Terintegrasi (Integrated Management System-IMS).

        Dengan berbagai penghargaan dan sertifikat serta upaya sosial yang dilakukan oleh perseroan, maka kepercayaan masyarakat untuk tetap menggunakan produk dari Semen Tonasa menjadi semakin kuat. Sehingga, pembangunan infrastruktur yang berkualitas akan segera tercapai di Kawasan Timur Indonesia. Sehingga ironi bahwa Kawasan Timur Indonesia masih ketinggalan dalam hal pembangunan infrastruktur akan terbantahkan.
          
         Kita pun mengharapkan dengan kerjasama yang terus dibangun antara produsen dan konsumen, dalam arti ikatan PT Semen Tonasa dengan masyarakat mampu menghadirkan proyek -bangunan yang bukan hanya besar tetapi juga kokoh, sekokoh tagline dari perseroan: Kokoh, Kuat dan Terpercaya. Semoga target pertumbuhan mulai dari penjualan sampai laba bersih sekitar 5 - 5,5 % untuk tahun ini bisa tercapai, sehingga jika itu tercapai maka perseroan berpotensi mencatatkan penjualan senilai Rp5,8 triliun pada tahun ini. Dan pos laba bersih, Semen Tonasa berpotensi meraih Rp586 Miliar di tahun ini,  yang artinya meningkat dari capaian tahun lalu Rp556 Miliar. Sukses selalu PT Semen Tonasa. Semoga Tonasa Selalu di Hati, Karena Tonasa Membangun KTI. Selamat Ulang Tahun ke-48. Semoga! (*)

---


Sumber Bacaan

http://www.antarasulsel.com

http://www.cnnindonesia.com

http://industri.bisnis.com

http://www.sementonasa.co.id


_

Muh. Galang Pratama, Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar, Semester VII. Tinggal di Jl. Dahlia No 17 Batangkaluku-Sungguminasa, Kabupaten Gowa, Sulsel (Kode Pos 92111).
E-mail : mgalangpratama95@gmail.com, No HP 0853-4380-1995




GIMM, Rahim Generasi Literasi
Lihat Detail

GIMM, Rahim Generasi Literasi

Harian Fajar, 13 Oktober 2016

Jika Anda tidak dapat terbang, maka larilah. Jika Anda tidak dapat berlari, maka berjalanlah. Jika Anda tidak dapat berjalan, maka merangkaklah. Tetapi apapun yang Anda lakukan, Anda harus tetap bergerak ke depan.
 (Martin Luther King Jr.)

GERAKAN Indonesia Membaca-Menulis atau yang disingkat GIMM telah mengaplikasikan kalimat di atas. Walaupun banyak kendala menghadang, namun gerakan ini tak pernah mati suri. Gerakan yang dipelopori pemerintah melalui kementerian pendidikan dan kebudayaan mengingatkan kepada kita akan pentingnya perubahan yang diawali dari sebuah gerakan. Gerakan yang selalu membawa perubahan untuk tetap bergerak ke depan.

Badan Balai Bahasa Provinsi di seluruh Indonesia, rupaya sudah melancarkan aksinya dalam rangka memahamkan kepada masyarakat akan pentingnya budaya literasi. Budaya literasi atau budaya tulis-menulis, sejatinya memang harus selalu disebarkan ke masyarakat. Mengingat dasar utama ilmu pengetahuan adalah membaca.

Selain itu, Balai Bahasa sudah tentu mengaplikasikan beberapa tuntutan aturan di antaranya Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dan Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2014 tentang pengembangan, pembinaan, dan pelindungan bahasa dan sastra serta peningkatan fungsi bahasa Indonesia.

Predikat ‘Nol Buku’

Predikat sebagai Negara buta aksara terbesar memang masih tersemat oleh negara ini. Bayangkan saja, data statistik UNESCO yang dilansir tahun 2012 menyebutkan, indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001 persen. Artinya, setiap 1.000 penduduk, hanya satu orang yang memiliki minat baca. Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan bagi semua kalangan.

Jika kita ingin menarik simpulan dari kegiatan membaca dan menulis, maka kegiatan yang lebih dulu harus dilakukan adalah membaca. Membaca adalah asal dari pengetahuan itu bermula. Namun, jangan lupa di sela-sela membaca, kita seharusnya menuntut diri dengan tekad kuat untuk menuliskan apa yang telah dibaca. Itulah asal mula dari menulis, menuliskan apa yang sudah dibaca. Menurut Stephen King, membaca adalah pusat yang tidak bisa dihindari oleh penulis.

Anda pasti mengenal Taufik Ismail. Beliau seorang dokter hewan, namun kepiawaiannya dalam menulis tak bisa dipandang sebelah mata. Di angkatan kepenyairannya di negeri ini, melalui karya karyanya terutama puisi, telah membawa namanya sekaligus mengharumkan bangsa ini hingga ke mancanegara.

Ia pernah bilang begini. Semestinya hanya ada dua yang mesti diajarkan oleh guru Bahasa Indonesia di sekolah. Yakni menulis, menulis menulis, dan membaca, membaca, membaca.

Dialah yang melalui penanya menciptakan ungkapan “tragedi nol buku” yang disematkan untuk bangsa ini. Ia membandingkan persoalan membaca buku di negara-negara lain. Hasilnya ia mendapatkan rata-rata lulusan SMA di Jerman membaca 32 judul buku, di Belanda 30 buku, Rusia 12 buku, Jepang 15 buku, Singapura 6 buku, Malaysia 6 buku, Brunei 7 Buku, sedangkan Indonesia nol buku.

Kata ‘nol buku’ rasa rasanya sangat memukul generasi muda bangsa ini. Begitu rendahnyakah kualitas baca di negeri ini? Kualitas menulis apalagi? Membaca dan menulis tentu dua hal yang saling berhubungan. Tak bisa dipisahkan begitu saja. Setiap penulis senantiasa haus akan bacaan. Tulisan yang baik akan didahului dengan bacaan yang baik pula.

Kita pasti sudah tahu apa maksud dari pernyataan tersebut. Sebab boleh dibilang, guru Bahasa Indonesia kita sejak SD, SMP, SMA dan mungkin hingga di Perguruan Tinggi, hanya mengajarkan teori-teori kebahasaan semata. Padahal yang utama dari itu semua adalah pengaplikasiannya.

Telah lama kita mengenal dan mempelajari teori menulis, namun apa hasilnya? Anak didik tak diajar menulis sebebas bebasnya. Pelajar hanya dibatasi dengan teori. Padahal, dalam menulis penting adanya imajinasi. Bukankah imajinasi seseorang itu berbeda-beda dan tak bisa dibatasi?


GIMM

Perhatian pemerintah melalui Badan Balai Bahasa sepertinya patut diapresiasi. Untuk Balai Bahasa Sulawesi Selatan, Gerakan Indonesia Membaca-Menulis (GIMM) se-Kota Makassar ini dilaksanakan pada hari Senin-Rabu (10-12 Oktober 2016) di Hotel Aerotel Smile Makassar.

Diikuti sebanyak 250 peserta yang berbagai kalangan mulai dari siswa, mahasiswa hingga guru. Dalam kegiatan ini, terselip juga berbagai kegiatan lomba untuk memacu semangat menulis para peserta. Di antaranya lomba Karya Tulis Ilmiah (KTI) di tingkat Guru, lomba menulis Esai tingkat Mahasiswa dan lomba Penulisan Cerita Rakyat di tingkat siswa.

Di hari terakhir, akan dipilih 10 peserta terbaik dari masing-masing bidang untuk mempresentasikan hasil karya tulisnya. Setelah itu akan ditentukan enam peserta untuk mendapat juara I sampai juara III dan harapan I sampai harapan III, masing-masing dari bidang akan diambil dua orang untuk mewakili ke tingkat nasional.

Semoga GIMM benar-benar bisa menjadi rahim bagi generasi literasi di Indonesia. Sehingga output dari kegiatan ini minimal mampu melahirkan penulis-penulis berbakat dan juga pembaca-pembaca yang dapat menularkan virus membacanya kepada masyarakat di sekitarnya. Bukankah pepatah Cina mengatakan, “perjalanan seribu mil dimulai dari langkah pertama?” Terima kasih telah mengundang penulis menjadi satu bagian dari proses literasi ini. Semoga!


*Tulisan ini diterbitkan pertama kali di Rubrik Opini Harian Fajar Makassar, 13 Oktober 2016
Via Fajar online sila klik ini.
Harian Fajar, 13 Oktober 2016

Jika Anda tidak dapat terbang, maka larilah. Jika Anda tidak dapat berlari, maka berjalanlah. Jika Anda tidak dapat berjalan, maka merangkaklah. Tetapi apapun yang Anda lakukan, Anda harus tetap bergerak ke depan.
 (Martin Luther King Jr.)

GERAKAN Indonesia Membaca-Menulis atau yang disingkat GIMM telah mengaplikasikan kalimat di atas. Walaupun banyak kendala menghadang, namun gerakan ini tak pernah mati suri. Gerakan yang dipelopori pemerintah melalui kementerian pendidikan dan kebudayaan mengingatkan kepada kita akan pentingnya perubahan yang diawali dari sebuah gerakan. Gerakan yang selalu membawa perubahan untuk tetap bergerak ke depan.

Badan Balai Bahasa Provinsi di seluruh Indonesia, rupaya sudah melancarkan aksinya dalam rangka memahamkan kepada masyarakat akan pentingnya budaya literasi. Budaya literasi atau budaya tulis-menulis, sejatinya memang harus selalu disebarkan ke masyarakat. Mengingat dasar utama ilmu pengetahuan adalah membaca.

Selain itu, Balai Bahasa sudah tentu mengaplikasikan beberapa tuntutan aturan di antaranya Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dan Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2014 tentang pengembangan, pembinaan, dan pelindungan bahasa dan sastra serta peningkatan fungsi bahasa Indonesia.

Predikat ‘Nol Buku’

Predikat sebagai Negara buta aksara terbesar memang masih tersemat oleh negara ini. Bayangkan saja, data statistik UNESCO yang dilansir tahun 2012 menyebutkan, indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001 persen. Artinya, setiap 1.000 penduduk, hanya satu orang yang memiliki minat baca. Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan bagi semua kalangan.

Jika kita ingin menarik simpulan dari kegiatan membaca dan menulis, maka kegiatan yang lebih dulu harus dilakukan adalah membaca. Membaca adalah asal dari pengetahuan itu bermula. Namun, jangan lupa di sela-sela membaca, kita seharusnya menuntut diri dengan tekad kuat untuk menuliskan apa yang telah dibaca. Itulah asal mula dari menulis, menuliskan apa yang sudah dibaca. Menurut Stephen King, membaca adalah pusat yang tidak bisa dihindari oleh penulis.

Anda pasti mengenal Taufik Ismail. Beliau seorang dokter hewan, namun kepiawaiannya dalam menulis tak bisa dipandang sebelah mata. Di angkatan kepenyairannya di negeri ini, melalui karya karyanya terutama puisi, telah membawa namanya sekaligus mengharumkan bangsa ini hingga ke mancanegara.

Ia pernah bilang begini. Semestinya hanya ada dua yang mesti diajarkan oleh guru Bahasa Indonesia di sekolah. Yakni menulis, menulis menulis, dan membaca, membaca, membaca.

Dialah yang melalui penanya menciptakan ungkapan “tragedi nol buku” yang disematkan untuk bangsa ini. Ia membandingkan persoalan membaca buku di negara-negara lain. Hasilnya ia mendapatkan rata-rata lulusan SMA di Jerman membaca 32 judul buku, di Belanda 30 buku, Rusia 12 buku, Jepang 15 buku, Singapura 6 buku, Malaysia 6 buku, Brunei 7 Buku, sedangkan Indonesia nol buku.

Kata ‘nol buku’ rasa rasanya sangat memukul generasi muda bangsa ini. Begitu rendahnyakah kualitas baca di negeri ini? Kualitas menulis apalagi? Membaca dan menulis tentu dua hal yang saling berhubungan. Tak bisa dipisahkan begitu saja. Setiap penulis senantiasa haus akan bacaan. Tulisan yang baik akan didahului dengan bacaan yang baik pula.

Kita pasti sudah tahu apa maksud dari pernyataan tersebut. Sebab boleh dibilang, guru Bahasa Indonesia kita sejak SD, SMP, SMA dan mungkin hingga di Perguruan Tinggi, hanya mengajarkan teori-teori kebahasaan semata. Padahal yang utama dari itu semua adalah pengaplikasiannya.

Telah lama kita mengenal dan mempelajari teori menulis, namun apa hasilnya? Anak didik tak diajar menulis sebebas bebasnya. Pelajar hanya dibatasi dengan teori. Padahal, dalam menulis penting adanya imajinasi. Bukankah imajinasi seseorang itu berbeda-beda dan tak bisa dibatasi?


GIMM

Perhatian pemerintah melalui Badan Balai Bahasa sepertinya patut diapresiasi. Untuk Balai Bahasa Sulawesi Selatan, Gerakan Indonesia Membaca-Menulis (GIMM) se-Kota Makassar ini dilaksanakan pada hari Senin-Rabu (10-12 Oktober 2016) di Hotel Aerotel Smile Makassar.

Diikuti sebanyak 250 peserta yang berbagai kalangan mulai dari siswa, mahasiswa hingga guru. Dalam kegiatan ini, terselip juga berbagai kegiatan lomba untuk memacu semangat menulis para peserta. Di antaranya lomba Karya Tulis Ilmiah (KTI) di tingkat Guru, lomba menulis Esai tingkat Mahasiswa dan lomba Penulisan Cerita Rakyat di tingkat siswa.

Di hari terakhir, akan dipilih 10 peserta terbaik dari masing-masing bidang untuk mempresentasikan hasil karya tulisnya. Setelah itu akan ditentukan enam peserta untuk mendapat juara I sampai juara III dan harapan I sampai harapan III, masing-masing dari bidang akan diambil dua orang untuk mewakili ke tingkat nasional.

Semoga GIMM benar-benar bisa menjadi rahim bagi generasi literasi di Indonesia. Sehingga output dari kegiatan ini minimal mampu melahirkan penulis-penulis berbakat dan juga pembaca-pembaca yang dapat menularkan virus membacanya kepada masyarakat di sekitarnya. Bukankah pepatah Cina mengatakan, “perjalanan seribu mil dimulai dari langkah pertama?” Terima kasih telah mengundang penulis menjadi satu bagian dari proses literasi ini. Semoga!


*Tulisan ini diterbitkan pertama kali di Rubrik Opini Harian Fajar Makassar, 13 Oktober 2016
Via Fajar online sila klik ini.
Harian Fajar, 13 Oktober 2016

Jika Anda tidak dapat terbang, maka larilah. Jika Anda tidak dapat berlari, maka berjalanlah. Jika Anda tidak dapat berjalan, maka merangkaklah. Tetapi apapun yang Anda lakukan, Anda harus tetap bergerak ke depan.
 (Martin Luther King Jr.)

GERAKAN Indonesia Membaca-Menulis atau yang disingkat GIMM telah mengaplikasikan kalimat di atas. Walaupun banyak kendala menghadang, namun gerakan ini tak pernah mati suri. Gerakan yang dipelopori pemerintah melalui kementerian pendidikan dan kebudayaan mengingatkan kepada kita akan pentingnya perubahan yang diawali dari sebuah gerakan. Gerakan yang selalu membawa perubahan untuk tetap bergerak ke depan.

Badan Balai Bahasa Provinsi di seluruh Indonesia, rupaya sudah melancarkan aksinya dalam rangka memahamkan kepada masyarakat akan pentingnya budaya literasi. Budaya literasi atau budaya tulis-menulis, sejatinya memang harus selalu disebarkan ke masyarakat. Mengingat dasar utama ilmu pengetahuan adalah membaca.

Selain itu, Balai Bahasa sudah tentu mengaplikasikan beberapa tuntutan aturan di antaranya Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dan Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2014 tentang pengembangan, pembinaan, dan pelindungan bahasa dan sastra serta peningkatan fungsi bahasa Indonesia.

Predikat ‘Nol Buku’

Predikat sebagai Negara buta aksara terbesar memang masih tersemat oleh negara ini. Bayangkan saja, data statistik UNESCO yang dilansir tahun 2012 menyebutkan, indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001 persen. Artinya, setiap 1.000 penduduk, hanya satu orang yang memiliki minat baca. Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan bagi semua kalangan.

Jika kita ingin menarik simpulan dari kegiatan membaca dan menulis, maka kegiatan yang lebih dulu harus dilakukan adalah membaca. Membaca adalah asal dari pengetahuan itu bermula. Namun, jangan lupa di sela-sela membaca, kita seharusnya menuntut diri dengan tekad kuat untuk menuliskan apa yang telah dibaca. Itulah asal mula dari menulis, menuliskan apa yang sudah dibaca. Menurut Stephen King, membaca adalah pusat yang tidak bisa dihindari oleh penulis.

Anda pasti mengenal Taufik Ismail. Beliau seorang dokter hewan, namun kepiawaiannya dalam menulis tak bisa dipandang sebelah mata. Di angkatan kepenyairannya di negeri ini, melalui karya karyanya terutama puisi, telah membawa namanya sekaligus mengharumkan bangsa ini hingga ke mancanegara.

Ia pernah bilang begini. Semestinya hanya ada dua yang mesti diajarkan oleh guru Bahasa Indonesia di sekolah. Yakni menulis, menulis menulis, dan membaca, membaca, membaca.

Dialah yang melalui penanya menciptakan ungkapan “tragedi nol buku” yang disematkan untuk bangsa ini. Ia membandingkan persoalan membaca buku di negara-negara lain. Hasilnya ia mendapatkan rata-rata lulusan SMA di Jerman membaca 32 judul buku, di Belanda 30 buku, Rusia 12 buku, Jepang 15 buku, Singapura 6 buku, Malaysia 6 buku, Brunei 7 Buku, sedangkan Indonesia nol buku.

Kata ‘nol buku’ rasa rasanya sangat memukul generasi muda bangsa ini. Begitu rendahnyakah kualitas baca di negeri ini? Kualitas menulis apalagi? Membaca dan menulis tentu dua hal yang saling berhubungan. Tak bisa dipisahkan begitu saja. Setiap penulis senantiasa haus akan bacaan. Tulisan yang baik akan didahului dengan bacaan yang baik pula.

Kita pasti sudah tahu apa maksud dari pernyataan tersebut. Sebab boleh dibilang, guru Bahasa Indonesia kita sejak SD, SMP, SMA dan mungkin hingga di Perguruan Tinggi, hanya mengajarkan teori-teori kebahasaan semata. Padahal yang utama dari itu semua adalah pengaplikasiannya.

Telah lama kita mengenal dan mempelajari teori menulis, namun apa hasilnya? Anak didik tak diajar menulis sebebas bebasnya. Pelajar hanya dibatasi dengan teori. Padahal, dalam menulis penting adanya imajinasi. Bukankah imajinasi seseorang itu berbeda-beda dan tak bisa dibatasi?


GIMM

Perhatian pemerintah melalui Badan Balai Bahasa sepertinya patut diapresiasi. Untuk Balai Bahasa Sulawesi Selatan, Gerakan Indonesia Membaca-Menulis (GIMM) se-Kota Makassar ini dilaksanakan pada hari Senin-Rabu (10-12 Oktober 2016) di Hotel Aerotel Smile Makassar.

Diikuti sebanyak 250 peserta yang berbagai kalangan mulai dari siswa, mahasiswa hingga guru. Dalam kegiatan ini, terselip juga berbagai kegiatan lomba untuk memacu semangat menulis para peserta. Di antaranya lomba Karya Tulis Ilmiah (KTI) di tingkat Guru, lomba menulis Esai tingkat Mahasiswa dan lomba Penulisan Cerita Rakyat di tingkat siswa.

Di hari terakhir, akan dipilih 10 peserta terbaik dari masing-masing bidang untuk mempresentasikan hasil karya tulisnya. Setelah itu akan ditentukan enam peserta untuk mendapat juara I sampai juara III dan harapan I sampai harapan III, masing-masing dari bidang akan diambil dua orang untuk mewakili ke tingkat nasional.

Semoga GIMM benar-benar bisa menjadi rahim bagi generasi literasi di Indonesia. Sehingga output dari kegiatan ini minimal mampu melahirkan penulis-penulis berbakat dan juga pembaca-pembaca yang dapat menularkan virus membacanya kepada masyarakat di sekitarnya. Bukankah pepatah Cina mengatakan, “perjalanan seribu mil dimulai dari langkah pertama?” Terima kasih telah mengundang penulis menjadi satu bagian dari proses literasi ini. Semoga!


*Tulisan ini diterbitkan pertama kali di Rubrik Opini Harian Fajar Makassar, 13 Oktober 2016
Via Fajar online sila klik ini.
Harian Fajar, 13 Oktober 2016

Jika Anda tidak dapat terbang, maka larilah. Jika Anda tidak dapat berlari, maka berjalanlah. Jika Anda tidak dapat berjalan, maka merangkaklah. Tetapi apapun yang Anda lakukan, Anda harus tetap bergerak ke depan.
 (Martin Luther King Jr.)

GERAKAN Indonesia Membaca-Menulis atau yang disingkat GIMM telah mengaplikasikan kalimat di atas. Walaupun banyak kendala menghadang, namun gerakan ini tak pernah mati suri. Gerakan yang dipelopori pemerintah melalui kementerian pendidikan dan kebudayaan mengingatkan kepada kita akan pentingnya perubahan yang diawali dari sebuah gerakan. Gerakan yang selalu membawa perubahan untuk tetap bergerak ke depan.

Badan Balai Bahasa Provinsi di seluruh Indonesia, rupaya sudah melancarkan aksinya dalam rangka memahamkan kepada masyarakat akan pentingnya budaya literasi. Budaya literasi atau budaya tulis-menulis, sejatinya memang harus selalu disebarkan ke masyarakat. Mengingat dasar utama ilmu pengetahuan adalah membaca.

Selain itu, Balai Bahasa sudah tentu mengaplikasikan beberapa tuntutan aturan di antaranya Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dan Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2014 tentang pengembangan, pembinaan, dan pelindungan bahasa dan sastra serta peningkatan fungsi bahasa Indonesia.

Predikat ‘Nol Buku’

Predikat sebagai Negara buta aksara terbesar memang masih tersemat oleh negara ini. Bayangkan saja, data statistik UNESCO yang dilansir tahun 2012 menyebutkan, indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001 persen. Artinya, setiap 1.000 penduduk, hanya satu orang yang memiliki minat baca. Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan bagi semua kalangan.

Jika kita ingin menarik simpulan dari kegiatan membaca dan menulis, maka kegiatan yang lebih dulu harus dilakukan adalah membaca. Membaca adalah asal dari pengetahuan itu bermula. Namun, jangan lupa di sela-sela membaca, kita seharusnya menuntut diri dengan tekad kuat untuk menuliskan apa yang telah dibaca. Itulah asal mula dari menulis, menuliskan apa yang sudah dibaca. Menurut Stephen King, membaca adalah pusat yang tidak bisa dihindari oleh penulis.

Anda pasti mengenal Taufik Ismail. Beliau seorang dokter hewan, namun kepiawaiannya dalam menulis tak bisa dipandang sebelah mata. Di angkatan kepenyairannya di negeri ini, melalui karya karyanya terutama puisi, telah membawa namanya sekaligus mengharumkan bangsa ini hingga ke mancanegara.

Ia pernah bilang begini. Semestinya hanya ada dua yang mesti diajarkan oleh guru Bahasa Indonesia di sekolah. Yakni menulis, menulis menulis, dan membaca, membaca, membaca.

Dialah yang melalui penanya menciptakan ungkapan “tragedi nol buku” yang disematkan untuk bangsa ini. Ia membandingkan persoalan membaca buku di negara-negara lain. Hasilnya ia mendapatkan rata-rata lulusan SMA di Jerman membaca 32 judul buku, di Belanda 30 buku, Rusia 12 buku, Jepang 15 buku, Singapura 6 buku, Malaysia 6 buku, Brunei 7 Buku, sedangkan Indonesia nol buku.

Kata ‘nol buku’ rasa rasanya sangat memukul generasi muda bangsa ini. Begitu rendahnyakah kualitas baca di negeri ini? Kualitas menulis apalagi? Membaca dan menulis tentu dua hal yang saling berhubungan. Tak bisa dipisahkan begitu saja. Setiap penulis senantiasa haus akan bacaan. Tulisan yang baik akan didahului dengan bacaan yang baik pula.

Kita pasti sudah tahu apa maksud dari pernyataan tersebut. Sebab boleh dibilang, guru Bahasa Indonesia kita sejak SD, SMP, SMA dan mungkin hingga di Perguruan Tinggi, hanya mengajarkan teori-teori kebahasaan semata. Padahal yang utama dari itu semua adalah pengaplikasiannya.

Telah lama kita mengenal dan mempelajari teori menulis, namun apa hasilnya? Anak didik tak diajar menulis sebebas bebasnya. Pelajar hanya dibatasi dengan teori. Padahal, dalam menulis penting adanya imajinasi. Bukankah imajinasi seseorang itu berbeda-beda dan tak bisa dibatasi?


GIMM

Perhatian pemerintah melalui Badan Balai Bahasa sepertinya patut diapresiasi. Untuk Balai Bahasa Sulawesi Selatan, Gerakan Indonesia Membaca-Menulis (GIMM) se-Kota Makassar ini dilaksanakan pada hari Senin-Rabu (10-12 Oktober 2016) di Hotel Aerotel Smile Makassar.

Diikuti sebanyak 250 peserta yang berbagai kalangan mulai dari siswa, mahasiswa hingga guru. Dalam kegiatan ini, terselip juga berbagai kegiatan lomba untuk memacu semangat menulis para peserta. Di antaranya lomba Karya Tulis Ilmiah (KTI) di tingkat Guru, lomba menulis Esai tingkat Mahasiswa dan lomba Penulisan Cerita Rakyat di tingkat siswa.

Di hari terakhir, akan dipilih 10 peserta terbaik dari masing-masing bidang untuk mempresentasikan hasil karya tulisnya. Setelah itu akan ditentukan enam peserta untuk mendapat juara I sampai juara III dan harapan I sampai harapan III, masing-masing dari bidang akan diambil dua orang untuk mewakili ke tingkat nasional.

Semoga GIMM benar-benar bisa menjadi rahim bagi generasi literasi di Indonesia. Sehingga output dari kegiatan ini minimal mampu melahirkan penulis-penulis berbakat dan juga pembaca-pembaca yang dapat menularkan virus membacanya kepada masyarakat di sekitarnya. Bukankah pepatah Cina mengatakan, “perjalanan seribu mil dimulai dari langkah pertama?” Terima kasih telah mengundang penulis menjadi satu bagian dari proses literasi ini. Semoga!


*Tulisan ini diterbitkan pertama kali di Rubrik Opini Harian Fajar Makassar, 13 Oktober 2016
Via Fajar online sila klik ini.
Harian Fajar, 13 Oktober 2016

Jika Anda tidak dapat terbang, maka larilah. Jika Anda tidak dapat berlari, maka berjalanlah. Jika Anda tidak dapat berjalan, maka merangkaklah. Tetapi apapun yang Anda lakukan, Anda harus tetap bergerak ke depan.
 (Martin Luther King Jr.)

GERAKAN Indonesia Membaca-Menulis atau yang disingkat GIMM telah mengaplikasikan kalimat di atas. Walaupun banyak kendala menghadang, namun gerakan ini tak pernah mati suri. Gerakan yang dipelopori pemerintah melalui kementerian pendidikan dan kebudayaan mengingatkan kepada kita akan pentingnya perubahan yang diawali dari sebuah gerakan. Gerakan yang selalu membawa perubahan untuk tetap bergerak ke depan.

Badan Balai Bahasa Provinsi di seluruh Indonesia, rupaya sudah melancarkan aksinya dalam rangka memahamkan kepada masyarakat akan pentingnya budaya literasi. Budaya literasi atau budaya tulis-menulis, sejatinya memang harus selalu disebarkan ke masyarakat. Mengingat dasar utama ilmu pengetahuan adalah membaca.

Selain itu, Balai Bahasa sudah tentu mengaplikasikan beberapa tuntutan aturan di antaranya Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dan Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2014 tentang pengembangan, pembinaan, dan pelindungan bahasa dan sastra serta peningkatan fungsi bahasa Indonesia.

Predikat ‘Nol Buku’

Predikat sebagai Negara buta aksara terbesar memang masih tersemat oleh negara ini. Bayangkan saja, data statistik UNESCO yang dilansir tahun 2012 menyebutkan, indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001 persen. Artinya, setiap 1.000 penduduk, hanya satu orang yang memiliki minat baca. Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan bagi semua kalangan.

Jika kita ingin menarik simpulan dari kegiatan membaca dan menulis, maka kegiatan yang lebih dulu harus dilakukan adalah membaca. Membaca adalah asal dari pengetahuan itu bermula. Namun, jangan lupa di sela-sela membaca, kita seharusnya menuntut diri dengan tekad kuat untuk menuliskan apa yang telah dibaca. Itulah asal mula dari menulis, menuliskan apa yang sudah dibaca. Menurut Stephen King, membaca adalah pusat yang tidak bisa dihindari oleh penulis.

Anda pasti mengenal Taufik Ismail. Beliau seorang dokter hewan, namun kepiawaiannya dalam menulis tak bisa dipandang sebelah mata. Di angkatan kepenyairannya di negeri ini, melalui karya karyanya terutama puisi, telah membawa namanya sekaligus mengharumkan bangsa ini hingga ke mancanegara.

Ia pernah bilang begini. Semestinya hanya ada dua yang mesti diajarkan oleh guru Bahasa Indonesia di sekolah. Yakni menulis, menulis menulis, dan membaca, membaca, membaca.

Dialah yang melalui penanya menciptakan ungkapan “tragedi nol buku” yang disematkan untuk bangsa ini. Ia membandingkan persoalan membaca buku di negara-negara lain. Hasilnya ia mendapatkan rata-rata lulusan SMA di Jerman membaca 32 judul buku, di Belanda 30 buku, Rusia 12 buku, Jepang 15 buku, Singapura 6 buku, Malaysia 6 buku, Brunei 7 Buku, sedangkan Indonesia nol buku.

Kata ‘nol buku’ rasa rasanya sangat memukul generasi muda bangsa ini. Begitu rendahnyakah kualitas baca di negeri ini? Kualitas menulis apalagi? Membaca dan menulis tentu dua hal yang saling berhubungan. Tak bisa dipisahkan begitu saja. Setiap penulis senantiasa haus akan bacaan. Tulisan yang baik akan didahului dengan bacaan yang baik pula.

Kita pasti sudah tahu apa maksud dari pernyataan tersebut. Sebab boleh dibilang, guru Bahasa Indonesia kita sejak SD, SMP, SMA dan mungkin hingga di Perguruan Tinggi, hanya mengajarkan teori-teori kebahasaan semata. Padahal yang utama dari itu semua adalah pengaplikasiannya.

Telah lama kita mengenal dan mempelajari teori menulis, namun apa hasilnya? Anak didik tak diajar menulis sebebas bebasnya. Pelajar hanya dibatasi dengan teori. Padahal, dalam menulis penting adanya imajinasi. Bukankah imajinasi seseorang itu berbeda-beda dan tak bisa dibatasi?


GIMM

Perhatian pemerintah melalui Badan Balai Bahasa sepertinya patut diapresiasi. Untuk Balai Bahasa Sulawesi Selatan, Gerakan Indonesia Membaca-Menulis (GIMM) se-Kota Makassar ini dilaksanakan pada hari Senin-Rabu (10-12 Oktober 2016) di Hotel Aerotel Smile Makassar.

Diikuti sebanyak 250 peserta yang berbagai kalangan mulai dari siswa, mahasiswa hingga guru. Dalam kegiatan ini, terselip juga berbagai kegiatan lomba untuk memacu semangat menulis para peserta. Di antaranya lomba Karya Tulis Ilmiah (KTI) di tingkat Guru, lomba menulis Esai tingkat Mahasiswa dan lomba Penulisan Cerita Rakyat di tingkat siswa.

Di hari terakhir, akan dipilih 10 peserta terbaik dari masing-masing bidang untuk mempresentasikan hasil karya tulisnya. Setelah itu akan ditentukan enam peserta untuk mendapat juara I sampai juara III dan harapan I sampai harapan III, masing-masing dari bidang akan diambil dua orang untuk mewakili ke tingkat nasional.

Semoga GIMM benar-benar bisa menjadi rahim bagi generasi literasi di Indonesia. Sehingga output dari kegiatan ini minimal mampu melahirkan penulis-penulis berbakat dan juga pembaca-pembaca yang dapat menularkan virus membacanya kepada masyarakat di sekitarnya. Bukankah pepatah Cina mengatakan, “perjalanan seribu mil dimulai dari langkah pertama?” Terima kasih telah mengundang penulis menjadi satu bagian dari proses literasi ini. Semoga!


*Tulisan ini diterbitkan pertama kali di Rubrik Opini Harian Fajar Makassar, 13 Oktober 2016
Via Fajar online sila klik ini.
Brosur Tugas Kewirausahaan Mahasiswa HPK D 2013 UIN Alauddin Makassar
Lihat Detail

Brosur Tugas Kewirausahaan Mahasiswa HPK D 2013 UIN Alauddin Makassar

M Galang Pratama
Muh. Galang Pratama



M Galang Pratama
Muh. Baso aqil Azizi

M Galang Pratama
Aliyaman

M Galang Pratama
Riswan

M Galang Pratama
Eka Gusti Kardillah

M Galang Pratama
Muhammad Ikhsan Sapa

M Galang Pratama
Sulfi Alis

M Galang Pratama
Hastuti

M Galang Pratama
Muh. Asdar
Andi Rezky Aulia Pratiwi

Intan Baueja Ratu Tu

Nurfadillah Ridwan

Nur Samsi Idris

Muh. Munir Majid

Nurwahyuni


Reskiyanto

?

Yusran

Fira Yuniar

Reski Wulansari B

Anriani

Farika Pratiwi Yusri

Haris Mustofa

M Galang Pratama
Muh. Galang Pratama



M Galang Pratama
Muh. Baso aqil Azizi

M Galang Pratama
Aliyaman

M Galang Pratama
Riswan

M Galang Pratama
Eka Gusti Kardillah

M Galang Pratama
Muhammad Ikhsan Sapa

M Galang Pratama
Sulfi Alis

M Galang Pratama
Hastuti

M Galang Pratama
Muh. Asdar
Andi Rezky Aulia Pratiwi

Intan Baueja Ratu Tu

Nurfadillah Ridwan

Nur Samsi Idris

Muh. Munir Majid

Nurwahyuni


Reskiyanto

?

Yusran

Fira Yuniar

Reski Wulansari B

Anriani

Farika Pratiwi Yusri

Haris Mustofa

M Galang Pratama
Muh. Galang Pratama



M Galang Pratama
Muh. Baso aqil Azizi

M Galang Pratama
Aliyaman

M Galang Pratama
Riswan

M Galang Pratama
Eka Gusti Kardillah

M Galang Pratama
Muhammad Ikhsan Sapa

M Galang Pratama
Sulfi Alis

M Galang Pratama
Hastuti

M Galang Pratama
Muh. Asdar
Andi Rezky Aulia Pratiwi

Intan Baueja Ratu Tu

Nurfadillah Ridwan

Nur Samsi Idris

Muh. Munir Majid

Nurwahyuni


Reskiyanto

?

Yusran

Fira Yuniar

Reski Wulansari B

Anriani

Farika Pratiwi Yusri

Haris Mustofa

Praktek Pengenalan Lapangan (PPL) HPK 2016
Lihat Detail

Praktek Pengenalan Lapangan (PPL) HPK 2016


Sehubungan dengan akan diadakannya kegiatan Praktek Pengenalan Lapangan (PPL) Peradilan Fakultas Syari’ah dan Hukum (FSH) UIN Alauddin Makassar untuk Mahasiswa Angkatan 2013 selama 1 (satu) bulan terhitung tanggal 1 Agustus – 31 Agustus 2016, maka beberapa jurusan/program studi di FSH sudah mempersiapkan beberapa bekal untuk persiapan mahasiswanya.

Salah satu bekal yang penting dimaksud ialah surat permohonan izin PPL. "Surat ini diisi oleh mahasiswa kemudian diberikan ke jurusan lalu dimasukkan ke instansi pengadilan yang terkait," ujar Syamsi, staf Jurusan HPK saat ditemui di ruang jurusan HPK Gedung M FSH lantai II, Kamis 21 Juli 2016.

Untuk pengelompokannya sendiri, mahasiswa harus menentukan minimal 20 nama mahasiswa untuk satu kantor pengadilan.

Nah, untuk mendownload surat izinnya, mahasiswa disilakan mengunduhnya lewat link berikut.
File Surat Izin PPL-Peradilan HPK

Sehubungan dengan akan diadakannya kegiatan Praktek Pengenalan Lapangan (PPL) Peradilan Fakultas Syari’ah dan Hukum (FSH) UIN Alauddin Makassar untuk Mahasiswa Angkatan 2013 selama 1 (satu) bulan terhitung tanggal 1 Agustus – 31 Agustus 2016, maka beberapa jurusan/program studi di FSH sudah mempersiapkan beberapa bekal untuk persiapan mahasiswanya.

Salah satu bekal yang penting dimaksud ialah surat permohonan izin PPL. "Surat ini diisi oleh mahasiswa kemudian diberikan ke jurusan lalu dimasukkan ke instansi pengadilan yang terkait," ujar Syamsi, staf Jurusan HPK saat ditemui di ruang jurusan HPK Gedung M FSH lantai II, Kamis 21 Juli 2016.

Untuk pengelompokannya sendiri, mahasiswa harus menentukan minimal 20 nama mahasiswa untuk satu kantor pengadilan.

Nah, untuk mendownload surat izinnya, mahasiswa disilakan mengunduhnya lewat link berikut.
File Surat Izin PPL-Peradilan HPK

Sehubungan dengan akan diadakannya kegiatan Praktek Pengenalan Lapangan (PPL) Peradilan Fakultas Syari’ah dan Hukum (FSH) UIN Alauddin Makassar untuk Mahasiswa Angkatan 2013 selama 1 (satu) bulan terhitung tanggal 1 Agustus – 31 Agustus 2016, maka beberapa jurusan/program studi di FSH sudah mempersiapkan beberapa bekal untuk persiapan mahasiswanya.

Salah satu bekal yang penting dimaksud ialah surat permohonan izin PPL. "Surat ini diisi oleh mahasiswa kemudian diberikan ke jurusan lalu dimasukkan ke instansi pengadilan yang terkait," ujar Syamsi, staf Jurusan HPK saat ditemui di ruang jurusan HPK Gedung M FSH lantai II, Kamis 21 Juli 2016.

Untuk pengelompokannya sendiri, mahasiswa harus menentukan minimal 20 nama mahasiswa untuk satu kantor pengadilan.

Nah, untuk mendownload surat izinnya, mahasiswa disilakan mengunduhnya lewat link berikut.
File Surat Izin PPL-Peradilan HPK

Sehubungan dengan akan diadakannya kegiatan Praktek Pengenalan Lapangan (PPL) Peradilan Fakultas Syari’ah dan Hukum (FSH) UIN Alauddin Makassar untuk Mahasiswa Angkatan 2013 selama 1 (satu) bulan terhitung tanggal 1 Agustus – 31 Agustus 2016, maka beberapa jurusan/program studi di FSH sudah mempersiapkan beberapa bekal untuk persiapan mahasiswanya.

Salah satu bekal yang penting dimaksud ialah surat permohonan izin PPL. "Surat ini diisi oleh mahasiswa kemudian diberikan ke jurusan lalu dimasukkan ke instansi pengadilan yang terkait," ujar Syamsi, staf Jurusan HPK saat ditemui di ruang jurusan HPK Gedung M FSH lantai II, Kamis 21 Juli 2016.

Untuk pengelompokannya sendiri, mahasiswa harus menentukan minimal 20 nama mahasiswa untuk satu kantor pengadilan.

Nah, untuk mendownload surat izinnya, mahasiswa disilakan mengunduhnya lewat link berikut.
File Surat Izin PPL-Peradilan HPK

Sehubungan dengan akan diadakannya kegiatan Praktek Pengenalan Lapangan (PPL) Peradilan Fakultas Syari’ah dan Hukum (FSH) UIN Alauddin Makassar untuk Mahasiswa Angkatan 2013 selama 1 (satu) bulan terhitung tanggal 1 Agustus – 31 Agustus 2016, maka beberapa jurusan/program studi di FSH sudah mempersiapkan beberapa bekal untuk persiapan mahasiswanya.

Salah satu bekal yang penting dimaksud ialah surat permohonan izin PPL. "Surat ini diisi oleh mahasiswa kemudian diberikan ke jurusan lalu dimasukkan ke instansi pengadilan yang terkait," ujar Syamsi, staf Jurusan HPK saat ditemui di ruang jurusan HPK Gedung M FSH lantai II, Kamis 21 Juli 2016.

Untuk pengelompokannya sendiri, mahasiswa harus menentukan minimal 20 nama mahasiswa untuk satu kantor pengadilan.

Nah, untuk mendownload surat izinnya, mahasiswa disilakan mengunduhnya lewat link berikut.
File Surat Izin PPL-Peradilan HPK
Opini Muh. Galang Pratama Menjadikan Membaca Serupa Melahap Makanan Saat Lapar
Lihat Detail

Opini Muh. Galang Pratama Menjadikan Membaca Serupa Melahap Makanan Saat Lapar





PADA dasarnya banyak hal yang mesti kita perbaiki. Sutarto (2015) menyatakan bahwa Indonesia masuk dalam data negara yang menempati posisi paling bawah dalam hal minat baca di Asia. Ini baru di Asia, apalagi di dunia? Tahukah kawan-kawan mengapa itu bisa terjadi? Sebab salah satu budaya yang terus mengakar pada diri generasi muda bangsa ini adalah malas membaca. 


Sulit sekali membiasakan sikap gemar membaca. Padahal sebenarnya teman-teman sudah tahu apa pentingnya membaca. Iya kan? Membaca hanya perlu dibiasakan, seperti kata para motivator. Bahkan menurut penulis, membaca kalau perlu dipaksakan datang dari dalam diri sendiri (bagi pemula). Jika teman-teman sudah merasakan nikmatnya membaca, maka budaya membaca tak akan lepas pada diri teman-teman. Membaca seolah-olah menjadi kebutuhan pokok yang tak bisa dilepas seperti halnya makan. Tentu teman-teman akan selalu mencari makan ketika sedang lapar, bukan begitu? 

2 Mei 2016 bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Tahukah teman-teman pelajaran apa yang kita bisa petik dari peringatan hardiknas kali ini? Bukan hanya mengadakan seremonial semata. Kita mestinya merenung. Sudah sampai di mana sumbangsih kita pada negara dalam hal pendidikan. Apakah kita sudah memenuhi pesan-pesan dari para pejuang kita yang rela mati demi membela keutuhan bangsa? Apa yang mereka inginkan dari kita? Mereka tidak lagi menginginkan agar kita mengangkat senjata dan meneriakkan kalimat tauhid atau kalimat “Merdeka atau mati!” lalu pergi berperang. Bukan itu kawan! Yang mereka inginkan hanyalah bagaimana agar kita memiliki ambisi untuk belajar dan ambisi dalam mewujudkan impian. 

Ambisi dalam arti motivasi yang tinggi untuk mencapai kemajuan pribadi (Sarwono, 2007: 14). Kita mestinya melawan pembodohan. Pembodohan yang diakibatkan oleh banyak hal, seperti banyak tidur, nonton di depan laptop berlama-lama, tak bisa menggunakan gadget/handphone dengan bijak dan tentunya masalah yang lebih krusial, malas membaca. Kendalikanlah waktu, serupa mengendalikan nafsu saat berpuasa. Sebab teman tahu, apa yang membuat kita berbeda dari Rio Haryanto anak Indonesia pertama yang sukses dengan bakatnya mengemudikan Formula 1 dan membawa bendera merah putih ke seluruh dunia? Di samping itu, ternyata




PADA dasarnya banyak hal yang mesti kita perbaiki. Sutarto (2015) menyatakan bahwa Indonesia masuk dalam data negara yang menempati posisi paling bawah dalam hal minat baca di Asia. Ini baru di Asia, apalagi di dunia? Tahukah kawan-kawan mengapa itu bisa terjadi? Sebab salah satu budaya yang terus mengakar pada diri generasi muda bangsa ini adalah malas membaca. 


Sulit sekali membiasakan sikap gemar membaca. Padahal sebenarnya teman-teman sudah tahu apa pentingnya membaca. Iya kan? Membaca hanya perlu dibiasakan, seperti kata para motivator. Bahkan menurut penulis, membaca kalau perlu dipaksakan datang dari dalam diri sendiri (bagi pemula). Jika teman-teman sudah merasakan nikmatnya membaca, maka budaya membaca tak akan lepas pada diri teman-teman. Membaca seolah-olah menjadi kebutuhan pokok yang tak bisa dilepas seperti halnya makan. Tentu teman-teman akan selalu mencari makan ketika sedang lapar, bukan begitu? 

2 Mei 2016 bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Tahukah teman-teman pelajaran apa yang kita bisa petik dari peringatan hardiknas kali ini? Bukan hanya mengadakan seremonial semata. Kita mestinya merenung. Sudah sampai di mana sumbangsih kita pada negara dalam hal pendidikan. Apakah kita sudah memenuhi pesan-pesan dari para pejuang kita yang rela mati demi membela keutuhan bangsa? Apa yang mereka inginkan dari kita? Mereka tidak lagi menginginkan agar kita mengangkat senjata dan meneriakkan kalimat tauhid atau kalimat “Merdeka atau mati!” lalu pergi berperang. Bukan itu kawan! Yang mereka inginkan hanyalah bagaimana agar kita memiliki ambisi untuk belajar dan ambisi dalam mewujudkan impian. 

Ambisi dalam arti motivasi yang tinggi untuk mencapai kemajuan pribadi (Sarwono, 2007: 14). Kita mestinya melawan pembodohan. Pembodohan yang diakibatkan oleh banyak hal, seperti banyak tidur, nonton di depan laptop berlama-lama, tak bisa menggunakan gadget/handphone dengan bijak dan tentunya masalah yang lebih krusial, malas membaca. Kendalikanlah waktu, serupa mengendalikan nafsu saat berpuasa. Sebab teman tahu, apa yang membuat kita berbeda dari Rio Haryanto anak Indonesia pertama yang sukses dengan bakatnya mengemudikan Formula 1 dan membawa bendera merah putih ke seluruh dunia? Di samping itu, ternyata




PADA dasarnya banyak hal yang mesti kita perbaiki. Sutarto (2015) menyatakan bahwa Indonesia masuk dalam data negara yang menempati posisi paling bawah dalam hal minat baca di Asia. Ini baru di Asia, apalagi di dunia? Tahukah kawan-kawan mengapa itu bisa terjadi? Sebab salah satu budaya yang terus mengakar pada diri generasi muda bangsa ini adalah malas membaca. 


Sulit sekali membiasakan sikap gemar membaca. Padahal sebenarnya teman-teman sudah tahu apa pentingnya membaca. Iya kan? Membaca hanya perlu dibiasakan, seperti kata para motivator. Bahkan menurut penulis, membaca kalau perlu dipaksakan datang dari dalam diri sendiri (bagi pemula). Jika teman-teman sudah merasakan nikmatnya membaca, maka budaya membaca tak akan lepas pada diri teman-teman. Membaca seolah-olah menjadi kebutuhan pokok yang tak bisa dilepas seperti halnya makan. Tentu teman-teman akan selalu mencari makan ketika sedang lapar, bukan begitu? 

2 Mei 2016 bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Tahukah teman-teman pelajaran apa yang kita bisa petik dari peringatan hardiknas kali ini? Bukan hanya mengadakan seremonial semata. Kita mestinya merenung. Sudah sampai di mana sumbangsih kita pada negara dalam hal pendidikan. Apakah kita sudah memenuhi pesan-pesan dari para pejuang kita yang rela mati demi membela keutuhan bangsa? Apa yang mereka inginkan dari kita? Mereka tidak lagi menginginkan agar kita mengangkat senjata dan meneriakkan kalimat tauhid atau kalimat “Merdeka atau mati!” lalu pergi berperang. Bukan itu kawan! Yang mereka inginkan hanyalah bagaimana agar kita memiliki ambisi untuk belajar dan ambisi dalam mewujudkan impian. 

Ambisi dalam arti motivasi yang tinggi untuk mencapai kemajuan pribadi (Sarwono, 2007: 14). Kita mestinya melawan pembodohan. Pembodohan yang diakibatkan oleh banyak hal, seperti banyak tidur, nonton di depan laptop berlama-lama, tak bisa menggunakan gadget/handphone dengan bijak dan tentunya masalah yang lebih krusial, malas membaca. Kendalikanlah waktu, serupa mengendalikan nafsu saat berpuasa. Sebab teman tahu, apa yang membuat kita berbeda dari Rio Haryanto anak Indonesia pertama yang sukses dengan bakatnya mengemudikan Formula 1 dan membawa bendera merah putih ke seluruh dunia? Di samping itu, ternyata




PADA dasarnya banyak hal yang mesti kita perbaiki. Sutarto (2015) menyatakan bahwa Indonesia masuk dalam data negara yang menempati posisi paling bawah dalam hal minat baca di Asia. Ini baru di Asia, apalagi di dunia? Tahukah kawan-kawan mengapa itu bisa terjadi? Sebab salah satu budaya yang terus mengakar pada diri generasi muda bangsa ini adalah malas membaca. 


Sulit sekali membiasakan sikap gemar membaca. Padahal sebenarnya teman-teman sudah tahu apa pentingnya membaca. Iya kan? Membaca hanya perlu dibiasakan, seperti kata para motivator. Bahkan menurut penulis, membaca kalau perlu dipaksakan datang dari dalam diri sendiri (bagi pemula). Jika teman-teman sudah merasakan nikmatnya membaca, maka budaya membaca tak akan lepas pada diri teman-teman. Membaca seolah-olah menjadi kebutuhan pokok yang tak bisa dilepas seperti halnya makan. Tentu teman-teman akan selalu mencari makan ketika sedang lapar, bukan begitu? 

2 Mei 2016 bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Tahukah teman-teman pelajaran apa yang kita bisa petik dari peringatan hardiknas kali ini? Bukan hanya mengadakan seremonial semata. Kita mestinya merenung. Sudah sampai di mana sumbangsih kita pada negara dalam hal pendidikan. Apakah kita sudah memenuhi pesan-pesan dari para pejuang kita yang rela mati demi membela keutuhan bangsa? Apa yang mereka inginkan dari kita? Mereka tidak lagi menginginkan agar kita mengangkat senjata dan meneriakkan kalimat tauhid atau kalimat “Merdeka atau mati!” lalu pergi berperang. Bukan itu kawan! Yang mereka inginkan hanyalah bagaimana agar kita memiliki ambisi untuk belajar dan ambisi dalam mewujudkan impian. 

Ambisi dalam arti motivasi yang tinggi untuk mencapai kemajuan pribadi (Sarwono, 2007: 14). Kita mestinya melawan pembodohan. Pembodohan yang diakibatkan oleh banyak hal, seperti banyak tidur, nonton di depan laptop berlama-lama, tak bisa menggunakan gadget/handphone dengan bijak dan tentunya masalah yang lebih krusial, malas membaca. Kendalikanlah waktu, serupa mengendalikan nafsu saat berpuasa. Sebab teman tahu, apa yang membuat kita berbeda dari Rio Haryanto anak Indonesia pertama yang sukses dengan bakatnya mengemudikan Formula 1 dan membawa bendera merah putih ke seluruh dunia? Di samping itu, ternyata




PADA dasarnya banyak hal yang mesti kita perbaiki. Sutarto (2015) menyatakan bahwa Indonesia masuk dalam data negara yang menempati posisi paling bawah dalam hal minat baca di Asia. Ini baru di Asia, apalagi di dunia? Tahukah kawan-kawan mengapa itu bisa terjadi? Sebab salah satu budaya yang terus mengakar pada diri generasi muda bangsa ini adalah malas membaca. 


Sulit sekali membiasakan sikap gemar membaca. Padahal sebenarnya teman-teman sudah tahu apa pentingnya membaca. Iya kan? Membaca hanya perlu dibiasakan, seperti kata para motivator. Bahkan menurut penulis, membaca kalau perlu dipaksakan datang dari dalam diri sendiri (bagi pemula). Jika teman-teman sudah merasakan nikmatnya membaca, maka budaya membaca tak akan lepas pada diri teman-teman. Membaca seolah-olah menjadi kebutuhan pokok yang tak bisa dilepas seperti halnya makan. Tentu teman-teman akan selalu mencari makan ketika sedang lapar, bukan begitu? 

2 Mei 2016 bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Tahukah teman-teman pelajaran apa yang kita bisa petik dari peringatan hardiknas kali ini? Bukan hanya mengadakan seremonial semata. Kita mestinya merenung. Sudah sampai di mana sumbangsih kita pada negara dalam hal pendidikan. Apakah kita sudah memenuhi pesan-pesan dari para pejuang kita yang rela mati demi membela keutuhan bangsa? Apa yang mereka inginkan dari kita? Mereka tidak lagi menginginkan agar kita mengangkat senjata dan meneriakkan kalimat tauhid atau kalimat “Merdeka atau mati!” lalu pergi berperang. Bukan itu kawan! Yang mereka inginkan hanyalah bagaimana agar kita memiliki ambisi untuk belajar dan ambisi dalam mewujudkan impian. 

Ambisi dalam arti motivasi yang tinggi untuk mencapai kemajuan pribadi (Sarwono, 2007: 14). Kita mestinya melawan pembodohan. Pembodohan yang diakibatkan oleh banyak hal, seperti banyak tidur, nonton di depan laptop berlama-lama, tak bisa menggunakan gadget/handphone dengan bijak dan tentunya masalah yang lebih krusial, malas membaca. Kendalikanlah waktu, serupa mengendalikan nafsu saat berpuasa. Sebab teman tahu, apa yang membuat kita berbeda dari Rio Haryanto anak Indonesia pertama yang sukses dengan bakatnya mengemudikan Formula 1 dan membawa bendera merah putih ke seluruh dunia? Di samping itu, ternyata
Opini : Mahasiswa, Wirausaha Muda dan Karakter Ekonomi Bangsa
Lihat Detail

Opini : Mahasiswa, Wirausaha Muda dan Karakter Ekonomi Bangsa

Mahasiswa, Wirausaha Muda dan Karakter Ekonomi Bangsa
(Dalam Rangka Menyambut ASEAN Economic Community 2015)
Oleh : Muh. Galang Pratama
(Mahasiswa Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Alauddin Makassar Prodi Hukum Pidana dan Ketatanegaraan Semester III)

Mahasiswa, sebagai kata yang mendeskripsikan sebuah pola perilaku yang anarkis bagi sebagian orang dan sebagian yang lainnya menggambarkan akan sebuah puncak dari pemuda yang bermakna “maha” artinya tinggi, mampu, kritis, berjiwa pemberani, cerdas dan berprestasi.

Wirausaha MudaDalam pandangan penulis, pemuda yakni mahasiswa yang cerdas ialah mereka (baca: mahasiswa-mahasiswi) yang berkuliah dibarengi dengan menjadi seorang wirausaha muda. Mengapa ? karena mahasiswa yang berwirausaha dapat belajar mandiri untuk mencari penghasilan sendiri dan dengannya ekonomi keluarga di kampung juga turut dihadiri oleh uang hasil keringat anak sendiri.

Ada beberapa macam usaha sampingan sebagai bentuk wirausaha yang dapat dikerjakan oleh pemuda (mahasiswa). Seperti, membuka usaha laundry, usaha menjual grosir pakaian, penjualan pulsa, jasa cuci foto, jasa print, jasa pembuatan blog, termasuk berjualan makanan seperti kue, catering, prasmanan, hingga pada bisnis besar seperti tempat percetakan dan home production.

Dan yang perlu diingat ialah, dalam berwirausaha selain mendapatkan keuntungan materil, kita juga bisa mendapatkan keuntungan lain yakni sebuah bentuk pelatihan mental pada diri.

Karakter Ekonomi Bangsa
Seorang sosiolog bernama David McCleland mengemukakan bahwa, apabila sebuah negara ingin menjadi makmur, minimal sejumlah 2 persen dari persentase keseluruhan penduduk di negara tersebut menjadi wirausahawan. Menurut data Kementerian Koperasi dan UKM tahun 2013, hingga saat ini jumlah wirausaha di Indonesia telah mencapai 1,56 persen dari total jumlah penduduk. Sementara Asosiasi Inkubator Bisnis Indonesia (AIBI) menyebutkan bahwa jumlah wirausaha Indonesia baru 0,18 persen atau 400.000 orang, padahal jumlah idealnya mesti di atas 4,4 juta orang.

Mahasiswa, Wirausaha Muda dan Karakter Ekonomi Bangsa
(Dalam Rangka Menyambut ASEAN Economic Community 2015)
Oleh : Muh. Galang Pratama
(Mahasiswa Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Alauddin Makassar Prodi Hukum Pidana dan Ketatanegaraan Semester III)

Mahasiswa, sebagai kata yang mendeskripsikan sebuah pola perilaku yang anarkis bagi sebagian orang dan sebagian yang lainnya menggambarkan akan sebuah puncak dari pemuda yang bermakna “maha” artinya tinggi, mampu, kritis, berjiwa pemberani, cerdas dan berprestasi.

Wirausaha MudaDalam pandangan penulis, pemuda yakni mahasiswa yang cerdas ialah mereka (baca: mahasiswa-mahasiswi) yang berkuliah dibarengi dengan menjadi seorang wirausaha muda. Mengapa ? karena mahasiswa yang berwirausaha dapat belajar mandiri untuk mencari penghasilan sendiri dan dengannya ekonomi keluarga di kampung juga turut dihadiri oleh uang hasil keringat anak sendiri.

Ada beberapa macam usaha sampingan sebagai bentuk wirausaha yang dapat dikerjakan oleh pemuda (mahasiswa). Seperti, membuka usaha laundry, usaha menjual grosir pakaian, penjualan pulsa, jasa cuci foto, jasa print, jasa pembuatan blog, termasuk berjualan makanan seperti kue, catering, prasmanan, hingga pada bisnis besar seperti tempat percetakan dan home production.

Dan yang perlu diingat ialah, dalam berwirausaha selain mendapatkan keuntungan materil, kita juga bisa mendapatkan keuntungan lain yakni sebuah bentuk pelatihan mental pada diri.

Karakter Ekonomi Bangsa
Seorang sosiolog bernama David McCleland mengemukakan bahwa, apabila sebuah negara ingin menjadi makmur, minimal sejumlah 2 persen dari persentase keseluruhan penduduk di negara tersebut menjadi wirausahawan. Menurut data Kementerian Koperasi dan UKM tahun 2013, hingga saat ini jumlah wirausaha di Indonesia telah mencapai 1,56 persen dari total jumlah penduduk. Sementara Asosiasi Inkubator Bisnis Indonesia (AIBI) menyebutkan bahwa jumlah wirausaha Indonesia baru 0,18 persen atau 400.000 orang, padahal jumlah idealnya mesti di atas 4,4 juta orang.

Mahasiswa, Wirausaha Muda dan Karakter Ekonomi Bangsa
(Dalam Rangka Menyambut ASEAN Economic Community 2015)
Oleh : Muh. Galang Pratama
(Mahasiswa Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Alauddin Makassar Prodi Hukum Pidana dan Ketatanegaraan Semester III)

Mahasiswa, sebagai kata yang mendeskripsikan sebuah pola perilaku yang anarkis bagi sebagian orang dan sebagian yang lainnya menggambarkan akan sebuah puncak dari pemuda yang bermakna “maha” artinya tinggi, mampu, kritis, berjiwa pemberani, cerdas dan berprestasi.

Wirausaha MudaDalam pandangan penulis, pemuda yakni mahasiswa yang cerdas ialah mereka (baca: mahasiswa-mahasiswi) yang berkuliah dibarengi dengan menjadi seorang wirausaha muda. Mengapa ? karena mahasiswa yang berwirausaha dapat belajar mandiri untuk mencari penghasilan sendiri dan dengannya ekonomi keluarga di kampung juga turut dihadiri oleh uang hasil keringat anak sendiri.

Ada beberapa macam usaha sampingan sebagai bentuk wirausaha yang dapat dikerjakan oleh pemuda (mahasiswa). Seperti, membuka usaha laundry, usaha menjual grosir pakaian, penjualan pulsa, jasa cuci foto, jasa print, jasa pembuatan blog, termasuk berjualan makanan seperti kue, catering, prasmanan, hingga pada bisnis besar seperti tempat percetakan dan home production.

Dan yang perlu diingat ialah, dalam berwirausaha selain mendapatkan keuntungan materil, kita juga bisa mendapatkan keuntungan lain yakni sebuah bentuk pelatihan mental pada diri.

Karakter Ekonomi Bangsa
Seorang sosiolog bernama David McCleland mengemukakan bahwa, apabila sebuah negara ingin menjadi makmur, minimal sejumlah 2 persen dari persentase keseluruhan penduduk di negara tersebut menjadi wirausahawan. Menurut data Kementerian Koperasi dan UKM tahun 2013, hingga saat ini jumlah wirausaha di Indonesia telah mencapai 1,56 persen dari total jumlah penduduk. Sementara Asosiasi Inkubator Bisnis Indonesia (AIBI) menyebutkan bahwa jumlah wirausaha Indonesia baru 0,18 persen atau 400.000 orang, padahal jumlah idealnya mesti di atas 4,4 juta orang.

Mahasiswa, Wirausaha Muda dan Karakter Ekonomi Bangsa
(Dalam Rangka Menyambut ASEAN Economic Community 2015)
Oleh : Muh. Galang Pratama
(Mahasiswa Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Alauddin Makassar Prodi Hukum Pidana dan Ketatanegaraan Semester III)

Mahasiswa, sebagai kata yang mendeskripsikan sebuah pola perilaku yang anarkis bagi sebagian orang dan sebagian yang lainnya menggambarkan akan sebuah puncak dari pemuda yang bermakna “maha” artinya tinggi, mampu, kritis, berjiwa pemberani, cerdas dan berprestasi.

Wirausaha MudaDalam pandangan penulis, pemuda yakni mahasiswa yang cerdas ialah mereka (baca: mahasiswa-mahasiswi) yang berkuliah dibarengi dengan menjadi seorang wirausaha muda. Mengapa ? karena mahasiswa yang berwirausaha dapat belajar mandiri untuk mencari penghasilan sendiri dan dengannya ekonomi keluarga di kampung juga turut dihadiri oleh uang hasil keringat anak sendiri.

Ada beberapa macam usaha sampingan sebagai bentuk wirausaha yang dapat dikerjakan oleh pemuda (mahasiswa). Seperti, membuka usaha laundry, usaha menjual grosir pakaian, penjualan pulsa, jasa cuci foto, jasa print, jasa pembuatan blog, termasuk berjualan makanan seperti kue, catering, prasmanan, hingga pada bisnis besar seperti tempat percetakan dan home production.

Dan yang perlu diingat ialah, dalam berwirausaha selain mendapatkan keuntungan materil, kita juga bisa mendapatkan keuntungan lain yakni sebuah bentuk pelatihan mental pada diri.

Karakter Ekonomi Bangsa
Seorang sosiolog bernama David McCleland mengemukakan bahwa, apabila sebuah negara ingin menjadi makmur, minimal sejumlah 2 persen dari persentase keseluruhan penduduk di negara tersebut menjadi wirausahawan. Menurut data Kementerian Koperasi dan UKM tahun 2013, hingga saat ini jumlah wirausaha di Indonesia telah mencapai 1,56 persen dari total jumlah penduduk. Sementara Asosiasi Inkubator Bisnis Indonesia (AIBI) menyebutkan bahwa jumlah wirausaha Indonesia baru 0,18 persen atau 400.000 orang, padahal jumlah idealnya mesti di atas 4,4 juta orang.

Mahasiswa, Wirausaha Muda dan Karakter Ekonomi Bangsa
(Dalam Rangka Menyambut ASEAN Economic Community 2015)
Oleh : Muh. Galang Pratama
(Mahasiswa Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Alauddin Makassar Prodi Hukum Pidana dan Ketatanegaraan Semester III)

Mahasiswa, sebagai kata yang mendeskripsikan sebuah pola perilaku yang anarkis bagi sebagian orang dan sebagian yang lainnya menggambarkan akan sebuah puncak dari pemuda yang bermakna “maha” artinya tinggi, mampu, kritis, berjiwa pemberani, cerdas dan berprestasi.

Wirausaha MudaDalam pandangan penulis, pemuda yakni mahasiswa yang cerdas ialah mereka (baca: mahasiswa-mahasiswi) yang berkuliah dibarengi dengan menjadi seorang wirausaha muda. Mengapa ? karena mahasiswa yang berwirausaha dapat belajar mandiri untuk mencari penghasilan sendiri dan dengannya ekonomi keluarga di kampung juga turut dihadiri oleh uang hasil keringat anak sendiri.

Ada beberapa macam usaha sampingan sebagai bentuk wirausaha yang dapat dikerjakan oleh pemuda (mahasiswa). Seperti, membuka usaha laundry, usaha menjual grosir pakaian, penjualan pulsa, jasa cuci foto, jasa print, jasa pembuatan blog, termasuk berjualan makanan seperti kue, catering, prasmanan, hingga pada bisnis besar seperti tempat percetakan dan home production.

Dan yang perlu diingat ialah, dalam berwirausaha selain mendapatkan keuntungan materil, kita juga bisa mendapatkan keuntungan lain yakni sebuah bentuk pelatihan mental pada diri.

Karakter Ekonomi Bangsa
Seorang sosiolog bernama David McCleland mengemukakan bahwa, apabila sebuah negara ingin menjadi makmur, minimal sejumlah 2 persen dari persentase keseluruhan penduduk di negara tersebut menjadi wirausahawan. Menurut data Kementerian Koperasi dan UKM tahun 2013, hingga saat ini jumlah wirausaha di Indonesia telah mencapai 1,56 persen dari total jumlah penduduk. Sementara Asosiasi Inkubator Bisnis Indonesia (AIBI) menyebutkan bahwa jumlah wirausaha Indonesia baru 0,18 persen atau 400.000 orang, padahal jumlah idealnya mesti di atas 4,4 juta orang.

Puskaistek LP2M dan prodi HPK adakan Kajian hukum di UIN Alauddin Makassar
Lihat Detail

Puskaistek LP2M dan prodi HPK adakan Kajian hukum di UIN Alauddin Makassar

Pusat Kajian Islam Sains dan Teknologi (PUSKAISTEK) LP2M UIN Alauddin Makassar bekerjasama dengan Prodi HPK (Hukum Pidana dan Ketatanegaraan) mengadakan kajian bulanan dengan mengusung tema, "Prospek dan Tantangan HPK di Era Global."

Kajian ini dibawakan oleh tiga pemateri yakni Prof. Hamdan Juhannis, MA., Ph.D., sebagai Kepala Puskaistek, Siti Aisyah Kara, MA., Ph.D, selaku Kepala Pusat Studi Gender dan Drs. Hamzah Hasan, M.Hi selaku Wakil Dekan III Fakultas Syari'ah dan Hukum dan juga sebagai kandidat Doktor di UIN Alauddin Makassar ini.Tentang calon ahli hukum, para mahasiswa HPK (Hukum Pidana dan Ketatanegaraan) Fakultas Syari'ah dan Hukum UIN Alauddin Makassar, dibekali berbagai ilmu agar nantinya para mahasiswa ini dapat menjadi penggerak kemajuan bangsa di bidang hukum.

Karena begitu jelas saat ini Negeri kita menghadapi disintegrasi yang mengarah pada kesalahan hukum. Turut hadir Dekan Fakultas Syari'ah dan Hukum (FSH), Prof. Dr. H. Ali Parman, MA. Sebelum membuka kajian tersebut, Dekan FSH sempat mengatakan, "saat ini kasus pidana yang banyak berkembang di Indonesia."Sama halnya yang diungkapkan oleh Prof. Ali Parman, Prof. Hamdan sebagai pemateri pertama dalam kajian tersebut juga mengungkap berbagai kasus pidana serta institusi hukum. "Banyak hal-hal yang perlu dikritisi terkait dengan aspek hukum, termasuk hukum pidana. Lemahnya taat hukum menjadikan banyak lembaga hukum terus bermunculan. Contohnya saja wacana KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) akan dibentuk di setiap daerah", ungkap penulis buku best seller Melawan Takdir.

Kepada sekitar 200an Mahasiswa, beliau juga memberikan berbagai pandangan kritisnya terkait perbedaan perilaku yang dimiliki oleh orang barat dan oleh orang Indonesia terkait masalah hukum. Beliau yang juga terkenal sebagai Professor termuda itu setiap kali memberikan pesan moral melalui cerita-cerita lucu yang dimulai dari kata, "konon katanya".Selain itu, pemateri kedua yang juga sebagai dosen di fakultas Syari'ah dan hukum yakni Siti Aisyah, membahas tentang HPK dalam perspektif Gender. Dan pemateri ketiga yakni Hamzah Hasan yang membahas mengenai penerapan Hukum Pidana Islam di Indonesia.

Sebagai kesimpulan dari hasil kajian tersebut, diharapkan para mahasiswa Prodi HPK dapat menjadi tonggak penggerak bagi kemajuan bangsa dari segala bidang yang dapat dimasuki oleh Hukum. Karena sebagaimana adagium yang populer tentang hukum dikatakan Manusia lahir dijemput oleh hukum, Manusia hidup diatur oleh hukum dan Manusia Mati diantar oleh Hukum.


_Muh. Galang Pratama, Mahasiswa HPK-FSH UIN Alauddin Makassar melaporkan dari Samata, Gowa.Sent from Samsung Mobile
Pusat Kajian Islam Sains dan Teknologi (PUSKAISTEK) LP2M UIN Alauddin Makassar bekerjasama dengan Prodi HPK (Hukum Pidana dan Ketatanegaraan) mengadakan kajian bulanan dengan mengusung tema, "Prospek dan Tantangan HPK di Era Global."

Kajian ini dibawakan oleh tiga pemateri yakni Prof. Hamdan Juhannis, MA., Ph.D., sebagai Kepala Puskaistek, Siti Aisyah Kara, MA., Ph.D, selaku Kepala Pusat Studi Gender dan Drs. Hamzah Hasan, M.Hi selaku Wakil Dekan III Fakultas Syari'ah dan Hukum dan juga sebagai kandidat Doktor di UIN Alauddin Makassar ini.Tentang calon ahli hukum, para mahasiswa HPK (Hukum Pidana dan Ketatanegaraan) Fakultas Syari'ah dan Hukum UIN Alauddin Makassar, dibekali berbagai ilmu agar nantinya para mahasiswa ini dapat menjadi penggerak kemajuan bangsa di bidang hukum.

Karena begitu jelas saat ini Negeri kita menghadapi disintegrasi yang mengarah pada kesalahan hukum. Turut hadir Dekan Fakultas Syari'ah dan Hukum (FSH), Prof. Dr. H. Ali Parman, MA. Sebelum membuka kajian tersebut, Dekan FSH sempat mengatakan, "saat ini kasus pidana yang banyak berkembang di Indonesia."Sama halnya yang diungkapkan oleh Prof. Ali Parman, Prof. Hamdan sebagai pemateri pertama dalam kajian tersebut juga mengungkap berbagai kasus pidana serta institusi hukum. "Banyak hal-hal yang perlu dikritisi terkait dengan aspek hukum, termasuk hukum pidana. Lemahnya taat hukum menjadikan banyak lembaga hukum terus bermunculan. Contohnya saja wacana KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) akan dibentuk di setiap daerah", ungkap penulis buku best seller Melawan Takdir.

Kepada sekitar 200an Mahasiswa, beliau juga memberikan berbagai pandangan kritisnya terkait perbedaan perilaku yang dimiliki oleh orang barat dan oleh orang Indonesia terkait masalah hukum. Beliau yang juga terkenal sebagai Professor termuda itu setiap kali memberikan pesan moral melalui cerita-cerita lucu yang dimulai dari kata, "konon katanya".Selain itu, pemateri kedua yang juga sebagai dosen di fakultas Syari'ah dan hukum yakni Siti Aisyah, membahas tentang HPK dalam perspektif Gender. Dan pemateri ketiga yakni Hamzah Hasan yang membahas mengenai penerapan Hukum Pidana Islam di Indonesia.

Sebagai kesimpulan dari hasil kajian tersebut, diharapkan para mahasiswa Prodi HPK dapat menjadi tonggak penggerak bagi kemajuan bangsa dari segala bidang yang dapat dimasuki oleh Hukum. Karena sebagaimana adagium yang populer tentang hukum dikatakan Manusia lahir dijemput oleh hukum, Manusia hidup diatur oleh hukum dan Manusia Mati diantar oleh Hukum.


_Muh. Galang Pratama, Mahasiswa HPK-FSH UIN Alauddin Makassar melaporkan dari Samata, Gowa.Sent from Samsung Mobile
Pusat Kajian Islam Sains dan Teknologi (PUSKAISTEK) LP2M UIN Alauddin Makassar bekerjasama dengan Prodi HPK (Hukum Pidana dan Ketatanegaraan) mengadakan kajian bulanan dengan mengusung tema, "Prospek dan Tantangan HPK di Era Global."

Kajian ini dibawakan oleh tiga pemateri yakni Prof. Hamdan Juhannis, MA., Ph.D., sebagai Kepala Puskaistek, Siti Aisyah Kara, MA., Ph.D, selaku Kepala Pusat Studi Gender dan Drs. Hamzah Hasan, M.Hi selaku Wakil Dekan III Fakultas Syari'ah dan Hukum dan juga sebagai kandidat Doktor di UIN Alauddin Makassar ini.Tentang calon ahli hukum, para mahasiswa HPK (Hukum Pidana dan Ketatanegaraan) Fakultas Syari'ah dan Hukum UIN Alauddin Makassar, dibekali berbagai ilmu agar nantinya para mahasiswa ini dapat menjadi penggerak kemajuan bangsa di bidang hukum.

Karena begitu jelas saat ini Negeri kita menghadapi disintegrasi yang mengarah pada kesalahan hukum. Turut hadir Dekan Fakultas Syari'ah dan Hukum (FSH), Prof. Dr. H. Ali Parman, MA. Sebelum membuka kajian tersebut, Dekan FSH sempat mengatakan, "saat ini kasus pidana yang banyak berkembang di Indonesia."Sama halnya yang diungkapkan oleh Prof. Ali Parman, Prof. Hamdan sebagai pemateri pertama dalam kajian tersebut juga mengungkap berbagai kasus pidana serta institusi hukum. "Banyak hal-hal yang perlu dikritisi terkait dengan aspek hukum, termasuk hukum pidana. Lemahnya taat hukum menjadikan banyak lembaga hukum terus bermunculan. Contohnya saja wacana KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) akan dibentuk di setiap daerah", ungkap penulis buku best seller Melawan Takdir.

Kepada sekitar 200an Mahasiswa, beliau juga memberikan berbagai pandangan kritisnya terkait perbedaan perilaku yang dimiliki oleh orang barat dan oleh orang Indonesia terkait masalah hukum. Beliau yang juga terkenal sebagai Professor termuda itu setiap kali memberikan pesan moral melalui cerita-cerita lucu yang dimulai dari kata, "konon katanya".Selain itu, pemateri kedua yang juga sebagai dosen di fakultas Syari'ah dan hukum yakni Siti Aisyah, membahas tentang HPK dalam perspektif Gender. Dan pemateri ketiga yakni Hamzah Hasan yang membahas mengenai penerapan Hukum Pidana Islam di Indonesia.

Sebagai kesimpulan dari hasil kajian tersebut, diharapkan para mahasiswa Prodi HPK dapat menjadi tonggak penggerak bagi kemajuan bangsa dari segala bidang yang dapat dimasuki oleh Hukum. Karena sebagaimana adagium yang populer tentang hukum dikatakan Manusia lahir dijemput oleh hukum, Manusia hidup diatur oleh hukum dan Manusia Mati diantar oleh Hukum.


_Muh. Galang Pratama, Mahasiswa HPK-FSH UIN Alauddin Makassar melaporkan dari Samata, Gowa.Sent from Samsung Mobile
Mahasiswa HPK 7,8 berlatih skill buat blog di luar jam kuliah
Lihat Detail

Mahasiswa HPK 7,8 berlatih skill buat blog di luar jam kuliah

Hari ini, senin, 8 Desember 2014 bertempat di perpustakaan kampus 2 UIN Alauddin Makassar. Beberapa dari kami, mahasiswa HPK 7,8 sedang mengadakan diskusi dan belajar pembuatan email dan blog.

Muh. Galang Pratama
Riswan dan Aqil (Foto: MgP)
Muh. Galang Pratama
Membuat Blog (Foto: MgP)

Kegiatan ini kami langsungkan, sebab hari ini kami tidak ada jadwal kuliah. Sehingga kami berpikir untuk memanfaatkan waktu kami dengan belajar sesuatu hal yang tidak kami dapati di bangku perkuliahan.

Riswan, salah seorang mahasiswa HPK 7,8 mengaku sangat antusias mengikuti kegiatan ini. "Bagus sekali ini kegiatan, karena tidak dipelajari di kuliah," Papar Riswan.

Kegiatan ini akan menjadi rutinitas dari kelas HPK 7,8. Sebab betapa penting skill dan pengetahuan yang dapat dipelajari mahasiswa saat ini, begitu kompleks dan spesifik. Maka atas dasar seperti itu kami mencoba untuk menggali skill dan pengetahuan kami diluar jam kuliah.

Muh. Galang Pratama
Ketua tingkat HPK (Hukum Pidana dan Ketatanegaraan) 7,8.
Hari ini, senin, 8 Desember 2014 bertempat di perpustakaan kampus 2 UIN Alauddin Makassar. Beberapa dari kami, mahasiswa HPK 7,8 sedang mengadakan diskusi dan belajar pembuatan email dan blog.

Muh. Galang Pratama
Riswan dan Aqil (Foto: MgP)
Muh. Galang Pratama
Membuat Blog (Foto: MgP)

Kegiatan ini kami langsungkan, sebab hari ini kami tidak ada jadwal kuliah. Sehingga kami berpikir untuk memanfaatkan waktu kami dengan belajar sesuatu hal yang tidak kami dapati di bangku perkuliahan.

Riswan, salah seorang mahasiswa HPK 7,8 mengaku sangat antusias mengikuti kegiatan ini. "Bagus sekali ini kegiatan, karena tidak dipelajari di kuliah," Papar Riswan.

Kegiatan ini akan menjadi rutinitas dari kelas HPK 7,8. Sebab betapa penting skill dan pengetahuan yang dapat dipelajari mahasiswa saat ini, begitu kompleks dan spesifik. Maka atas dasar seperti itu kami mencoba untuk menggali skill dan pengetahuan kami diluar jam kuliah.

Muh. Galang Pratama
Ketua tingkat HPK (Hukum Pidana dan Ketatanegaraan) 7,8.
Laporan: Kemacetan di Area Pembangunan Jalan Lingkar Samata
Lihat Detail

Laporan: Kemacetan di Area Pembangunan Jalan Lingkar Samata


Muh. Galang Pratama
Foto: Dokumentasi Pribadi

Semenjak dua pekan terakhir ini, simpang empat yang menghubungkan Samata, Hertasning Baru, Antang dan Kampus 2 UIN Alauddin, mengalami kemacetan.

Hal ini diperparah oleh belum rampungnya pembangunan jalan lingkar di tempat tersebut. Akibatnya kendaraan yang melintas di tempat tersebut harus antri untuk dapat melintas.

Belum lagi ditambah kendaraan besar beroda empat dan enam yang banyak membawa muatan membuat kondisi jalan semakin rumit dilalui. Air genangan bekas hujan pun turut menghiasi aspal jalan.

Kemacetan yang terjadi di jalan lingkar tersebut sudah berlangsung dari pagi hingga malam hari.

Nurjannah, salah seorang penjaja gorengan di pinggir pembangunan jalan lingkar mengatakan, "sudah macet dari pagi, siang, sore bahkan sampai jam 10 malam."

Kemudian, kemacetan yang terjadi paling parah ialah pada pagi hari. "Kalau pagi-pagi mi itu, Mahasiswa mau ke kampusnya, tambah macet mi itu jalan", papar Nurjannnah yang terlihat semangat melayani wawancara saya.

Jika tidak ada solusi yang diberikan oleh pihak-pihak yang bertanggung jawab atas pembangunan tersebut, maka pengguna jalan akan tetap merasakan kemacetan di daerah yang penuh rumah kost dan tukang print itu.

Maka sebaiknya pihak polisi harus tetap siaga di simpang empat tersebut dari pagi hingga malam hari demi menertibkan jalan.

Terima kasih.
Muh. Galang Pratama, melaporkan dari Samata Gowa.

Muh. Galang Pratama
Koran Tribun-Timur edisi Rabu (26/11)



Muh. Galang Pratama
Foto: Dokumentasi Pribadi

Semenjak dua pekan terakhir ini, simpang empat yang menghubungkan Samata, Hertasning Baru, Antang dan Kampus 2 UIN Alauddin, mengalami kemacetan.

Hal ini diperparah oleh belum rampungnya pembangunan jalan lingkar di tempat tersebut. Akibatnya kendaraan yang melintas di tempat tersebut harus antri untuk dapat melintas.

Belum lagi ditambah kendaraan besar beroda empat dan enam yang banyak membawa muatan membuat kondisi jalan semakin rumit dilalui. Air genangan bekas hujan pun turut menghiasi aspal jalan.

Kemacetan yang terjadi di jalan lingkar tersebut sudah berlangsung dari pagi hingga malam hari.

Nurjannah, salah seorang penjaja gorengan di pinggir pembangunan jalan lingkar mengatakan, "sudah macet dari pagi, siang, sore bahkan sampai jam 10 malam."

Kemudian, kemacetan yang terjadi paling parah ialah pada pagi hari. "Kalau pagi-pagi mi itu, Mahasiswa mau ke kampusnya, tambah macet mi itu jalan", papar Nurjannnah yang terlihat semangat melayani wawancara saya.

Jika tidak ada solusi yang diberikan oleh pihak-pihak yang bertanggung jawab atas pembangunan tersebut, maka pengguna jalan akan tetap merasakan kemacetan di daerah yang penuh rumah kost dan tukang print itu.

Maka sebaiknya pihak polisi harus tetap siaga di simpang empat tersebut dari pagi hingga malam hari demi menertibkan jalan.

Terima kasih.
Muh. Galang Pratama, melaporkan dari Samata Gowa.

Muh. Galang Pratama
Koran Tribun-Timur edisi Rabu (26/11)



Muh. Galang Pratama
Foto: Dokumentasi Pribadi

Semenjak dua pekan terakhir ini, simpang empat yang menghubungkan Samata, Hertasning Baru, Antang dan Kampus 2 UIN Alauddin, mengalami kemacetan.

Hal ini diperparah oleh belum rampungnya pembangunan jalan lingkar di tempat tersebut. Akibatnya kendaraan yang melintas di tempat tersebut harus antri untuk dapat melintas.

Belum lagi ditambah kendaraan besar beroda empat dan enam yang banyak membawa muatan membuat kondisi jalan semakin rumit dilalui. Air genangan bekas hujan pun turut menghiasi aspal jalan.

Kemacetan yang terjadi di jalan lingkar tersebut sudah berlangsung dari pagi hingga malam hari.

Nurjannah, salah seorang penjaja gorengan di pinggir pembangunan jalan lingkar mengatakan, "sudah macet dari pagi, siang, sore bahkan sampai jam 10 malam."

Kemudian, kemacetan yang terjadi paling parah ialah pada pagi hari. "Kalau pagi-pagi mi itu, Mahasiswa mau ke kampusnya, tambah macet mi itu jalan", papar Nurjannnah yang terlihat semangat melayani wawancara saya.

Jika tidak ada solusi yang diberikan oleh pihak-pihak yang bertanggung jawab atas pembangunan tersebut, maka pengguna jalan akan tetap merasakan kemacetan di daerah yang penuh rumah kost dan tukang print itu.

Maka sebaiknya pihak polisi harus tetap siaga di simpang empat tersebut dari pagi hingga malam hari demi menertibkan jalan.

Terima kasih.
Muh. Galang Pratama, melaporkan dari Samata Gowa.

Muh. Galang Pratama
Koran Tribun-Timur edisi Rabu (26/11)


Writing Workshop oleh HMJ KPI UIN Alauddin Makassar
Lihat Detail

Writing Workshop oleh HMJ KPI UIN Alauddin Makassar

muh. galang pratama
Foto: Dokumentasi Pribadi
Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Alauddin Makassar hari ini (17/11) mengadakan Writing Workshop.

Narasumber dari writing workshop itu yakni bapak Drs. Moh. Yahya Mustafa, M.Si. Beliau memaparkan materinya terkait dengan pembuatan buletin, penulisan berita serta pentingnya rumus 5W + 1H dalam penulisan berita.

Kegiatan writing workshop ini dihadiri oleh sekira 44 peserta yang terdiri dari mahasiswa berbagai jurusan di FDK seperti jurusan jurnalistik, manajemen dakwah dan salah seorang mahasiswa dari lintas fakultas, serta mayoritas pesertanya dari jurusan KPI itu sendiri sebagai penyelenggara dari kegiatan tersebut.

Wirda, selaku koordinator dari bidang writing HMJ KPI itu yang bertugas sebagai panitia pelaksana mengungkapkan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu program dari Himpunan Mahasiswa Jurusan KPI. Serta kegiatan ini merupakan bekal awal buat mahasiswa-mahasiswi jurusan KPI untuk pelaksanaan program selanjutnya yang disebutnya, #GerakanKPImenulis.

Narasumber juga tak lupa membagikan pengalamannya dibidang kepenulisan serta pengalaman beliau saat 10 tahun menjadi wartawan bidang politik dan pemerintahan Harian Pedoman Rakyat Makassar.

Alumni Ilmu Politik FISIP UNHAS 1989 itu, juga memperlihatkan beberapa buku diantaranya buku dari Ahmad Tohari, "Ronggeng Dukuh Paruk", serta satu buku lain yang ditulis oleh Sastrawan Indonesia masa orde baru, Pramodya Ananta Toer.

Dalam kepenulisan, juga dibutuhkan intuisi (semacam indra ke-enam), pemahaman pengetahuan dan yang terpenting ialah banyak-banyak membaca. "Membaca dan menulis itu adalah satu hal yang tak dapat dipisahkan", ungkap Pak Yahya Mustafa yang juga sebagai salah satu dosen Luar Biasa di UIN Alauddin Makassar itu.

Kegiatan yang berlangsung sekitar tiga jam yang dilaksanakan di LT Fakultas Dakwah dan Komunikasi tersebut sangat meriah, karena di penghujung workshop disediakan sesi tanya-jawab oleh peserta workshop kepada narasumber.

Muh. Galang Pratama
Koran Tribun Timur edisi Selasa (18/11) 


(Muh. Galang Pratama melaporkan dari Samata, Kampus 2 UIN Alauddin Makassar).

Lihat juga di : http://rakyatbersatu.com/gerakan-menulis-kpi-fdk-uin-alauddin-makassar/
muh. galang pratama
Foto: Dokumentasi Pribadi
Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Alauddin Makassar hari ini (17/11) mengadakan Writing Workshop.

Narasumber dari writing workshop itu yakni bapak Drs. Moh. Yahya Mustafa, M.Si. Beliau memaparkan materinya terkait dengan pembuatan buletin, penulisan berita serta pentingnya rumus 5W + 1H dalam penulisan berita.

Kegiatan writing workshop ini dihadiri oleh sekira 44 peserta yang terdiri dari mahasiswa berbagai jurusan di FDK seperti jurusan jurnalistik, manajemen dakwah dan salah seorang mahasiswa dari lintas fakultas, serta mayoritas pesertanya dari jurusan KPI itu sendiri sebagai penyelenggara dari kegiatan tersebut.

Wirda, selaku koordinator dari bidang writing HMJ KPI itu yang bertugas sebagai panitia pelaksana mengungkapkan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu program dari Himpunan Mahasiswa Jurusan KPI. Serta kegiatan ini merupakan bekal awal buat mahasiswa-mahasiswi jurusan KPI untuk pelaksanaan program selanjutnya yang disebutnya, #GerakanKPImenulis.

Narasumber juga tak lupa membagikan pengalamannya dibidang kepenulisan serta pengalaman beliau saat 10 tahun menjadi wartawan bidang politik dan pemerintahan Harian Pedoman Rakyat Makassar.

Alumni Ilmu Politik FISIP UNHAS 1989 itu, juga memperlihatkan beberapa buku diantaranya buku dari Ahmad Tohari, "Ronggeng Dukuh Paruk", serta satu buku lain yang ditulis oleh Sastrawan Indonesia masa orde baru, Pramodya Ananta Toer.

Dalam kepenulisan, juga dibutuhkan intuisi (semacam indra ke-enam), pemahaman pengetahuan dan yang terpenting ialah banyak-banyak membaca. "Membaca dan menulis itu adalah satu hal yang tak dapat dipisahkan", ungkap Pak Yahya Mustafa yang juga sebagai salah satu dosen Luar Biasa di UIN Alauddin Makassar itu.

Kegiatan yang berlangsung sekitar tiga jam yang dilaksanakan di LT Fakultas Dakwah dan Komunikasi tersebut sangat meriah, karena di penghujung workshop disediakan sesi tanya-jawab oleh peserta workshop kepada narasumber.

Muh. Galang Pratama
Koran Tribun Timur edisi Selasa (18/11) 


(Muh. Galang Pratama melaporkan dari Samata, Kampus 2 UIN Alauddin Makassar).

Lihat juga di : http://rakyatbersatu.com/gerakan-menulis-kpi-fdk-uin-alauddin-makassar/
muh. galang pratama
Foto: Dokumentasi Pribadi
Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Alauddin Makassar hari ini (17/11) mengadakan Writing Workshop.

Narasumber dari writing workshop itu yakni bapak Drs. Moh. Yahya Mustafa, M.Si. Beliau memaparkan materinya terkait dengan pembuatan buletin, penulisan berita serta pentingnya rumus 5W + 1H dalam penulisan berita.

Kegiatan writing workshop ini dihadiri oleh sekira 44 peserta yang terdiri dari mahasiswa berbagai jurusan di FDK seperti jurusan jurnalistik, manajemen dakwah dan salah seorang mahasiswa dari lintas fakultas, serta mayoritas pesertanya dari jurusan KPI itu sendiri sebagai penyelenggara dari kegiatan tersebut.

Wirda, selaku koordinator dari bidang writing HMJ KPI itu yang bertugas sebagai panitia pelaksana mengungkapkan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu program dari Himpunan Mahasiswa Jurusan KPI. Serta kegiatan ini merupakan bekal awal buat mahasiswa-mahasiswi jurusan KPI untuk pelaksanaan program selanjutnya yang disebutnya, #GerakanKPImenulis.

Narasumber juga tak lupa membagikan pengalamannya dibidang kepenulisan serta pengalaman beliau saat 10 tahun menjadi wartawan bidang politik dan pemerintahan Harian Pedoman Rakyat Makassar.

Alumni Ilmu Politik FISIP UNHAS 1989 itu, juga memperlihatkan beberapa buku diantaranya buku dari Ahmad Tohari, "Ronggeng Dukuh Paruk", serta satu buku lain yang ditulis oleh Sastrawan Indonesia masa orde baru, Pramodya Ananta Toer.

Dalam kepenulisan, juga dibutuhkan intuisi (semacam indra ke-enam), pemahaman pengetahuan dan yang terpenting ialah banyak-banyak membaca. "Membaca dan menulis itu adalah satu hal yang tak dapat dipisahkan", ungkap Pak Yahya Mustafa yang juga sebagai salah satu dosen Luar Biasa di UIN Alauddin Makassar itu.

Kegiatan yang berlangsung sekitar tiga jam yang dilaksanakan di LT Fakultas Dakwah dan Komunikasi tersebut sangat meriah, karena di penghujung workshop disediakan sesi tanya-jawab oleh peserta workshop kepada narasumber.

Muh. Galang Pratama
Koran Tribun Timur edisi Selasa (18/11) 


(Muh. Galang Pratama melaporkan dari Samata, Kampus 2 UIN Alauddin Makassar).

Lihat juga di : http://rakyatbersatu.com/gerakan-menulis-kpi-fdk-uin-alauddin-makassar/
Sebuah Kelas: Kuliah dan Permainan
Lihat Detail

Sebuah Kelas: Kuliah dan Permainan

Oleh : Muh. Galang Pratama
Mahasiswa HPK7,8-FSH- UIN ALAUDDIN MAKASSAR (Angkatan 2013)

Bagi mayoritas mahasiswa, kuliah dalam kelas tentunya bukan menjadi hal yang tabu. Meskipun didalam proses suasana belajar dalam perguruan tinggi, kelas bukan menjadi satu-satunya hal krusial yang menjadi "wadah" untuk belajar para mahasiswa.

Hal itu disebabkan karena "rumah kampus" yang luas nan megah diisi oleh berbagai hal yang dapat menunjang perkembangan dari mahasiswa itu sendiri. Baik itu dari segi kognitif (knowledge), psikomotorik (skill) maupun psikis (mental attitude).

Ada 3 poin penting dari kata Italic (baca: kata bergaris miring) diatas. Yakni 1. Knowledge; 2. Skill; dan 3. Attitude. Apa maksud dari ketiga poin ini, penulis akan mencoba menjabarkannya melalui kutipan dari http://malicemrc.wordpress.com
  1. Knowledge : konsep, prinsip, informasi yang didapat dari proses pembelajaran/pengalaman.
  2. Skill : kemampuan utk melakukan aktivitas psikomotorik yg mempengaruhi seseorang utk menampilkan kinerja yg efektif pd suatu hal.
  3. Attitude : kecenderungan dasar utk merespon thdp objek tertentu berdasarkan keyakinan/opini kita.
Dewasa ini, para pemuda bangsa ini serta para kepada seluruh kalangan, memang sudah memperhatikan beberapa poin tersebut, utamanya pada poin pertama dan yang kedua yakni knowledge dan skill.

Namun, mayoritas orang dan utamanya pemuda masih sangat kurang dengan pendidikan mental Attitudenya. Orang-orang hanya sibuk memperbaiki dan terus mengasah knowledge/pengetahuannya dan skill/keterampilannya namun masih saja tidak mengacuhkan urgensi dari mental attitude/sikap dari seseorang.

Suasana kampus, kadangkala membawa para mahasiswa dalam kesusksesan namun dapat pula menyesatkan mahasiswa kedalam lembah pemikiran yang salah sebab sistem doktrin "keras" yang terpatri dalam jiwa dan hati para mahasiswa ketika mengikuti kegiatan "pengkaderan" di luar kampus.

Namun, kita tidak bisa langsung mengatakan bahwa seluruh bentuk pengkaderan yang ada dalam lingkungan sekitar mahasiswa itu tidak baik. Akan tetapi disini penulis tetap memberikan argumen yang jelas menurut hemat penulis sendiri bahwa kegiatan diluar kampus yang boleh diikuti ialah suatu hal yang kita jadikan wadah pengembangan akan skill yang setiap mahasiswa miliki.

Mahasiswa mesti lebih pintar untuk memilih wadahnya sendiri dalam rangka peningkatan skillnya dan bukan hanya itu bahwa yang mesti menjadi salah satu poin penilaian ialah jangan sampai ada kegiatan baik itu dilaksanakan dalam lingkungan dalam kampus, maupun diluar kampus, yang mana kegiatan itu mengganggu jam kuliah utama di dalam kelas.

Sebab, bagaimana pun tujuan dari mahasiswa adalah untuk kuliah dan kuliah itu ya tentunya menghadirkan diri dalam proses belajar-mengajar didalam kelas. Namun, beberapa pertanyaan kemudian muncul ketika urgensi edukasi dalam proses kuliah dalam kelas mulai mencuat ke permukaan yakni ketika rasa bosan, malas, kesal, pengap, kusut, dan rasa panas yang seakan-akan masuk menusuk jiwa-raga para mahasiswa ketika proses kuliah berlangsung.

Disinilah pentingnya ada formulasi pikiran yang dibentuk oleh paradigma seorang mahasiswa yang mestinya harus menganggap bahwa hadirnya diri;raga pada kelas adalah suatu kewajiban dalam rangka pemenuhan absensi akademik.

Ada metode yang baik untuk dapat dijadikan sebagai salah-satu acuan untuk menghindari perasaan "miring" dari mahasiswa ketika berada didalam kelas. Yakni bagaimana menjadikan sebagai kuliah itu berupa ajang permainan yang dimainkan oleh mahasiswa itu sendiri.

Permainan yang mana mahasiswa menjadi user atau penggerak utama dalam permainan itu. Mahasiswa di tuntut harus memenuhi 3 kriteria sukses atau kita bisa menyebutnya sebagai "3 Key Factor" dalam permainan agar dapat lolos menjadi finalis serta bisa mendapat tiket untuk maju ke bagian final permainan.

3 Key Factor itu ialah simple, unique dan focus. Tentunya kita sudah mengetahui ketiga maksud kriteria sukses itu yakni sederhana, unik dan fokus. Yakni para mahasiswa harus menerapkan kunci itu dalam proses permainan dan dalam hal ini ialah dalam proses kuliah (belajar-mengajar) itu sendiri.

Jadi, pentingnya sebuah wadah diluar kelas atau yang kadang diistilahkan dalam sebuah lembaga yakni sebagai sebuah organisasi ialah bagaimana organisasi itu dapat menunjang dan saling membantu para mahasiswa dalam meningkatkan serta mengasah skill serta bagaimana suasana kuliah didalam kelas mampu membawa efek knowledge yang jelas agar seorang mahasiswa mampu mendapatkan mental attitude yang baik, sehingga ke 3 poin penting itu yakni skill, knowledge serta mental attitude akan mampu membawa mahasiswa menuju kesuksesan yang di idam-idamkan.

@Gowa, 25 oktober 2014 at 02.30.

 
Oleh : Muh. Galang Pratama
Mahasiswa HPK7,8-FSH- UIN ALAUDDIN MAKASSAR (Angkatan 2013)

Bagi mayoritas mahasiswa, kuliah dalam kelas tentunya bukan menjadi hal yang tabu. Meskipun didalam proses suasana belajar dalam perguruan tinggi, kelas bukan menjadi satu-satunya hal krusial yang menjadi "wadah" untuk belajar para mahasiswa.

Hal itu disebabkan karena "rumah kampus" yang luas nan megah diisi oleh berbagai hal yang dapat menunjang perkembangan dari mahasiswa itu sendiri. Baik itu dari segi kognitif (knowledge), psikomotorik (skill) maupun psikis (mental attitude).

Ada 3 poin penting dari kata Italic (baca: kata bergaris miring) diatas. Yakni 1. Knowledge; 2. Skill; dan 3. Attitude. Apa maksud dari ketiga poin ini, penulis akan mencoba menjabarkannya melalui kutipan dari http://malicemrc.wordpress.com
  1. Knowledge : konsep, prinsip, informasi yang didapat dari proses pembelajaran/pengalaman.
  2. Skill : kemampuan utk melakukan aktivitas psikomotorik yg mempengaruhi seseorang utk menampilkan kinerja yg efektif pd suatu hal.
  3. Attitude : kecenderungan dasar utk merespon thdp objek tertentu berdasarkan keyakinan/opini kita.
Dewasa ini, para pemuda bangsa ini serta para kepada seluruh kalangan, memang sudah memperhatikan beberapa poin tersebut, utamanya pada poin pertama dan yang kedua yakni knowledge dan skill.

Namun, mayoritas orang dan utamanya pemuda masih sangat kurang dengan pendidikan mental Attitudenya. Orang-orang hanya sibuk memperbaiki dan terus mengasah knowledge/pengetahuannya dan skill/keterampilannya namun masih saja tidak mengacuhkan urgensi dari mental attitude/sikap dari seseorang.

Suasana kampus, kadangkala membawa para mahasiswa dalam kesusksesan namun dapat pula menyesatkan mahasiswa kedalam lembah pemikiran yang salah sebab sistem doktrin "keras" yang terpatri dalam jiwa dan hati para mahasiswa ketika mengikuti kegiatan "pengkaderan" di luar kampus.

Namun, kita tidak bisa langsung mengatakan bahwa seluruh bentuk pengkaderan yang ada dalam lingkungan sekitar mahasiswa itu tidak baik. Akan tetapi disini penulis tetap memberikan argumen yang jelas menurut hemat penulis sendiri bahwa kegiatan diluar kampus yang boleh diikuti ialah suatu hal yang kita jadikan wadah pengembangan akan skill yang setiap mahasiswa miliki.

Mahasiswa mesti lebih pintar untuk memilih wadahnya sendiri dalam rangka peningkatan skillnya dan bukan hanya itu bahwa yang mesti menjadi salah satu poin penilaian ialah jangan sampai ada kegiatan baik itu dilaksanakan dalam lingkungan dalam kampus, maupun diluar kampus, yang mana kegiatan itu mengganggu jam kuliah utama di dalam kelas.

Sebab, bagaimana pun tujuan dari mahasiswa adalah untuk kuliah dan kuliah itu ya tentunya menghadirkan diri dalam proses belajar-mengajar didalam kelas. Namun, beberapa pertanyaan kemudian muncul ketika urgensi edukasi dalam proses kuliah dalam kelas mulai mencuat ke permukaan yakni ketika rasa bosan, malas, kesal, pengap, kusut, dan rasa panas yang seakan-akan masuk menusuk jiwa-raga para mahasiswa ketika proses kuliah berlangsung.

Disinilah pentingnya ada formulasi pikiran yang dibentuk oleh paradigma seorang mahasiswa yang mestinya harus menganggap bahwa hadirnya diri;raga pada kelas adalah suatu kewajiban dalam rangka pemenuhan absensi akademik.

Ada metode yang baik untuk dapat dijadikan sebagai salah-satu acuan untuk menghindari perasaan "miring" dari mahasiswa ketika berada didalam kelas. Yakni bagaimana menjadikan sebagai kuliah itu berupa ajang permainan yang dimainkan oleh mahasiswa itu sendiri.

Permainan yang mana mahasiswa menjadi user atau penggerak utama dalam permainan itu. Mahasiswa di tuntut harus memenuhi 3 kriteria sukses atau kita bisa menyebutnya sebagai "3 Key Factor" dalam permainan agar dapat lolos menjadi finalis serta bisa mendapat tiket untuk maju ke bagian final permainan.

3 Key Factor itu ialah simple, unique dan focus. Tentunya kita sudah mengetahui ketiga maksud kriteria sukses itu yakni sederhana, unik dan fokus. Yakni para mahasiswa harus menerapkan kunci itu dalam proses permainan dan dalam hal ini ialah dalam proses kuliah (belajar-mengajar) itu sendiri.

Jadi, pentingnya sebuah wadah diluar kelas atau yang kadang diistilahkan dalam sebuah lembaga yakni sebagai sebuah organisasi ialah bagaimana organisasi itu dapat menunjang dan saling membantu para mahasiswa dalam meningkatkan serta mengasah skill serta bagaimana suasana kuliah didalam kelas mampu membawa efek knowledge yang jelas agar seorang mahasiswa mampu mendapatkan mental attitude yang baik, sehingga ke 3 poin penting itu yakni skill, knowledge serta mental attitude akan mampu membawa mahasiswa menuju kesuksesan yang di idam-idamkan.

@Gowa, 25 oktober 2014 at 02.30.

 
Seminar Nasional dan Kuliah Umum Jurusan HPK
Lihat Detail

Seminar Nasional dan Kuliah Umum Jurusan HPK

Seminar nasional yang bertemakan "Selamatkan Negeri Dari ISIS", diselenggarakan oleh Jurusan Hukum Pidana dan Ketatanegaraan (HPK) Fakultas Syari'ah dan Hukum (FSH) UIN Alauddin Makassar pada hari rabu (10/9). Seminar yang dibawakan oleh pembicara nasional sekaligus merupakan dosen tetap dari HPK ini, yakni Prof. Dr. Irfan Idris., M.Ag. Beliau merupakan Direktur Deradikalisasi BNPT-RI. Selanjutnya yang menjadi pembicara kedua adalah Pemikir Terorisme dari Fakultas Syari'ah dan Hukum yakni Dr. H. Kasjim Salenda., M.Th.I.
Seminar Nasional


Acara yang sangat ramai dan hebat dikarenakan masalah yang dibahas sangat aktual, yakni tentang ISIS atau Islamic State of Irac and Syiria. Beliau menegaskan bahwa kita harus hati-hati dalam mengikuti berbagai macam kegiatan yang mana pada ujungnya akan jauh dari nilai-nilai islam dan nilai-nilai jihad itu sendiri, dan juga, "Jihad itu Indah, bukan membunuh dengan sembarangan", tutupnya.

Sekian.
Seminar nasional yang bertemakan "Selamatkan Negeri Dari ISIS", diselenggarakan oleh Jurusan Hukum Pidana dan Ketatanegaraan (HPK) Fakultas Syari'ah dan Hukum (FSH) UIN Alauddin Makassar pada hari rabu (10/9). Seminar yang dibawakan oleh pembicara nasional sekaligus merupakan dosen tetap dari HPK ini, yakni Prof. Dr. Irfan Idris., M.Ag. Beliau merupakan Direktur Deradikalisasi BNPT-RI. Selanjutnya yang menjadi pembicara kedua adalah Pemikir Terorisme dari Fakultas Syari'ah dan Hukum yakni Dr. H. Kasjim Salenda., M.Th.I.
Seminar Nasional


Acara yang sangat ramai dan hebat dikarenakan masalah yang dibahas sangat aktual, yakni tentang ISIS atau Islamic State of Irac and Syiria. Beliau menegaskan bahwa kita harus hati-hati dalam mengikuti berbagai macam kegiatan yang mana pada ujungnya akan jauh dari nilai-nilai islam dan nilai-nilai jihad itu sendiri, dan juga, "Jihad itu Indah, bukan membunuh dengan sembarangan", tutupnya.

Sekian.
Seminar nasional yang bertemakan "Selamatkan Negeri Dari ISIS", diselenggarakan oleh Jurusan Hukum Pidana dan Ketatanegaraan (HPK) Fakultas Syari'ah dan Hukum (FSH) UIN Alauddin Makassar pada hari rabu (10/9). Seminar yang dibawakan oleh pembicara nasional sekaligus merupakan dosen tetap dari HPK ini, yakni Prof. Dr. Irfan Idris., M.Ag. Beliau merupakan Direktur Deradikalisasi BNPT-RI. Selanjutnya yang menjadi pembicara kedua adalah Pemikir Terorisme dari Fakultas Syari'ah dan Hukum yakni Dr. H. Kasjim Salenda., M.Th.I.
Seminar Nasional


Acara yang sangat ramai dan hebat dikarenakan masalah yang dibahas sangat aktual, yakni tentang ISIS atau Islamic State of Irac and Syiria. Beliau menegaskan bahwa kita harus hati-hati dalam mengikuti berbagai macam kegiatan yang mana pada ujungnya akan jauh dari nilai-nilai islam dan nilai-nilai jihad itu sendiri, dan juga, "Jihad itu Indah, bukan membunuh dengan sembarangan", tutupnya.

Sekian.